“Sreeeek!”
Pakaian yang dikenakan Maharani telah dikoyak oleh Pak Arman. Wanita itu histeris, kedua tangannya mencoba mempertahankan pakaiannya yang sudah tak berbentuk itu.
“Pak Arman! Apa yang Anda lakukan? Lepaskan saya!” teriak Maharani mengelak. Kedua kakinya terus berusaha bergerak. Namun tenaganya kalah jauh dengan pria bertubuh gempal yang menindihnya.
“Oh! Ayolah, Sayang. Aku sudah tidak tahan,” erang Pak Arman yang sudah dipenuhi kabut gairah membara.
Maharani terus memberontak, tapi pak Arman seperti orang gila saja dan tidak mengenali wanita di hadapannya.
“Apa maksud Pak Arman! Saya bukan Khansa, Pak. Saya Maharani!” Keringat mulai bermunculan di kening, leher dan dada Maharani.
Tenaganya bahkan hampir terkuras habis, Pak Arman masih menindihnya, pria itu sudah menanggalkan kemeja dan celananya. Menyisakan boxer yang masih melekat menutupi adik kecilnya.
“Aaarrggh! Jangan! Lepaskan saya!” jerit Maharani. Gaunnya sudah terlepas dari tubuhnya karena Pak Arman menariknya dengan kasar.
Pak Arman sudah memanas sedari tadi. Ia tidak tahan ingin segera melakukan penyatuan dengan wanita yang terkungkung di bawahnya.
“Tidaaakk! Lepaskan aku!” Maharani masih meronta mempertahankan diri. Dua tangannya menahan serangan bibir Pak Arman yang mulai menyusuri kulit mulusnya.
“Brakk!”
Dua orang bertubuh kekar berseragam coklat mendobrak pintu kamar itu dengan paksa, saat keduanya sedang dalam situasi kacau. Kemudian dua polisi itu menodongkan senjata apinya ke depan, mengarahkan pada dua orang yang ada di atas ranjang.
“Pak Arman dan Nyonya Maharani, Anda kami tahan atas tuduhan transaksi asusila, ini adalah surat penangkapannya,” seru polisi lainnya menyerahkan surat penangkapan.
Mendengar keributan, Pak Arman sedikit menarik kesadarannya. Sedangkan Maharani segera mengenakan pakaiannya yang terhambur di lantai. Bagian dadanya sobek, dua tangannya mencengkeram kain itu dengan erat menutupi dadanya.
“Pak! Ini … ini tidak benar! Tolong dengarkan penjelasan saya. Ini tidak seperti yang Bapak lihat,” sergah Maharani mulai panik.
“Silahkan jelaskan semuanya di kantor polisi, Nyonya!” ucap polisi tersebut.
“Pak, sungguh! Saya tidak melakukannya. Ini semua hanya salah paham, Pak!” Maharani terus berkelit. Ia tidak mau mengakuinya.
“Silahkan jelaskan semua sanggahan di kantor polisi!” tegas pria berseragam itu. Ia menoleh pada dua anak buahnya, memberi kode untuk membawa dua orang di hadapannya.
Pak Arman yang masih diambang kesadaran dipaksa mengenakan pakaian dengan lengkap. Lalu diborgol dan digelandang keluar kamar. Sama halnya Maharani, meski ia terus bersilat dan menyanggah semua laporan, polisi itu tetap menyeretnya ke kantor polisi.
Maharani menundukkan kepalanya, menaikkan kedua lengannya untuk menutupi dada dalam keadaan terborgol, diapit oleh dua orang polisi.
Derap langkah yang menggema, menyita perhatian setiap orang yang mereka lalui. Apalagi melihat beberapa anggota kepolisian. Sesampainya di lobi, semakin banyak orang yang berhenti melangkah hanya untuk sekedar ingin tahu.
“Loh, itu ‘kan Maharani!” tunjuk seorang pria berusia paruh baya.
Pria yang dulunya sangat ngefans dengan Maharani. Sewaktu muda, wanita itu merupakan bintang film yang sangat berbakat. Apalagi kecantikannya tidak pudar sampai sekarang. Tentu saja beberapa orang yang mengenalnya terkejut, ketika mantan bintang film ternama itu digelandang oleh polisi.
“Ooh iya itu Maharani!” seru orang di sebelahnya.
“Wah, berita hot news nih,” timpal seorang wanita yang juga mengenal Maharani.
Orang-orang pun itu segera meraih gawainya masing-masing, berlomba-lomba merekam dan mengambil gambar Maharani yang terlihat kacau dan berantakan saat itu. Apalagi ditambah dua polisi yang mengapitnya. Maharani semakin menunduk, jalannya pun semakin dipercepat menghindari paparazi di sekitarnya.
Tak butuh waktu lama, foto-foto itu tersebar luas di dunia maya. Bahkan langsung menjadi trending topik paling hot malam itu juga.
Hancur harga diri yang selama ini ia jaga dengan baik. Reputasi yang mati-matian ia pertahankan juga harus porak poranda dalam sekejap. Hatinya menggeram marah meneriakkan nama Khansa.
****
Di tempat lain, tepatnya di sebuah restoran bintang lima, Fauzan sedang dalam perjamuan bisnis. Banyak di antara mereka yang datang bersama istrinya, namun tidak dengan Fauzan. Ia harus datang seorang diri dalam acara tersebut.
