“Khansa, Ayah mohon. Temui Pak Arman dan mintalah maaf padanya,” ucap Fauzan dengan nada lebih rendah.
Khansa sudah tidak banyak berharap pada ayahnya satu ini. Tapi tindakan hari ini membuatnya merasa marah, kecewa, sedih.
Seperti biasa, Fauzan terobsesi dengan ilmu pengobatan, munafik dan sangat mementingkan reputasinya, yang ada di otaknya hanya memajukan bisnis Grup Isvara.
Putri yang dibanggakan adalah Yenny, sedangkan dia yang dijemput dari desa tidak lain hanya digunakan untuk membantu keluarga Isvara mengatasi perjanjian pernikahan.
Lama tak mendengar jawaban dari Khansa, Fauzan kembali menimpali ucapannya, “Khansa, kamu tenang saja. Ayah akan membantumu mencari suami baru yang baik setelah suami yang penyakitan itu meninggal.”
DEG!
Hati Khansa mencelos mendengarnya, air matanya mulai berjatuhan tanpa diminta. Kepalanya menoleh pada sang suami yang tengah tertidur pulas. Entah mengapa ia merasa sedikit tak rela.
“Khansa, kamu dengar Ayah ‘kan?” sambung Fauzan.
“Iya, Yah.” Malas berdebat, Khansa pun mengiyakannya.
“Yasudah, istirahatlah sekarang. Jangan lupa besok jam 8 di bar 1998. Jangan sampai terlambat ya.” Kembali Fauzan menegaskan.
“Iya,” balas Khansa pelan.
Khansa meremat ponsel di tangannya yang diletakkan di dada. Ia menangis tak bersuara.
Kemudian, ia kembali berbaring di samping Leon. Pria itu masih dalam pengaruh pengobatannya. Tak bisa mendengar apa pun saat ini.
Dada Khansa sungguh terasa sesak. Ia merasa anak buangan yang tidak disayang orang tuanya. ‘Ibu, Khansa sangat merindukan ibu,’ batin Khansa dalam tangisnya.
Khansa merangsek ke dalam pelukan Leon. Detak jantung Leon membuatnya merasa lumayan tenang, Khansa tidur nyenyak sepanjang malam.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Matahari tengah menampakkan diri dengan gagahnya. Seluruh penghuni Villa Anggrek tengah melakukan aktivitasnya masing-masing.
Leon mulai mengerjapkan matanya. Tangannya meraba ke samping, kosong. Ia segera beranjak duduk dan mengedarkan pandangannya.
“Kemana dia?” tanyanya pada diri sendiri. Lalu menurunkan kedua kakinya bergegas mencari Khansa ke seluruh penjuru ruangan. Namun, ia tidak menemukan istri luar biasanya itu di manapun.
“Paman Indra! Di mana Khansa?” tanya Leon saat berpapasan dengan kepala pelayan di villa itu. Wajahnya tampak kusut, rambut yang berantakan dan sesekali menguap. Masih tergambar jelas wajah bangun tidur tuan mudanya itu.
“Tadi pagi-pagi sekali Nyonya Muda keluar, Tuan,” ucap Paman Indra, sang kepala pelayan.
Kepala pelayan terkejut, bahwa Tuan Mudanya tidur semalaman, lagi-lagi dia dibuat terpukau oleh kemampuan Nyonya Muda.
“Keluar? Ke mana?” tanya Leon lagi.
“Maaf Tuan Muda, nyonya muda tidak meninggalkan pesan apa pun. Beliau tampaknya sedang terburu-buru,” jawab Paman Indra sedikit membungkukkan tubuhnya.
Leon menepuk bahu kepala pelayan itu, “Baiklah, terima kasih, Paman.” Setelahnya Leon melenggang pergi ke kamarnya.
Pria itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Perlahan ia membuka kemeja putih yang dikenakannya. Tampak berwarna merah di bagian bahunya, ternyata itu adalah darahnya yang sudah mengering akibat gigitan Khansa semalam.
Leon menatap pantulan dirinya di cermin. Dilihatnya bekas gigitan Khansa yang justru membuatnya senang. Senyum terbit di wajah tampannya sambil mengusap luka itu. Kemudian bergegas berangkat ke kantor.
Hingga jam menunjukkan pukul 8 malam, bahkan sampai saat pulang bekerja, ia tidak
menemukan Khansa di Villa. Leon melihat ponselnya, namun Khansa tidak menghubunginya sepanjang hari.
“Sialan! Kemana kamu?” Leon mengerang frustasi melempar ponsel ke sembarang arah, sambil meremat rambutnya dan duduk di ranjang.
