Leon sangat membenci aroma parfum yang tercium biasanya, tapi dia malah tidak membenci aroma pada tubuh Khansa. Justru sangat menikmatinya.
“Kamu pakai parfum apa?” tanya Leon sembari tangannya membuka sabuk pengaman Khansa.
“Aku tidak menggunakan parfum,” elak Khansa menahan debaran jantungnya yang tak terkendali.
Leon menengadahkan kepalanya, tanpa sengaja bibirnya mengenai bibir Khansa. Sontak membuat Khansa membulatkan kedua matanya. Meskipun terhalangi oleh sebuah cadar, tapi ini adalah ciuman pertama Khansa.
Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata, “Maaf, gimana kalau … kamu cium balik?” goda Leon tersenyum menyeringai.
Khansa menatapnya dengan tajam, “Kurasa … aku seharusnya menamparmu,” sahutnya dengan ketus.
Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, kemudian suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya. Sedari pagi, ia memang merasa bahagia. Apakah karena Khansa? Entahlah, hanya dia yang tahu.
Khansa membuka pintu mobil kursi penumpang depan, “Aku pergi dulu.” Lalu menjajakkan kedua kakinya di tanah dan menutup pintu mobil.
“Namaku Leon,” ucap Leon tak memalingkan pandangan dari Khansa.
Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya untuk memastikan sesuatu.
Leon masih tak beranjak juga, Khansa pun berucap, “Iya, tahu, sampai jumpa, Tuan Leon.” Khansa berdiri di luar mobil sambil melambaikan tangan mungilnya ke arah Leon.
Hari ini Khansa memakai sebuah sweater merah, saat melambaikan tangan, bagian bawah sweater terangkat ke atas dan menampakkan pinggang mungilnya yang mulus. Mata Leon refleks menangkap pemandangan indah itu.
Leon menggesekkan jemarinya yang berada di atas setir sejenak, di dalam hati dia berpikir apakah pinggang kecilnya itu cukup untuk dia genggam?
‘Ah, sial!’ Seketika ia tersadar, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
“Aku ada rapat nanti, jadi agak malam baru kujemput,” ucap Leon menyalakan mesin mobilnya.
“Nggak perlu…” Saat Khansa menolak, mobil mewah itu telah melaju pergi dengan cepat.
“Iiisshh!” geram Khansa menghentakkan kakinya. Ia lalu melangkah masuk ke rumah keluarga Isvara.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Tanpa diduga, adegan demi adegan terekam oleh kedua manik mata Jihan dari lantai atas. Jihan merasa Khansa terlihat lugu dan baik di luar, tapi tak disangka di hari kedua menikah dia sudah menggoda pria lain di belakang suami penyakitannya itu.
Jemari kecil Khansa mengetuk pintu utama rumah itu. Tak berselang lama, seorang pelayan membukanya.
“Non Khansa? Mari masuk,” ujar pelayan itu membuka pintu dengan lebar.
“Terima kasih, Bi,” sahut Khansa ramah sembari tersenyum. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk.
Sepasang kaki jenjang Khansa naik ke lantai atas bersamaan dengan Jihan yang menuruni anak tangga.
“Cih! Tampangnya sih lugu dan polos. Tapi ternyata kamu memelihara sugar daddy,” sindir Jihan menatapnya sinis menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, sembari melipat kedua lengannya di dada.
Khansa menghentikan langkahnya. Ia teringat pada postur tubuh dan wajah Leon, dia tidak tahu harus menjawab apa terhadap penilaian sugar daddy, tapi dia sedang malas meladeni Jihan, tujuannya pulang adalah untuk menjenguk kakek.
Khansa pun mengabaikannya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar sang kakek. Kakek adalah satu-satunya orang yang paling menyayanginya di keluarga Isvara.
10 tahun yang lalu, saat Khansa berumur 9 tahun, suatu hari saat terbangun, dia menemukan dirinya sedang berbaring di depan tangga, dan kakeknya terbaring di dalam genangan darah di lantai bawah.
Semua orang di rumah yakin kalau dia lah yang mendorong kakek. Kemudian datang seorang peramal yang mengatakan kalau Khansa adalah pembawa sial, siapapun yang bersamanya pasti akan dalam masalah.
Oleh karena itu, Fauzan mengirim Khansa yang baru berusia 9 tahun ke desa dan tidak mengurusinya lagi. Tak lama kemudian ayahnya menikahi Maharani dan tinggal di rumahnya.
