Anggi
"Hai ... baru pulang?" sapanya sambil menghampiri Niken.
"Yup," Niken memang terlihat cape, dan langsung membuka kunci kamar. Sepertinya sedang tak ingin mengobrol.
"Sibuk banget deh, nggak pernah ketemu," ia mencoba tersenyum.
"It's me," Niken berhasil membuka pintu kamar.
"Eh, Nik ... sebentar. Ada yang mau aku omongin."
"Apa?" Niken mengurungkan niat masuk ke kamar.
"Hari pertama aku tinggal di sini, ada orang yang kurang ajar."
Entah mengapa, ia merasa kesal tiap kali membahas sesuatu yang berhubungan dengan Rendra.
"Terus?"
Ia mengerutkan kening mendengar tanggapan dingin Niken. "Ya ... aku marah banget lah. Masa tiba-tiba ada orang pegang-pegang. Kamu tahu ada orang yang suka harrash gitu di sini?"
"Hah? Enggak lah. Mana ada orang begitu di sini. Salah orang kali," Niken masih acuh.
"Salah orang gimana?!" ia meradang. "Aku nggak terima diperlakukan begitu."
"Orangnya udah minta maaf belum?"
"Kalau udah minta maaf ... memang kenapa? Kalau belum ... kenapa?" ia semakin mendecak.
"Kalau udah minta maaf ... ya udah, selesai perkara," Niken menjawab tetap acuh, seolah itu adalah hal biasa.
"Apa?!" ia melotot tak percaya. "Yang bener aja, Nik. Sebagai anak hukum ... begini reaksi kamu waktu denger keluhan dari korban pelecehan?! Apa kabar keadilan di sini?!"
"Pelecehan gimana sik?" Niken mulai gusar. "Kamu diapain sama dia?!"
"Aku lagi bikin mie di dapur, tiba-tiba ada orang meluk dari belakang. Terus ... pegang-pegang," ia mendesis kesal demi mengingat kejadian pagi itu lagi.
"Gitu doang?" di luar dugaan, reaksi Niken tetap santai.
"Gitu doang gimana?!" ia semakin meradang.
"Ya ... kamu cuma dipeluk-peluk, dipegang-pegang, lainnya? Kissing? Pemaksaan?"
"Astaga!" ia memejamkan mata dengan kesal. "Teganya kamu bilang cuman dipegang-pegang. Eh, Nik, catcall bahkan udah termasuk pelecehan!"
Kini gantian Niken yang memutar bola mata.
"Dan aku sama sekali nggak rela ... ada orang tak dikenal megang-megang seenaknya! Very angry bout it!"
"Sekarang maunya gimana? Mau orang yang udah pegang-pegang minta maaf? Siapa namanya? Ntar kusuruh minta maaf sama kamu! Sesimple itu!"
"Ternyata percuma ngomong sama kamu, Nik," ia menghela napas panjang.
"Aku tuh lagi cape tahu, baru pulang. Kamu ... ujug-ujug ngomong gaje begini."
"Ini yang terakhir ...." Ia mengembuskan napas panjang. "Aku mau nanya nih, kamu tahu gosip yang beredar di luaran tentang Pitaloka?"
"Apa lagi?!" Niken menatapnya tak percaya.
"Gosip ... kalau yang kost di sini bisa ... dipakai," ia berusaha memelankan kata terakhir karena merasa jengah sendiri.
Tapi Niken justru menyeringai, "Jyah, gosip lama."
"Berarti kamu tahu dong ... kalau sebagian besar orang di luar, menganggap yang kost di sini bisa 'dipakai'?"
"Yah, Nggi ... gosip begitu di mana mana ada."
"Sekarang aku tanya sama kamu, bener nggak gosip itu? Bener nggak kalau yang kost di sini side job nya jadi 'tanda kutip'."
"Maksudnya apa nih? Kamu lagi nuduh?!"
"Aku cuma ingin jawaban pasti dari warga yang udah lama kost di sini."
"Denger ya Nggi ... kamu bener-bener nggak berubah ya dari jaman sekolah. Selalu ribet ngurusin hidup orang."
Kalimat Niken membuatnya memutar bola mata. Apa iya?
"Dan sejak kapan kamu percaya sama gosip? Dari dulu ... waktu semua orang gosipin kalian berdua, kamu sama Dio jadian. Kamunya santai-santai aja. Apa malah kesenengan digosipin begitu?"
