Emily Kurniawan adalah sahabat Khansa sejak kecil, hubungan keduanya sangat baik, waktu kecil tidak ada yang percaya pada Khansa, dan hanya Emily lah satu-satunya orang yang mempercayainya, sekarang ini dia sudah menjadi salah satu dari 4 artis ternama di tanah air.
Sewaktu kecil, Emily selalu menginap di rumah Khansa ketika libur untuk menumpang makan dan tidur. Khansa sangat senang karena ia tidak merasa kesepian.
Ketika Khansa dipulangkan ke desa saat berusia 9 tahun, Emily menangis tersedu-sedu saat Khansa berpamitan dengannya. Ia merasa kehilangan. Sahabat yang selalu bersama selama bertahun-tahun harus terpisah dengan jarak yang cukup jauh dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
“Kamu janji ya, kamu harus selalu baik-baik saja. Aku percaya kamu tidak mungkin melakukannya,” ucap Emily sesenggukan.
Mereka saling berpelukan, Khansa juga menangis tersedu-sedu. Ia tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan, hanya Emily yang percaya padanya. Bahkan ayahnya sendiri justru tega membuangnya ke desa. Tanpa mau mendengar penjelasannya.
Bagaimanapun, Khansa adalah gadis kecil layaknya anak lainnya. Awalnya memang berat dan ketakutan. Namun, dari kejadian itu, Khansa membulatkan tekadnya untuk menjadi kuat dan mengungkap semua kebenarannya.
“Aku janji, akan kembali lagi. Aku janji akan menjadi kuat dan membalas semuanya saat waktunya sudah tiba nanti,” ucap Khansa lirih tepat di telinga Emily. Yang tentu saja hanya dapat didengat oleh gadis itu.
Emily menganggukkan kepalanya. “Aku akan selalu ada untukmu, Khansa. Aku akan membantumu sebisaku,” tangis keduanya pecah.
Apalagi ketika Fauzan menyeret lengan kecilnya masuk ke dalam mobil.
“Jaga diri baik-baik Khansa,” teriak Emily melambaikan tangannya.
Khansa membalas lambaian tangan itu sampai mobil menghilang dari pandangan Emily.
Dan persahabatan itu terus berlanjut sampai sekarang. Emily pun dengan senang hati membantu Khansa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Khansa merasa lelah di sekujur tubuhnya. Aktivitas hari ini benar-benar menguras tenaganya. Ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang berukuran besar milik Leon itu. Ah, jangan lupa itu berarti miliknya juga bukan?
Tak butuh waktu lama, Emily pun membalas pesannya. Khansa membuka pesan suara itu, suara manis Emily segera terdengar.
“Sasa, ngapain sungkan begitu, tenang aja, hal ini kuserahkan pada asisten nomor satuku kok, Fauzan nggak akan bisa menyelidikinya.”
Suara Emily sangat enak didengar, tipe suaranya bisa membuat para pria terpana saat mendengarnya.
Tentunya paras dan suaranya pastilah sesuai, sebagai wanita tercantik di kota ini, Emily memulai debutnya 2 tahun yang lalu, dan saat ini dia sudah menjadi salah satu dari 4 artis ternama.
Kali ini Emily membuat Fauzan gelabakan, meskipun Maharani akan curiga, tapi Fauzan juga pasti tidak akan percaya kalau putrinya yang pulang dari desa bisa punya kemampuan untuk memporak-porandakan dunia hiburan.
Khansa dan Emily memulai obrolan santai mereka. Saling menanyakan kabar, hingga Emily mulai penasaran dengan identitas si sugar daddy.
Emily adalah wanita tercantik di kota Palembang, jangan lihat aura dewinya yang mempesona saat berjalan di red carpet, tapi sebenarnya dia ini suka bergosip, sepertinya sudah ada yang menyampaikan gosip Khansa ke telinganya.
“Eh, Sa! Ceritain dong, gimana sih sugar daddy kamu itu? Kamu nemu di mana? Aku penasaran banget tau.” Suara Emily kembali terdengar.
Keduanya saling berbalas melalui pesan suara. Selain lebih cepat dan praktis, mereka merasa layaknya saling berbincang secara langsung.
“Kamu denger dari mana? Dasar tukang gosip!” cebik Khansa membalas pesan suara itu lagi dengan terkikik. Ia merasa geli ketika menyebut Leon sebagai sugar daddy nya.
Terdengar derit pintu yang terbuka, seorang sosok tinggi dan tampan berjalan masuk, siapa lagi kalau bukan Leon yang kembali dari ruang kerja.
