Tubuh Khansa terhimpit menghadap dinding, tangannya dicengkeram erat oleh seseorang. Ingin melawan namun sebuah suara menghentikannya.
“Nyonya Sebastian, kau sungguh ramah padaku.” Suara barinton menelusup gendang telinga Khansa.
DEG!
Suara yang sangat familiar. Ia memutar kepala, melirik dengan ekor matanya dan ya, benar, sesuai dengan dugaannya. Orang itu adalah Leon.
Khansa membalikkan tubuhnya, mereka saling berhadapan. “Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Khansa keheranan sembari mengernyitkan keningnya.
“Ada hubungan apa antara kamu dengan pak Arman dan tarian tiang pole barusan?” Bukannya menjawab, Leon justru balik bertanya. Tubuh kekarnya mengungkung tubuh mungil Khansa, merapatkannya ke dinding. Kedua manik matanya, menatap netra Khansa bergantian kiri dan kanan.
Khansa menelan salivanya, membasahi kerongkongan yang tiba-tiba mengering. Jangan tanyakan bagaimana dengan denyut jantungnya. Dadanya naik turun dengan sangat cepat. Sebisa mungkin, ia berusaha meredam gejolak yang ada di hatinya. Gadis itu menghela napas panjang, mengembuskannya dengan sedikit kasar.
Khansa tidak ingin Leon ikut campur dalam urusannya. “Tuan Leon, ingat dengan perjanjian kita untuk tidak saling ikut campur urusan masing-masing. Dan aku enggak mau ….” Khansa kembali mengingatkan telunjuknya diangkat tepat di hadapan Leon.
Pria itu menyeringai, mencengkeram pergelangan kecil milik Khansa, mengungkung tubuhnya dan merapatkannya ke dinding. Tanpa aba-aba….
“Cup!”
Belum selesai bicara, Leon menempelkan bibirnya beberapa kali dengan bibir Khansa yang masih tertutup cadar, setelahnya dia berkata, “Dalam perjanjian tertulis, kalau aku tidak boleh menciummu dan kini aku sudah menciummu, emang kamu bisa berbuat apa padaku?” tanya Leon.
Meskipun terhalang kain tipis di wajahnya, tetap saja Khansa mampu merasakannya. Tubuhnya mendadak kaku, tidak bisa menolak sentuhan bibir dari sang suami. Khansa yakin orang ini hanya mau mencari alasan.
“Tok! Tok!”
Pintu kamar mandi diketuk dengan brutal oleh Pak Arman. “Khansa! Cepat buka pintunya! Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi tubuhmu, Sayang. Ayolah, jangan buat aku menunggu terlalu lama!” pekiknya dari luar ruangan kecil itu, terus mengetuk tidak sabaran.
Keduanya menoleh ke arah pintu, Leon yang sudah terbakar api cemburu, menyibak cadar yang dikenakan Khansa. Mengarahkan dagu tepat di depannya, lalu membenamkan bibirnya pada bibir Khansa tanpa dihalangi apapun.
Rasa manis dari bibir tipis Khansa, sungguh membuat candu bagi pria itu, semakin ingin merasakannya lebih. Perlahan ia menyesap bibir manis Khansa, kemudian ********** bergantian bibir atas dan bawah.
Khansa yang awalnya sudah tegang, pikirannya langsung jadi kosong dalam sejenak, sungguh dadanya terasa meledak-ledak di dalam sana. Tubuhnya memanas, aroma tubuh Leon yang maskulin menguar di hidungnya. Aroma rokok tembakau ringan juga masih tersisa dari mulut Leon, karena pria itu habis merokok.
Leon tidak memejamkan mata, dia melihat sepasang mata indah milik gadis itu. Khansa menarik pandangannya dan terlihat kekacauan dalam bola mata yang berbinar itu, sangat polos sekali.
Leon terhanyut dalam lamunan, ia teringat tarian tiang Khansa yang hot barusan dan semakin memperdalam ciumannya. Tangannya menahan tengkuk Khansa.
Di matanya, kadang kala Khansa lucu terkadang juga licik, mirip seperti seekor rubah kecil. Tapi, Khansa polos sekali ibarat selembar kertas putih dalam hal percintaan.
Saat Leon asyik memikirkan hal itu, Khansa merasa mempunyai celah untuk melepaskan pagutan mereka. Dengan cepat Khansa menggigit bibir Leon dengan sangat kuat.
“Sshhh,” desis Leon kesakitan.
Leon menjauhkan kepalanya dari Khansa. Tangannya melepas gadis itu, menyentuh bibirnya yang basah. Bukan hanya karena air liur, tapi luka akibat gigitan Khansa, dia sudah merasakan darah yang berbau anyir itu.
“Kamu ini anjing kecil, ya? Suka sekali menggigit orang.” Leon mengusap bibirnya yang terluka akibat gigitan Khansa.
