Setelah cukup lama tak sadarkan diri. Kiini ia terbangun dengan posisi kaki dan tangan terikat. tepat di depanya pak Herdi sedang duduk termenung, menunggu ia untuk sadar. “Lang udah bangun??..” tanya singkatnya sebari bersandar di tembok.
"Apa yang terjadi pak??.. kita di mana??... siapa mereka??.. Ismi gimana??..” tanya keheranan karena, sekarang mereka berdua berada di ruangan kosong.
“Kita di tawan, Semua bahan makanan kita di bawa sama mereka. Kalo Ismira ga tau di mana, yang jelas dia ada. Cuma gatau di ruangan mana??.." ucap lirih pak Herdi meratapi nasipnya kini.
Gilang berusaha merangkak mendekat dan meminta suatu pertonlongan. untuk membuka seleting celananya. “pak bisa tolongin bukain seleting jaket Gilang di dalamnya ada pisau lipat” ucapnya sambil sedikit berbisik takut di dengar oleh penjaga.
Segera pak Herdi membuka seleting jaket Gilang. dan segera mencari pisau yang di sebut dengan arahan Gilang.
Setelah berhasil ketemu, ia langsung meminta pak Herdi untuk membebaskan dirinya, agar bisa kabur dari tempat itu.
setelah terbebas, Gilang langsung membuka celananya untuk mengobati betisnya, yang sebelumnya terkena panah dengan alat p3k yang berada di tas kecil terbelit di pahanya.
Sesudah ia mengobati betisnya. Mereka langsung menyusun rencana untuk balas dendam serta kabur dari tempat itu. “Sekarang kita bikin keributan dulu,” ucap pak Herdi memberi intruksi untuk Gilang.
Setelah semua paham mulai sandiwara pertengkaran yang membuat salah satu penjaga pria masuk dan menghentikan mereka.
“Eh t#i bisa diam gak!!.. Gob#ok kalian”ucap bentak pria itu kepada mereka berdua dan berdiri tepat di belakang Gilang
Segera Gilang membalikan badan dan mengorok leher pria itu sambil membekam mulutnya agar tak menimbulkan suara. “Harusnya lu yang sopan. kalo ngomong!!!..” ucap dingin Gilang sambil menusuk dada pria tersebut sampai terkulai lemas.
mereka bersembunyi di balik pintu yang sekarang terbuka, karena terdengar suara perempuan memangil-mangil orang yang mereka bunuh.
“Cuk...!! lama amet lu ngent#d!!.. ngecek doang padahal!!.." sambil memasuki ruangan tersebut yang sontak wanita itu kaget saat melihat temanya sudah terkapar bersimbah darah.
saat akan kabur, wanita itu di jambak oleh Gilang dan di tusuk di tengkuknya hingga tembus ke luar dari dalam mulutnya, yang membuat wanita itu mati seketika.
Setelah merasa aman mereka memutuskan untuk mencari Ismira. Dan segera keluar dari tempat itu, setelah cukup lama mencari. Mereka menemukan keberadaan Ismira yang terkurung dalam ruangan dan segera membebaskannya.
Setelah mereka semua berkumpul kembali, mereka segera mencari jalan untuk pergi dari sana. Mereka berlari untuk turun kebawah melewati tangga tiba tiba pak Herdi tidak ada di samping mereka, dan sudah tersandra oleh komplotan itu.
“Oh...hallo ketemu lagi, bawa orang tua gini susah ya...” ucapan Yang membuat mereka menghentikan larinya.
“Anj#ng lu mau apa?!!...” ucap marah Gilang pada orang orang yang menyandra pak Herdi.
“Gue Cuma mau--” belum usai pria itu berbicara pak Herdi berteriak pada mereka berdua. “Lari..!! Jangan peduliin bapak!!..” ucap lantang pak herdi menyuruh mereka untuk pergi dan meninggalkanya sendirian untuk di tawan.
“Dukk.....”
Terdengar suara pukulan mendarat di perut pak Herdi, yang di layangkan oleh orang di sampingnya.
