Melihat monter itu sudah tidak bergerak. Wildan segera menuju Ismira yang sekarang terkapar di atas ranjang dengan posisi terlentang, Namun ketika dia akan pergi dia mendapatkan cengkraman di kakinya.
Yang membuat dia terhenti dan berteriak. Karena cengkraman itu berhasil membuat tulangnya berbunyi seperti patah.
“kreekk.."
suara seperti tulang yang patah.
“Diem lo di sini bang#at”
ucap makhluk itu sebari memeganggi kaki kiri Wildan.
“Anj#ng lu makhluk bangs#t,”.
Ucap Wildan sambil berbalik menendang muka makhluk itu.
‘dukk’
Suara tendangan yang mendarat di wajah monster itu mengakibatkan dia terpental dan membentur kaki kursi, dan segera menjadi kesesmpatan yang baik untuk wildan.
Segera dia menjatuhkan kursi dan berhasil menimpa leher monster itu, dan menekanya sekuat tenaga agar leher makhluk itu terputus.
“mati lu makhluk sialan!!..”
Terikanya sambil menekan kursi tyang sudah terbalik dengan ujung lancipnya berada di leher gagaran, dan segera menendang kembali kepala gagaran itu dan berhasil memengal kepala gagaran yang di lawanya itu.
Pertarung Gilang dan makhluk yang dia lawan belum berakhir, sekarang terlihat makhluk itu sudah lemah karena pertarungan dan luka yang dia terima,
“Lu kira gue mati dengan luka luka kecil ini??.."
Ucap makhluk itu sebari berdiri usai di banting ke lantai oleh Gilang. Terlihat sekarang dia tak memiliki tangan kiri, karena sebelumnya sudah di hancurkan Gilang. Dan beberapa sayatan yang dia terima selama bertarung dengan Gilang.
“Cuma segitu kekuatan orang yang mau nyelametin ‘proyek zero’?”
ucapnya yang membuat Gilang bertanya-tanya karena sedari tadi makhluk itu terus berbicara ‘proyek zero’.
“siapa yang lu maksud?"
ucap Gilang sebari berjalan menuju makhluk di depanya dan segera berlari menerjang dadanya dengan kaki kananya yang membuat makhluk itu terlentang daj jatuh, serta di akhiri dengan menginjak tangan capitnya.
“Cepet ngomong!!.. kalau ga gue ledakin kepala lu!!..”
Ucap ancamnya sebari menarik kerah baju gagaran itu.
namun bukanya jawaban, malahan dia mendapatkan ludah darah yang mendarat di mukanya.
cuih...
“Lu mau tahu siapa yang gua maksud? Lu tanya sendiri!!..”
Ucap bebal monster itu dan segera Gilang meninju wajah monster itu ,dan memasukan botol bertuliskan ‘ledakan’ kemulut monster itu.
“Sekali lagi gue tanya, apa sebenernya yang lu maksud??..”
tanya kedua Gilang kepada monster itu yang malah membunuh dirinya sendiri.
dengan cara menggit botol itu, mengakibatkan kepanya nya hancur dan juga membuat Gilang terkena serpihan kaca, setra darah yang membanjiri muka Gilang. Serta membuatnya kerlempar kebelakang dan terkapar.
Tak lama Wildan menyadarkan Ismira dan segera membantunya untuk bangun.
“Ayo cepet bangun!!.. kita harus keluar dari sini!!..”
ucapnya sambiil membantu Ismira untuk berdiri dari kasur itu.
“Tapi Gilang gimana??..”
Ucapnya sambil melihat kearah Gilang, yang sekarang terkapan dengan mayat tanpa kepala.
Segera Ismira berdiri dan berjalan sambil tertatih tatih yang di tuntun oleh Wildan, dan segera terduduk di samping Gilang dan melihatnya penuh dengan darah.
Dia mendekap kepala Gilang dan segera memangkunya di atas pahanya sebari menangis sejadi jadinya, mungkin pikirnya Gilang sekarang sudah meninggal.
“Kenapa kamu nyari aku!!... Padahal kamu tahu bisa mati kapan aja, dan aku gak bisa ngelihat kamu mati...”
Isak tangisnya sambil berderai air mata dan sesekali mengusap wajah Gilang, berharap Gilang membuka mata namun tak kunjung terbuka.