“Kenapa kamu selalu seenaknya sendiri? Aku tidak akan berlaku sembarangan selama menyandang status nyonya Sebastian. Tapi, bukan salahku kalau ada pria lain menyukaiku dan tolong jangan menindasku karena hal itu,” geram Khansa meluapkan amarah. Napasnya tersengal-sengal, matanya sudah memerah.
“Maaf, sebenarnya aku … aku hanya cemburu. Aku tidak mau ada pria lain menyentuhmu, melihat lekuk tubuhmu. Aku cemburu, Khansa! Aku tidak rela,” ucap Leon dengan mata sayu menangkup kedua pipi Khansa.
Khansa tersentak mendengarnya. Ia menatap dalam kedua iris hitam Leon, mencari kejujuran di sana. Dan sepertinya, memang seperti itu.
“Tok! Tok! Tok!”
“Khansa cepat buka pintunya, Sayang. Aku mau mandi bersama denganmu,” teriak Pak Arman mendesak di luar kamar mandi, sungguh terdengar sangat menjijikkan.
Leon terlihat marah mendengarnya, menggelengkan kepala lalu tertawa menyeringai, “Aku saja tidak pernah berpikir untuk mandi bersamamu, apa hak dia?” Kilatan tajam mata Leon membuat Khansa menelan salivanya. Suaranya penuh penekanan.
Wajah Khansa memerah dan mencoba menghiburnya dengan suara pelan, “Tuan Leon jangan marah, nanti aku akan membantumu melampiaskan amarahmu. Khansa membelai dada bidang Leon, yang ingin meledak memuntahkan amarah saat itu juga. Ketika mendengar pria lain ingin mandi bersama istrinya.
“Serahkan orang ini padaku,” balas Leon mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
“Tidak bisa. Tuan Leon, dulu aku pernah bilang kalau aku tidak ingin mengandalkan orang lain dan membuat diri sendiri jadi lemah dan pengecut. Oleh karena itu, aku akan menyelesaikan urusanku sendiri, kamu jangan ikut campur.” Khansa bersikeras menolaknya.
Leon melihatnya sekilas dalam diam. Iya, ia ingat dengan ucapan Khansa tempo hari. Akhirnya Leon mengalah, mempercayakan semuanya pada istri kecilnya itu.
Khansa tersenyum sangat cantik. Membuat Leon enggan mengerjapkan matanya, “Percayalah padaku, aku bisa mengatasinya,” ucapnya lalu kembali memasang cadarnya dengan benar.
“Kamu di sini saja dulu, aku keluar dulu.” Khansa membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar meninggalkan suaminya di sana.
Begitu melihat Khansa keluar, Pak Arman langsung menerjang ke arah Khansa. Namun dengan cepat, ia mengayunkan tangannya. Wangi yang tiba-tiba dihirup oleh Pak Arman, membuatnya mabuk sempoyongan. Pria itu hampir kehilangan kesadarannya.
Gadis itu menyeringai, kakinya melangkah mundur, sembari asyik dengan ponselnya.
Maharani sedari tadi mondar mandi di luar kamar. Ia merasa tidak tenang, lalu menempelkan telinganya pada daun pintu, ia hanya mendengar beberapa suara aneh, kemudian kembali hening.
“Bagaimana bisa Khansa mengiyakannya dengan mudah? Bukankah sebelumnya, dia memberontak? Bahkan melakukan hal-hal yang berbahaya,” gumam Maharani menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Awalnya Maharani merasa ada yang aneh. Saat ini, dia jadi lebih khawatir dan segera menerobos masuk ke dalam.
“Pak Arman, apa yang terjadi?” ucap Maharani saat sudah berada di kamar.
Kening Maharani mengernyit, pandangannya mengedar penuh keheranan, tidak ada orang di dalam kamar. Juga tidak ada orang di atas ranjang.
Maharani merasa kebingungan, saat dia berbalik, pak Arman yang sudah melepaskan bajunya tiba-tiba menerjang dan memeluk Maharani dengan erat, “Cantik, ayo temani aku bersenang-senang.”
Pak Arman mendorongnya menuju ranjang, Maharani yang masih kebingungan ditindih ke atas ranjang, pak Arman sudah membuka kancing pakaian Maharani seperti binatang buas.
Bersambung~
Hayoolooh... like komennya jan lupa yaa☺
Jan lupa favorit karena up nya nggak tentu, harus nunggu konfirm editor dulu. Dukung terus yaa biar tetep bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa dengan like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur suwun😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Eny Pangestu
🤣🤣rasain,maharani
2024-12-12
0
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
😂😂😂 senjata makan tuan
2024-08-12
0
G** Bp
m****s kamu Maharani,lagian anak org mau korbanin,knpa ga anakmu sendiri..rasain akhirnya kamu sendiri yg menjadi santapan Arman 🤣🤣🤣
2024-06-15
0