Kening Khansa mengerut dalam, kedua alisnya saling bertaut. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan polos menepikan tubuhnya semakin menempel pada pintu mobil.
Tatapan Leon tertuju pada bibir merahnya seolah-olah sedang memberikan kode bahwa cara terbaik bagi seorang wanita untuk berterima kasih kepada pria adalah sebuah ciuman.
"Masa nggak tau?"
Jantung Khansa berdegup kencang, daun telinganya yang putih sudah memerah, “Enggak tahu.” Setelah mengatakannya, Khansa menoleh ke luar jendela dan tidak memedulikan Leon. Ia pun menjadi salah tingkah karenanya.
Leon menahan senyumnya, kemudian kembali fokus melajukan mobilnya. Leon menilai sikap Khansa yang menghindar, dia cerdas, gesit, mandiri, tidak suka bergantung pada orang, juga enggan mempercayakan ketulusan hatinya kepada orang lain dengan mudah, tapi seorang gadis berusia 19 tahun tak lain hanya selembar kertas kosong dalam soal perasaan dan tidak bisa menahan godaan dari seorang pria.
Mobil mewah tersebut berhenti di lampu merah, Khansa menyandarkan diri di jendela dan melihat toko kue paling terkenal di kota Palembang. Bayang-bayang masa lalu kian menari-nari di pikirannya.
“Kamu pengen makan kue?” Terdengar suara berat Leon memecah keheningan di mobil itu, menyadarkan lamunan Khansa.
Khansa memutar tubuhnya, untuk menghadap Leon. Sorot mata Khansa terlihat sedih, dia berkata dengan pelan, “Dulu, ibuku sering bawa aku beli kue di toko itu,” ucapnya pelan. Setelah berkata, ia kembali memandang toko tersebut.
Leon mengangguk, kemudian memutar setirnya dan berhenti di tepi jalan tak jauh dari toko kue yang diinginkan Khansa, “Kalau mau ya beli sana,” titahnya menggerakkan dagu mengarah ke toko tersebut.
Senyum di bibir Khansa mengembang, meski tertutup cadar, tapi Leon dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari gestur tubuh Khansa.
“Terima kasih,” ucapnya lalu bergegas keluar dari mobil dan berlari kecil memasukinya.
****************
Toko kue tersebut, merupakan kenangan yang sangat indah bagi Khansa. Sudah 10 tahun Khansa tidak berbelanja ke toko ini. Tepatnya setelah ibunya meninggal. Dia ingat waktu masih kecil Ibunya sering membawanya kemari untuk membeli kue favoritnya.
Kenangan yang terlintas di otaknya seperti sebuah rekaman film yang kembali diputar. Matanya memerah, dadanya terasa sesak, air mata sudah hampir menyembur dari kedua kelopak matanya. Khansa tidak ingin Leon melihatnya menangis, jadi dia memutuskan pergi ke toilet.
Secara kebetulan, Jihan dan sahabatnya yang bernama Jane Gautama, berada di toko tersebut. Mereka gencar membicarakan Khansa dan sugar daddy-nya.
“Eh tahu enggak sih, kalau si Khansa tuh memelihara sugar daddy,” seru Jihan pada Jane sambil tertawa terbahak-bahak.
“Serius lo? Tahu dari mana?” tanya Jane penasaran. Keduanya berbincang sambil memilih kue yang berjajar rapi di rak.
“Iya aku serius. Aku lihat dengan mata dan kepala sendiri. Dia peluk-pelukan, mesra-mesraan di mobil waktu di halaman rumahku. Yah meskipun enggak begitu jelas tampangnya. Euuuhh, enggak nyangka aja, kelihatannya polos, lugu tapi memelihara sugar daddy, hahaha!” cibir Jihan tertawa terbahak-bahak.
“Suaminya ‘kan penyakitan. Mungkin enggak bisa muasin dia kali. Makanya cari sugar daddy,” timpal Jane ikut tertawa.
“Helleh, palingan juga bandot tua, gendut, kepalanya botak. Hahaha!” tambah Jihan disertai tawa meremehkan.
Tepat saat pembicaraan mereka sedang panas-panasnya, Leon masuk ke dalam toko kue. Langkahnya tegas dan berwibawa, ia mulai memilah dan memilih aneka kue untuk Khansa.
Sesekali menanyakan barang yang diminta pada pelayan toko. Jihan dan Jane mengalihkan pandangannya pada Leon.
Jihan terpana kala melihat pria itu. Pria yang sangat sempurna di matanya. Dari postur tubuh, suara juga tampangnya, semuanya merupakan tipe ideal Jihan. Baru memandangnya saja, Jihan sudah tergila-gila padanya.