"Kok jadi arahnya ke situ, sih?!" ia jelas tak terima. "Kenapa bawa-bawa Dio? Kamu suka sama dia?!" Kalimat terakhir agak sedikit susah untuk diucapkan.
Niken mengibaskan tangan sambil tersenyum miring, "Masa lalu."
Matanya membelalak. Niken pernah suka sama Dio? Oh ya, baru ingat, siapa sih orang yang tak menyukai Dio? Jelas bukan berita baru. Oke ... next.
"Intinya ... bener atau enggak berita di luaran? Aku merasa nggak nyaman karena ...."
"Jangan pakai standar ganda, deh!" Niken memotong kalimatnya dengan nada kesal. "Sekarang malah sibuk ngurusin gosip tentang tempat yang kamu baru di sini ... dan kamu nggak ngerti apa-apa."
"Ya makanya sekarang aku nanya buat konfirmasi."
"Saranku nih ya Nggi ... jangan pernah urusin hidup orang lain."
"Dengan kata lain gosipnya bener?"
"Udah deh, aku cape ngomong sama kamu," Niken tak memedulikannya. Lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar. Dan langsung menutup pintu.
Ini membuatnya semakin kesal. Niat hati ingin mendapat konfirmasi, yang ada malah salah paham.
Akhirnya, dengan langkah gontai, ia berbalik menuju ke kamarnya sendiri. Tekad untuk segera pindah kost semakin bulat.
"Mba Anggi!" suara Mba Suko kembali menggema di lorong. "Tunggu!"
Ia melihat Mba Suko tergopoh-gopoh dari arah tangga, membuatnya mengurungkan niat untuk memasuki kamar.
"Ada apa Mba Suko?"
"Ini ... mau bayar kaos yang tadi," Mba Suko menyerahkan sejumlah uang. "Segini to harganya?"
"Iya bener, makasih banyak Mba Suko. Pelanggan pertama saya," ia tersenyum senang. Akhirnya terjual juga kaos menyebalkan itu.
"Sama ini ... nganu ... kalau saya bantu jualin kaosnya boleh, ndak?"
"Woo ... ya boleh banget, Mba Suko," ia mendadak kegirangan. Jalan keluar terlihat jelas di depan mata. "Serius mau bantuin?"
"Iya," Mba Suko mengangguk. "Lha wong tadi sekalian ngabarin kamar sebelah sini ... atas bawah ... kamar mandinya sudah bisa dipakai. Saya tawarin saja kaos dari Mba Anggi. Eh, trnyata pada mau beli, hehehe ...."
"Iya kah, Mba? Alhamdulillah .... makasih banyak, Mba Suko," ia pun spontan memeluk Mba Suko.
"Kaosnya ada berapa to, Mba? Tadi Mba Claris mau ambil dua, Mba Amel, Mba Dita, Mba Keisha ... pas ketemu di bawah barusan."
"Ada," ia mengangguk senang. "Kaosnya masih ada kok. Jadi ... semuanya lima ya, Mba?"
"Iya, lima."
"Sebentar ... saya ambil dulu kaosnya."
Mba Suko mengikutinya masuk ke dalam kamar.
"Ini ... mau warna apa aja?"
"Saya bawa semua ya, biar Mba-mba nya pada milih sendiri."
"Oiya bener," ia mengangguk setuju. "Bawa semuanya aja, Mba."
"Nanti ... sisanya saya kembalikan lagi ke Mba Anggi. Tunggu, ya."
"Iya, santai aja. Kereen Mba Suko, bisa jadi marketing handal nih," ia mengacungkan jempol sungguh-sungguh.
"Mba Anggi ... bisa aja," Mba Suko tersipu malu.
"Eits ... sebentar, Mba," ia mendadak menahan Mba Suko yang hendak berlalu.
"Mba-mba kamar depan ... udah pulang dari rumah sakit belum?" mendadak ia teringat jika kamar depan masih sepi dan terkunci rapat.
"Mba Ninis? Belum, baru operasi usus buntu siang tadi."
"Nengok yuk Mba, masih di rumah sakit yang kemarin, kan?"
"Iya masih. Lha ... saya nggak bisa ninggalin rumah je, masih ngurusin tukang di bawah."
Ia manggut-manggut. "Iya nggak apa-apa, nanti saya ajak temen aja kalau gitu. Oiya, kalau bapak-bapak ... eh om-om yang sama mba Ninis itu, kakaknya ya?" ia kembali teringat pria paruh baya yang terlihat panik saat berada di IGD.
