Bye, Pitaloka. Bye, Disaster.
(Selamat tinggal, Pitaloka. Selamat tinggal, bencana)
---------------------
Anggi
Kalau tadi Aji, sekarang Zaki yang menghampirinya.
"Kamu sakit?" tanya Zaki dengan kening mengernyit.
"Enggak," ia menggeleng. "Udah biasa begini. Tenang aja."
"Biasa mimisan?" Zaki kembali bertanya.
Ia mengangguk sambil menyusut hidung dengan tisu basah. Berusaha membersihkan sisa darah yang masih menempel.
"Yakin siap buat hari H? Movingnya lumayan lho. Acara padat, tugas kita banyak, perlu energi ekstra," Zaki terus menyelidik.
"Siap," ia mengangguk mantap.
"Jangan sampai malah kita yang dirawat tim medik," Zaki menggeleng.
Kekhawatiran Zaki membuatnya tertawa, "Memang dari semalam udah kedinginan. Ditambah hidungku sensitif sama perubahan suhu. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kok."
"Oke deh kalau begitu," Zaki bernapas lega. "Tapi buat mastiin, aku antar ke RSA (rumah sakit akademik), ya?"
"Nggak usah, makasih. Aku nggak apa-apa kok, sehat lahir bathin," ia tersenyum lebar dari telinga ke telinga. Berusaha meyakinkan Zaki jika dirinya baik-baik saja.
Sementara itu, di mana Rendra?
Tadi usai diskusi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rendra terlihat pergi meninggalkan ruangan Dan tak lagi tampak batang hidungnya hingga seluruh rangkaian acara bonding selesai. All right.
Dan keesokan hari di sela-sela break ToT (training of trainer), Ayu membawa berita segar.
"Kamu masih kost di Pitaloka?"
"Masih," ia mengangguk lemah. ""Padahal aku udah desperate banget pingin pindah. Tapi belum dapat juga."
"Di sini mau?" Ayu menyebutkan sebuah alamat. "Ada kamar yang kosong."
"Serius?" semangatnya langsung muncul.
"Kost muslimah tapinya," Ayu menatapnya.
"Memang kenapa kalau kost muslimah?" ia balik bertanya.
"Yang ngekost di sana ... banyakan anak LDK (lembaga dakwah kampus). Nih, aku tahu info ini dari Nila," Ayu menunjuk pada seseorang yang duduk di barisan paling depan.
"Oh, Nila Farmasi?" tebaknya gembira.
"Kenal?" Ayu balik bertanya.
"Iyalah. Orang dia anak Kopma bareng Mala," jawabnya antusias.
"Nanti habis ini, kamu tanyain aja ke dia. Beneran ada kamar kosong nggak," saran Ayu.
"Pasti," ia mengangguk setuju.
"Tapi mesti siap," imbuh Ayu.
"Siap apa?" tanyanya tak mengerti.
"Ya ... kamu kan biasa ngekost di tempat yang bebas ...."
"Enak aja," ia jelas tak setuju dengan kesimpulan Ayu. "Asli baru kali ini aku ngekost di tempat macem Pitaloka."
"Kost lama bareng Sinta, bukannya bebas pacaran? Tuh si Ipras sama Naufal sering ngendon seharian di sana," Ayu mencibir.
"Iyaaa, tapi nggak sebebas Pitaloka. Cowok nggak boleh nginep, tamu maksimal jam 10 malem," terangnya cepat.
"Khawatir kamu nanti kaget, tiba-tiba sekost sama yang beda habit," Ayu mengangkat bahu.
"Aku aman, kok," ia tersenyum lebar. "No pacaran pacaran club."
"Ya juga sih," Ayu tertawa. "Pacar kamu kan jauh, nggak mungkin sering ke sini."
"Maksudnya?" ia mengernyit tak mengerti.
"Kamu bukannya lagi jalan sama anak Ganapati? Anak-anak bilang begitu."
Ia hanya meringis.
Have a relationship with Dio? Terdengar sangat membahagiakan.
