12. Mba Suko

Anggi

Ia menyeret kaki melalui lorong kostnya yang sepi di jam menjelang sore. Sepuluh lembar kaos yang diberikan Rendra usai materi tadi, berhasil membuat backpacknya menggelembung dan berat.

"Jual kaos di luar kepanitiaan," ujar Rendra dengan nada paling datar dan dingin. Bahkan tanpa berminat untuk melihat ke arahnya sedikitpun. Orang yang sangat sopan heh.

"Apa nggak berlebihan, Bang?" Zaki yang jelas-jelas memprotes kesewenangan Rendra bahkan tak digubris. Tanpa mengatakan apapun, Rendra langsung pergi meninggalkan ruangan.

Bhaiqlah, kamu jual aku beli, gerutunya dongkol bukan kepalang.

"Waktunya tiga hari sampai bonding cluster," lanjut Rendra lagi meski telah berjalan sampai di pintu, dengan tanpa menoleh sedikitpun.

Kini ia tahu bagaimana rasanya dikejar setan. Nggak ngenakkin banget. Seandainya bisa pindah cluster, ia bersedia menukar dengan apapun, bahkan membayar berapapun. Lebay, ya.

Sayang semua itu hanya ilusi. Karena jelas dalam keadaan sadar tanpa tekanan pihak manapun, ia telah menandatangani surat perjanjian.

Lagi-lagi ia melewati pintu kamar Niken yang setia memasang tulisan out. Empat hari ia tinggal di Pitaloka, belum pernah sekalipun mereka bertemu. Ya sudah, mungkin besok mereka bisa bertemu.

Baru juga memutar kunci kamar, suara Mba Suko menggema dari ujung lorong.

"Mba Anggi ...." Mba Suko berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.

"Iya ... kenapa, Mba?"

"Mau ngasih tahu, kalau kamar mandi di dalam sudah bisa dipakai. Air sudah mengalir dan ndak mampet lagi."

"Alhamdulillah. Makasih Mba Suko."

"Sama-sama. Baru pulang to?"

"Iya, cape banget nih."

"Lah itu ... bawa apa di tas kok guede bianget," Mba Suko menunjuk backpacknya.

"Oh, ini ... kaos."

"Mba Anggi jualan kaos?"

"Secara teknis begitu," ia buru-buru menepis bayangan Rendra yang melintas dengan wajah sengak dibenaknya.

"Hlo ... ya bagus to ... belajar bisnis sejak kuliah. Biar sukses kayak Mas Ren ...." Mba Suko mendadak tercekat omongannya sendiri. Lalu tersenyum lebar. "Boleh ndak, kalau saya lihat kaosnya?"

"Oh ... boleh banget," ia mendadak mempunyai ide brilian. "Masuk ke dalam aja yuk Mba, biar enak lihat-lihatnya." Sepertinya Mba Suko bisa jadi konsumen pertamanya.

Mba Suko mengangguk setuju.

"Duduk, Mba," ia mempersilakan. "Mau minum apa?"

"Halah, kayak sama siapa aja to Mba ... Mba ...." Mba Suko tertawa lebar.

"Loh, Mba Suko kan tamu pertama saya di kamar ini, jadi harus dijamu dong. Dingin atau panas?" tawarnya.

"Aduuh, jadi nggak enak body ini, Mba."

"Ih, santai aja lagi," ia tertawa. "Dingin aja ya Mba, seharian panas banget tadi," ia mengambil 2 buah teh kotak dari kulkas kecil di sudut kamar. Satu untuknya, satu lagi untuk Mba Suko.

"Wah, serius to. Makasih loh, Mba."

Ia tersenyum mengangguk.

"Mana kaosnya?"

"Oiya, sebentar," ia buru-buru mengambil backpack yang tadi disimpan di atas meja belajar. Lalu kembali duduk di sofa bersama Mba Suko.

"Ini kaosnya ...." Ia mengeluarkan kaos dari dalam backpack. "Silakan dilihat-lihat dulu, siapa tahu ada yang cocok."

Mba Suko mengambil sebuah kaos. "Boleh dibuka?"

"Boleh ... buka aja," ia pun membantu mengambil kaos yang lain dan mulai membukanya.

