Langkah Leon terhenti, ia menaikkan sebelah alisnya, melihat Jihan dan cek itu bergantian. Namun ia hanya bergeming, tidak berminat untuk menyahuti Jihan.
“Siapa perempuan itu? Kok bisa dia memanggil Kakak dengan sebutan seperti itu?” gumam Simon dengan kerutan di dahinya.
Leon tak menjawab, menoleh sejenak dan hanya tersenyum misterius sambil mengerlingkan matanya. Tidak ada kemarahan yang nampak di wajah tampan itu.
Belum selesai dengan keterkejutannya akan kehebatan Khansa, kali ini Simon kembali tercengang, saat ada perempuan yang menyebut Leon sebagai sugar daddy.
“Hai, kenapa melihatku seperti itu? Baru sadar yah? Kalau aku lebih cantik dari Khansa,” ucap Jihan penuh percaya diri. Senyum lebar masih belum pudar dari bibirnya yang berwarna merah itu.
Jihan datang disaat ibunya sudah digelandang ke kantor polisi. Ia benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi pada wanita yang telah melahirkannya itu. Kebetulan, Jihan juga belum membuka ponselnya sama sekali. Sehingga, tidak tahu trending topik yang sedang panas-panasnya saat ini.
Dan ia masih yakin, bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah pria simpanan Khansa. Karenanya dia gencar bermaksud merebut Leon dari saudara tirinya itu.
“Ayo ambillah, aku akan menafkahimu lebih dari yang Khansa berikan untukmu. Aku punya segalanya, yang lebih dari gadis kampungan itu. Uangku lebih banyak, tubuhku juga lebih sexy dan lebih cantik dari Khansa. Aku pasti lebih bisa memuaskanmu.” Jihan masih menggantungkan lengannya di udara menggerakkan selembar cek, karena Leon sama sekali tak menanggapinya.
“Dan, satu hal lagi. Mulai sekarang jangan mau menjadi simpanan Khansa lagi, jadilah milikku,” lanjut Jihan dengan mendekatkan diri pada Leon.
Leon memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana, dia lalu tertawa kecil dengan sinis. Simon masih tidak bergerak, ia hanya menjadi penonton tak jauh dari mereka berdiri.
Leon tidak menolak atau merasa dipermalukan, tapi wajah Jihan malah memerah karena senyuman ini.
Jihan juga tidak tahu apa alasannya bisa malu di hadapan seorang sugar daddy. Bahkan tampak salah tingkah.
“A ... apa yang kamu tertawakan?” ucap Jihan terbata, merasa gugup ketika melihat senyuman Leon. Jemarinya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Juga menaikkan sedikit rok mini ketat yang dikenakannya. Bermaksud memperlihatkan kemolekan tubuhnya.
Leon mengernyitkan alis, “Tidak apa-apa, percaya diri itu bagus, tapi lebih baik kamu pulang dan banyak berkaca,” balas Leon dengan nada dingin tanpa senyum sedikit pun seperti sebelumnya.
Simon masih menjadi pengamat. Ia sungguh penasaran. Apalagi terlihat kakak iparnya di belakang tubuh tegap Leon. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, menyilangkan kaki dan melipat tangannya di dada.
Leon membalikkan tubuh hendak pergi dari sana, namun sepasang netranya menangkap Khansa yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam.
Leon yang tadinya masih arogan langsung mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana melangkah panjang mendekati istrinya. Kedua tangannya menangkup bahu mungil Khansa, “Aku tidak melakukan apa pun, kamu juga sudah lihat kalau Jihan yang menggodaku,” ucapnya dengan nada yang sangat lembut.
Khansa mengerutkan bibirnya. Matanya juga menyiratkan kemarahan. Sedangkan Leon mencoba menjelaskan agar Khansa tidak salah paham.
Pria yang tadinya dingin, langsung berbicara dengan polosnya untuk mengadu pada Khansa.
Sontak membuat Simon dan Jihan syok dan kompak membulatkan kedua mata mereka. Jihan semakin sakit hati melihatnya. Kakinya menghentak dengan tangan kecilnya yang mengepal. Bahkan manik matanya tampak memerah. Ibarat menabur garam di atas lukanya.
“Seneng? Iya? Digodain kayak gitu? Dibayar mahal pula!” cetus Khansa dengan lirikan tajam.
“Hei, tentu saja enggak, Sayang,” jelas Leon membingkai kedua pipi Khansa. Namun gadis itu segera menepisnya. Lalu beralih pada Jihan yang masih terpaku dengan kesakitannya.
“Ngapain kamu godain dia? Bukankah kamu yang bilang kalau dia cuma sugar daddy-ku?” sentak Khansa tepat di hadapan Jihan.
‘Wow, sepertinya semakin menarik pemirsa,’ gumam Simon terlihat antusias.
Kini giliran Leon yang berdiam diri melihat istrinya yang sudah berapi-api. Bahkan lebih terlihat seperti serigala betina yang siap menerkam mangsanya.
“Cih! Ngaca dong kamu, Sa! Cuma gadis kampungan aja belagu! Dia itu enggak cocok sama kamu!” balas Jihan mengejek Khansa.
“Terus sama siapa cocoknya, hah? Kamu?” tantang Khansa meninggikan suaranya.
“Tentu saja! Sudah pasti aku akan lebih bisa membahagiakan dia dari pada kamu. Aku lebih dari segalanya dari pada kamu. Uang, tampang, body, ah aku jauh di atas kamu, Sa. Denganku, hidupnya sudah pasti akan terjamin,” tegas Jihan terus mengejek Khansa.
“Dihh! Emang dia mau sama kamu? Percaya diri sekali kamu! Jangan mimpi terlalu tinggi Jihan. Kalau jatuh sakitnya tuh di sini!” cebik Khansa menunjuk dada kiri Jihan dan sedikit mendorongnya.
Leon sungguh semakin kagum, semakin lama dia semakin mengenal Khansa dan tentu saja semakin membuatnya jatuh cinta.
Selain kuat, mandiri, penuh kejutan, Khansa akan mati-matian mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
“Kurang ajar!” pekik Jihan yang urat-uratnya sudah menonjol.
Jihan tidak terima dengan penghinaan itu. Ia hampir menerjang Khansa namun dengan cepat Khansa mengangkat tangan kanannya lalu berkata, “Sssttt! Diam di situ.”
Khansa menoleh pada Leon, mereka saling bersitatap “Coba jelasin sama dia. Kamu milik siapa?” tanyanya dengan nada menuntut. Leon tersenyum tipis.
“Ayo jawab, kamu milik siapa?” ulang Khansa lagi yang geram karena Leon tak segera menjawabnya.
Leon merapatkan tubuhnya pada Khansa, merengkuh pinggang kecilnya dan sedikit merunduk karena ia lebih tinggi dari gadis di pelukannya. Dengan senang hati Leon berucap, “Milik Sasa,” tegasnya dengan senyum mengurai indah di bibirnya. Ia sangat senang atas perilaku Khansa. Mata tajam Leon menunduk, melirik Khansa yang tengah merona.
“DEG!”
Darah Khansa berdesir hebat. Hatinya berdenyut kuat, jantungnya pun rasanya ingin meledak-ledak saat mendengarnya. Kedua pipinya memanas dan berwarna merah.
Sesaat Khansa kembali tersadar, ia segera menarik pandangannya, melepas rengkuhan Leon dan memperingati Jihan, “Jihan, aku akan lupakan masalah hari ini, tapi lain kali jangan salahkan aku kalau tidak sungkan padamu jika melihatmu menggoda priaku lagi!” ancamnya mengangkat jari telunjuknya tepat di depan Jihan. Mata indahnya juga melempar tatapan tajam.
Khansa lalu menarik tangan Leon, “Ayo kita pergi,” ajaknya membalikkan badan, melenggang pergi meninggalkan Jihan yang diliputi kemarahan dan merasa terhina atas ucapan Khansa.
Simon yang berada di samping berkata, “Kakak iparku benar-benar keren!” Kepalanya menggeleng juga tersenyum smirk, ia sangat kagum dengan sikap dan perilaku Khansa. Hari ini, banyak hal istimewa yang ditunjukkan padanya.
Jihan sangat emosi. Dari awal dia sudah pernah melihat kehebatan bicara Khansa, tapi dia tidak menyangka ucapan Khansa akan begitu kejam.
Bersambung~
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
G** Bp
malu sendiri kan akhirnya..kepedean banget mau bayar suami org biar mau sama kamu hhhh murahan banget...
2024-06-15
0
Anonim
Jihan terlalu PD yack wkwkwk
2023-11-22
1
Sukliang
dak emak dak bapak dak anak, semua sama, gilaaaaaa
2023-05-07
0