Usai ToT, ia pun langsung menemui Nila. Dan ternyata benar, jika di tempat kost Nila terdapat kamar yang masih kosong.
"Aku bisa lihat sekarang?" ia benar-benar tak sabar untuk segera pindah dari Pitaloka.
"Ayo," Nila mengangguk. "Kebetulan aku mau langsung pulang."
Kost Nila terletak agak jauh dari kampus. Berupa sebuah rumah besar nan asri. Berada di pinggir jalan utama sebuah kompleks perumahan. Memiliki ciri khas halaman mungil dengan berbagai macam jenis tanaman bunga yang terawat rapi. Juga carport luas, yang bisa menampung puluhan motor. Dan yang paling penting adalah, harga sewanya sesuai dengan budget yang dimiliki.
"Yuk, masuk," Nila membuka pintu depan berwarna cokelat. "Assalamualaikum ...."
"Wa'alaikumusalam ...." Seseorang yang mengenakan hijab berwarna ungu muda dan sedang duduk di ruang tamu menjawab.
"Udah pulang, Nil?" di depan gadis tersebut berderet tumpukan buku setebal bantal yang sedang dipilah-pilah.
"Udah, Mba. Wah, lagi beberes, nih?"
"Iya, haduh debu ada di mana-mana."
"Oiya Mba, kenalin nih ... teman saya. Lagi nyari kost."
Ia pun tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Anggi."
"Salsa," jawab gadis tersebut ramah. "Teman sekelas?"
"Bukan," Nila tertawa. "Beda fakultas. Cuma udah kenal duluan."
"Oh," Salsa tersenyum. "Silakan kalau mau dilihat-lihat dulu."
Rumahnya bersih dan rapi. Selain ruang tamu ada ruang tengah yang cukup luas, dapur, dan 3 kamar mandi.
"Di sini ada sepuluh kamar," Nila memperlihatkan kamarnya sendiri. "Luasnya sama semua ... segini."
"Ada yang sekamar double. Jadi, seluruh penghuni jumlahnya empat belas orang. Nah, berubah jadi lima belas orang kalau kamu masuk."
Kamar yang kosong terletak di deretan paling ujung. Persis di sebelah kamar mandi dan dapur. Begitu Nila membuka pintu kamar, ia langsung merasakan suasana yang sangat nyaman dan menenangkan.
"Suasananya ...." Ia memejamkan mata sambil menghirup napas dalam-dalam.
"Suasananya kenapa?"
"Gimana, ya," ia meringis. "Langsung enak di hati. Aku ambil, ya."
Nila tersenyum, "Mungkin karena dulunya, kamar ini bekas kamar penghafal Al Qur'an."
"Apa hubungannya?" ia mengernyit heran.
"Ya ... mungkin karena kamarnya sering dipakai buat baca ayat-ayat Al-Qur'an, jadi aura di dalamnya menenangkan."
"Iya juga, ya," kali ini ia setuju. "Terus kenapa keluar?"
"Habis wisuda, langsung nikah. Karena suaminya dapat tugas belajar ke Jepang. Jadi ikut ke sana."
"Wah, keren."
"Jadi ... gimana?"
"Tapi Nil, kamu tahu sendiri aku belum ... pakai ... kerudung. Masih begini," ia meringis. "Kalau aku beda dengan kalian, apa bisa diterima tinggal di sini?"
"Nggak masalah kok," Nila tersenyum. "Memang di sini sebagian aktif di LDK. Tapi bukan berarti semua harus seragam," Nila masih tersenyum. "Ada Jenny, Ira, Merry ... juga belum pada pakai."
Lagi-lagi ia meringis.
"No big deal sih, yang penting kita sama-sama menjaga kost ini seperti rumah sendiri. Dan menaati peraturan yang ada."
Ia pun mengangguk mengerti.
"Kalau kamu yakin, nanti aku bilang ke Mba Salsa. Dia penanggungjawab kost ini."
"Yakin," ia mengangguk mantap.