“Lho, Zan. Kenapa Maharani tidak ikut malam ini?” tanya salah satu rekan bisnis Fauzan.
“Oh, dia sedang membantu mengurus bisnis saat ini. Jadi, mau tidak mau aku harus datang sendiri,” jawab Fauzan sambil tertawa.
“Wah, beruntung sekali kamu, Zan. Bisa mendapatkan istri seperti Maharani, sang ratu film yang bisa menjadi istri yang baik bahkan bisa membantu bisnisnya,” decak rekan bisnis lainnya menyanjung wanita itu.
“Iya betul itu.”
“Iya, Zan. Kamu sungguh beruntung.”
Beberapa kalimat pujian terlontar dari bibir rekan-rekannya. Fauzan merasa melambung tinggi ke langit, karena bangga dengan istrinya itu.
Fauzan semakin melebarkan tawanya dengan jumawa. “Iya, tentu saja. Maharani sungguh wanita yang sangat hebat. Walaupun ratu film, tapi tetap menjalankan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga yang baik, bahkan membantu mengurus perusahaan. Aku sangat bangga padanya,” ucap Fauzan membusungkan dada, menegakkan kepalanya menatap satu persatu orang-orang yang berdecak kagum dengan istrinya.
Tiba-tiba terdengar dering telepon pada ponsel Fauzan. Keningnya mengernyit, karena hanya ada deretan nomor saja tanpa nama kontak yang tertera. Takut terjadi sesuatu yang buruk, Fauzan segera mengangkat ponselnya. “Halo,” sapanya.
“Selamat malam Tuan Fauzan. Kami dari pihak kepolisian, ingin mengabarkan bahwa saat ini Nyonya Maharani kami tahan karena terjerat transaksi asusila. Mohon segera datang ke kantor polisi untuk mengurus administrasinya,” jelas sang kepala kepolisian di balik telepon.
“Apa?!” pekik Fauzan sangat terkejut, semua mata memandang ke arahnya.
“Ini … ini pasti ada yang salah, Pak,” elak Fauzan membela diri.
“Mohon segera datang ke kantor polisi, Pak untuk lebih jelasnya. Terima kasih, selamat malam.” Setelah mengucapnya, sambungan telepon diputus sepihak.
“Pah! Pah! Lihat deh. Ini ‘kan Maharani. Wah, dia ditahan di kantor polisi! Coba deh buka berita hot news, jadi trending topik lho,” ucap salah seorang istri rekan bisnisnya menatap layar ponselnya. Wanita yang suka sekali dengan gosip itu memfollow hampir semua akun gosip.
Dan benar saja, berita itu sudah menyebar di seluruh jagat dunia maya. Semua orang yang ada di sana membuka ponsel masing-masing lalu menertawakan Fauzan yang baru beberapa detik yang lalu membanggakan istrinya.
Fauzan tidak tahan, ia pun segera berpamitan dengan raut wajah yang merah padam. Fauzan bergegas ke kantor polisi dengan emosi.
“Apa yang kau lakukan Rani?” seru Fauzan sesampainya di kantor polisi. Kilatan kemarahan terpancar dari sorot matanya.
“Zan! Aku … aku dicelakai Khansa. Sungguh, tolong keluarkan aku dari sini. Aku nggak mau di sini,” rengek Maharani yang terus menyalahkan Khansa.
“Maksud kamu? Hotel dan berita itu, semuanya perbuatan Khansa?” tanya Fauzan menekankan setiap kalimatnya.
Maharani mengangguk dengan cepat sebagai jawaban mengiyakan. Namun yang terjadi selanjutnya, Fauzan justru menampar Maharani dengan keras.
“Awh!” desis Maharani memegang salah satu pipinya.
Sejak menikah, Fauzan tidak pernah berlaku kasar dengannya. Fauzan sangat menyayanginya. Ia sungguh tidak percaya, bahkan suaminya itu menamparnya di hadapan banyak orang. Dalam sekejap, seluruh kebencian tertuju pada Khansa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Simon yang sedari tadi menonton semua kejadian ini langsung bertepuk tangan senang, “Kak Leon, kakak iparku ini sungguh hebat, ya. Dengan semua kejadian ini, ibu tirinya tidak akan hidup tenang lagi.”
Leon memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana tanpa ekspresi terkejut. Istrinya selalu memberi kejutan padanya setiap hari.
Khansa seperti sebuah teka-teki yang memikatnya dengan perlahan-lahan. Senyum tipis ia terbitkan, hingga tak ada yang menyadarinya.
“Aku pergi dulu,” ucap Leon melenggang pergi, namun tiba-tiba Jihan muncul di hadapannya.
Jihan memang jahat, tapi syukurlah tidak mewarisi sifat ibunya yang penuh intrik. Dia kasar dan iri hati, sungguh tidak manis.
Jihan masih tidak tahu apa yang terjadi dengan orangtuanya karena dia terus fokus dengan Leon, pria dianggap sugar daddy Khansa.
Jihan mengeluarkan secarik cek, “Hei, sugar daddy, uang ini untukmu dan kelak jangan ikut dengan Khansa lagi!” ucapnya dengan sombong mengulurkan kertas itu.
Bersambung~
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Eny Pangestu
ibu n anak,sama2 pelakor
2024-12-12
0
G** Bp
bibit ² pelakor terus beraksi
2024-06-15
0
Anonim
Jihan sirik ya...
2023-11-21
1