Terdengar dering telepon, buru-buru Leon meraihnya. Ia mengira Khansa menghubunginya, ternyata Simon Kawindra, saudara sepupunya.
“Hemm!” Leon menjawab dengan malas setelah menggeser slide hijau di layar ponselnya.
“Hei, Kak! Keluar yuk, enggak bosen apa di rumah terus,” ajak Simon di balik telepon.
“Enggak!” jawab Leon singkat.
“Kenapa? Aaah, sepertinya Kakak sudah nyaman menjadi bapak rumah tangga setelah menikah, ya, haha!” sindir Simon disertai tawa menggelegar.
“Berisik! Kalau tidak ada hal penting aku tutup teleponnya!” balas Leon kesal.
“Eeh tunggu! Tunggu, Kak. Jangan dong. Ayolah, Kak, ke sini. Aku sama Kak Hansen tunggu kamu di Bar 1998 ya,” bujuk Simon pantang menyerah.
Leon yang merasa suntuk dan kesal karena Khansa yang menghilang seharian, akhirnya menyetujui permintaan adik sepupunya. Ia segera menyambar kunci mobil dan melaju ke tempat yang ditunjuk oleh Simon.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Di dalam Bar 1998.
Bar 1998 selalu menjadi tempat berfoya-foya para pria, yang paling tidak kekurangan di dalamnya adalah wanita cantik, pria yang datang bersenang-senang sepanjang malam di sini akan menghabiskan banyak uang, dan bar ini adalah salah satu aset milik keluarga Kawindra.
4 keluarga besar di kota Palembang, Sebastian, Mahendra, Kawindra, Ugraha, hari ini ada 3 orang yang berkumpul, mereka bertiga tumbuh besar bersama sejak kecil.
“Halo, Tuan, lama tidak berkunjung,” sapa seorang wanita dengan nada sensual. Wanita yang paling cantik nomor satu di bar tersebut bergelayut di bahu Leon.
Suasana hati Leon sedang kurang baik hari ini, ia segera menepis lengan wanita itu. Aroma parfumnya yang menyeruak semakin membuat Leon geram. “Pergilah!” seru Leon dengan tatapan tajam. Ia sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu.
Simon pun membantu mengusir wanita itu. Setelah kepergiannya, ia berucap, “Kak Leon, kamu 'kan udah lama enggak main, beneran enggak berminat sama wanita? Nenek saja sudah nggak memperbolehkanku mencarimu, dia takut kita macam-macam.” Simon menenggak anggur yang ada di tanggannya.
“Hemm,” jawab Leon dengan malas.
Di saat ini, Hansen Mahendra yang duduk di samping berbicara, “Leon, dengar-dengar keluarga Isvara nikahin satu putri mereka sebagai pengganti untukmu ya, namanya Khansa.”
Leon menengadahkan kepala menatap Hansen saat mendengar nama itu. Laki-laki tampan, yang memakai sebuah kacamata berbingkai emas itu menyeruput seteguk anggur merah di tangannya dan melihat ke arah depan, “Coba lihat, siapa itu?” tunjuk Hansen dengan tangan yang masih menggenggam gelas berisi anggur itu.
Leon menengadahkan kepalanya, pandangannya terarah pada tangan Hansen. Kedua manik tajamnya segera menangkap sebuah sosok perempuan ramping, pemilik sosok itu adalah Khansa.
Tangannya terkepal kuat hingga urat-uratnya menonjol keluar. Gerahamnya mengetat, giginya bergemeletuk dengan tatapan penuh amarah, saat melihat istrinya sedang duduk di samping seorang pria tua, berperut buncit. Orang itu adalah Pak Arman.
Simon pun penasaran melihat perubahan pada kakak sepupunya itu. Ia ikut menatap ke arah yang sama. Kedua mata Simon terbelalak.
“Buset,” Simon menepuk meja dan berdiri, “Kak, kok si Khansa malah nemanin pria tua minum-minum di sini? Beraninya dia selingkuh di belakangmu!” geramnya tersulut emosi.
Simon mengambil sebotol anggur dan hendak menerjang ke sana, Tuan Muda keluarga Kawindra adalah penguasa muda di kota Palembang, “Kak, biar aku hajar mereka untukmu!” ujar Simon berapi-api.
Bersambung....
Terima kasih banyak untuk like, komen, gift dan votenya😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Anonim
Leon ketemu Khansa semoga tdk ada salah paham
2023-11-21
1
Sukliang
itu karna campur tangan papi germo
lagian kok kanza dak menolak
takut di marah lg???
2023-05-07
0
Susi yati
salam paham dah
2022-09-21
1