Tiba-tiba, tangan Leon menggantung di udara. Ia menghentikan gerakannya kemudian kembali menurunkan tangannya, pria itu tidak jadi membuka cadar tersebut.
Leon berdiri di sisi ranjang sambil menatap Khansa lamat-lamat. Aura kecantikan alami terpancar, dengan bulu mata yang lentik disertai hidung yang mancung.
Meski sebagian wajahnya tertutup cadar, di mata Leon, gadis yang tengah berbaring di hadapannya merupakan wanita yang sangat patuh, cantik dan lugu. Terbesit kekaguman dalam benak Leon. Karena Khansa berbeda dengan para gadis di luar sana.
Kemudian, pandangan mata tajam Leon sedikit turun ke bawah. Ia melihat leher mulus Khansa yang memerah akibat bekas cekikan tangannya tadi. Entah kenapa, ada rasa sesal yang tiba-tiba menyeruak.
Leon kembali merebahkan dirinya lagi ke atas sofa, dia hanya tertidur selama 10 menit, tapi tidurnya selama 10 menit itu sudah sangat berharga. Penyakitnya sedang memburuk, dan tidak bisa disembuhkan hanya dengan jarum Khansa, tapi itu sudah cukup banyak membantunya.
Pandangan Leon tertuju pada gumpalan di bawah selimut di atas kasur. Pikirannya terus melayang, mengingat betapa lembutnya Khansa dalam menghadapi sikap tempramennya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari mulai menyembul dari peraduan. Seberkas sinar menelusup ke kamar Leon melalui celah jendela. Khansa mengerjapkan kedua matanya secara perlahan. Ia segera beranjak dan membersihkan diri di kamar mandi. Kemudian bergegas keluar kamar.
“Selamat pagi, Nek,” sapa Khansa pada Nenek Sebastian.
“Cucuku, kau sudah bangun rupanya? Pengantin baru enggak harus bangun sepagi ini,” goda sang nenek membuat Khansa tersipu malu. Padahal mereka tidak melakukan apa pun.
“Tidak apa-apa, Nek, saya terbiasa bangun pagi,” jawab Khansa sekenanya.
Wanita baya itu meraih lengan cucu menantunya dengan sayang. Perangainya yang lembut dan santun, membuat Nenek Sebastian sangat menyukainya. Ia terus menceritakan hal-hal baik, terutama tentang Leon.
Ia mendudukkan Khansa di sofa ruang keluarga. “Duduklah, cicipi kacang hijau ini. Makanan ini bagus lho untuk kesehatan.” Nenek Sebastian menyerahkan satu mangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepulkan asap yang baru saja diserahkan oleh salah satu pelayannya.
“Terima kasih, Nek. Mari makan bersama,” ucap Khansa lembut sembari menawarkan. Senyum tak pernah pudar dari bibirnya.
Belum sempat nenek menjawab, terdengar langkah Leon yang sedang menuruni anak tangga. Di belakangnya diikuti seorang pelayan yang cukup berumur. Di tangannya terdapat sebuah sapu tangan persegi berwarna putih, dan di atas sapu tangan tersebut terdapat sebuah bercak merah.
“Nyonya Besar, selamat ya. Lihatlah, Tuan Muda dan Nyonya Muda telah melakukannya semalam,” lapor pelayan tua itu pada Nenek Sebastian sembari menunjukkan sapu tangan di tangannya.
Rona bahagia terpancar dari wajah sang nenek. Ia menutup mulutnya tak percaya, rasanya ingin berteriak saat itu juga namun ia tahan. Nenek lalu memberikan sebuah amplop berisi uang kepada pelayan itu.
“Terima kasih, Nyonya,” ucap pelayan itu tak kalah bahagia. Nenek mengangguk-anggukkan kepala, menepuk bahu sang pelayan dengan bibir yang merekah membentuk senyum yang sempurna.
Khansa menautkan kedua alisnya, ia merasa aneh. Namun hanya merapatkan bibirnya, sambil bergumam dalam hati, ‘Memang ada wanita yang akan berdarah saat melakukannya pertama kali? Tapi kami tidak melakukannya semalam, jadi bercak darah dari mana itu?’ benaknya terus bertanya-tanya dengan kening yang mengerut.
Seakan mengerti kebingungan Khansa, Leon merapatkan tubuhnya di samping Khansa. “Aku yang melakukannya. Kamu masih perawan ‘kan?” bisik Leon tepat di telinga Khansa.
Khansa bahkan tidak pernah pacaran, wajahnya langsung memerah seketika ketika mendengar pertanyaan ini.
Di mata Nenek Sebastian, mereka berdua yang sedang berbisik. Apalagi melihat Khansa yang malu-malu disertai rona merah seperti itu, memanglah tampak sepasang suami istri baru, Nenek Sebastian sangat senang melihatnya.
