Khansa mengakhiri percakapan mereka, setelah memberi semangat pada sahabatnya itu dan memberi ucapan selamat malam.
Harusnya lega ‘kan? Satu persatu akan ia tumbangkan saat tiba waktunya nanti. Namun setelah meletakkan ponselnya di nakas, Khansa menggulingkan tubuhnya ke kiri, lalu merubah posisi lagi ke kanan dan terakhir kembali ke posisi terlentang.
“Aahh! Kenapa jadi kepikiran ucapan Leon sih!” Khansa beranjak duduk, mengusak rambut panjangnya.
Ia tidak bisa tidur karena memikirkan pertanyaan Leon tadi, yang terus terngiang di telinganya. Lalu menyentuh bibirnya, sambil mengembangkan senyum.
Teringat kembali bagaimana agresifnya pria itu melahap bibirnya. Dan, mengingat pinggang kuat milik sang suami yang benar-benar membuatnya melting.
Hanya membayangkannya saja, jantungnya seperti melompat-lompat di dalam sana. Pipinya juga bersemu merah.
“Aaahh! Leon!!” Khansa menjatuhkan tubuhnya lagi di kasur empuk itu, menutup wajahnya yang merasa malu sendiri.
Lalu, dia juga teringat akan pesan terakhir Leon bahwa Khansa bisa menelponnya kalau ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.
Khansa merasa lebih tenang, kali ini ada Leon di belakangnya. Dan ada sahabat yang senantiasa merengkuh dan membantunya. Perlahan-lahan Khansa memejamkan matanya dan tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Khansa bangun seperti biasa. Sesaat setelah keluar dari kamar mandi, masih dalam balutan bathrobe, ponselnya berdering nyaring.
Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Khansa meraih ponsel itu. Keningnya mengernyit saat melihat nama Maharani di layar benda pipih itu.
“Halo,” sapa Khansa setelah menekan tombol berwarna hijau.
“Hai, selamat pagi Khansa!” sapa balik Maharani dengan ceria. Seperti tidak terjadi apa-apa semalam.
Namun, meskipun begitu, Khansa selalu mengikuti alur permainan yang diciptakan oleh wanita itu. Khansa selalu waspada dan bermain cantik dengan rencana busuk Maharani. Wanita yang lebih pantas mendapat julukan iblis betina.
“Ada apa? Sudah bebas ternyata! Aku pikir kamu akan betah berlama-lama di balik jeruji besi!” sindir Khansa tetap dengan nada tenang.
“Tentu saja, Fauzan sudah memberikan jaminan. Aku ‘kan istri kesayangannya! Sudah pasti akan melakukan apapun untuk membebaskanku!” Ucapannya penuh penekanan dan percaya diri.
“Ah, tapi lupakan kejadian tadi malam. Aku menelepon karena ingin mengundangmu dke acara pesta ulang tahun Jihan sekarang.”
Khansa diam mendengarkan, belum berniat membalas ucapan wanita paruh baya yang selalu berotak licik itu.
“Kamu tahu, Fauzan sangat mementingkan acara ini. Karenanya dia merayakan di Hotel Royal, hotel berbintang 6 dengan sangat mewah dan meriah. Ingat ya, kamu harus datang di acara penting ini!”
Nada bicara Maharani seolah mencemooh, menekankan bahwa Fauzan ayahnya lebih mementingkan dan menyayangi Jihan. Sedangkan dia, hanya anak yang tidak dianggap bahkan hanya anak buangan.
Di hari kepulangan Khansa ke kota Palembang, dia pernah melihat Hotel Royal bintang 6 dari dalam mobil, hotel itu terletak di wilayah paling ramai di kota Palembang, desain gedungnya bagaikan piramida mewah yang menjulang tinggi ke dalam awan.
Hotel tersebut adalah milik pria terkaya di kota ini. Khansa merasa lawan sudah menurunkan surat perang, maka dia tidak mungkin menolaknya.
“Baiklah, aku pasti akan datang. Jangan khawatir,” balas Khansa menyetujui undangan Maharani, dan juga mengabaikan hal-hal yang dia pamerkan. Semua yang dia ucapkan, tidak berefek apa pun bagi Khansa. Ibaratnya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, hanya sekedar lewat saja.
Khansa mengakhiri panggilan, lalu membuka ruang pakaian, detik selanjutnya dia tercengang. Ruangan itu sangat besar, jemari lentiknya menyusuri setiap lemari kaca yang berdiri dengan gagah di sekelilingnya.
Ruang pakaian ini sudah disiapkan sejak dia menikah ke sini, di dalamnya terdapat banyak sekali gaun, sepatu hak tinggi dan tas bermerek. Ini kali pertama Khansa memasukinya.
Ruang pakaian ini benar-benar ruang idaman semua wanita. Kagum, namun Khansa tidak terlalu antusias menyambutnya. Khansa tidak pernah bermimpi bahkan sekedar membayangkan untuk memiliki semua itu.
Semasa di desa, untuk bertahan hidup saja ia kesulitan. Fauzan benar-benar mengabaikannya.
“Ini seperti mimpi,” gumamnya pelan dengan mata berkaca-kaca.
Langkahnya terhenti ketika melalui sebuah lemari kecil, dibukanya perlahan, dia melihat berbagai model baju tidur di dalamnya, ada yang biasa, ada juga yang seksi.
“Astaga!” keluh Khansa menepuk keningnya, ia merinding membayangkan baju-baju sexy itu melekat di tubuhnya.
Wajah Khansa langsung merona karena malu. Ia teringat akan ucapan Emily. Bahwa, seorang pria yang terlihat semakin baik di luar, dan pakaiannya selalu rapi, maka hatinya akan semakin bernafsu.
Khansa segera menutup lemari tersebut, seiring dengan menutup pikiran-pikiran kotornya. Kemudian memilih sebuah gaun panjang untuk dikenakan, setelah selesai dia pun pergi menuju ke Hotel Royal.
Sebelumnya, ia berpamitan dengan sang nenek yang kebetulan saat itu berpapasan dengannya ketika menuruni tangga.
“Khansa, kamu cantik sekali. Mau ke mana, Sayang?” tanya sang nenek yang menatap Khansa sejak dari lantai atas tadi, ia kagum dengan kecantikan Khansa yang bukan hanya dari wajahnya saja. Namun inner beauty-nya yang terpancar semakin membuat sang nenek menyayangi Khansa.
“Nek, Khansa mau menghadiri acara ulang tahun Jihan, saudara tiri Khansa, Nek,” izin Khansa menjelaskan kepergiannya.
“Ooh baiklah, sayang sekali Leon pergi ke luar negeri. Kamu enggak apa-apa pergi sendirian?” tanya nenek lagi dengan khawatir.
Khansa mengurai senyuman indahnya, kedua matanya hingga menyipit. Ia sungguh bersyukur karena nenek mertuanya sangat menyayangi dan peduli padanya.
“Khansa akan baik-baik saja, Nek. Khansa pergi dulu ya,” pamitnya mencium punggung tangan nenek Sebastian.
“Baiklah, Cu. Hati-hati ya,” sahut sang nenek mengusap kepalanya dengan lembut.
Sang nenek memaksa agar Khansa diantar oleh sopir keluarga. Khansa pun tidak bisa menolaknya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menempuh perjalanan menuju Hotel Royal. Ia turun setelah mobil berhenti di depan lobi hotel. Sang sopir bergegas membukakan pintu untuk Khansa.
Perlakuan seperti ini, justru membuat Khansa menjadi canggung, “Terima kasih, Pak,” ucap Khansa dengan ramah menurunkan kedua kaki jenjangnya di pelataran bangunan megah bintang 6 itu.
“Sama-sama nyonya muda,” jawab sopir itu membungkukkan badannya.
“Saya masuk dulu ya, Pak,” pamit Khansa lalu melenggang pergi setelah diiyakan oleh sopirnya.
Sepasang heels bermerk membentur marmer lobi hotel, Khansa melangkahkan kaki jenjangnya dengan pelan.
Saat hendak naik ke lantai atas dengan lift, dia berpapasan dengan Jane.
“Eh Khansa, udah datang ya. Baguskan? Ini hotel bintang 6 lho! Hotel Royal namanya, kalau bukan karena Jihan ingin kamu hadir di pesta ulang tahunnya, gadis kampungan kayak kamu nggak mungkin bisa datang ke tempat berkelas seperti ini seumur hidup!” ejek Jane dengan sok-sok’an.
Khansa menekan tombol lift, lalu pura-pura menghela nafas, “Anjing siapa sih ini, bisa-bisanya ngak diikat dan dibiarkan gigit orang sembarangan,” gumam Khansa pelan namun menusuk jantung Jane saat itu juga.
Ekspresi wajah Jane sektika berubah, “Hei kamu!” sembur Jane dengan marah mengacungkan telunjuknya ke hadapan Khansa.
Bersambung~
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Milah Milah
khansa kok g tlp ke leon ya untuk meminta izin?
2025-03-08
0
Anonim
bakal seru neeehhhh
2023-11-22
2
Sukliang
ati2 kanza
2023-05-07
0