Khansa memandanginya dari pantulan cermin di depannya, pria berkaki panjang itu berdiri membelakangi cahaya, kontur wajahnya yang tampan seolah dibingkai dengan bingkai emas, pria yang memakai kemeja hitam ini terlihat sedikit lebih misterius dan dingin dari biasanya.
Pesona Leon memang luar biasa. Namun satu hal, Khansa tidak ingin fokusnya teralihkan. Ia kembali mengingat perjanjian awal keduanya.
Secara refleks, Khansa mengalihkan pandangannya ke bawah secepat kilat, sebuah ikat pinggang mahal berwarna hitam melilit di pinggang pria itu sehingga menampakkan lingkar pinggang yang kencang, “Eumm… inilah pinggang kuat … yang dibilang Emily,” gumam Khansa dalam hati.
‘Aah! Sial! Emily sudah meracuni otakku,’ gerutu Khansa dalam hatinya.
Setelah sadar bahwa dirinya sudah terpengaruh oleh ucapan Emily, Khansa pun bergegas menghentikan pemikirannya, kepalanya menoleh, menatap arah mata Leon. Lalu bertanya seperti biasa, “Tuan Leon, untuk apa kamu berdiri di sana?” Berusaha meredam gejolak di otaknya, dan menetralkan suaranya.
Leon mengernyitkan alisnya sambil menatap gadis itu, “Sepertinya aku melihat seekor kucing sedang mengeong,” ujarnya menampilkan senyum smirk.
“Kucing? Mana!” seru Khansa memutar tubuhnya mencari-cari keberadaan binatang yang diucapkan Leon itu.
“Kamu cari apa? Kucingnya ada di depanku sekarang,” sahut Leon menyandarkan punggung kekarnya di ambang pintu.
“A … apa? Aku? Apa maksudmu? Enak saja nyamain aku sama kucing!” sentak Khansa tidak terima.
Kegugupan kembali melanda Khansa. Bahkan jika dibiarkan memilih, Khansa lebih memilih melawan beberapa preman dari pada menghadapi Leon yang menatapnya seperti itu.
Sungguh, sangat tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Ia terlihat lemah di hadapan Leon. Padahal selama ini, Khansa tidak pernah kalah menumbangkan lawan-lawannya, setangguh apa pun itu.
Leon kembali membuka suara coolnya, “Minta kawin.” Singkat, padat dan jelas. Namun mampu membuat Khansa kalang kabut.
Andai ia punya keahlian menghilang, tentu saja akan dia lakukan sesegera mungkin. Menyembunyikan wajahnya yang merah seperti udang rebus saat mendengar kedua kata itu.
Khansa langsung melemparkan handuk di tangannya dengan kuat ke wajah tampan Leon.
Pria itu tidak menghindarinya, menangkap dengan baik kain tebal itu, moodnya tampak sangat baik. Terkekeh kecil melihat mimik muka istrinya yang lucu dan semakin menggemaskan itu.
Khansa mengulurkan tangan hendak menutup pintu kamar mandi. Namun, lutut Leon sedikit menekuk dan menahan pintu, “Marah?” ucap Leon mengurai senyum mengejek.
Khansa mendengus tanpa menjawabnya. Selalu saja dia tak berkutik jika sedang berdebat dengan pria yang menjadi suaminya itu.
“Aku akan dinas ke luar negeri sebentar lagi. Apakah ada yang ingin kamu bicarakan padaku sebelum aku pergi?” tanya Leon.
Ah, ternyata ini alasan Leon untuk menunggunya. Ingin menyampaikan bahwa ia akan pergi ke luar kota. Hampir saja pikiran kotor menggerus otak Khansa.
Khansa berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya dengan maksud tidak ada. Leon menarik Khansa ke dalam pelukannya.
Khansa ingin mengelak, “Tuan Leon, apa yang kamu laku…”
Belum juga Khansa menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah menarik tangan mungilnya dan diletakan di atas pinggang kencangnya.
Telapak tangan yang lembut segera menyentuh otot-otot kekarnya di balik pakaian tipis, Khansa merasa ujung jarinya seperti disengat oleh aliran listrik.
“A … apa?” Tenggorokan Khansa tercekat. Tiba-tiba susah mengeluarkan suara. Ia bahkan sampai berdehem beberapa kali karena keterkejutannya, hingga ia ingin menarik kembali tangannya.
Namun, Leon menahannya, tidak membiarkannya mundur, bibirnya yang tipis menempel di daun telinga Khansa yang sudah memerah, lalu berkata dnegan suara berat, “Udah pas sama yang kamu mau?” tanya Leon dengan nada sensual.
Khansa merasa sangat malu, dengan cepat dia berkata, “Tuan Leon, kami tadi cuma bercanda, lepaskan aku dulu!” Khansa merutuki jantungnya yang berdenyut nyeri di dadanya. Tangannya gemetar, kakinya terasa lemas. Tulang-tulangnya seperti terlepas dari tempatnya.
“Tok! Tok! Tok!”
Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Keduanya menoleh, tangan Leon pun mulai mengendur.
Hembusan napas penuh kelegaan dari hidung Khansa, kesempatan baik untuknya melepaskan diri. Namun, Leon tak membiarkannya bergerak sedikit pun, tangan lebar itu masih mencengkeram erat lengan kecil Khansa.
“Kenapa?” tanya Leon yang sudah tahu itu adalah kepala pelayan.
Karena hanya Paman Indra yang berani mengetuk pintu kamarnya.
“Maaf mengganggu Tuan Muda, saya ingin menyampaikan bahwa pesawat pribadi telah siap,” jawab Paman Indra dari balik pintu.
“Ya, saya akan segera ke sana!” sahut Leon setengah berteriak, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Khansa.
Leon melepaskan Khansa, “Jangan pernah untuk menonton film-film action itu lagi! Kamu sudah memilikinya. Kapanpun kamu mau, aku siap!” perintah Leon tegas dengan mata tajam, namun sedikit genit.
“A ….” Bibir Khansa yang terbuka hendak mengatakan sesuatu, langsung dibungkam dengan ciuman Leon, lalu **********.
Khansa membeku, matanya hanya semakin melebar menatap Leon yang sudah tak berjarak dengannya. Bulu mata lentik, hidung yang tinggi dan bola mata yang berkabut tertangkap oleh netra Khansa.
Ia tidak mengerti bagaimana membalasnya. Hingga akhirnya gadis itu mendorong dada bidang Leon sampai tautan bibirnya terlepas sambil terengah-engah.
Entah sudah berapa kali Leon melakukannya hari ini. Yang pasti, dada Khansa seperti ada dinamite yang mau meledak setiap Leon melakukannya.
“Kenapa kamu sering menciumku?” tanya Khansa menepuk dada Leon.
“Sudah sering dicium saja masih tidak tahu bagaimana membalasnya. Sa, kamu hebat dalam segala hal. Namun, sepertinya untuk yang satu ini, kamu perlu banyak belajar. Aku dengan senang hati akan menjadi guru terbaikmu sampai kamu benar-benar hebat saat berciuman denganku,” jelas Leon tertawa.
Khansa mencebik kesal, “Dasar mesum!” umpatnya memicingkan mata.
“Aku pergi ya, jangan nakal. Ingat pesanku tadi. Dan, hubungi aku segera jika membutuhkan bantuan,” ucap Leon mengusap puncak kepala Khansa lalu melenggang pergi.
“Hati-hati,” ucapnya lirih dengan malu-malu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepeninggal Leon, Khansa seolah bisa bernapas lega, beban yang ada di dadanya seperti terangkat. Rongga dadanya yang menyempit, sudah kembali seperti semula.
Ia segera menutup pintu kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Selesai mandi Khansa naik ke atas kasur, dia mengeluarkan ponselnya dan mengalihkan topik sugar daddy dengan Emily.
“Emily, apa kamu tidak sedang sibuk sekarang ini?” Isi pesan Khansa.
Dengan cepat Emily pun membalasnya, “Aku akan ada syuting film selama beberapa waktu, tapi tenang saja. Aku sudah memerintahkan orang untuk menggali skandal Maharani.”
“Oke, terima kasih banyak Emily, jaga kesehatan, ya?” balas Khansa yang sangat perhatian padanya. Tentu saja, Khansa sangat menyayangi perempuan itu. Meski tak ada ikatan darah yang sama, mereka berdua saling menjaga, membantu dan menyayangi satu sama lain.
“Siap, Sasa Sayang! Kamu juga ya. Tunggulah kepulanganku, setelah itu kita akan menguliti Yenni bersama-sama!” Emily membalasnya disertai emoticon tertawa lebar.
Bersambung~
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Anonim
weehhhh Khansa....
2023-11-22
2
Pradiv
kok ngebayangin muka Leon itu Sehun ya... sippp bahan haluuu
2023-02-08
1
Siti Khumaira Rahma
Leon main sosor aja kan jadi malu2 mau deh Khansa nya 🤭🤭🤣🤣🤣
2022-07-09
1