Jane masih berada pada topik barusan, dia bertanya kepada Jihan dengan nada pelan, “Apa mungkin tampang sugar daddy Khansa seperti ini?” bisiknya sembari menatap Leon.
Jihan tidak terima, ketika pria yang sangat disukainya, menjadi sugar daddy-nya orang lain. Ia mengelak dengan tegas pertanyaan Jane.
“Apaan sih!” Jihan memelototi Jane, “Orang kampungan kayak Khansa pasti ya sugar daddynya juga orang murahan, udah jelek, gendut lagi, kalau dia punya sugar daddy kayak gini, aku bakal panggil dia Nenek!” lanjut Jane lagi.
“Permisi, saya mau kue yang ini,” ucap Leon pada salah satu pelayan yang berada di dekatnya. Ia menunjuk sebuah gambar yang tertera di showcase.
Pelayan tersebut mengecek ketersediaan kue yang diinginkan oleh Leon. “Mohon maaf, Tuan. Kue yang Anda inginkan telah habis. Stok terakhir telah dibeli oleh Nona yang ada di sebelah Anda,” jelas pelayan tersebut dengan ramah sambil menunjuk ke arah Jihan.
Jihan memanfaatkan kesempatan untuk mengobrol dengan Leon. “Tuan, saya bisa memberikan kue ini jika Anda menginginkannya,” ucap Jihan dengan nada menggoda dan mengeluarkan senyum terbaiknya.
Leon tidak menggubris Jihan, sebagai gantinya dia mengeluarkan kartu black gold miliknya yang tertera nama keluarga kepada staf toko. “Tolong buatkan satu lagi untukku!” pintanya.
Staf toko melihat nama keluarga itu, tak satu pun yang tidak mengenal keluarga Sebastian di kota Palembang. “Baiklah, Tuan. Mohon untuk menunggu sebentar, kami akan segera membuatkannya untuk Anda. Permisi,” ujar sang pelayan lalu bergegas ke bagian dapur membuatkan kue yang diinginkan oleh Leon.
Jihan menggeram marah karena diabaikan oleh Leon, tapi dia juga terkejut staf toko bisa memenuhi keinginan pria ini.
‘Sebenarnya siapa pria ini? Aku yakin dia bukan pria sembarangan. Aku yang pelanggan VVIP saja, tidak ada layanan seperti ini. Aku harus bisa mendapatnya,’ gumam Jihan menyusun rencana di otaknya.
Jihan semakin merasa kalau pria ini adalah pria yang dia inginkan, dia menarik sedikit gaunnya dan menunjukkan lekukan yang menggoda, lalu pura-pura pingsan.
Namun, hal di luar dugaan terjadi. Leon tidak menangkap dirinya, melainkan menghindar ke sisi lain sehingga Jihan terjatuh langsung ke lantai.
Tepat sekali Khansa keluar dari toilet, “Hai Jihan! Kenapa kamu memberi hormat seperti itu? Haha!” sindirnya lalu tertawa terbahak-bahak.
Jihan pun segera bangun dan berdiri dengan dibantu oleh Jane, “Khansa, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyanya menunjuk Khansa dengan raut penuh keterkejutan. Sesuai dengan rencana ibunya, seharusnya Khansa berada di atas ranjang Pak Arman sekarang.
Leon menghampiri dan merangkul pinggang Khansa, “Kenapa kamu begitu lama, dari mana saja?” tanya Leon tepat di telinga Khansa. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat romantis.
Dua pasang bola mata milik Jihan dan Jane membulat dengan sempurna. Mereka saling melempar pandangan penuh tanya tentang Khansa dan pria tersebut. Lalu keduanya menghendikkan bahu secara bersamaan.
Tanpa basa basi, Jihan menunjuk bahu Khansa, “Heh Khansa! siapa dia?” tanya Jihan segera.
Khansa mengangkat sudut bibirnya, “Bukannya kamu bilang dia sugar daddyku?” balas Khansa menyeringai.
Bagai petir yang menyambar. Sontak, Jihan dan Jane membuka mulutnya tak percaya. Mereka menahan napas sesaat saat mendengar pengakuan Khansa tersebut.
Bersambung~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Milah Milah
/Grin//Facepalm/ bruukk, jatuh beneran tuh
2025-03-07
0
G** Bp
enak ya jatuh lgsg ke lantai🤣🤣🤣
2024-06-15
0
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣🤣 Trik murahan kayak emaknya 🤮🤮🤮🤮
2023-11-28
3