Kepulangan Khansa kali ini adalah untuk menyelidiki kebenaran waktu itu. Khansa menjenguk kakeknya sendirian, dia memeriksa denyut nadi kakek, juga melakukan pijat akupuntur sesuai dengan kemampuannya.
“Kakek, Kakek tenang saja. Khansa janji akan menyembuhkan Kakek,” ucap Khansa menggenggam jemari renta sang kakek, lalu menciumnya.
Mengetahui kedatangan Khansa, Maharani tengah menyiapkan rencana licik. Di dalam dapur, ibu tirinya itu sedang memasak sarang wallet. Wanita itu memasukkan obat ke dalam sup sarang wallet.
Setelah selesai dengan pengobatan kakeknya, Khansa menuruni anak tangga. Di sana, Maharani tengah menyiapkan makanan di meja makan.
“Khansa! Sini, Nak!” Maharani melambaikan tangannya. Jihan juga nampak berada di samping ibunya.
Gadis itu mengangguk, lalu melangkahkan kakinya menuju meja makan di mana ibu tirinya berada. Maharani menarik sebuah kursi dan mendudukkan Khansa di sana.
“Duduklah, Khansa, ibu sudah memasakkan sup sarang wallet special untuk kamu. Ayo makanlah selagi hangat,” rayu Maharani dengan senyum palsu menyodorkan satu mangkuk sup di hadapan Khansa.
“Eum … terima kasih, Bu. Tapi aku masih kenyang. Tadi aku sudah sarapan,” tolak Khansa dengan sopan.
Jihan pun mulai beraksi, ia semakin mendekatkan mangkuk ke hadapan Khansa, “Ibu tuh sudah susah payah memasak buat kamu. Kamu sama sekali enggak menghargai usaha ibu tahu enggak? Mentang-mentang sudah menjadi bagian dari keluarga Sebastian!” ketus Jihan memanas-manasi.
Khansa menghela napas kasar. Ia yang malas berdebat pun akhirnya mulai memakan sup itu perlahan.
“Gimana rasanya? Enak enggak?” tanya Maharani yang duduk di hadapannya.
“Enak, Bu. Terima kasih banyak ya,” jawab Khansa dengan polosnya.
“Kalau begitu habiskan ya,” sambung Maharani lagi. Khansa mengangguk bersemangat dan menghabiskan sup itu hingga tandas. Beberapa saat kemudian, Khansa pingsan di meja makan.
“Yess!” Maharani dan Jihan memekik kegirangan sambil bertepuk tangan. Mereka lalu membawa Khansa ke dalam kamar.
Khansa akan diserahkan pada Pak Arman, seorang pria paruh baya yang sudah lama menginginkan Khansa. Kemudian, Maharani akan mengambil beberapa foto asusila Khansa untuk mengancamnya. Sungguh otak yang sangat licik!
“Bu, telepon Pak Arman cepet!” seru Jihan setelah mereka berhasil menyeret Khansa ke dalam kamar.
“Iya, iya! Ini ibu telepon,” sahut Maharani sembari menempelkan ponsel di telinganya untuk melakukan panggilan pada Pak Arman.
Setelah itu mereka segera turun ke bawah menunggu kedatangan Pak Arman. Tak lama kemudian Pak Arman datang.
“Selamat datang, Pak Arman. Khansa sudah siap di kamar,” ucap Maharani dengan senyum menyeringai.
“Baiklah, saya akan segera ke atas!” Pria itu tampak tak sabar hendak menaiki tangga. Namun Maharani menyegahnya.
“Tunggu! Apa yang akan kami dapatkan?” tanya wanita itu.
Pak Arman tertawa, “Saya akan menginvestasi dana yang besar kepada Grup Isvara!” janjinya.
“Baiklah, silahkan bersenang-senang Pak Arman,” ucap Maharani baru memperbolehkannya naik ke lantai atas.
Di dalam kamar, Pak Arman hampir meneteskan air liurnya ketika melihat Khansa yang terbaring di atas ranjang, dia bergegas melepaskan pakaiannya dan menerjang ke atas kasur, “Hai cantik, aku datang!”
Bersambung….
Mohon dukungannya ya kak... 🥰🙏 please like komen, gift and vote seiklasnya. Terimakasih😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Eny Pangestu
Duh,dasar Mak lampir
2024-12-12
0
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
jahatnya punya ibu tiri🥺
2024-08-11
0
G** Bp
jahat banget ya 2 wanita siluman itu...semoga tdk terjadi apa apa pada kamu Khansa
2024-06-14
1