Maharani Isvara—ibu tiri Khansa, dulunya adalah seorang ratu film populer saat masih muda, dia melahirkan 2 orang putri, tubuh dan wajahnya terawat dengan baik hingga sekarang.
Wanita itu dulunya adalah pelakor yang kemudian menjadi istri sah, tapi dia sangat licik dan begitu pandai bermain trik. Tidak hanya berhasil menyembunyikan riwayat sebagai pelakor, tapi jugabergaul dengan baik di lingkaran para nyonya keluarga kaya dengan caranya yang pintar.
Menikahkan Khansa dengan keluarga konglomerat di Palembang, merupakan trik untuk mempertahankan kekayaannya. Tidak peduli dengan kebahagiaan Khansa ke depannya. Otaknya hanya berpikir, bagaimana caranya agar ia bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut.
Karena ingin reputasinya baik, Maharani mengadakan resepsi pernikahan Khansa sangat mewah dan bagus. Pesta berlangsung dengan sangat meriah. Semua tamu undangan memujinya.
Saat duduk di pelaminan, Khansa bertanya dengan nada rendah, "Waktunya sudah tiba, kok ... mempelai prianya nggak datang menjemputku?"
Pertanyaan itu, sontak membuat para tamu saling pandang dan bertanya-tanya. Mereka pun akhirnya berasumsi, bahwa sebenarnya Khansa belum mengetahui keadaan suaminya yang sebenarnya. Hal itu membuat banyak sekali orang yang memarahi Maharani. Mereka pun mencibir dan mencemooh Maharani.
“Oh … astaga, kasihan sekali Khansa. Jadi kamu tidak tahu seperti apa suamimu?”
“Kau sungguh egois Maharani!”
“Jadi kamu meminta Khansa menggantikan putrimu untuk menikahi pria penyakitan ya?”
Masih banyak lagi cacian yang terlontar untuk Maharani. Banyak yang iba pada nasib Khansa yang harus dijodohkan dengan pria penyakitan. Fauzan merasa sangat bersalah. Namun, Khansa justru terdiam, tak begitu mempedulikan ocehan orang-orang yang membelanya.
Raut wajah Mahari tidak baik, dia melihat Khansa, tiba-tiba dia merasa telah meremehkan Khansa, sehingga membuatnya malu. ‘Awas kau Khansa! Waktu masih panjang, aku pasti akan memikirkan cara untuk membereskan kamu di lain waktu.’
Darahnya berdesir hebat. Sorot mata yang tajam pun ia layangkan pada anak tirinya itu. Kedua tangannya bahkan terkepal dengan kuat karena emosi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara resepsi telah selesai digelar. Khansa yang sudah mengganti gaun pengantinnya, kini dijemput oleh sopir Keluarga Sebastian. Ia tiba di Villa Anggrek, lalu langsung memasuki rumah baru.
“Silahkan, Nyonya Muda. Ini kamar Tuan Muda,” tunjuk seorang pelayan pada Khansa.
“Emm … terima kasih,” ucap Khansa mengangguk sopan.
“Kalau begitu, saya pamit undur diri, Nyonya.” Sang pelayan meninggalkan Khansa setelah membungkuk memberi hormat.
Gadis bercadar itu menyentuh gagang pintu, lalu mendorongnya perlahan. Tidak ada cahaya di dalam kamar itu sehingga gelap gulita, suasananya sunyi sepi. Khansa datang ke sisi kasur, samar-samar dia melihat seorang pria yang terbaring di atas kasur, seharusnya ini suami yang baru dinikahinya.
Khansa semakin mendekat, kemudian menyentuh pergelangan tangan pria itu dengan tujuan ingin memeriksa denyut nadinya, tapi dengan gerakan cepat, dia malah berbalik lalu ditindih oleh pria itu ke atas kasur.
Tubuhnya terhempas, meski terkejut namun Khansa menutupinya dengan baik. Ia bersikap tenang sembari memastikan sesuatu. Khansa merasa ada yang tidak beres, ‘Bukankah pria ini harusnya penyakitan? Sedangkan yang baru saja aku periksa adalah pria yang sangat sehat!’—gumam Khansa dalam hati penuh tanda tanya.
Khansa mencurigai identitas pria yang mengungkung tubuhnya saat ini, kemudian dia langsung menendang selakangan pria itu. Namun, gerakan gadis itu dapat terbaca, pria itu segera menghindar, lalu menekukkan lututnya dan menindih Khansa.
"Siapa kamu! Lepaskan aku!" gertak Khansa melotot tajam.
Khansa memberontak hebat, tubuh mereka bergesekan di balik kain tipis. Tangan Khansa dicengkeram kuat oleh pria yang menjadi suaminya itu.
Leon membelai wajah yang tertutup cadar itu. Ia mencoba menggodanya, "Pengantin baruku ramah banget! Mau naik ranjang ya?" bisiknya dengan nada sensual.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kedua mata Khansa semakin melebar mendengarnya, “Dasar pria mesum!” umpatnya kesal. Sedangkan Leon justru terkekeh mendengarnya. Gadis itu terus mengumpat sampai merasa puas.
Meskipun demikian, lama kelamaan Khansa bisa menerima kenyataan bahwa Leon adalah suami yang baru dinikahinya, tapi ada yang salah dengan rumornya, suaminya ini tidaklah lemah.
Kemudian, perlahan Leon mulai menyingkap pakaian Khansa. Namun perempuan itu memberontak, melepas cengkeraman tangan Leon dan menahan bajunya agar tidak terlepas. “Apa yang mau kamu lakukan?” seru Khansa penuh penekanan.
“Ssssttt! Dengarkan aku. Berpura-puralah mendesah, karena aku yakin nenek sedang menguping di depan kamar. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?” Leon berbisik di telinga Khansa. Membuat gadis itu menggeliat kegelian.
Leon yakin, sang nenek ingin memastikan keadaan Leon. Di usianya yang sudah matang, ia belum menemukan pasangan hidup. Hal yang ditakutkan adalah, cucu kesayangannya itu pria impoten. Karenanya, wanita baya itu menguping di depan kamar Leon untuk memastikan anggapannya salah.
“Ap—apa? Bagaimana? Aku tidak bisa,” jawab Khansa sambil berbisik pula.
Tidak ada cara lain, akhirnya Leon menyingkap pakaian yang dikenakan oleh Khansa. Jemarinya perlahan menyusuri perut rata itu. Khansa menggigit bibir bawahnya yang masih tertutup cadar. Tubuhnya seperti menerima sengatan listrik. Jemari pria itu menyusuri kulit mulus Khansa, lama kelamaan semakin ke atas, berhenti di salah satu bukit kembar Khansa. Bermain-main di sana, hingga ….
“Ahh.” Akhirnya sebuah suara keluar dari bibir Khansa. Ia merasakan gelayar aneh di seluruh tubuhnya karena gerakan jemari Leon yang semakin liar. Leon menyeringai puas menatap ekspresi Khansa yang menggemaskan baginya.
“Bagus, terus … lanjutkan,” bisik Leon lagi. Bukan suara yang dibuat-buat, namun perempuan itu memang benar-benar terus meracau dan mengeluarkan suara-suara aneh seiring dengan sentuhan-sentuhan sang suami.
Nenek Leon yang berada di luar mendengarnya, beliau senang karena cucunya bukan impoten, dia pergi ke aula leluhur dan berdoa. “Oh, terima kasih Tuhan,” gumamnya sembari meninggalkan kamar cucunya.
Mendengar langkah kaki menjauh, Khansa seketika mendorong Leon, Leon juga langsung bangkit dari atas tubuh Khansa. Pria itu turun dari ranjang lalu menyalakan lampu saklar yang ada di tembok.
Ruangan menjadi terang seketika, Khansa terkejut saat melihat wajah Leon, Rupanya dia adalah pria yang ada di dalam kereta itu!
“Aku sudah pernah bilang bukan? Kalau kita akan segera bertemu lagi,” ucap Leon sambil mengurai senyum di bibirnya. Ia menatap Khansa dengan intens.
Kepala pelayan memberitahunya kalau keluarga Isvara menggunakan seorang gadis desa sebagai pengantin pengganti. Awalnya dia tidak terlalu memikirkannya, yang penting neneknya senang, apalagi kalau gadis desa itu adalah dia.
Tapi, emang ada gadis desa sepertinya? Leon sudah pernah menyaksikannya di dalam kereta, dia menyaksikan bagaimana gadis itu membuat pria bercodet terjatuh di dalam pelukannya.
Terdengar ketukan pintu dari luar menginterupsi lamunan Leon.
“Masuk,” ucap Leon dengan lantang.
Paman Indra—sang kepala pelayan, membuka pintu lalu masuk ke kamar. "Tuan muda, Nyonya muda ... harus diapakan?" tanyanya setelah membungkuk dengan hormat.
Bersambung~
Mohon dukungannya ya, Kak... like komen fav gift and vote seiklasnya 😘
seperti inilah kira-kiraa cadarnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
G** Bp
ada² aja tingkah nenek Leon,nguping didepan pintu kamar pengantin sampai terdengar suara eksotis 🤣🤣🤣
2024-06-14
1
Suharnani
Aku mampir baca thor dan membawa like
2024-04-29
1
kutu kupret🐭🖤🐭
aku kira namanya mahatahi weehhhh ternyata mahataiiii🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-01-03
2