Tatapan menyeringai terpancar dari kedua manik Leon. Ia menoleh pada Khansa yang masih terpaku, “Aku akan membuangnya ke halaman belakang dan menjadi makanan 2 serigala peliharaanku!” serunya tak melepas pandangan dari Khansa.
Gadis itu terdiam, kemudian membatin, serigala? Bukankah itu merupakan binatang buas? Dan merupakan binatang yang tidak bisa dijinakkan oleh manusia?
Khansa juga tengah berpikir dalam diam. 4 keluarga besar konglomerat di kota Palembang, Sebastian, Mahendra, Kawindra, Ugraha, dan keluarga Sebastian adalah salah satu di antaranya.
Tuan Muda keluarga Sebastian memiliki kekuasaan besar, dia adalah penguasa dunia bisnis termuda dan tertampan dalam legenda, tapi belum ada yang pernah melihat wajah aslinya, dia sangat misterius.
Sedangkan Khansa meneliti di Villa Anggrek, yang tinggal di sini hanya seorang cucu dan Neneknya, dan cucunya ini yang tak lain adalah suaminya, bukanlah pria yang penyakitan, jadi jelas bukan orang terhormat dari keluarga Sebastian.
Ini juga alasan kenapa Maharani tidak membolehkan putrinya menikah, dan ingin Khansa yang jadi penggantinya.
Oleh karena itu, di dalam pemahamannya, pria ini bukanlah orang yang punya kekuasaan tinggi, tapi Khansa melihat aura di sekujur tubuh pria ini, melihat keagungan dari gestur tubuhnya, rasa wibawa yang keluar dari tulangnya, seperti raja yang memerintah.
Setelah berpikir sejenak dan hendak berbicara, Khansa melihat Leon yang tiba-tiba menopang kedua tangannya di atas meja dan mengeluarkan ekspresi kesakitan. Keringat dingin nampak mulai bermunculan di keningnya. Leon mendesis, menahan rasa sakitnya.
“Tuan, Anda merasa sakit? Saya akan segera memanggil dokter,” tanya Paman Indra dengan raut khawatir. Pria paruh baya itu hendak keluar memanggil dokter. Pasalnya, jika seperti ini, tandanya penyakit yang diderita Leon kambuh.
“Tunggu! Paman,” gumam Leon sembari mengerang kesakitan. Paman Indra menghentikan langkahnya, menunggu perintah selanjutnya dari sang Tuan Muda.
“Bawa dia pergi dari sini!” Ia menunjuk ke arah Khansa tanpa menoleh. Satu tangannya memegang kepalanya yang berdentum hebat. Leon tidak mau jika Khansa akan menjadi sasaran di saat penyakitnya kambuh. Karenanya, ia menyuruh Khansa segera keluar dari ruangan itu.
“Baik, Tuan! Mari Nyonya, silahkan meninggalkan kamar ini,” pinta Paman Indra, meminta Khansa untuk segera pergi.
“Tidak, saya tidak akan pergi,” ucap Khansa tegas.
Khansa kembali ke keluarga Isvara memang karena punya tujuannya sendiri, dia perlu identitas sebagai pengantin Villa Anggrek. Istri dari sang Tuan Muda, dia tidak ingin pergi. Demi sebuah misi yang baru akan mulai dijalankan.
Dengan berani, Khansa melangkahkan kaki jenjangnya maju untuk memeriksa kondisi Leon, pria itu mengerutkan dahi, saat Khansa menyentuh pergelangan tangan Leon, memeriksa titik-titik syaraf pria itu.
“Saya sedikit memahami tentang pengobatan, baik tradisional maupun barat, saya bisa menyembuhkan penyakit Anda,” ucap Khansa mengelak kebingungan Leon.
Leon justru nampak marah besar, matanya menyalang merah, gerahamnya mengetat, “Pergi dari sini!” sentaknya dengan suara keras.
Paman Indra mencoba membujuknya sebelum kemarahan Leon memuncak, namun gadis itu masih bergeming.
Khansa masih tetap padapendiriannya, ia tidak menggeserkan kakinya dari hadapan Leon. “Anda punya gangguan tidur, mudah emosi, murung, tidak bisa tidur di malam hari. Saya mencium aroma obat tradisional yang mahal untuk mengatasi insomnia di tubuh Anda, jadi kesimpulan saya, Anda punya gangguan tidur,” papar Khansa dengan wajah serius.
Paman Indra terkejut karena Khansa dapat menebaknya dengan benar.
“Eumm … seberapa parah tingkat gangguan tidur, Tuan?” tanya Khansa sembari menganalisis lesinya. “Jika gangguan tidur mencapai tingkat terburuk, maka akan mengubah seseorang menjadi monster yang kejam, seperti ada diri lain yang tinggal di dalam tubuh, terlihat muram, menakutkan, berdarah dingin dan hampir mendekati mengerikan,” jelas Khansa.