"Wah ... bahannya bagus. Tebel tapi adem," Mba Suko tersenyum. "Cocok buat Ndaru."

"Ndaru siapa?"

"Keponakan saya, masih SMA. Ngganteng, pemain band," jawab Mba Suko dengan mata berbinar.

"Oh, bener-bener, cocok buat remaja ngganteng," ia tersenyum lebar.

"Saya lihat-lihat yang lain ya," Mba Suko mengambil kaos yang lain.

"Monggo ... monggo ... lihat aja semua ...."

Mba Suko kemudian membuka beberapa kaos dan mengamatinya dengan seksama. "Bagusan yang mana, Mba?"

Ia mencoba berpikir, "Ndaru perawakannya gimana?"

"Tuinggi, lha wong saya aja se dadanya," Mba Suko terkekeh. "Kulitnya cokelat bersih. Anaknya rapi."

Ia manggut-manggut mengerti, " Ini cocok kayaknya," ujarnya sambil menyerahkan sebuah kaos.

"Tapi kaos warna itemnya sudah buanyak je. Saya kepingin beliin warna lain."

"Oh, bisa ... bisa ... sebelum ...." Ia pun kembali meneliti beberapa kaos yang sepertinya cocok untuk sosok Ndaru.

"Mba Anggi ini kenapa kok ujug-ujug bisnis kaos?" tanya Mba Suko ingin tahu.

Ia harus menghela napas panjang dan menghentikan kegiatannya memilih kaos untuk sementara. "Ceritanya panjang, Mba."

"Lho ... ini warna kuning bagus, cerah," Mba Suko mendadak girang melihat kaos yang sedang dipegangnya.

Ia mengangguk setuju dan mengangsurkannya ke arah Mba Suko.

"Tugas kuliah gitu, ya?" sepertinya Mba Suko sedang kepo akut.

"Ya ... gitu deh," jawabnya asal. "Ada orang nyebelin yang minta saya jualin kaos," ia mencibir karena kembali mengingat sosok Rendra yang menyebalkan.

"Wah, ya nggak apa-apa nyebelin juga, tapi Mba kan jadinya dapet untung to," Mba Suko tertawa.

"Iya juga sih," ia jadi ikut tertawa. "Etapi saya nggak ambil untung banyak kok. Saya jual sesuai harga dasar aja, yang penting laku."

"Hla ... kalau begitu saya bisa beli sua dong."

"Dengan senang hati Mba Suko ... dengan senang hati ...."

Mba Suko kembali memilih-milih kaos yang akan dibeli. Sambil sesekali bercerita tentang Ndaru, keponakannya yang ngganteng. Juga cerita tentang ibunya yang sudah sepuh dan tinggal di Prambanan dengan kakak tertuanya. Lalu cerita tentang asal mula bisa menjadi penjaga kost disini.

"Mba Suko ... boleh nanya nggak?"

"Walah, ya boleh to. Mau nanya apa?"

"Sebelumnya, saya minta maaf kalau pertanyaannya agak sensitif," ia mencoba tersenyum.

"Nanya kok malah minta maaf," Mba Suko terkekeh. "Nanyao ... tak jawaben."

"Saya dapat info dari temen, katanya kostan ini tempatnya 'tanda kutip' ya, Mba?" tanyanya dengan kalimat yang sehalus mungkin.

"Tanda kutip piye?" Mba Suko menatapnya tak mengerti.

"Yaaa ... tempatnya mahasiswi yang bisa ... dipakai," ia terpaksa mengatakan hal tersebut sembari memasang wajah menyesal.

"Dipakai gimana?" namun rupanya Mba Suko belum paham juga dengan maksud dari pertanyaannya.

"Aduh," ia menggaruk kepala yang tak gatal. "Dipakai sama laki-laki Mba. Disewa, dibayar, apa itu namanya, kerja sampingan ...."

"Owalah ... ngomong kok muter-muter to, Mba ... Mba ...." Mba Suko tertawa lebar.

"Bener atau enggak?" ia memandang Mba Suko penasaran.

"Gimana, ya ...." Mba Suko terlihat bingung sambil menggaruk-garuk kepala.

"Awalnya begini ... dulu ... sudah lama ... ada yang kost di sini, eh ... dilabrak sama ibu pejabat, istri sahnya."

