Melihat darah yang mengalir dari pelipis Khansa, membuat Leon sedikit tersadar. Pria itu segera menunduk, menangkup kedua bahu Khansa dan membantunya berdiri.
“Ma … maafkan aku,” ucap Leon penuh penyesalan. Ia mendudukkan Khansa di sofa, lalu bergegas mencari kotak P3K yang memang tersedia di ruangan itu.
Dengan telaten, Leon membersihkan dan mengobati luka Khansa. Jarak yang begitu dekat, seketika membuat degub jantung Khansa berdetak sangat kuat. Apalagi ditambah hembusan napas hangat dari Leon yang menerpa kulit wajahnya semakin membuat gadis itu bergidik.
Demi mengurai kecanggungan, Khansa membuka suara. “Ini bisa dikatakan sebagai KDRT,” canda Khansa masih menatap wajah tampan di depannya.
Leon sudah merasa sedikit santai, tangannya masih sibuk memasang perban pada luka Khansa. “Sudah tahu KDRT, masih berani masuk?” jawab Leon.
Gadis itu mengembuskan napas kasar, “Jangan samakan aku dengan orang lain. Mereka takut padamu, tapi tidak denganku,” jawabnya sambil tersenyum manis.
Leon tak menanggapi, ia telah selesai mengobati Khansa. Kemudian kembali merapikan kotak obat tersebut. “Sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri,” ucap Leon tanpa menatap ke arah Khansa.
Khansa beranjak dari duduknya, bukan untuk pergi. Melainkan merapatkan duduknya dengan Leon. Tanpa diduga, gadis itu memeluk tubuh Leon, menempelkan pipinya pada dada bidang pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Sejenak, Leon tersentak. Tubuhnya mendadak kaku saat mendapat pelukan lembut dari Khansa. Gadis itu seperti membius Leon dengan aroma tubuhnya yang menguar pada indera penciumannya.
“Jangan pernah merasa sendirian. Kita akan melewatinya bersama-sama. Aku akan terus menemanimu." Ucapan lembut Khansa bagai sihir yang masuk gendang telinga Leon.
Dengan segala kelembutan Khansa, juga aroma tubuh yang memikat, mampu menetralkan urat-urat syaraf Leon yang menegang. Keadaannya sedikit membaik.
Leon masih bergeming, ia membalas pelukan Khansa. Karena sebelumnya, Leon tak pernah merasakan kenyamanan seperti saat ini. Keduanya saling memeluk dalam keheningan. Pikiran Leon masih pusat pada aroma tubuh Khansa yang terasa familiar dan membuatnya lebih rileks.
“Jika masih merasa tidak nyaman, bisa menggigit,” ujar Khansa pelan masih dalam dekapan sang suami.
Leon mengernyitkan keningnya, “Emang enggak sakit jika aku gigit?” tanyanya bingung. Ia pikir, Khansa meminta Leon menggigitnya.
Khansa mengendurkan pelukannya, ia sedikit mendongak lalu tersenyum menyeringai. “Tidak,” sahutnya, dengan gerakan cepat, Khansa bergerak dan menggigit pundak Leon sangat dalam.
“Aaaaarrrgh!” Pria itu mengerang kesakitan. Leon memundurkan tubuhnya hingga menabrak sudut sofa, lengannya yang belum masih melilit di pinggang Khansa, membuat gadis itu ikut tertarik dan keduanya terjatuh ke atas sofa.
Tubuh keduanya tak berjarak sedikit pun. Bola mata indah Khansa dengan balutan bulu mata lentik mengerjap pelan. Begitu pun dengan Leon, tak melepas pandangan sedikit pun dari wajah cantik nan meneduhkan dari gadis di depannya.
Terdiam beberapa saat. Sungguh, denyut jantung Khansa semakin terasa nyeri karena berdetak teramat kencang. Ia segera menggelengkan kepala sembari memejamkan mata. Memudarkan segala apa yang ia rasa saat ini.
“Kenapa?” tanya Leon mengernyitkan keningnya.
“Ah, tidak apa-apa. Kita impas.” Khansa terkikik pelan.
“Hemmm … jadi Nyonya Sebastian balas dendam ya?” ucap Leon dengan senyum tulusnya.
“Iya, salah sendiri tadi kau mendorongku. Dan aku sudah puas karena menggigitmu, kita impas,” ulang Khansa lagi sembari tertawa.
Leon semakin terkesima dibuatnya. Tawanya, suaranya juga aroma tubuhnya. Aaah, pria itu sepertinya mulai merasa gila.
Satu lengan Leon terangkat, menyelipkan anak rambut Khansa ke belakang telinga, mengusap bekas luka di pelipis Khansa dengan ibu jarinya secara lembut, “Maafin aku, sakit banget ya?” tanya Leon dengan suara pelan penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, Tuan Leon. Kamu sudah merasakan akibatnya,” balas Khansa.
Terdiam beberapa saat dalam keheningan, hanya deru napas yang mulai tak beraturan, disertai detak jantung yang berdentum hebat. Keduanya hanyut dalam tatapan masing-masing.
Hingga, perlahan-lahan Leon mencondongkan tubuh untuk mencium Khansa, ia semakin mendekatkan kepalanya, pandangan Leon terus mengarah pada bibir merah Khansa. Hampir bersentuhan, Khansa segera menusukkan jarum panjang pada kening Leon, hingga membuat pria itu tertidur.
Khansa menghela napas panjang, “Orang bodoh sekalipun pasti tahu kalau dia akan menciumku. Tidak, aku tidak boleh terpesona olehnya. Kita hanya menikah kontrak, masih ada banyak hal yang harus aku lakukan,” gumam Khansa menatap wajah tampan Leon.
Khansa berusaha bangun, namun lengan kekar Leon memeluknya dengan erat, seolah tak membiarkan Khansa pergi meninggalkannya. Apalagi tenaganya cukup kuat. Khansa bisa saja menepisnya, namun ia takut membangunkan suaminya, karena usahanya akan sia-sia.
Mau tidak mau Khansa pun ikut berbaring di sofa yang terletak di ruang kerja Leon, yang mana sofa itu agak sempit jika digunakan untuk tidur bersama. Perempuan itu pun memiringkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Beberapa saat kemudian, ponsel Khansa berdering. Khansa mengerjapkan matanya, ia sedikit mendongak menatap Leon yang masih terpejam. Perlahan, ia menyingkirkan lengan Leon yang sedikit mengendur. Dilakukannya dengan sangat hati-hati agar tak membangunkannya.
Setelah berhasil bangun, ia melihat nama sang ayah yang tertera di layar ponselnya. Khansa sedikit menjauh dan segera menerima panggilan itu.
“Halo, Ayah,” sapa Khansa setelah tersambung.
“Khansa! Apa yang kamu lakukan pada Pak Arman, hah? Apa kau tahu, beliau menarik investasinya di perusahan, hingga membuat kerugian yang besar! Dan itu semua gara-gara kamu, Khansa!” pekik sang ayah berang di seberang telepon. Maharani telah menghasut suaminya, dengan memfitnah Khansa.
“Yah, ibu telah memberiku obat dan ingin menyerahkanku pada Pak Arman. Pria hidung belang itu hampir memperkosaku hanya demi mendapatkan investasi untuk perusahan dari Pak Arman!” Khansa membongkar rencana busuk Maharani.
“Lagi pula, ibu mempunyai 2 orang putri, selain Jihan, masih ada Yenny Isvara, putri sulungnya. Kenapa lagi-lagi harus Khansa yang dipertaruhkan?” seru Khansa geram meminta keadilan.
Yenny adalah putri kebanggaan Maharani, keluarga Isvara memanglah keluarga medis, sejak kecil Yenny punya bakat yang sangat tinggi dalam bidang pengobatan, selain cantik, dia juga pintar, sehingga dipanggil sebagai nona ternama nomor satu di kota Palembang, dan sangat disayangi oleh Fauzan.
Saat kecil Khansa dan Yenny adalah sahabat yang paling baik, saat itu Khansa sangat cerdas, entah dari aspek manapun dia pasti lebih unggul dibandingkan Yenny, tapi selama hampir 10 tahun dibuang ke desa, Khansa sudah tidak lagi seunggul sebelumnya, apa yang masih bisa dia gunakan untuk menandingi putri Maharani?
“Zan, lihat apa yang Khansa katakan, gimana bisa dia menghina Yenny kayak gitu?” kata Maharani memprovokasi.
Fauzan yang memang sudah termakan hasutan Maharani, justru semakin marah, ia pun kembali berkata, “Khansa, bar 1998, besok malam kamu harus datang tepat waktu untuk menemui Pak Arman! Kamu harus meminta maaf padanya,” ucap pria paruh baya itu tegas tanpa menerima penolakan.
“Tap … tapi, Yah ….” Khansa menghela napas kecewa. Matanya sudah memerah, cairan bening sudah memupuk di kedua sudut matanya.
Bersambung~
Mohon dukungannya ya... like komen gift and vote seiklasnya. terimakasih🥰🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Animer's
lebih baik rehan mertuanya zefon Sebastian
2024-01-16
1
Qaisaa Nazarudin
Aku kalo ada bab papanya dan ibu tirinya dan Jihan,Aku skip aja bacanya,Gedek aku amat bapaknya yg kelewat BODOH BIN BEGO..😡😡😡😡😡
2023-11-28
1
Anonim
Fausan ayah yg kurang peka akan situasi keluarganya ya...
2023-11-21
0