Simon yang sudah tersulut emosi beranjak dengan cepat. Ia melangkah panjang dengan botol di tangannya. Namun, tangan Leon tak kalah cepat untuk menahannya.
Simon menoleh, pandangannya turun pada genggaman erat Leon di lengannya, “Tunggu! Jangan gegabah,” sergah Leon dengan nada rendah.
Meskipun gemuruh di dadanya sudah meletup-letup. Rasanya ingin segera menarik Khansa dalam dekapannya saat itu juga. Namun, ia juga penasaran apa yang sedang dilakukan Khansa saat ini. Sebisa mungkin Leon menekan perasaannya.
“Kak! Dia istri Kakak, lho. Kenapa enggak langsung dilabrak aja sih? Biar aku yang kasih pelajaran mereka berdua kalau Kakak tidak mau!” sembur Simon yang masih diliputi emosi.
Persaudaraan mereka memang begitu erat. Saling melindungi, saling menjaga sejak kecil. Tidak membiarkan siapa pun bisa menyakiti salah satu di antara mereka. Apalagi Simon, sebagai Tuan Muda Kawindra yang berkuasa di area tersebut. Ia tidak terima jika Leon, kakak sepupunya dipermainkan oleh wanita seperti Khansa.
“Tenanglah, duduk dulu. Kita lihat apa yang akan mereka lakukan. Aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri kalau memang mereka berbuat sesuatu. Aku yakin, Khansa bukan perempuan seperti itu. Dia perempuan baik-baik,” bela Leon dengan tenang.
Tatapan mata elangnya memohon pada Simon agar mau mendengarkannya. Bahkan tangannya masih mencengkeram lengan Simon dengan eratnya. Karena bisa dipastikan, jika pria itu sudah mengamuk tidak pandang bulu, tidak peduli siapa pun itu akan dihajarnya tanpa ampun.
“Hhhh … masih saja dibela. Jangan-jangan Kakak sudah jatuh cinta sama dia,” dengus Simon menghela napas panjang, tak habis pikir dengan kakak sepupunya itu.
“Sssttt! Jangan berisik, duduk dengan tenang dan kita amati dari sini,” ucap Leon menarik lengan Simon agar kembali duduk di sampingnya.
Meski menggerutu pria itu akhirnya menurut. Sedangkan Hansen sedari tadi hanya mengamati interaksi dua saudaranya yang berseteru itu. Ia memang memiliki sifat yang lebih tenang di antara mereka bertiga. Menyesap anggur dengan santai, lalu beralih memperhatikan Khansa dari tempat duduk mereka.
Sebelumnya, pagi-pagi sekali Khansa datang ke rumah keluarga Isvara seorang diri. Ia pun hanya berpamitan pada kepala pelayan, karena Leon dan nenek masih tidur. Tidak ingin mengganggu mereka.
Ia tidak menjelaskan ke mana akan pergi, saat itu ia sedang dalam keadaan terburu-buru. Tak lupa memakai cadar yang menutup sebagian mukanya. Namun rambutnya yang tergerai, melambai dengan indah seiring dengan hembusan angin pagi itu.
Sesampainya di sana, Fauzan dan Maharani sudah menunggu kedatangannya. Mereka memaksa Khansa untuk datang ke bar yang sudah dijanjikan dengan Pak Arman.
“Khansa, Ayah tidak mau tahu. Nanti malam kamu harus datang dan meminta maaf atas apa yang sudah kamu perbuat pada Pak Arman. Kamu tahu? Perusahaan Isvara akan mengalami kerugian yang sangat besar gara-gara kamu!” tegas Fauzan saat mereka duduk di ruang tamu.
Untunglah Jihan tidak ada di sana juga. Ia sangat malas jika harus kembali berseteru dengan saudara tirinya itu lagi. Hanya buang-buang tenaga saja, pikirnya.
“Iya, Yah.” Khansa mengangguk, tatapan matanya datar. Apalagi yang bisa dikatakannya selain mengiyakan. Karena percuma, penjelasan seperti apa pun juga tidak akan didengar.
“Biar aku nanti yang mengantarmu. Kamu sudah mengacaukan semuanya. Aku harus memastikannya sendiri, kalau kamu meminta maaf dengan benar,” sambung Maharani dengan angkuh. Menumpukan satu kaki dengan kaki lainnya. Wajah sinisnya meremehkan Khansa.
