Dalam lift itu kebetulan hanya ada mereka berdua. Sehingga pertikaian keduanya tidak ada yang mengetahui.
Khansa menepis tangan Jane dari hadapannya. “Apa?” tantangnya dengan lantang.
Manusia sombong seperti Jane, tidak bisa dibiarkan menindas orang lain. Harus diber slentingan, agar tersadar bahwa di atas langit masih ada langit. Jane telah mengibarkan bendera perang. Tentu saja Khansa menyambutnya dengan suka cita.
“Kurang ajar sekali menyebutku anjing! Cewek kampungan aja belagu!” seru mulai Jane terpancing emosi.
Berbeda dengan Khansa yang tetap tenang, namun tatapan kedua matanya tampak sangat dingin dan menusuk. Khansa tidak pernah terburu-buru dalam bertindak.
“Memang begitu kenyataannya ‘kan? Kenapa kalau aku kampungan?” balas Khansa santai sembari memainkan kukunya. Tidak menghiraukan amarah Jane yang sudah hampir meledak.
“Ciih! Menjijikkan!” decih Jane mengendikkan kedua bahunya.
Jane lalu menundukkan pandangan, melihat gaun di badan Khansa. Kedua bola matanya semakin melebar. Ia baru sadar, gaun yang dikenakan Khansa adalah gaun terbaru dari merek NT yang terkenal di seluruh dunia, Jane baru saja melihatnya di majalah terbaru 2 hari yang lalu, dan tidak kebagian. Sedangkan Khansa sudah mengenakannya.
‘Bagaimana bisa Khansa sudah memakai gaun limited edition itu? Aku bahkan tidak kebagian. Sedangkan gadis kampungan itu malah sudah mengenakannya? Tidak bisa dipercaya,’ gumam Jane mendelikkan matanya.
Jane sulit mempercayainya, dia juga memfitnah kalau gaun yang dipakai Khansa adalah barang tiruan premium.
“Ting!”
Pintu lift terbuka, Khansa melangkahkan kakinya keluar dengan anggun. Namun tiba-tiba Jane menarik lengannya.
“Heh! Khansa! Gaun yang kamu pakai itu pasti barang tiruan premium ‘kan? Mana mungkin kamu mampu membeli gaun dari NT yang sangat terbatas ini. Huh, palingan juga beli yang imitasi!” teriak Jane hingga membuat sebagian orang yang melewatinya, menoleh ke arah mereka.
Khansa malas berdebat dengannya, meskipun di rumah ada sebuah lemari pakaian, yang disiapkan oleh Leon untuknya, tapi dia sama sekali tidak ingin menggunakan hal ini untuk pamer dan menghadapi orang lain.
Khansa menatap Jane, yang juga tengah menatap remeh padanya.
“Bener ‘kan yang aku bilang? Sok-sok'an jadi orang kaya, tapi pakai barang KW. Hahaha! Khansa … Khansa, kasihan sekali sih hidupmu. Pengen banget ya terlihat kaya? Beli aja enggak mampu!” cibir Jane yang terus mencemooh Khansa.
Dengan cuek, Khansa mengabaikan Jane yang terus meremehkannya.
“Khansa! Sialan kau. Ngeloyor gitu aja. Kenapa? Kamu malu ketahuan pakai barang KW? Hahaha!” teriak Jane tertawa terbahak-bahak.
Khansa meneruskan langkahnya tanpa mengacuhkannya. Jane sangat kesal karena diabaikan olehnya.
Tak disangka Jane melangkah maju dan kedua tangannya merobek gaun Khansa dengan penuh emosi.
“Krek!”
Khansa menoleh saat merasa ada yang menarik gaunnya. Dan benar saja, dua tangan kotor Jane telah merobek gaun Khansa hingga menciptakan belahan yang semakin tinggi. Jane tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Kepalanya mendongak seakan tengah menantang.
Khansa sudah berada di ambang batas kesabaran. Ia juga tidak mau kalah, Khansa juga merobek gaun Jane lebih parah lagi.
“Impas!” ucap Khansa memutar bola matanya malas.
“What?!” pekik Jane. “Sialan kamu Khansa! Ini gaun harganya mahal tahu enggak! Kamu enggak akan pernah mampu membelinya. Berani-beraninya kamu merobeknya!” teriak Jane histeris melihat gaunnya sudah tak berbentuk, akibat buah karya dari tangan Khansa.
“Enggak akan ada asap kalau enggak ada api. Dan jangan pernah mencoba bermain api kalau kamu tidak mau terbakar!” Khansa memperingatkan.
Jane yang memang sudah tersulut emosi, iri, dengki sedari tadi pun tak kuasa menahan amarahnya. Ia meraih rambut Khansa dan menariknya.
Bukan Khansa namanya kalau diam saja. Tentu Khansa membalas berkali-kali lipat. Bahkan dalam sekali tarik, rambut Jane sudah berada di genggaman kedua tangan Khansa.
