Anggi
Ia menyeret kaki melalui lorong kostnya yang sepi di jam menjelang sore. Sepuluh lembar kaos yang diberikan Rendra usai materi tadi, berhasil membuat backpacknya menggelembung dan berat.
"Jual kaos di luar kepanitiaan," ujar Rendra dengan nada paling datar dan dingin. Bahkan tanpa berminat untuk melihat ke arahnya sedikitpun. Orang yang sangat sopan heh.
"Apa nggak berlebihan, Bang?" Zaki yang jelas-jelas memprotes kesewenangan Rendra bahkan tak digubris. Tanpa mengatakan apapun, Rendra langsung pergi meninggalkan ruangan.
Bhaiqlah, kamu jual aku beli, gerutunya dongkol bukan kepalang.
"Waktunya tiga hari sampai bonding cluster," lanjut Rendra lagi meski telah berjalan sampai di pintu, dengan tanpa menoleh sedikitpun.
Kini ia tahu bagaimana rasanya dikejar setan. Nggak ngenakkin banget. Seandainya bisa pindah cluster, ia bersedia menukar dengan apapun, bahkan membayar berapapun. Lebay, ya.
Sayang semua itu hanya ilusi. Karena jelas dalam keadaan sadar tanpa tekanan pihak manapun, ia telah menandatangani surat perjanjian.
Lagi-lagi ia melewati pintu kamar Niken yang setia memasang tulisan out. Empat hari ia tinggal di Pitaloka, belum pernah sekalipun mereka bertemu. Ya sudah, mungkin besok mereka bisa bertemu.
Baru juga memutar kunci kamar, suara Mba Suko menggema dari ujung lorong.
"Mba Anggi ...." Mba Suko berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Iya ... kenapa, Mba?"
"Mau ngasih tahu, kalau kamar mandi di dalam sudah bisa dipakai. Air sudah mengalir dan ndak mampet lagi."
"Alhamdulillah. Makasih Mba Suko."
"Sama-sama. Baru pulang to?"
"Iya, cape banget nih."
"Lah itu ... bawa apa di tas kok guede bianget," Mba Suko menunjuk backpacknya.
"Oh, ini ... kaos."
"Mba Anggi jualan kaos?"
"Secara teknis begitu," ia buru-buru menepis bayangan Rendra yang melintas dengan wajah sengak dibenaknya.
"Hlo ... ya bagus to ... belajar bisnis sejak kuliah. Biar sukses kayak Mas Ren ...." Mba Suko mendadak tercekat omongannya sendiri. Lalu tersenyum lebar. "Boleh ndak, kalau saya lihat kaosnya?"
"Oh ... boleh banget," ia mendadak mempunyai ide brilian. "Masuk ke dalam aja yuk Mba, biar enak lihat-lihatnya." Sepertinya Mba Suko bisa jadi konsumen pertamanya.
Mba Suko mengangguk setuju.
"Duduk, Mba," ia mempersilakan. "Mau minum apa?"
"Halah, kayak sama siapa aja to Mba ... Mba ...." Mba Suko tertawa lebar.
"Loh, Mba Suko kan tamu pertama saya di kamar ini, jadi harus dijamu dong. Dingin atau panas?" tawarnya.
"Aduuh, jadi nggak enak body ini, Mba."
"Ih, santai aja lagi," ia tertawa. "Dingin aja ya Mba, seharian panas banget tadi," ia mengambil 2 buah teh kotak dari kulkas kecil di sudut kamar. Satu untuknya, satu lagi untuk Mba Suko.
"Wah, serius to. Makasih loh, Mba."
Ia tersenyum mengangguk.
"Mana kaosnya?"
"Oiya, sebentar," ia buru-buru mengambil backpack yang tadi disimpan di atas meja belajar. Lalu kembali duduk di sofa bersama Mba Suko.
"Ini kaosnya ...." Ia mengeluarkan kaos dari dalam backpack. "Silakan dilihat-lihat dulu, siapa tahu ada yang cocok."
Mba Suko mengambil sebuah kaos. "Boleh dibuka?"
"Boleh ... buka aja," ia pun membantu mengambil kaos yang lain dan mulai membukanya.
"Wah ... bahannya bagus. Tebel tapi adem," Mba Suko tersenyum. "Cocok buat Ndaru."
"Ndaru siapa?"
"Keponakan saya, masih SMA. Ngganteng, pemain band," jawab Mba Suko dengan mata berbinar.
"Oh, bener-bener, cocok buat remaja ngganteng," ia tersenyum lebar.
"Saya lihat-lihat yang lain ya," Mba Suko mengambil kaos yang lain.
"Monggo ... monggo ... lihat aja semua ...."
Mba Suko kemudian membuka beberapa kaos dan mengamatinya dengan seksama. "Bagusan yang mana, Mba?"
Ia mencoba berpikir, "Ndaru perawakannya gimana?"