Leon nampak semakin murka, tangannya terkepal kuat, terdengar giginya saling bergemeletuk, “Aaaarggh! Persetan dengan yang kau ucapkan!” bentak Leon melotot tajam.
Tangan lebar Leon mengulur. Detik berikutnya, dia mencekik tenggorokan Khansa. Hal itu membuat paman Indra panik.
“Tu—tuan Muda, tolong … lepaskan Nyonya, Tuan! Pergilah dari sini, Nyonya,” pinta Paman Indra dengan memohon.
“Uhuk! Uhuk!” Khansa kesulitan bernapas. Kedua tangannya berusaha menepuk lengan Leon agar melepaskannya. Namun, justru Leon semakin mengeratkan cengkeramannya di leher gadis itu. Wajahnya sudah semakin memerah, akibat berkurangnya pasokan oksigen di paru-parunya.
Khansa semakin tak kuat, di saat-saat terakhir, Khansa meraih sebuah jarum lalu menusukkannya ke kepala Leon. Cekikan Leon semakin mengendur dan terlepas seketika, Khansa terbatuk sambil menunduk, dengan napas terengah-engah, Khansa mencoba mengumpulkan oksigen di sekitarnya. Sedangkan Leon, jatuh terduduk di atas sofa.
Khansa tidak punya cara lain, dia hanya bisa berusaha sebisanya. Setelah keadaannya membaik, Khansa mulai memijat Leon dengan teknik kuno. Keadaan Leon perlahan tenang.
“Saya ingin membuat sebuah kesepakatan,” ucap Khansa. Tangannya masih sibuk bergerak memijat Leon. Pria itu menatapnya datar. Lalu Khansa melanjutkan ucapannya tanpa mendengar persetujuan dari pria itu.
“Jangan pernah mempertanyakan urusan pribadi saya. Dan saya akan membantu mengobati penyakit Anda, serta membantu berakting di depan nenek. Bagaimana?” tawar Khansa menatapnya dengan serius.
Leon tidak berbicara, namun juga tidak menyanggahnya. Khansa pun menyimpulkan bahwa Leon setuju dengan apa yang ditawarkannya. Seulas senyum nampak terbit di balik cadar yang masih dikenakannya.
Setelah yakin pria itu menyepakatinya, sebuah jarum kembali ditusukkan perlahan ke titik akupuntur Leon. Pria itu melemah, Khansa menangkap wajah samping Leon yang tampan dengan telapak tangannya secara perlahan. Lama kelamaan, Leon tertidur di tangan gadis bercadar itu.
Kepala pelayan sontak terkejut, Leon seorang Tuan Muda keluarga Sebastian, yang mengambil alih keluarga Sebastian di usia belasan tahun, hingga dia dewasa. Sebelumnya tidak ada seorang pun yang berani bernegosiasi dengan Leon seperti ini, apalagi seorang gadis.
Selain itu, Tuan Muda sudah lama tidak tidur, bahkan master kelas dunia juga tidak bisa membuat Tuan Muda tidur nyenyak, tapi Tuan Muda malah tertidur di telapak tangan gadis itu. Ia sungguh takjub dengan kemampuan Khansa, Nyonya mudanya itu.
“Nyonya muda,” panggil Paman Indra dengan pelan.
Khansa menengadahkan kepalanya, menatap sang kepala pelayan, “Tenanglah, Paman. Sekarang keluarlah, saya akan berjaga di sini,” jawab Khansa dengan lembut.
Kepala pelayan tiba-tiba merasa tenang, dia mendengarkan perintah Khansa, “Baiklah Nyonya Muda, saya permisi. Jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan memanggil saya,” ujar sang kepala pelayan membungkuk hormat.
“Iya, Paman. Terima kasih,” sahut Khansa mengangguk. Kepala pelayan itu segera meninggalkan kamar Tuan Mudanya.
Khansa terus menopang kepala Leon, sampai saat dia sudah tertidur pulas barulah meletakkannya ke sofa, lalu menyelimutinya. Setelah semuanya beres, dia kembali ke atas kasur dan tidur.
Beberapa saat kemudian, Leon yang berada di atas sofa membuka matanya perlahan-lahan, ia beranjak dari sofa lalu berjalan ke tepi kasur, mengulurkan jemarinya yang jenjang untuk membuka cadar di wajah Khansa.
Bersambung~
Mohon dukungannya ya kakak... like komen gift dan vote seiklasnya. Terima kasih😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 287 Episodes
Comments
Eny Pangestu
oh,ternyata tdk bisa tidur
2024-12-12
0
G** Bp
kabar yg beredar diluaran sana yg mengatakan tuan muda penyakitan ternyata penyakitnya ga bisa tidur😄😄
tapi ntar Mak tirinya Khansa pasti menyesal telah menikah kan Khansa dgn Leon...
2024-06-14
1
Qaisaa Nazarudin
Lho ku pikir Leon akan tidur seharian,eh ternyata udah bangun aja,😅😜
2023-11-28
1