Sore itu juga, ia langsung pindah kost. Setelah membereskan barang yang tak terlalu banyak. Menghubungi angkutan jasa pengiriman untuk memindahkan barang dari kost Sinta ke kost baru.
Menulis pesan untuk Niken -lagi-lagi karena di depan pintu kamar Niken terpasang tulisan out- yang langsung ia selipkan di bawah pintu kamar Niken. Terakhir, ia menitipkan kunci kamar pada Mba Suko. Yang melepas kepergiannya dengan berurai air mata.
"Jangan lupain saya ya, Mba Anggi. Sering main-main ke sini ...."
"Iya ... iya ..., Mba Suko," ia tersenyum. "Nggak akan lupa. Saya kan belum sempat dikenalin ke Ndaru yang ngganteng," godanya.
"Mba Anggi ini loh, bener nanti tak kenalke ke Ndaru, ya."
Ia jadi tertawa.
"Loh, pada mau ke mana nih?" tiba-tiba seseorang sudah berdiri di antara mereka.
"Ealah Mba Ninis, sudah pulang dari rumah sakit kapan to?" Mba Suko tersenyum senang melihat kemunculan orang tersebut.
"Dari kemarin juga udah pulang," jawab orang tersebut acuh.
"Walah, saya malah nggak tahu. Sudah sehat to, Mba Ninis? Sudah sembuh?"
"Ya ... lihat aja sendiri."
"Maaf nggak sempet nengok. Tadinya saya diajak sama Mba Anggi buat nengok. Tapi nggak bisa je, waktu itu lagi sibuk ngurus tukang."
"Nggak apa-apa, udah baikan, kok," Ninis tersenyum. "Eh, kamu ... bukannya yang nganterin aku ke rumah sakit?"
Ia tersenyum mengangguk.
"Lha iya, ini yang namanya Mba Anggi," Mba Suko menimpali.
"Thanks," Ninis melempar senyum tipis padanya.
Ia balas tersenyum.
"Mau ke mana? Pindah? Baru datang ke sini udah pindah lagi?" tanya Ninis menunjuk barang-barang yang sedang di bawanya.
"Iya, Mba Anggi mau pindah. Padahal sudah enak tinggal di sini, to," lagi-lagi Mba Suko yang menjawab.
"Nyari yang lebih dekat ke kampus," jawabnya memberi alasan. Padahal justru lebih jauh dari kampus.
"Oh, ya udah, semoga betah di tempat baru," Ninis berlalu menuju pintu kamar dan langsung masuk ke dalam.
"Mba Suko, tolong titip pesan ke Niken, ya. Saya udah nulis pesen diselipin di bawah pintu. Udah ngechat juga. Tapi khawatir nggak kebaca, tolong kasih tahu kalau saya pindahan hari ini."
"Iya ... nanti saya bilangin ke Mba Niken."
"Makasih Mba Sukom Udah banyak bantuin saya seminggu ini. Salam bakti buat Sibu di Prambanan. Kapan-kapan kalau ke daerah sana ... saya mampir, ya."
"Ditunggu, Mba Anggi ... dengan senang hati," jawab Mba Suko dengan penuh suka cita. "Pintu rumah kami terbuka lebar untuk Mba Anggi ...."
***
Catatan :
ToT. : training of trainers.
LDK. : lembaga dakwah kampus.
Sibu. : panggilan Mba Suko untuk ibunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
friend zone
2024-12-30
0
Jong Nyuk Tjen
maaf thor , kyny ad beberapa yg d cut ya , beda am dulu yg pernah aku baca. Dulu ad french kiss antara rendra n frida . Skrng ud ga ad. Kl d pikir2 sih mending dion kmna mana drpd rendra. Rendra itu parah , player n kyny tkng celap celup jg , beda am dion yg polos n baik akhlak ny
2024-11-23
1
RR.Novia
Ahh emang sih bingung disini pengen nya milih dio yg jelas” keliatan greenflag dari awal tapi ada bang rendra juga jadi bingungkan milih yg mana.
2024-03-28
3