“Usia kamu masih 19 tahun, belum genap 20 tahun. Harusnya kamu belum mempunyai pacar, ‘kan?” lanjut Leon lagi dengan suara rendah semakin merapatkan tubuhnya.
Khansa masih diam, sesekali tersenyum kala matanya saling bersitatap dengan nenek sambil memakan bubur kacang hijau di tangannya.
Saat ini, Leon berusia 27 tahun, tampan dan gagah, usianya sekarang adalah usia produktif seorang pria.
Khansa tidak ingin Leon semakin mendekat, dia segera menyuapi bubur kacang hijau di tangannya ke dalam mulut Leon. Entahlah, itu reflek dia lakukan.
Leon punya Mysophobia atau yang dikenal sebagai fobia terhadap sesuatu yang kotor, tapi yang dipakai adalah sendok bekas Khansa.
Kepala pelayan panik dan merasa sangat ketakutan, dia bergegas mengambilkan sendok baru untuk Tuan Mudanya.
“Silahkan Tu ….”
Pemandangan yang langka. Tubuhnya membeku. Tak disangka Leon bukan cuma tidak marah, dia bahkan mulai makan menggunakan sendok bekas Nyonya Muda, dan terakhir dia mengembalikan sendok itu kepada Khansa. Gadis itu menelan salivanya susah payah.
Makan dalam sendok yang sama? Artinya dia, aku, berciuman secara tidak langsung? Tidak! Tidak! tolak Khansa menjerit dalam hati.
Khansa tidak ingin ciuman tak langsung dengan Leon, dia segera menghabiskan buburnya dengan cepat, lalu berkata, “Nek, aku sudah kenyang, nggak mau lagi.” Disodorkannya mangkuk yang telah kosong di meja. Ia sama sekali tidak berani menatap Leon.
Sedangkan Leon mengangkat sudut bibirnya saat melihat tampang lucu Khansa karena ditindas, moodnya hari ini lumayan bagus.
“Oiya, Nek. Bolehkah Khansa ke rumah orang tuaku sebentar?” tanya Khansa pada sang nenek.
“Tentu saja boleh, Sayang. Leon, kamu antarkan Khansa ke rumah orang tuanya!” perintah Nenek dengan tegas tanpa menerima bantahan. Leon menjawabnya dengan sebuah anggukan.
“Kalau begitu, Khansa mau bersiap dulu ya, Nek,” pamit Khansa beranjak menuju kamarnya diikuti Leon, setelah mendapat persetujuan dengan nenek mertuanya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepasang suami istri itu menaiki mobil konvertibel yang sangat mewah membelah padatnya jalan raya pagi itu. Mobil yang atapnya terbuka itu, membuat angin sepoi berhembus menerpa tubuh keduanya, aroma cinta sepasang kekasih menyeruak dari sana. Rambut panjang Khansa kian melambai-lambai. Kedua matanya terpejam, sesekali menghela napas panjang menikmati sejuknya udara.
Mata indah gadis itu kembali terbuka, “Umm … ingat ya perjanjian kita?” Khansa mulai membuka suara.
“Yah, tujuan kita adalah saling menolong,” jawab Leon tegas tanpa menoleh. Ia terus fokus dengan jalan raya di depannya.
“Good!” Khansa kembali menikmati udara sejuk yang menerpanya.
Tidak ada percakapan lagi selain mempertegas perjanjian mereka. Hingga beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di pelataran rumah keluarga Isvara.
Leon telah mematikan mesin mobilnya menoleh pada Khansa yang tak kunjung turun. Sedangkan Khansa tampak panik, kedua tangannya kesulitan untuk membuka sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.
“Kenapa?” tanya Leon saat Khansa masih sibuk dengan kepanikannya.
“Terkunci, enggak bisa dibuka,” rengek Khansa dengan tatapan memohon. Sungguh, tatapan yang menggemaskan di mata Leon.
Leon lalu melepas sabuk pengamannya, mendekat pada kursi Khansa untuk membantunya melepaskan sabuk pengaman, tubuhnya berhimpitan, Khansa bahkan menahan napas karena posisi mereka terlalu dekat. Sedangkan aroma feminim Khansa, kini menyeruak dalam indera penciuman Leon.
Bersambung…
Mohon dukungannya ya kak🥰🙏 Like komen gift dan vote seiklasnya. Terima kasih..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
RAMBUT PANJANG KHANSA KIAN MELAMBAI-LAMBAI.. katanya Khansa pake cadar Thor? cadar apa masker?.
2023-11-28
2
🌷Pandan Wangi🌷
sama bagusnya dgn pengantin pengganti😍😍🙏🙏
2022-07-16
1
andhis andhiz
aku udh baca cerita ini disono, dan baca jg dimari..keren2 bgtlah othor nih..suka..suka..suka❤
2022-07-11
0