Mba Suko melirik ke arah kanan dan kiri teelebih dahulu. Seolah takut ada orang lain yang akan mendengar, "Itu ... pacarnya Mba Ninis."
"Serius?! Udah om-om begitu?! Pantes jadi bapaknya malah."
"Serius," Mba Suko mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Pak Sapta itu anggota dewan, ngganteng ya walau sudah berumur juga. Denger-denger ... mereka berdua sudah nikah siri."
Matanya terbelalak. "Nikah siri?!"
"Lha iya ... wong Pak Sapta itu ... sudah punya anak istri."
Ia makin terbelalak. "Cerita masa lalu terulang lagi, dong?"
"Kalau yang ini ... nggak pakai labrak labrakan, Mbae. Mungkin tahu sama tahu."
"Berarti ada benernya juga gosip di luaran," ia tercenung memikirkan sesuatu.
"Sssttt ... ini rahasia ya, Mba. Jangan cerita ke mana-mana. Bahaya. Dulu malah pernah ada wartawan yang nunggu di pos satpam depan. Seharian itu cuma nungguin Mba Ninis keluar."
"Sampai begitu?"
"Lha ... awalnya kan Pak Sapta pacaran sama Mba Niken to ...."
"Niken?!" ia terperanjat kaget. "Niken temen saya?"
"Iya, dulu waktu Mba Niken masih pacaran sama Mas Prabu ... Pak Sapta sudah sering datang ke sini buat nemuin Mba Niken."
"Prabu yang anak band itu?" ia hanya ingin memastikan.
"Iya," Mba Suko mengangguk. "Yang ngganteng kayak bule."
Ia tertawa, "Mba Suko ini ... semua aja dibilang ngganteng."
"Lho iya ... dulu sampai Mas Prabu ngamuk-ngamuk to di kamar Mba Niken. Gara-gara cemburu sama Pak Sapta. Rame dulu."
Ia mendengarkan cerita Mba Suko sambil berkali-kali mengembuskan napas.
"Akhirnya ... Mba Niken sama Mas Prabu putus. Pak Sapta semakin sering ke sini. Tapi ... Mba Niken malah jadi sebel banget. Nggak pernah mau nemuin Pak Sapta lagi. Eh ... ke sininya kok malah ... Pak Sapta pacaran sama Mba Ninis."
"Duh ... sinetron banget sih, Mba?" gelengnya tak bisa mengerti.
"Lah iya ..m dulu ramai banget di sini."
"Makanya ... banyak yang nggak suka sama Mba Ninis, ya?" ia jadi teringat saat memapah Ninis ke Taxi online, semua penghuni kost yang berpapasan dengannya bersikap acuh.
"Iya Mba ... kayaknya begitu," Mba Suko mengangguk. "Padahal Mba Ninis itu baik lho orangnya, cuma memang bawaannya jutek."
Ia tertawa, "Mba Suko ini ... semua orang dibilang baik. Rendra tadi dibilang baik."
Lho, kenapa jadi nyambung ke Rendra? Ampun deh, isi kepalanya sepertinya mulai konslet.
"Lha iya ... tiap orang kan pada dasarnya baik. Cuma karena pengalaman hidup, pengaruh temen, bisa mengubah sifat seseorang."
"Ibarat kita berteman sama pandai besi, kita bisa bau asap. Berteman dengan penjual minyak wangi, kita jadi ikutan wangi," tambah Mba Suko yakin.
"Wah ...." Ia tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Keren banget filosofi Mba Suko." Lalu mengacungkan jempol.
"Aduh ... malah jadi ngobrol kita," Mba Suko terkekeh. "Sudah ya Mba, saya mau ke bawah ngurusin tukang sama nganterin kaos."
Ia pun tertawa. "Iya ... siaapp."
"Kalau jadi nengok Mba Ninis ... salam dari saya."
"Siaaappp, Mba Suko."
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
MochoLatTe
baca ulang
anehnya like nya ilang jdy like lagi
2024-09-28
1
Herlina Lina
hmm gurih ya gosip mb suko
2024-06-07
0
☠⏤͟͟͞R🎯™𝐀𝖙𝖎𝖓 𝐖❦︎ᵍᵇ𝐙⃝🦜
Ternyata ada cerita dibalik kost nya
2024-05-11
0