Pak Arman membuka kancing kemejanya dengan tergesa. Bahkan sampai ada kancing yang terlepas karena ketidaksabarannya. Tiba-tiba, gadis itu kini telah membuka kedua manik matanya. Pak Arman terkejut karena dia sudah bangun secepat itu. Matanya membelalak, menegakkan tubuhnya sambil mengangkat telunjuknya ke depan Khansa.
“Ka—kamu? Kenapa sudah bangun?” tanya Pak Arman terbata masih dengan keterkejutannya.
Khansa menunjukkan senyum murni dan nakal, sedikit memiringkan kepala, “Saya akan melewatkan pertunjukkan bagus jika belum bangun.” Kemudian ia beranjak berdiri saling berhadapan dengan Pak Arman.
Khansa mengayunkan tangannya di hadapan pria itu, Pak Arman menghirup aroma wangi dan kemudian lemas seketika. Tubuhnya merosot dan ambruk ke kasur, lalu Khansa membuka laci yang ada di kamarnya. Diraihnya dua buah tali yang ia gunakan untuk mengikat tangan dan kaki Pak Arman.
“Hahaha … manis sekali kamu, Khansa. Aku suka gayamu, cantik!” Suara serak Pak Arman diiringi tawa menggelegar, walau tangan dan kakinya terikat. Pak Arman mengira gadis cantik ini ingin bermain spesial dengannya.
Khansa diam tak menghiraukannya. Usai dengan kedua tali itu, ia mengambil 2 buah tulang besar dan diletakkan di tangan Pak Arman yang masih fokus dengan tawanya. Pria itu masih belum tersadar. Bayangan indah bersama Khansa masih berkabut di pikirannya.
“Pak Arman, sekarang lihatlah barang yang ada di tanganmu,” ucap Khansa dengan santainya.
Kepala Pak Arman menunduk. Sontak, pria itu semakin membelalakkan kedua matanya, dua buah tulang besar tengah ia pegang. “Hah? Tu—tulang?” tanya pria itu dengan terbata.
Khansa mengangguk, iamenggunakan dua buah tulang besar itu, untuk menarik perhatian dua ekor anjing serigala yang dipelihara keluarga Isvara di halaman agar menggigit Pak Arman.
Benar saja, tak lama kemudian moncong anjing-anjing yang teramat tajam itu mampu mengendus tulang-tulang tersebut. Dua binatang buas itu segera berlari, melompat dengan penuh nafsu, mengarah ke kamar Khansa, sambil terus menggonggong dengan keras.
Dan kedua anjing itu hampir menerjang tubuh Pak Arman, jika saja dia tidak bergerak cepat menghempaskan tulang yang ada di tangannya.
Jantung pria itu berpacu sangat kuat, bulir keringat mulai bermunculan di dahinya. Ia sungguh ketakutan. Baru saja ia merasakan hampir mendekati maut.
“Dasar perempuan sialan!” umpat Pak Arman melepas ikatan yang ada di kakinya. Dia lalu berlari dengan tergesa-gesa. Ia takut akan terjadi hal lebih buruk lagi.
Saat melalui Maharani, perempuan itu mengernyitkan dahi. “Loh, Pak Arman sudah selesai?” tanyanya heran. Pasalnya bukan raut kebahagiaan di wajah Pak Arman, namun justru ketakutan.
“Sialan kamu Maharani. Awas saja, aku akan memberi perhitungan karena kejadian ini!” ancamnya melotot tajam, telunjuknya mengarah tepat di wajah perempuan paruh baya itu.
“Tu—tunggu! Apa yang terjadi, Pak?” tanya Maharani penasaran. Ia juga merasa was-was, karena takut kehilangan asset yang dijanjikan Pak Arman padanya.
“Khansa sialan itu ingin membunuhku! Dia hampir menjadikan aku sebagai makanan anjing di rumah ini,” pekik Pak Arman dengan garang.
“Apa? Tenang, Pak. Saya akan memberi pelajaran pada gadis itu. Anda beristirahatlah dulu di kamar tamu.” Maharani mengantarnya ke kamar tamu, lalu menyuruh pelayan untuk memberikannya minum.
Maharani lalu keluar kamar bersamaan dengan Khansa turun dari lantai atas tanpa berpura-pura lugu lagi.
“Heh! Khansa! Apa yang kamu lakukan sama Pak Arman? Beraninya kamu, ya?” teriak Maharani berapi-api.
“Ck! Saya tidak melakukan apa-apa. Hanya melindungi diri saja,” ucapnya santai melipat kedua lengannya di dada. Khansa berpura-pura pingsan tadi untuk melihat apa yang ingin dilakukan Maharani.
“Kamu bahkan menjadikan Pak Arman sebagai santapan anjing kita! Kamu bener-bener anak kurang ajar, Khansa!” lanjut Maharani menggelegar.
“Oh, tentu saja. Tubuhnya yang gempal pasti menjadi santapan empuk untuk dua anjing itu,” sahut Khansa menyeringai.
“Kurang ajar! Kamu harus meminta maaf pada Pak Arman! Pengawal! Ikat Khansa dan lemparkan tubuhnya ke atas ranjang Pak Arman agar dia meminta maaf padanya!” pekik Maharani pada para pengawal di rumahnya.
Derap langkah beberapa pengawal pun mendekat, Khansa sudah siap untuk melawan dengan memasang kuda-kuda. Tanpa disangka, para pengawal itu mendapat serangan telak dari seseorang, yang tak lain adalah Leon. Satu per satu pengawal pun berjatuhan.
Khansa terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Pasalnya, sebelumnya Leon berkata akan terlambat menjemputnya.
“Sepertinya, aku melewatkan sebuah pertunjukan bagus,” ucap Leon sembari mengurai senyum pada Khansa. Napasnya masih sedikit tersengal setelah melawan beberapa pengawal yang memang bukan tandingannya. Mereka hanya seujung kuku Leon.
Maharani menatapnya dengan geram, tangannya mengepal kuat. Tidak menyangka akan ada orang yang menolong Khansa. Ia menilik Leon dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemudian teringat akan ucapan Jihan, bahwa Khansa memiliki seorang sugar daddy.
“Oh, apakah pria ini adalah sugar daddy-mu Khansa?” tanya Maharani meremehkannya.
Leon mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Khansa. Tersirat penuh tanya dalam pancaran mata tajam pria itu.
Khansa menggeleng saat pandangannya bertubrukan dengan mata Leon, “Aku tidak mengatakan apapun,” sambar Khansa dengan cepat sebelum Leon berucap.
Kemudian Leon mengedarkan pandangannya. Tatapan tajam penuh intimidasi Leon, membuat para pengawal lari terbirit-birit. Ia menggenggam jemari Khansa, dan mengajaknya pergi dari rumah itu.
Khansa mengekori Leon di belakang. Ia berkata dengan nada pelan saat melewati Maharani, “Lain kali jangan hanya main trik kotor, kutunggu lho ya, jangan buat hal konyol.” Senyum remeh pun terbit di balik cadar Khansa.
Maharani menggeram marah. “Aaaarrggh! Gadis sialan!” pekiknya menggelegar di seluruh penjuru rumah.
Mobil mewah yang ditumpangi Leon dan Khansa tengah melaju dengan kecapatan rata-rata. Leon mencoba memecah keheningan yang terjadi dalam perjalannnya. “Emm … apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak datang tadi?” tanya Leon melirik Khansa sebentar, lalu kembali fokus pada perjalannya.
“Aku siap melawan. Aku bisa mengatasi orang-orang itu,” jawab Khansa tegas.
Leon lalu teringat akan informasi yang didapat tentang diri Khansa, bahwa gadis itu dibesarkan di desa dan menjalani kehidupan yang susah.
“Anak gadis enggak boleh berantem, itu urusan laki-laki,” ucap Leon santai.
Kali ini, Khansa memalingkan pandangan pada pria tampan di sampingnya itu. “Aku nggak suka bergantung pada orang, tapi Tuan Leon, terima kasih banyak untuk barusan,” ucap Khansa pelan diiringi senyum indah yang tak terlihat.
Leon pun tak kuasa untuk tak menoleh pada gadis di sampingnya. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat tatapan tulus Khansa, “Cuma gini doang?” tanyanya dengan nada menggoda.
Khansa tercengang, kemudian balik bertanya, “Lalu mau gimana?”
Tatapan Leon berpindah dari mata Khansa yang indah ke bibir merahnya yang ada di balik cadar, “Kamu enggak ngerti cara wanita berterima kasih pada pria?” goda Leon dengan tatapan mesum dan senyum menyeringai, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.
Bersambung~
Mohon dukungannya ya kak, klik like komen fav gift dan vote seiklasnya., terimakasih 🥰🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Biasa kan di rumah orang kaya2 pasti ada CCTV nya, Apa papanya Khansa segitu sayang atau begonya sampai gak pernah ngecek CCTV di rumahnya,Sehingga dia gak tau apa saja yg berlaku di rumahnya?? ckck MIRIS banget 🤦🤦🙄🙄
2023-11-28
1
Anonim
Leon minta dicium tuh Khanza
2023-11-21
0
Susi yati
😂😂😂😂😂g sekalian ibunya gendruwo sm kunti km iket khanza ksih tu ke anjing pelihara an
2022-09-21
0