“Iiihh! Awas kamu Khansa! Cewek kampung aja sok-sokan!” geram Jihan menghentakkan kakinya.
Apalagi ketika melihat Khansa menggandeng Leon pergi. Lagi-lagi dia harus kalah dari Khansa. Dan lagi-lagi harus dipermalukan seperti itu.
Saat dirasa sudah cukup jauh dari Jihan, Leon meraih jemari Khansa, menautkan di sela jemarinya, ia ingin menggenggamnya balik. Namun tanpa diduga Khansa justru menghempaskannya.
“Enggak usah pegang-pegang!” gerutu Khansa. Nada bicaranya terdengar sangat kesal.
Kening Leon berkerut dalam, “Hei, ada apa?” tanya Leon mencoba meraih tangan Khansa lagi.
Namun gadis itu lagi-lagi menjauh, bahkan menyembunyikan tangan di balik punggungnya. Bibirnya mengerucut di balik cadar, mata indahnya memutar dengan malas. Leon semakin gemas dibuatnya. “Udah dibilang nggak usah pegang-pegang! Dasar genit!” ketus Khansa.
“Loh, siapa yang genit?” tanya Leon menahan tawa.
“Ya kamu lah! Siapa lagi? Seneng banget tebar pesona sana sini. Dasar buaya!” cetus Khansa meluapkan emosinya.
Leon tak tahan lagi menahan tawanya. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang, menyemburkan tawa riang merasa menang kali ini.
“Kalau aku buaya kamu pawangnya,” goda Leon mendekatkan bibir di pipi Khansa.
Tentu saja kedua pipi Khansa langsung merona seketika. Kekesalan dalam hatinya belum sepenuhnya menghilang, namun Leon yang terus menggodanya membuat darahnya berdesir hebat.
“Ngapain ketawa coba? Enggak ada yang lucu ya. Dikira aku lagi ngelawak apa?!” cibir Khansa masih dalam marah mode on.
Sedangkan Simon tidak tinggal diam. Ia sudah merencanakan sesuatu. Tangannya meraih ponsel di saku jasnya. Menelepon selama beberapa saat dengan senyum misterius dan tatapan tajam yang mengerikan.
Tuan Muda Kawindra itu, tidak akan pernah mengampuni siapa pun yang berani menyakiti atau mengusik keluarga besarnya.
“Sedikit pelajaran mungkin bisa membuatnya jera. Siapa pun yang mengusik keluargaku, akan menerima akibatnya, lihat saja nanti,” gumamnya penuh seringai.
Setelahnya, Simon kembali memperhatikan kakak dan juga kakak iparnya yang masih terlibat perdebatan sengit.
“Kamu selalu lucu di mataku,” ucap Leon tanpa memindahkan pandangannya dari Khansa.
“Aku? Lucu? Hahaha. Sepertinya mata Anda bermasalah, Tuan Leon,” ucap Khansa tertawa sumbang. Ia mencoba tetap tenang meski hatinya berdebar tak karuan.
“Eehmm ... bisa jadi.” Leon pura-pura berpikir.
Khansa lalu bertanya dengan nada ketus. Dengan cepat memutar otaknya untuk mengalihkan perdebatan tak berujung itu, “Tuan Leon, barusan aku hanya penonton dan kamu malah sengaja melibatkanku. Apa kamu puas melihat tontonan heboh perebutan pria oleh 2 wanita?” Kedua tangannya dilipat di depan perut rampingnya.
Leon menggelengkan kepala, “Tidak,” jawabnya singkat lalu semakin mendekatkan tubuhnya, kepalanya sedikit merunduk menyamakan tingginya dengan Khansa, “Kamu … cemburu ya?” bisiknya di telinga Khansa.
Khansa memundurkan langkahnya, sedangkan Leon terus maju hingga punggung Khansa membentur dinding.
Leon memasukkan kedua tangannya di saku celana, menaikkan dagu Khansa mengulangi pertanyaannya lagi, “Kamu cemburu ‘kan?” ulang Leon lagi.
“Engg ….”
Detik itu juga Khansa tersadar kalau Leon sedang bilang dirinya cemburu.
Ia terdiam sejenak, ‘Cemburu? Aku? Tidak! Tidak! Mana mungkin?’ batinnya menggerutu lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata terpejam.
Tangan besar Leon menangkup puncak kepala Khansa hingga gerakannya terhenti, “Kenapa? Kamu pusing?” tanyanya dengan suara pelan namun meneduhkan.
Khansa tersadar, membuka kedua matanya, menatap pahatan indah ciptaan Tuhan di hadapannya. Mata yang tajam, alis tebal dengan hidung mancung, bibir yang tidak terlalu tebal dan rahang yang tegas. Benar-benar sempurna.
Entah apa yang akan dilakukan Jihan dan ibunya, jika Leon adalah pria dalam perjodohan itu.