“Aku janji gak akan ningalin lagi kamu!!.. Heii Gilang bangun...”
ucapnya sambil memeluk kepala Gilang dan memukul-mukul dada Gilang.
Melihat itu Wildan, awalnya berniat menghentikan Ismira, dan segera melanjutkan untuk kembali ke rumah. Namun tak lama terdengan suara dari Gilang yang membuatnya terkejut.
“Sakit mi... jangan keras keras meluknya... Aku bisa mati betulan!!..” ucapnya sambil balik membelai wajah manis Ismira untuk menghentikannya.
Gilang...
Segera Wildan mendekati Gilang dan membantu Gilang untuk berdiri dan membopongnya.
“lu masih bisa berdiri kan?”
Ucapnya sambil mencoba membopong Gilang ditemani Ismira, Baru saja dia berdiri mereka bertiga dikejutkan dengan lampu yang hidup.
Membuat mereka menyipitkan matanya dan menghalanginya dengan telapak tangan, terdengar suara seorang pria yang berbicara pada mereka.
“Selamat atas kerja keras kalian, nampaknya proyek zero bisa berkembang sebagaimana harapan kami..”
Ucapnya sambil bertepuk tangan menandakan dia mengapresiasi hasil kerja keras mereka.
“Siapa lo baj#ngan!!.. lu tahu berapa nyawa yang harus mati karena ulah lo dokter se#an!!..”
Bentak emosi Wildan yang segera yang langsung dijawab, dan di ketahui nama orang yang menjadi dalang itu adalah Gia.
Dokter yang pernah di sebutkan oleh Ismira saat pertama kali melihat monster yang seperti kucing raksasa.
“jika kalian terus membawa gadis itu.. kalian akan terus menderita"
ucap ancap suara itu yang lansung di bentak oleh Gilang dengan berteriak.
” jangan repot- repot lu cari dia... Karena Gue yang akan dateng ke depan muka lu!!.."
Teriaknya sambil balik menantangnya.
Tak lama layar, televisi menyala menampilkan pria dengan jas putih ala dokter, dan tersenyum kepada mereka.
Spiker rumah sakit berbunyi kencang dan membuat mereka menutup telinga, karena suara yang cukup memekakan telinga mereka.
“jika kalian bisa masuk, harusnya kalian bisa keluar!!...”
ucap pria itu sambil menatap Ismira yang segera bersembunyi di balik tubuh Gilang.
Mereka bertiga menuruni dengan Wildan yang di bopong Gilang karena sekarang, kakinya mulai mati rasa dan juga sulit di gerakan.
Satu per satu anak tangga yang mereka turuni, sekarang banyak terdengar suara langkah kaki dan juga suara raungan monster dan inang dari arah luar klinik
Mereka berlari mencari jalan keluar dari klinik, dan mendapati sebuah ruangan dengan jedela yang terbuka.
Segera mereka memasuki ruangan tersebut dan menutup pintu, dan mengajalnya dengan gagang infusan agar tidak bisa di buka dari luar.
“cepet keluar Wil!!... Biarin gue yang keluar terakhir... cepet keluar bawa Ismira!!..”
ucap Gilang sebari mendudukan Wildan di jendela dan membantunya untuk keluar, yang disusul Ismira dan dirinya yang keluar dari jendela itu.
Lantas mereka melarikan diri dengan cara memutar arah menjauhi pintu masuk, dan melihat drone milik Yukky yang sudah menunggu mereka untuk menuntun kembali pulang ke tempat aman.
Dalam perjalanan mereka bertiga hening tampa sepatah katapun terucap, Ismira yang berjalan paling depan dan di susul oleh Gilang dan wildan yang ia bopong.
“Wil... sekarang gue nerima buat ikut ke shelter tempat lu sama Agan tingal. tetapi lu janji jangan bilang ke siapa-siapa tentang proyek zero, sebelum kita tahu sebenernya apa itu proyek zero”
Tutur Gilang sambil membopong Wildan, yang di balas dengan acungan jempol oleh nya menandakan dia mengerti dan juga paham tentang keraguan yang sekarang menyelimbuti Gilang.
“Sekarang kita tahu apa yang kita hadapin,... dan kita tahu cara buat ngadepinya...” Jawabnya sambil melihat foto Agan dan adiknya dengan tangan kananya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments