Leon semakin mengerutkan keningnya. Kedua manik hitamnya menatap Khansa penuh tanya, menuntut jawaban atas ucapannya tadi.
“Eumm … Jihan mengira kamu adalah sugar daddy-ku. Waktu aku pulang tadi, dia bilang kalau aku memelihara sugar daddy. Jadi ya, begitulah,” jelas Khansa tersenyum samar.
Sebenarnya ia merasa tidak enak menyebut suaminya seperti itu.
“Heh! Dasar jalangg! Baru menikah beberapa hari, bukannya mengurus suami yang sedang sekarat, malah asyik berkencan dengan sugar daddy!” pekik Jihan menatap Khansa dengan tajam.
Leon bergeming, hanya melipat kedua lengannya bersandar di meja kasir dan satu kakinya menyilang. Ia seperti tengah menonton pertunjukan.
“Lagian nih ya, gadis bodoh, kampungan, dan culun seperti kamu tidak cocok jalan sama laki-laki seperti dia,” sambungnya menunjuk Leon.
Jihan mengungkapkan kekesalannya. Tidak terima karena Leon, pria idamannya ternyata adalah sugar daddy Khansa. Jihan terus mengumpat, mencaci dan memaki Khansa.
“Hei perhatian semuanya. Lihatlah perempuan ini. Dia baru saja menikah, tapi malah asyik berpacaran dengan laki-laki lain. Dasar jalangg! Pria ini lebih cocok sama aku. Aku jauh lebih cantik, sexy, dan modis.” Jihan memprovokasi semua pengunjung di sana.
Khansa bertepuk tangan, dengan mengurai senyum. “Nona Jihan yang cantik, sepertinya kamu membutuhkan cermin yang besar. Ah iya, apa perlu aku membelikannya?” Khansa menatap ujung kepala hingga ujung kaki Jihan.
“Penampilan kamu dan tingkah lakumu yang menggoda suami saya, itu tak lebih dari seorang jalangg yang haus akan belaian,” sindir Khansa dengan sarkastik membuah Jihan dan semua orang melongo karena terkejut.
Khansa lalu melangkah keluar, diikuti oleh Leon di belakangnya. Pria itu menyunggingkan senyum tipis melihat ketegasan Khansa. Ia semakin kagum pada gadis itu. Dia bukan gadis lemah yang mudah ditindas.
Sepeninggal pasangan itu, Jane tertawa bahkan sampai terpingkal-pingkal. “Jihan, kamu harus memanggil Khansa nenek tuh, hahaha!” seru Jane menyindirnya.
Pemilik toko yang mendengar keributan Khansa dan Jihan, segera ke depan. Ia juga tahu bahwa Leon merupakan keluarga Sebastian, yang meminta dibuatkan kue baru. Setelah melihat perdebatan dua gadis itu, ia tidak berani menjual kue kepada Jihan dan Jane lagi, karena mereka telah menyinggung Leon.
“Maaf, Nona. Tolong kembalikan kue itu! Saya ingin memberikannya pada anjing di rumah saya,” ujar sang pemilik toko menengadahkan tangannya.
“Apa maksud Anda? Kami ini pelanggan VVIP lho, di tempat ini. Bagaimana mungkin Anda memperlakukan kami seperti ini?” geram Jihan tidak terima.
“Tentu saja. Bahkan saya sebagai pemilik toko, tidak mengizinkan Anda membeli kue di sini. Karena kalian telah lancang menghina dan menyinggung Tuan Muda Leon,” balas pemilik toko tak kalah sinis.
Jihan menggeram marah, ia membanting kue yang ada di tangannya. “Aaarrgghh! Sialan! Tidak mungkin. Khansa pasti berbohong,” pekiknya meremat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.
Apalagi melihat sekelilingnya yang menatap jijik ke arahnya. Jihan tidak terima dipermalukan oleh Khansa seperti itu. Ia benar-benar sangat marah. Kemudian, ia segera berlari keluar toko itu penuh amarah diikuti Jane di belakangnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Sepanjang perjalanan pulang, Khansa masih terdiam. Leon menyetir dengan satu tangannya. Sedangkan tangan satunya menyerahkan black gold pada Khansa. “Ambillah, mungkin kamu tidak akan mampu menghidupiku, tapi aku pasti mampu menghidupi istriku, Nyonya Sebastian.”
Mendengar kalimat itu, seketika jantungnya berdegub dengan kencang. Ia terpaku masih menatap tak percaya.
“Ayo ambillah,” paksa Leon meletakkannya pada telapak tangan Khansa.
“Eh, euumm … terima kasih,” ucap Khansa pelan.
‘Apaan sih, Sa. Baru dibilang gitu aja udah salah tingkah, mana jantung rasanya mau loncat,’ gerutu Khansa dalam hati.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di kediaman Sebastian. Nenek sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi. Ia pun menyambut cucu beserta sang istri setelah masuk ke rumah.
“Sayang, bagaimana keadaan keluarga kamu? Semuanya baik-baik saja ‘kan?” tanya nenek sembari memeluk lengan Khansa.
“Iya, Nek. Semuanya baik. Oiya, Nek! Khansa bawa kue loh. Kita makan sama-sama ya,” jawab Khansa segera mengalihkan pembicaraan. Karena Khansa tidak mau menambah beban pikiran sang nenek.
“Oh, ya ampun. Nenek suka sekali makan kue,” sahut nenek berbinar.
“Kalau begitu, Khansa siapkan dulu ya, Nek.” Gadis itu bergegas ke dapur dan menyiapkannya di atas piring. Tak lupa ia juga menyiapkan teh hangat. Setelahnya segera bergabung dengan Leon dan nenek yang tengah duduk di ruang keluarga.
Khansa meletakkan nampan di meja dengan perlahan. “Mari makan, Nek. Ini adalah kue favorit Khansa. Dulu, ibu suka sekali membelikannya untukku,” seru Khansa mencomot satu potong kue lalu duduk di sebelah Leon. Nenek juga tampak antusias memakan kue-kue itu.
“Nek, jangan makan banyak-banyak,” tegur Leon ketika melihat neneknya makan dengan lahapnya.
“Iya, kau tenang saja Leon,” sahut nenek dengan mulut masih penuh dengan makanan.
Mata tajam Leo menangkap cream kue di sudut bibir Khansa saat ia tengah menyantap kue tersebut. Leo mengulurkan ibu jarinya, mengarah pada bibir Khansa. Khansa memundurkan tubuhnya semakin menepi ke sudut sofa dengan jantung yang berdegub kencang.
“Belepotan banget sih, kayak anak kecil aja.”
Dengan cepat, Khansa menjilat sisa cream yang menempel dengan lidahnya sendiri. Ia lalu menunjukkan senyum nakalnya. Leon menghela napas panjang. Ia mengendurkan dasinya dan beranjak naik ke lantai atas.
Beberapa menit kemudian, Paman Indra—Kepala pelayan membawa seorang pria tua ke lantai atas. Khansa mengamatinya, “Nek, siapa pak tua itu?” tanya Khansa menghadap pada nenek.
“Oh, itu adalah Tuan Suryo, beliau datang sebulan sekali untuk mengobati penyakit insomnia Leon,” jelas nenek lalu menyesap teh hangatnya.
“Kalau begitu, Khansa pamit ke atas ya, Nek,” izin Khansa segera beranjak menuju ruang kerja suaminya setelah diiayakan oleh nenek.
Sesampainya di lantai atas, Khansa terkejut dengan kondisi ruang kerja yang sangat berantakan. Leon sedang mengamuk, peralatan Tuan Suryo juga berserakan di lantai, penyakit Leon kambuh lagi.
“Keluar kalian semua!” teriak Leon mengusir semua orang yang ada di dalam ruangan.
Tuan Suryo keluar disambut oleh Khansa. Ia menanyakan gejalanya kepada Taun Suryo. Khansa menganggukkan kepala ketika mendengarkan penjelasan dari pria tua itu. Kemudian Khansa hendak masuk ke dalam.
“Nyonya, jangan masuk. Tuan sedang mengamuk, penyakitnya kambuh,” bujuk Paman Indra khawatir.
“Paman, jika membiarkan Leon mengamuk dan insomnia berkelanjutan, maka akan memungkinkan munculkan kepribadian ganda, hingga waktunya nanti Leon yang sekarang akan menghilang,” jelas Khansa membuat Paman Indra mengangguk paham. Ia pun membiarkannya masuk.
Perlahan, Khansa membuka handel pintu dan melangkah masuk. Leon yang mendengar derit pintu terbuka dan langkah kaki mendekat semakin marah.
“Keluar dari sini!” sentak Leon menunjuk ke arah pintu. Khansa tetap diam di posisinya.
“Keluar!” ulang Leon lagi dengan suara keras. “Jangan membuatku mengulang kata yang sama untuk ketiga kalinya! Atau akan fatal akibatnya!” lanjut Leon masih dengan nada membentak.
Tidak ada ketakutan dari raut wajah Khansa. Ia justru melangkah semakin mendekat, Leon yang menyadarinya, mendorong tubuh Khansa dengan keras. Gadis itu terjatuh, pelipisnya mengenai sudut meja.
“Awwh … Shhh!” desis Khansa kesakitan. Telapak tangannya menutupi luka di pelipisnya, darah segar mengalir dari celah jari-jarinya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Cih Jalang teriak Jalang...malu maluin...🤣🤣🤣
2023-11-28
1
Anonim
semoga Khansa bisa menyembuhkan Leon
2023-11-21
0
Susi yati
q penasaran leon sakit apa kak
hemmmm insomnia itu orang yg g bs tidur bner2 g bs tidur pdhl kpla skit bgt bgtu x ya. tp kok bs bgt, penyebabnya knpa smpe ngamuk2 ky orgil. ksihan khanza untung cwe kuat klo g tu khansa ky orang tekanan batin
2022-09-21
0