"Apa?!" ia terbelalak.

"Ya ... pelakor gitu, Mba. Aduh ... eman tenan, wong mahasiswinya tuh cuantik."

"Waduh, beneran pelakor?" ia mengernyit.

"Bener. Lha wong sampai ribut ngundang pak RT sama pak RW. Sampai mau dibawa ke pak Kadus."

"Terus?"

"Akhirnya pindah, nggak kost di sini lagi. Dengar-dengar pak pejabat itu jadinya cerai sama istrinya. Tapi yo ... nggak tahu juga itu gosip bener atau salah."

"Oh ...."

"Nah ... sejak saat itu, orang-orang melabeli yang kost di sini bisa 'dipakai'."

"Wah, nggak bener ya," ia menggeleng. "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."

"Opo maksude?" kini gantian Mba Suko yang mengernyit.

Ia pun meringis, "Ya ... karena perbuatan satu orang, jadi rusak image satu kost."

"Oh ... bener itu Mba, setuju," Mba Suko mengangguk. "Sejak saat itu ... Bu Gorda langsung merenovasi habis-habisan sampai bagus seperti sekarang ini."

"Bu Gorda itu ... pemilik kost ini? Beliau tinggal di mana?"

"Di Jakarta," jawab Mba Suko. "Bu Gorda itu istrinya Pak Gorda Megistra, jenderal pulisi yang sekarang dines di Jakarta."

"Oh ...." Ia manggut-manggut mengerti.

"Kalau gosipnya salah, tapi kok tiap malem banyak mobil bagus parkir?" ia mendadak teringat sesuatu.

"Terus tiap jam sembilan malem ke atas ... selalu ramai orang," lanjutnya lagi.

"Terus ... cowok mesum itu, berani-beraninya pegang-pegang saya?! Pasti karena dia ngira saya salah satu penghuni kost ini yang bisa dipakai, kan?!" geramnya marah, demi mengingat sekelebatan wajah Rendra.

"Mba ... masih marah sama Mas Rendra?"

"Iyalah, marah banget!" tukasnya cepat.

"Nanti tak suruh Mas Rendra minta maaf sama Mba Anggi. Mas Rendra sudah minta maaf belum to?"

"Boro boro," ia semakin merengut karena sekarang bayangan Rendra yang sedang tertawa di depan forum mendadak melintas di kepala.

"Mungkin Mas Rendra ngira ... kalau Mba Anggi itu Mba Frida."

"Siapa?"

"Mba Frida, pacarnya Mas Rendra. Perawakannya mungil, mirip sama Mba Anggi. Lha wong pas saya pertama lihat Mba Anggi sekilas ... tak pikir Mba Frida."

Membuatnya semakin mendecak kesal.

"Tapi ... kalau sudah kenal yo ... asline beda jauh ternyata," Mba Suko nyengir kuda. "Cantikan Mba Anggi ...."

"Nggak bener," gerutunya kesal karena bayangan Rendra justru semakin menari-nari di dalam kepalanya.

"Maafin Mas Rendra ya Mba," Mba Suko memandangnya sungguh-sungguh. "Mas Rendra itu sebenernya baik orangnya, cuma memang begitu gayanya."

Ia mencibir kesal. Masih berusaha membuang jauh-jauh bayangan Rendra, yang seolah melekat di dalam kepala.

Ya ampun.

"Terus ... kalau yang ramai malam-malam datang, pacar-pacarnya juga?" tanyanya ingin tahu.

"Tak pikir ya begitu, Mba. Jaman sekarang pacaran itu biasa to. Apalagi sudah mahasiswa, sudah dewasa. Pacaran jaman sekarang ya ... begitu itu kan?" jawab Mba Suko sembari menghela napas panjang.

Ia pun kembali mencibir. "Tapi bebas banget."

"Iya," Mba Suko mengangguk setuju. "Saya akui ... kekurangan di sini itu pergaulannya terlalu bebas."

"Apalah saya ... cuma wong cilik yang dititipi rumah kost buat dijaga. Ya nggak bisa macem-macem saya. Cuma pegawai kecil," keluh Mba Suko.

Membuatnya mencoba tersenyum menenangkan. "Iya juga, Mba. Ngng .... Oya, kayaknya sebentar lagi saya mau pindah kost."