“Aaaarrrghh!” pekik Jane kesakitan melepaskan cengkeraman tangannya.
“Sudah kubilang jangan bermain api, Jane!” tantang Khansa melipat kedua tangannya di dada.
Khansa meniupkan rambut Jane di tangannya, hingga berhamburan di lantai yang mengkilap itu lalu menepuk-nepuk kedua tangannya seakan sedang membersihkan kotoran.
Jane sudah nampak sangat kacau. Ia mengambil ancang-ancang untuk menerjang Khansa. Gadis itu tetap berdiri dengan tenang, menatap apa yang akan dilakukan Jane. Saat keduanya hampir berkelahi lagi, Maharani menghentikan keduanya.
“Jane, Khansa! Apa yang kalian lakukan?” seru Maharani yang turun untuk melayani tamu.
Keduanya terdiam, deru napas Jane sudah memburu. Dadanya naik turun dengan kasar.
“Apa-apaan kalian ini? Ini hari spesial Jihan. Jangan rusak acara mewah ini,” lanjut Maharani.
“Gadis kampungan itu yang mulai, Tante!” Jane berkelit, menyalahkan Khansa.
“Aku kenapa? Bukannya dari tadi kamu yang terus menyerangku?” Khansa tak mau kalah.
“Sudah! Sudah, hentikan! Acara sebentar lagi akan dimulai. Jangan seperti anak kecil.
Maharani bersikap sok bijak. “Khansa, kamu ganti pakaian kamu dulu sana. Lihatlah pakaianmu terkoyak dan tampak kacau balau,” ucap Maharani menyentuh lengan Khansa.
Khansa melirik malas ke arah Maharani. Ia yakin, ada sesuati yang tengah direncanakan wanita itu. Maharani adalah tipe wanita pendendam. Dia tidak akan mudah melupakan kesialannya bertubi-tubi karena Khansa.
“Kamu! Antarkan Khansa ke lantai atas untuk berganti pakaian!” suruh Maharani pada salah seorang pelayan di sana setelah melihat pakaian Khansa yang buruk rupa.
“Baik, Nyonya. Mari silahkan,” ajak pelayan itu mengulurkan tangannya ke depan. Mengarah ke lantai atas.
Khansa mengikutinya, ia pun mengikuti langkah pelayan itu. Sampai di ruang ganti, pelayan membawakan sebuah gaun baru untuk Khansa, gaun ini juga buatan NT.
“Terima kasih, tapi tidak perlu repot-repot. Aku bisa mengakali ini,” tolak Khansa mengikat gaun yang sobek itu ke atas hingga batas lutut. Masih layak dipakai dan justru terlihat modis.
“Nona, tapi itu sudah rusak. Pakai ini saja. Gaun ini masih baru kok. Dan merupakan gaun limited edition. Tidak banyak orang yang memakainya,” bujuk pelayan itu. Khansa masih enggan menerimanya. Ia tidak terburu-buru.
“Nona, jika Anda mengenakan gaun ini, saya yakin Anda akan terlihat semakin cantik. Gaun ini sangat pas di tubuh Anda. Dan juga sangat elegan,” ucap pelayan itu menyanjungnya dan menggunakan segala cara agar Khansa mengganti gaunnya.
Khansa menyadari ada masalah dengan pelayan dan gaun itu. Namun, dia tersenyum dan kemudian memakai gaun NT yang disediakan oleh pelayan.
Di dalam aula pesta.
Jihan memastikan kepada Maharani apakah Khansa sudah mengganti gaunnya.
“Gimana, Bu? Khansa sudah memakai gaunnya ‘kan?” tanya Jihan.
Maharani mengangguk sambil tersenyum, “Udah dong.”
“Bagus, kita udah rugi banyak gara-gara si Khansa, hari ini kita harus kerjain dia habis-habisan, hanya saja sayang banget gaun putri NT itu, aku belum pernah memakai gaun dari NT,” keluh Jihan mengerucutkan bibirnya.
Maharani menunjuk-nunjuk kepala Jihan, “Kalau mau berhasil ya harus berkorban, nanti kalau reputasi Khansa sudah hancur, Ibu bakal mikirin cara lagi buat dapetin gaun NT untukmu,” jelas Maharani membayangkan rencananya berjalan mulus.
Bersambung~
Done yah 10 bab minggu ini. semoga terhibur. dan semoga masih disuruh lanjut...wekekekk...
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Priskha
Thor...anda sdh berhasil membuat aq penasaran dg karyamu, tp aq bacanya terpaksa alur mundur krn pertama kl nemu karyamu adalah kisahnya si Cheryl dan Joerell trs jadinya ya penasaran dg kisah2 sblmnya, hbsnya bagus sih ceritanya
2024-08-11
1
Anonim
mak sm anak tdk mengenal adab ya
2023-11-22
1
Susi yati
tu kan g ada kapoknya. biarin aja kmren jihan di perkosa sm preman. aihhhh sebel bgt greget sm jihan sm biangnya.
2022-09-21
1