Khansa tentu saja terlonjak kaget, karena merasa bersalah, Khansa yang masih berbaring di kasur seketika bangun dan duduk tegap. Wajahnya nampak panik. Tangannya menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
“Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu jadi tegang begitu?” tanya Leon melenggang masuk ke dalam kamar dengan langkah panjangnya.
Dia mengangkat tangannya dan melepaskan dua buah kancing pada kemeja hitamnya, tulang selangkanya yang indah terlihat, kemudian dia menoleh untuk melihat gadis yang ada di tepi kasur, mata Khansa dan mata Leon saling memandang sebelum Khansa sempat memalingkan wajah.
Rona merah telah membias di kedua pipi Khansa. Tatapan keduanya saling bertemu, Leon menaikkan sudut bibirnya dan berkata, “Ada apa?” ulangnya sekali lagi setelah tak mendengarkan jawaban.
“Ng … nggak ada kok, “ kata Khansa menghindar, memutar tubuhnya dengan cepat. Mengalihkan pemandangan indah yang ada di hadapannya.
Kemudian terdengar bunyi notifikasi pesan menandakan chat masuk di ponsel Khansa. Perhatian keduanya tertuju pada ponsel tersebut. Khansa menatap layar benda pipih itu. Sebuah balasan pesan suara dari Emily.
Leon memiringkan kepalanya, “Kenapa, nggak dilihat?” tanyanya menaikkan kedua alis tebalnya.
“Ini lagi lihat.” Khansa membuka pesan suara yang dikirim oleh Emily.
“Sasa, aku percaya sama seleramu, jadi sugar daddymu itu pasti tampan banget, yang paling penting dia pasti punya pinggang kuat, ‘kan?”
Khansa panik seketika, ia bahkan hampir menjatuhkan ponselnya saking paniknya. Wajah Khansa langsung memerah begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Emily dengan nada genit.
Kemudian, sebuah pesan suara baru pun mulai terdengar lagi, layar percakapan yang masih terbuka membuat pesan suara itu otomatis terbuka. Dan terdengar kembali suara merdu Emily.
“Sasa, itu loh, kamu tahu ‘kan, dulu pas kita curi-curi nonton kan udah janji bakal nyari cowok yang punya pinggang kuat, terus nggak lemah.” Suara Emily menggebu-gebu, terdengar sangat bersemangat saat mengucapkannya.
Suasana kamar sunyi senyap. Tidak ada suara lain selain pesan suara dari Emily itu. Khansa meneguk ludahnya, tidak berani mengangkat pandangannya.
Dengan cepat, ia memasukan ponselnya ke dalam selimut, ingin sekali rasanya dia mencari lubang dan bersembunyi di dalam.
Leon mengernyitkan keningnya, mata elang miliknya terus menatap Khansa yang tengah menggigit bibir bawahnya.
Topik ini tidak ada apa-apanya jika hanya mereka yang tahu, tapi sekarang malah didengar oleh orangnya sendiri, sungguh canggung, malu, takut bersarang jadi satu di benak Khansa.
“Uhm … anu, Tuan Leon, aku mau … mandi dulu…”
Khansa beranjak dengan cepat bergegas kabur ke dalam kamar mandi.
Ia melewati Leon begitu saja, bahkan setengah berlari. Tanpa menoleh atau melirik sedikit pun ke arah Leon. Jantungnya sudah mau meledak di dalam sana.
Dia berdiri di depan wastafel dan mengambil handuk, dia merasa ujung jarinya mengeluarkan hawa panas, kemudian dia melihat Leon dari cermin yang mengkilap.
Leon berjalan ke arahnya dengan pasti, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana sambil bersandar di pintu.
Bersambung~
Hayoo... Jan lupa tinggalin jejaknya ya sayang-sayangkuu... Jan lupa favorit juga, karna up nya nggak tentu. Tapi sekali up lgshg boom 😄
Tetep dukung yah biar bisa lanjutin keuwuwan Leon~Khansa... Like, komen, vote dan gift seiklasnya. Matur nuwun🥰😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Anonim
malunya Khansa...wkwkwk
2023-11-22
2
𝖒𝖔𝖓🆁🅰🅹🅰❀∂я💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
🤣🤣🤣🤣😀
2023-01-29
1
Susi yati
😁😁😁kepo itu ngpain sih sering bgt leon msukin tangan ke saku celana. mkin penasaran sm cerita nya
ok lnjt kak
2022-09-21
1