"Tuinggi, lha wong saya aja se dadanya," Mba Suko terkekeh. "Kulitnya cokelat bersih. Anaknya rapi."
Ia manggut-manggut mengerti, " Ini cocok kayaknya," ujarnya sambil menyerahkan sebuah kaos.
"Tapi kaos warna itemnya sudah buanyak je. Saya kepingin beliin warna lain."
"Oh, bisa ... bisa ... sebelum ...." Ia pun kembali meneliti beberapa kaos yang sepertinya cocok untuk sosok Ndaru.
"Mba Anggi ini kenapa kok ujug-ujug bisnis kaos?" tanya Mba Suko ingin tahu.
Ia harus menghela napas panjang dan menghentikan kegiatannya memilih kaos untuk sementara. "Ceritanya panjang, Mba."
"Lho ... ini warna kuning bagus, cerah," Mba Suko mendadak girang melihat kaos yang sedang dipegangnya.
Ia mengangguk setuju dan mengangsurkannya ke arah Mba Suko.
"Tugas kuliah gitu, ya?" sepertinya Mba Suko sedang kepo akut.
"Ya ... gitu deh," jawabnya asal. "Ada orang nyebelin yang minta saya jualin kaos," ia mencibir karena kembali mengingat sosok Rendra yang menyebalkan.
"Wah, ya nggak apa-apa nyebelin juga, tapi Mba kan jadinya dapet untung to," Mba Suko tertawa.
"Iya juga sih," ia jadi ikut tertawa. "Etapi saya nggak ambil untung banyak kok. Saya jual sesuai harga dasar aja, yang penting laku."
"Hla ... kalau begitu saya bisa beli sua dong."
"Dengan senang hati Mba Suko ... dengan senang hati ...."
Mba Suko kembali memilih-milih kaos yang akan dibeli. Sambil sesekali bercerita tentang Ndaru, keponakannya yang ngganteng. Juga cerita tentang ibunya yang sudah sepuh dan tinggal di Prambanan dengan kakak tertuanya. Lalu cerita tentang asal mula bisa menjadi penjaga kost disini.
"Mba Suko ... boleh nanya nggak?"
"Walah, ya boleh to. Mau nanya apa?"
"Sebelumnya, saya minta maaf kalau pertanyaannya agak sensitif," ia mencoba tersenyum.
"Nanya kok malah minta maaf," Mba Suko terkekeh. "Nanyao ... tak jawaben."
"Saya dapat info dari temen, katanya kostan ini tempatnya 'tanda kutip' ya, Mba?" tanyanya dengan kalimat yang sehalus mungkin.
"Tanda kutip piye?" Mba Suko menatapnya tak mengerti.
"Yaaa ... tempatnya mahasiswi yang bisa ... dipakai," ia terpaksa mengatakan hal tersebut sembari memasang wajah menyesal.
"Dipakai gimana?" namun rupanya Mba Suko belum paham juga dengan maksud dari pertanyaannya.
"Aduh," ia menggaruk kepala yang tak gatal. "Dipakai sama laki-laki Mba. Disewa, dibayar, apa itu namanya, kerja sampingan ...."
"Owalah ... ngomong kok muter-muter to, Mba ... Mba ...." Mba Suko tertawa lebar.
"Bener atau enggak?" ia memandang Mba Suko penasaran.
"Gimana, ya ...." Mba Suko terlihat bingung sambil menggaruk-garuk kepala.
"Awalnya begini ... dulu ... sudah lama ... ada yang kost di sini, eh ... dilabrak sama ibu pejabat, istri sahnya."
"Apa?!" ia terbelalak.
"Ya ... pelakor gitu, Mba. Aduh ... eman tenan, wong mahasiswinya tuh cuantik."
"Waduh, beneran pelakor?" ia mengernyit.
"Bener. Lha wong sampai ribut ngundang pak RT sama pak RW. Sampai mau dibawa ke pak Kadus."
"Terus?"
"Akhirnya pindah, nggak kost di sini lagi. Dengar-dengar pak pejabat itu jadinya cerai sama istrinya. Tapi yo ... nggak tahu juga itu gosip bener atau salah."
"Oh ...."
"Nah ... sejak saat itu, orang-orang melabeli yang kost di sini bisa 'dipakai'."
"Wah, nggak bener ya," ia menggeleng. "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."
"Opo maksude?" kini gantian Mba Suko yang mengernyit.
Ia pun meringis, "Ya ... karena perbuatan satu orang, jadi rusak image satu kost."
"Oh ... bener itu Mba, setuju," Mba Suko mengangguk. "Sejak saat itu ... Bu Gorda langsung merenovasi habis-habisan sampai bagus seperti sekarang ini."
"Bu Gorda itu ... pemilik kost ini? Beliau tinggal di mana?"
"Di Jakarta," jawab Mba Suko. "Bu Gorda itu istrinya Pak Gorda Megistra, jenderal pulisi yang sekarang dines di Jakarta."
"Oh ...." Ia manggut-manggut mengerti.
"Kalau gosipnya salah, tapi kok tiap malem banyak mobil bagus parkir?" ia mendadak teringat sesuatu.
"Terus tiap jam sembilan malem ke atas ... selalu ramai orang," lanjutnya lagi.
"Terus ... cowok mesum itu, berani-beraninya pegang-pegang saya?! Pasti karena dia ngira saya salah satu penghuni kost ini yang bisa dipakai, kan?!" geramnya marah, demi mengingat sekelebatan wajah Rendra.
"Mba ... masih marah sama Mas Rendra?"
"Iyalah, marah banget!" tukasnya cepat.
"Nanti tak suruh Mas Rendra minta maaf sama Mba Anggi. Mas Rendra sudah minta maaf belum to?"
"Boro boro," ia semakin merengut karena sekarang bayangan Rendra yang sedang tertawa di depan forum mendadak melintas di kepala.
"Mungkin Mas Rendra ngira ... kalau Mba Anggi itu Mba Frida."
"Siapa?"
"Mba Frida, pacarnya Mas Rendra. Perawakannya mungil, mirip sama Mba Anggi. Lha wong pas saya pertama lihat Mba Anggi sekilas ... tak pikir Mba Frida."
Membuatnya semakin mendecak kesal.
"Tapi ... kalau sudah kenal yo ... asline beda jauh ternyata," Mba Suko nyengir kuda. "Cantikan Mba Anggi ...."
"Nggak bener," gerutunya kesal karena bayangan Rendra justru semakin menari-nari di dalam kepalanya.
"Maafin Mas Rendra ya Mba," Mba Suko memandangnya sungguh-sungguh. "Mas Rendra itu sebenernya baik orangnya, cuma memang begitu gayanya."
Ia mencibir kesal. Masih berusaha membuang jauh-jauh bayangan Rendra, yang seolah melekat di dalam kepala.
Ya ampun.
"Terus ... kalau yang ramai malam-malam datang, pacar-pacarnya juga?" tanyanya ingin tahu.
"Tak pikir ya begitu, Mba. Jaman sekarang pacaran itu biasa to. Apalagi sudah mahasiswa, sudah dewasa. Pacaran jaman sekarang ya ... begitu itu kan?" jawab Mba Suko sembari menghela napas panjang.
Ia pun kembali mencibir. "Tapi bebas banget."
"Iya," Mba Suko mengangguk setuju. "Saya akui ... kekurangan di sini itu pergaulannya terlalu bebas."
"Apalah saya ... cuma wong cilik yang dititipi rumah kost buat dijaga. Ya nggak bisa macem-macem saya. Cuma pegawai kecil," keluh Mba Suko.
Membuatnya mencoba tersenyum menenangkan. "Iya juga, Mba. Ngng .... Oya, kayaknya sebentar lagi saya mau pindah kost."
"Hlo ... kenapa pindah?"
"Nggak kuat bayar," jawabnya jujur sambil terkekeh. "Di sini sebulan ... bisa dapat di tempat lain berbulan-bulan. Ini karena saya salah nyatat tanggal aja jadi bubrah semuanya, Mba Suko."
"Hoo ... lha, padahal saya sudah seneng ada Mba Anggi di sini. Orangnya lain daripada yang lain. Mau ngobrol sama orang kayak saya, sopan, ramah ...."
"Ih, apa sih, Mba Suko."
"Nanti kalau sudah pindah ... jangan lupain saya ya, Mba."
"Iya," ia tersenyum mengangguk. "Masa saya lupa sama Mba Suko yang baik ini, sih?" lanjutnya sambil memeluk Mba Suko.
Mba Suko membalas pelukannya dengan senang hati.
"Wah ... keasyikan ngobrol jadinya," Mba Suko tertawa. "Saya mesti ngasih pengumuman juga ke yang lain, kalau kamar mandi sudah bisa dipakai."
Ia tertawa. "Habisin dulu minumannya, Mba."
Mba Suko menghabiskan teh kotaknya, lalu mengambil dua buah kaos yang telah dipilih. "Saya ambil dua ya, Mba."
"Alhamdulillah. Makasih banyak, Mba Suko."
"Saya ambil uang dulu di bawah, barusan ke sini nggak bawa dompet."
"Siapp. Salam buat Ndaru yang ngganteng."
Mba Suko tersenyum lebar.
Ia mengantar Mba Suko sampai ke depan pintu, dan memperhatikan sampai punggung Mba Suko menghilang di balik tangga. Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Dan yang keluar adalah Niken.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico
ortunya Gabriel
dih ...masih dendam aq
2024-12-30
0
✨️ɛ.
buat yg jahatin Agam, gue masih dendam.. 😤
2024-12-03
1
Atien
Jendral Gorda...temen angkatannya papanya Anjani ...Salah satu yg mempkosa tantenya Cakra...
2024-10-05
0