"Hlo ... kenapa pindah?"

"Nggak kuat bayar," jawabnya jujur sambil terkekeh. "Di sini sebulan ... bisa dapat di tempat lain berbulan-bulan. Ini karena saya salah nyatat tanggal aja jadi bubrah semuanya, Mba Suko."

"Hoo ... lha, padahal saya sudah seneng ada Mba Anggi di sini. Orangnya lain daripada yang lain. Mau ngobrol sama orang kayak saya, sopan, ramah ...."

"Ih, apa sih, Mba Suko."

"Nanti kalau sudah pindah ... jangan lupain saya ya, Mba."

"Iya," ia tersenyum mengangguk. "Masa saya lupa sama Mba Suko yang baik ini, sih?" lanjutnya sambil memeluk Mba Suko.

Mba Suko membalas pelukannya dengan senang hati.

"Wah ... keasyikan ngobrol jadinya," Mba Suko tertawa. "Saya mesti ngasih pengumuman juga ke yang lain, kalau kamar mandi sudah bisa dipakai."

Ia tertawa. "Habisin dulu minumannya, Mba."

Mba Suko menghabiskan teh kotaknya, lalu mengambil dua buah kaos yang telah dipilih. "Saya ambil dua ya, Mba."

"Alhamdulillah. Makasih banyak, Mba Suko."

"Saya ambil uang dulu di bawah, barusan ke sini nggak bawa dompet."

"Siapp. Salam buat Ndaru yang ngganteng."

Mba Suko tersenyum lebar.

Ia mengantar Mba Suko sampai ke depan pintu, dan memperhatikan sampai punggung Mba Suko menghilang di balik tangga. Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Dan yang keluar adalah Niken.

Terpopuler

Comments

Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico

Zi❤Cakra❤Rendra❤️Dean❤Zico

ortunya Gabriel
dih ...masih dendam aq

2024-12-30

0

✨️ɛ.

✨️ɛ.

buat yg jahatin Agam, gue masih dendam.. 😤

2024-12-03

1

Atien

Atien

Jendral Gorda...temen angkatannya papanya Anjani ...Salah satu yg mempkosa tantenya Cakra...

2024-10-05

0

lihat semua
Episodes
1 1. Dio, The First Love Never Die
2 2. Di Pasir Putih
3 3. Mencari Kost Baru
4 4. How They Met
5 5. Beautiful Disaster, I'm Coming!
6 6. When It All Began
7 7. What A Morning!
8 8. Terrible Things
9 9. Deadly Nightmare
10 10. Rengganis, Girl From Nowhere
11 11. Their First Fight
12 12. Mba Suko
13 13. Salah Paham
14 14. Bad Senior, Ever
15 15. "Ketika Senyummu Hadir"
16 16. Bad Smoker, Ever
17 17. Mimisan di Depan Rendra
18 18. Bye, Pitaloka. Bye, Disaster.
19 19. Welcome to Raudhah
20 20. "Pakai Topi ... Nanti Pingsan!"
21 21. Sekaleng Bear Brand
22 22. "Sleep Tight"
23 23. D-Day
24 24. Kiriman Makan Siang
25 25. End of Days
26 26. Eyes on You
27 27. "Maaf"
28 28. "I Just Simply Love You"
29 29. "You're Every Reason"
30 30. "Sorry, I Can't"
31 31. Kejutan di Akhir Pekan
32 32. Senja Yang Indah di Malioboro
33 33. Lagu Cinta tentang Engkau dan Aku
34 34. Blue Night, Broken Heart
35 35. Tak Bisa ke Lain Hati
36 36. All is Well, Love You More
37 37. Iam A Fighter!
38 38. Senior's Eyes
39 39. Who's The Boss?
40 40. Indescribable Feeling
41 41. The Rising Star
42 42. Young and Dangerous
43 43. Deepest Pain
44 44. Deepest Sadness
45 45. Rapuh dalam Langkah
46 46. Pergilah Kasih
47 47. Always Here For You
48 48. Setelah Kau Pergi
49 49. Being Someone's 2nd
50 50. Really Deadly Disaster
51 51. Tell Me How To Win Your Heart
52 52. Kisah dari Masa Lalu
53 53. Family Portrait
54 54. The World We Have To Live In
55 55. Achilles Heel
56 56. Hi Heart, How Are You Today?
57 57. "Now You See Me?"
58 58. Trully, Madly, Deeply
59 59. Moshimo Mata Itsuka*
60 60. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
61 61. Boys Gonna Be Boys
62 62. River Flows in You
63 63. Tell Me We Belong Together
64 64. Kiss The Rain
65 65. Still Fall For You Everyday
66 66. Daun-Daun Gugur
67 67. Judgement Day
68 68. Loving Too Much Always Kills You
69 69. Berdiri di Tengah Badai
70 70. Luluh Lantak
71 71. Lemme be Yours
72 72. "Jalanku Hampa, dan Kusentuh Dia"
73 73. Don't Look Back In Anger
74 74. Seberapa Pantaskah Kau untuk Kutunggu?
75 75. Hadirmu Tenangkan Diriku
76 END- Ini Aku, Kau Genggam Hatiku
77 Teruntuk Readers Tersayang
78 From Author with Love
79 TERBIT CETAK
Episodes