“Kalo orang lagi ngomong... tuh dengerin!!.." ucapnya sambil terlihat darah mulai bercucuran jatuh ke lantai yang ternyata pak Herdi di tusuk oleh mereka.
“Dah tua... Bukan ngajarin sopan, malah ngelunjak!!...” sambil melayangkan pisau yang tepat mengenai leher pak Herdi dan mendorong badanya ke balkon sampai jatuh ke lantai satu sambil tertawa kegirangan.
Sontak hal tersebut mebuat Ismira berteriak dan menangis “pak...Kenapa...”
Lantas pria yang tadi mengorok pak Herdi berjalan meningalkan anak buahnya, “kalian urus mereka." Ucapnya sambil menepuk pundak salah satu anak buahnya.
Setelah melihat kejadian itu Gilang segera melemparkan dua botol plastik Yang segera mengeluarkan banyak asap putih pekat, dan di akhiri dengan ledakan. Yang membuat ke empat pengawalnya kebingungan, dan kaget karena gumpalan asap dengan cepat membuat pandangan mereka tertutup.
Sontak Gilang berlari menerjang mereka semua, dengan golok dan katana seorang diri. Terdengar jeritan dan juga bagian tubuh manusia yang mulai terlihat tergeletak saat asap mulai sedikit demi sedikit menghilang.
Terlihat Gilang sudah menumbangkan 3 orang. dengan cara memengal kepala mereka, membelah badanya menjadi dua, serta menusukan katanya dari dada sampai tembus ke tengkuknya.
Membuat orang yang pertama kali menusuk pak Herdi ketakutan karna kejadian itu. Dan terjadinya pembunuhan mereka oleh Gilang, hanya di lakukan selama dua puluh detikan saja. sontak, ia panik dan terjatuh karena tersandung kepala temanya.
Saat berusaha berdiri. Segera ia di gagalkan oleh Gilang yang menusuk tepat di ******** pria tersebut. membuat pria itu sangat kesakitan dan akan berteriak.
namun naas saat ia berteriak ia malah Di 'suapi' dengan katana yang di pegang Gilang.
“Coba ngomong sekarang!!.. " sambil menekan katananya yang sekarang sudah masuk mulut pria itu.
“Ewrgh....” racau pria itu tak karuan seolah meminta maaf karna sudah membuat ia marah.
Sontak Gilang menekan katananya, sampai menembus kepala orang itu. “Lain kali lu pake isi otak dulu” Ucap dingin Gilang sambil mencabut katanya yang penuh dengan darah.
Segera ia Mendekati Ismira yang duduk tertegun melihat dua kejadian diluar nalarnya terjadi. “Mi.. keluar aja duluan, tunggu di tempat aman!!..”
Ucap dingin Gilang. Sebari membantu gadis itu berdiri dan memberikan pisau lipat dari saku celananya. “nih... buat jaga jaga!!.. Ada hal yang harus aku urus.” ucapnya yang langsung di ikuti oleh Ismira.
Setelah memastikan Ismira aman sampai di luar dan bersemnunyi. Ia langsung masuk lagi berlari mencari pria yang membunuh Pak Herdi.
Ia berjalan menuju mayat pak Herdi yang sudah terbujur kaku di tengah ruanggan. dan malah di duduki oleh pria yang membunuhnya.
“Balik lagi nih anak.!! Apa sih yang spesial dari tua bangka ini!!..” Ucap pria itu sambil meloncat berdiri.
“Lu ga bakal tau berapa baik orang,yang lu bunuh pake tangan busuk lu!!.." Ucap Gilang sambil berjalan mendekati pria itu dengan katana dan golok yang ia lempar sejauh mungkin dari mereka berdua.
“Wihhh.... keren banget kaya di film-film..." ucap ejek pria itu yang tak di gubris, dan terus berjalan hingga cukup dekat dengan pria itu.
“Gue suka gaya lo!!...“ sambil menepukan tangan tepat di muka Gilang.
“Bacot lu!!...” Ucap emosi Gilang yang langsung meninju muka pria itu, namun di tahan dan berhas menendang dada Gilang hingga menyebabkan Gilang terpental beberapa langkah.
segera Gilang berlari dan meloncat menyerang dengan lututnya yang tepat mengenai muka orang itu.