Khansa mengembuskan napas kasar, “Iya.” Singkat saja ia menjawab.
Kemudian ia beranjak ke kamar sang kakek setelah Fauzan berangkat ke kantor. Tanpa peduli dengan Maharani. Seperti biasa, Khansa akan melakukan pengobatan akupuntur pada tubuh renta yang masih terbaring lemah di atas kasur.
Seharian Khansa menghabiskan waktu untuk mengobati dan mengurus sang kakek. Fokusnya hanyalah untuk kesembuhannya. Khansa bahkan tidak menghubungi Leon sama sekali.
Hingga malam pun tiba, Maharani mengetuk pintu kamarnya dengan keras. “Khansa! Cepatlah, jangan sampai terlambat!” pekik Maharani tidak sabaran.
Khansa membuka pintu kamarnya, menatap tajam sang ibu tiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia lalu menutup pintu kamar dan berjalan mendahului Maharani dengan anggun.
Di depan, mobil sudah siap mengantarkan dua majikannya itu ke bar 1998. Sepanjang perjalanan Maharani terus menceramahi Khansa bagaimana nanti ia bersikap. Gadis itu tetap duduk dengan tenang. Melemparkan pandangan ke luar jendela, sesekali menanggapi cerocos Maharani dengan kata “iya”.
“Ayo turun! Aku akan mengawasimu, agar kau tidak mengacaukannya lagi,” seru Maharani mengacungkan jari telunjuknya untuk memperingatkan.
Khansa memutar bola matanya malas. Ia segera turun menjajakkan kedua kakinya di pelataran bar. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Khansa menginjakkan kaki di tempat seperti ini.
Matanya menyelidik, lalu berjalan mengekori Maharani. Suasana belum terlalu ramai, masih terlalu pagi bagi mereka para penikmat bar. Biasanya, semakin larut, akan semakin ramai.
Tak sulit menemukan pria berperut buncit itu. Aroma alkohol disertai asap rokok yang pekat mulai menembus cadar Khansa, menyeruak di indra penciumannya.
“Selamat malam Pak Arman, sudah menunggu lama?” Maharani berbasa basi sembari duduk di depan Pak Arman meski tanpa dipersilahkan.
“Khansa! Ayo duduk!” seru Maharani dengan sedikit penekanan. Khansa pun duduk tegak di samping Maharani.
“Hemmm … baru datang kalian?” ujar Pak Arman dengan suara beratnya.
Maharani menyenggol lengan Khansa, karena sedari tadi gadis itu hanya diam saja. Sesaat Khansa melirik ke arah ibu tirinya, Maharani mendelik.
“Langsung saja, Pak. Kedatangan kami ke sini untuk minta maaf pada Pak Arman atas kejadian tempo hari,” ucap Khansa tanpa basa-basi. Ia ingin segera pulang dan enggan berlama-lama di sana.
“Iya, Pak. Tolong maafkan kesalahan Khansa. Sebagai gantinya, Khansa akan menemani Pak Arman malam ini,” sambung Maharani memohon sambil menangkupkan kedua tangannya.
Khansa mendelikkan matanya. Bisa-bisanya wanita itu ingin kembali mengorbankan dirinya. Khansa segera menyusun rencana dengan cepat di otaknya, jika kemungkinan-kemungkinan buruk terjadi.
Pak Arman masih sangat kesal ketika teringat hampir diterkam anjing serigala gara-gara Khansa. Dia menyodorkan segelas wine ke hadapan Khansa. “Minumlah Khansa, setelah itu kita akan bersenang-senang. Hahaha!”
Khansa mendorong kembali gelas itu. “Maaf, saya tidak bisa minum wine,” tolak Khansa tegas.
“Ayolah, cicipi sedikit. Kau akan ketagihan setelahnya Khansa!” seru pria tua itu.
Khansa tetap kekeh pendiriannya. Ia menolak dengan tegas. Kemudian Maharani membisikkan sesuatu ke telinga Pak Arman.
“Pak Arman, pikirkan ide lain yang lebih menarik untuk membalas Khansa,” bisiknya. Khansa memicingkan mata.
Pak Arman berpikir sejenak, hingga beberapa saat kemudian tercetus ide di otaknya. Kepalanya mendongak, mengarah pada Khansa. “Kalau begitu, aku memintamu untuk menari di tiang pole, Khansa,” seru Pak Arman menyeringai menunjuk tiang untuk menari yang ada di depan. Maharani menunggu untuk menyaksikan tontonan.
“Dengan senang hati,” ucap Khansa lalu beranjak menuju tiang pole yang ada di atas panggung dan segera memulainya.
Gaun putih yang saat ini dikenakan, sama sekali tidak mengganggunya. Setiap gerakan Khansa mampu menyihir semua penonton yang ada di sana. Semua pandangan seluruh orang di ruangan itu tertuju padanya. Mereka terpukau dengan tarian indah Khansa. Tak terkecuali Leon dan saudara-saudaranya.
“Ckckckck! Ternyata pengantin pengganti Kak Leon memiliki sejuta pesona, pantas saja Kakak selalu betah di rumah. Dan udah enggak doyan wanita di sini. Hahaha,” decak Simon kagum meledek Leon.
Leon tak menanggapi. Ia terus menatap pada Khansa yang memang memiliki daya pikat tersendiri untuknya.
Sebuah tepukan mendarat di bahu Leon, membuatnya sedikit terlonjak. “Bagaimana? Apa kau mau menghajar Pak Arman?” tanya Hansen. Leon hanya tersenyum smirk membalasnya.
****
Setelah melihat tarian itu, gairah Pak Arman kembali bergejolak. Ia pun segera memesan sebuah kamar di sebuah hotel yang ada di sana, lalu menarik Khansa ke dalam kamar itu.
Khansa setuju dan ikut ke dalam ruangan bersama pak Arman. Di depan pintu ruangan yang mewah, Maharani sudah menunggu mereka.
“Tunggu sebentar, Pak. Saya ingin bicara sesuatu dengan Khansa,” pinta Maharani. Pak Arman mempersilahkan. Ia segera masuk ke kamar terlebih dahulu.
“Ingat ya Khansa, jangan macam-macam lagi kali ini!” seru Maharani meremat lengan kurus Khansa. Gadis itu hanya menyorotkan tatapan tajam pada ibu tirinya. Bibirnya terkatup sempurna. Lalu Maharani sedikit mendorongnya masuk dan menutup pintunya.
Pak Arman sedikit buru-buru dan langsung menerjang begitu pintu ditutup, Khansa menahan dada pria itu dengan kedua tangannya. “Tunggu sebentar, saya ingin mandi dulu. Badanku lengket usai menari tadi,” ucap Khansa beralasan. Tangannya mendorong, hingga pria itu terpundur beberapa langkah.
Pak Arman sudah tidak sabar dan hampir menghimpitnya, “Cantik, ayo biarkan aku menciummu,” ucap Pak Arman dengan suara semakin berat.
Khansa berhasil menghindar, “Pak Arman, jangan buru-buru, lagian aku juga tidak bisa kabur. Aku mau mandi dulu.” Ia segera melangkah ke kamar mandi.
“Mandi bersama, ya?” teriak Pak Arman mengikutinya dari belakang.
Namun, Khansa langsung mengunci pintu kamar mandi begitu masuk ke dalam. Ia merasa jijik dengan pria tua itu. Helaan napas lega ia hembuskan.
Tapi, sesaat kemudian Khansa bergerak dengan cepat karena merasa ada orang lain di dalam kamar mandi itu!
Khansa memegang sebuah jarum perak dan berbalik untuk menusukkannya ke badan orang itu.
Dengan cepat pula sebuah tangan besar yang otot-otot tangannya terlihat jelas langsung segera menahan pergelangan Khansa yang ramping, kemudian menekannya ke dinding, “Nyonya Sebastian, kamu sungguh ramah padaku.”
Bersambung~
Hai... aku kembali😄
novel ini akan up seminggu sekali ya. Tapi langsung boom up.hehe... jangan lupa tinggalin jejak, like komen di setiap bab. jan asal scroll yah sayang2ku... Favorit jangan lupa biar gak ketinggalan updatenya. 😘
Dan bolehlah vote dan gift seiklasnya.. agar bisa lanjutin cerita Leon~Khansa terus ampe pucuk. makasih banyak😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Eny Pangestu
Ada ya orang tua macam itu,untung cuma dinovel 🫢🫢
2024-12-12
0
G** Bp
orang tua lacknut 😠😠
2024-06-15
0
Anonim
ortu gila harta mau mengorbankan putrinya
2023-11-21
2