Updated 79 Episodes

1
1. Dio, The First Love Never Die
2
2. Di Pasir Putih
3
3. Mencari Kost Baru
4
4. How They Met
5
5. Beautiful Disaster, I'm Coming!
6
6. When It All Began
7
7. What A Morning!
8
8. Terrible Things
9
9. Deadly Nightmare
10
10. Rengganis, Girl From Nowhere
11
11. Their First Fight
12
12. Mba Suko
13
13. Salah Paham
14
14. Bad Senior, Ever
15
15. "Ketika Senyummu Hadir"
16
16. Bad Smoker, Ever
17
17. Mimisan di Depan Rendra
18
18. Bye, Pitaloka. Bye, Disaster.
19
19. Welcome to Raudhah
20
20. "Pakai Topi ... Nanti Pingsan!"
21
21. Sekaleng Bear Brand
22
22. "Sleep Tight"
23
23. D-Day
24
24. Kiriman Makan Siang
25
25. End of Days
26
26. Eyes on You
27
27. "Maaf"
28
28. "I Just Simply Love You"
29
29. "You're Every Reason"
30
30. "Sorry, I Can't"
31
31. Kejutan di Akhir Pekan
32
32. Senja Yang Indah di Malioboro
33
33. Lagu Cinta tentang Engkau dan Aku
34
34. Blue Night, Broken Heart
35
35. Tak Bisa ke Lain Hati
36
36. All is Well, Love You More
37
37. Iam A Fighter!
38
38. Senior's Eyes
39
39. Who's The Boss?
40
40. Indescribable Feeling
41
41. The Rising Star
42
42. Young and Dangerous
43
43. Deepest Pain
44
44. Deepest Sadness
45
45. Rapuh dalam Langkah
46
46. Pergilah Kasih
47
47. Always Here For You
48
48. Setelah Kau Pergi
49
49. Being Someone's 2nd
50
50. Really Deadly Disaster
51
51. Tell Me How To Win Your Heart
52
52. Kisah dari Masa Lalu
53
53. Family Portrait
54
54. The World We Have To Live In
55
55. Achilles Heel
56
56. Hi Heart, How Are You Today?
57
57. "Now You See Me?"
58
58. Trully, Madly, Deeply
59
59. Moshimo Mata Itsuka*
60
60. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
61
61. Boys Gonna Be Boys
62
62. River Flows in You
63
63. Tell Me We Belong Together
64
64. Kiss The Rain
65
65. Still Fall For You Everyday
66
66. Daun-Daun Gugur
67
67. Judgement Day
68
68. Loving Too Much Always Kills You
69
69. Berdiri di Tengah Badai
70
70. Luluh Lantak
71
71. Lemme be Yours
72
72. "Jalanku Hampa, dan Kusentuh Dia"
73
73. Don't Look Back In Anger
74
74. Seberapa Pantaskah Kau untuk Kutunggu?
75
75. Hadirmu Tenangkan Diriku
76
END- Ini Aku, Kau Genggam Hatiku
77
Teruntuk Readers Tersayang
78
From Author with Love
79
TERBIT CETAK

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!