‘Sa, please tahan dirimu. Jangan sampai goyah! Jangan baper. Kamu belum mendapatkan apa-apa,’ batinnya terus berusaha menekan gejolak hatinya. Tangan kurusnya segera menepis lengan Leon.
Tidak terima dikatakan cemburu, Khansa pun melotot pada Leon, “Tuan Leon, barusan aku sudah membantumu, jadi kamu harus bersyukur.” Out of the topic, biar Leon lupa kata cemburu dan membahas hal lainnya.
Leon menekan bahu Khansa yang indah ke dinding yang ada di dekatnya, lalu memukulkan kedua tangannya di samping badan Khansa untuk menghalanginya, “Beraninya kamu bicara begitu padaku? Kamu sungguh menganggapku sugar daddymu? Berani sekali! Hm?” cetus Leon mengeratkan gerahamnya.
Meski bicaranya pelan, namun didalamnya penuh penekanan. Apalagi mata elang Leon seperti belati yang siap menyayat musuhnya.
Seketika Khansa pun panik. Mata indahnya mengerjap-ngerjap indah saat bulu mata lentiknya saling bertumbukan.
Dengan cepat, gadis itu langsung memeluk Leon, pria itu langsung main hantam dinding kalau berdebat, sungguh CEO yang arogan sekali, mana mungkin dia berani menjadikan Leon sebagai sugar daddynya?
Khansa memelankan suaranya, “Tidak,” sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Tidak? Lalu kenapa bilang barusan membantuku? Nyonya Sebastian, kamu tidak sadar akan statusmu sebagai seorang istri ya, bukannya mengusir wanita yang mengganggu suamimu ini sudah jadi tugasmu?” tegas Leon menaikkan kedua alisnya.
“......” Khansa terdiam, mendongakkan kepala untuk menatap pria tampan di hadapannya. Kedua tangannya masih meremas kemeja di kedua sisi tubuh Leon. Khansa merasa perkataan Leon sangat benar.
Berada dalam kungkungan pria itu, lagi-lagi harus menahan debaran jantungnya. Apalagi aroma tubuh Leon yang sudah merasuk ke otaknya. Tersimpan dalam memorinya. Tubuhnya yang nyaman dalam pelukannya, membuat Khansa meneguk salivanya dengan berat.
“Tapi, bagaimana aku bisa tahu kamu suka padanya atau tidak? Lagian, harusnya Jihan yang menikah denganmu, aku ‘kan hanya pengantin pengganti saja.” Bibirnya bergetar saat mengucapkannya. Ia juga memalingkan mukanya dari hadapan Leon.
Leon menyunggingkan senyum tipis. Ia mengapit dagu Khansa agar menoleh padanya. Leon mengernyitkan alis sambil memajukan wajahnya, memangkas jarak keduanya, hanya tinggal beberapa centi meter saja. Napas hangat Leon yang menerpa wajahnya, membuat Khansa meremang, “Masih bilang kamu tidak cemburu?”
“Tidak!” sergah Khansa dengan cepat dan lantang.
Leon terkekeh, tampak wajah Khansa merona, dengan deru napas yang memburu. Leon terus menggodanya, “Katanya gadis yang cemburu itu perlu dihibur. Mau aku hibur?” Suara cool Leon menelusup telinga Khansa.
“Hm?” Gadis itu tak mengerti, mengerutkan kedua alisnya.
Leon menunduk dan mencium pelan bibir merah Khansa dengan dibatasi cadar.
Tangan Khansa bergetar, ‘Kenapa Leon selalu menciumku?’ Tubuhnya menjadi kaku, seperti tersengat aliran listrik. Bahkan bibirnya masih terbuka saking terkejutnya.
Leon menggerakkan kepala dan menunduk sambil bertanya, “Masih cemburu?”
Khansa segera menggeleng tanpa suara.
Leon tertawa pelan, “Ah baiklah, dasar tukang cemburu,” sindir Leon lagi, tertawa akan kepolosan Khansa.
Khansa baru sadar dirinya sudah terjebak, tindakannya barusan sama saja dengan mengaku kalau dia cemburu. Khansa tidak pernah kalah berdebat, tapi kini malah kalah pada Leon.
Khansa menggigit bibirnya sendiri dengan pelan, lalu menunduk untuk keluar dari pelukan lengan Leon dan berlari pergi.
Leon kembali meletakkan tangan ke dalam saku celana dan mengikuti Khansa dengan perlahan sambil tersenyum.
Bersambung~
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Anonim
Khansa cemburuuuu
2023-11-22
2
Anonim
kalian memang berjodoh tapi masih pada tarik ulur ya....
2023-11-22
0
sherly
kayaknya ada yg salah nih... tangannya dikeluarkan dr saku baru bener
2023-08-26
0