Mulai mereka jual beli serangan. Dan mulai pria yang di lawan Gilang itu terdesak, dan berhasil di lempar oleh Gilang hingga tersungkur cukup keras ke tembok.
“Diri lu!!.." Ucap Gilang sambil berdiri menunggu pria itu berdiri. Setelah pria itu berdiri Gilang langsung menghujani pukulan bertubi tubi ke tubuh pria itu, dan berhasil membenturkan kepala Pria itu ke tembok sampai mengeluarkan darah dari pelipisnya.
namun ketika ia akan di pukul oleh Gilang untuk membuatnya pingsan, ia meludah ke arah muka Gilang. Yang membuat Gilang lengah dan segera menyayat kaki Gilang dengan pisau yang ia sembunyikan.
dan malah menusuk paha kanan Gilang, Yang membuat ia berhasil memukul mundur orang itu, dan melap mukanya.
belum beres ia menghilangkan noda darah di area matanya. Ia kembali segera di tendang dadanya oleh pria itu. yang sontak membuatnya terkapar terlentang.
dan menjadi bulan bulanan pria itu “Jangan sok keras lu!!...” sambil tertawa memukuli wajah Gilang. Namun segera bisa di hentikan, dengan cara menarik rambut pria itu sampai setengah terlentang dan me miting kepala pria tersebut dengan kakinya.
memiliki peluang untuk bebas, segera Gilang memukulnya dengan tangan kirinya hingga mereka berdua terlentang sesaat karena kesakitan.
Segera Gilang merangkak, berusaha membawa golok yang sebelumnya ia lempar untuk menghadapi pria tersebut.
“Mayan juga pukulan lu... cuh...” ucap pria tersebut sambil meludah yang terdapat dua buah giginya telah tergeletak di lantai.
“heh....kita belum beres...” Ucap Gilang sambil berdiri dan berniat mengakhiri pertarungan mereka.
merekapun memulai kembali pertarungan. namun dengan tensi saling ingin membunuh.
ting.....
ting.....
suara benturan besi yang cukup keras mulai terdengan, di barengi dengan kilatan api kecil bersinar efek dari benturan itu. Dan Cipratan darah mulai terlihat di baju masing-masing.
Membuat pertarungan berubah menjadi ajang adu ketahanan. Namun tak lama tusukan terakhir pria itu meleset mengenai Gilang. yang langsung di manfaatkan oleh Gilang untuk menebas pergelangan tangan kanan pria itu sampai putus.
Sontak pria itu ambruk dan berteriak kesakitan, serta Gilang yang langsung menusuk pundak kirinya yang hampir membuat tangan pria hampir putus.
Mengakibatkan pria itu sekarang tak bisa lagi bergerak. segera Gilang meningalkan pria tersebut dan berjalan menuju mayat pak Herdi untuk melihatnya terakhir kali.
Setelah ia berada di depan mayat pak Herdi. ia segera mencari sepucuk surat yang sebelumnya Pak Herdi tunjukan kepada anaknya yukky.
Setelah berhasil menemukanya, ia langsung membuka dan melihat isi dari catatan itu.
‘semoga papa bisa ketemu mamah ya neng, papa sayang neng’
Tulis pesan di secarik keretas itu. yang membuat gilang menangis menitikan air matanya. dan mencabut kalung di leher pak Herdi serta membawa surat itu yang penuh darah untuk pulang.
Namun pria tersebut terus berteriak mencaci kelakuan Gilang. Yang lantas ia kembali menuju dirinya dan menyumpal dengan handphone yang sudah ia atur alarmnya agar mengeluarkan suara yang telah di rangkai dengan audio.
“Selamat Ngerasain neraka dunia” Ucap Gilang memasangkan sumpal handphone itu.
Segera ia membopong mayat pak Herdi keluar gedung untuk di makamkan dengan layak. Serta membiarkan pintu semuanya terbuka agar banyak makhluk bisa memasuki tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments