Setelah selesai makan dan beres beres Gilang berjalan menuju keluar balkon untuk sekedar melihat bekas pertarungan melawan makhluk itu, sambil membayangkan. jika ia tak berhasil mengalahkan makhluk yang hendak menerkamnya.
Tak lama, ia di datangi Ismira yang melihatnya melamun serta membawa dua gelas kopi untuk di berikan satuq kepadanya
“Nih.. buat nemenin kamu mikir..” ucap ramah ismira sambil mendudukan badanya di samping Gilang.
“Kenapa bengong gitu Lang??masih kepikiran ya yang tadi??” tanya pembuka gadis itu sambil melihat wajah Gilang yang terus melamun memikirkan sesuatu.
“Mereka masih bisa balik ke manusia kan Mi...?? Mereka pasti punya keluarga. yang berharep mereka hidup, tapi malah aku bunuh!!..” ucap tanya baliknya yang terus di hantui rasa bersalah.
“Aku ga tau soal itu,...yang aku tau sekarang kita berusaha terus hidup sampe masalah ini berakhir!!..” Ucap lembut gadis itu menenangkan Gilang.
Agar tidak terus menyesali perbuatanya membunuh makhluk itu. sambil memeluk serta menyendarkan kepalanya di pundaknya.
“Mi... terus temenin Gilang ya,..makasih kopinya. aku sayang kamu..” sambil mencium kening gadis yang bersandar di pundaknya.
“Gilanggg.......ihhh apa sih!!... tiba-tiba gini. Aku belum siap tau!!..”. Sangkalnya sambil mendorong Gilang, jantungya berdebar kencang karena ia mendengar seorang pria menyatakan perasaanya.
“Ta..tapi kamu ga bercanda kan??..” tambahnya namun, Gilang pun langsung memeluknya serta menciumnya mulut imut gadis itu, yang sontak ia kaget namun membiarkan dan malah balik memeluk gilang erat-erat, seolah tak ingin kehilangan pria dalam dekapnya.
Namun tiba-tiba, mereka mendengar suara seperti tong sampah jatuh. yang membuat mereka menghentikan ciumannya dan segera bersembunyi.
Tak lama terlihat seekor mahluk seperti kucing. namun memiliki ukuran seukuran motor, bukan hanya satu namun dua makhluk seperti itu datang ketempat itu.
tetapi salah satu di penuhi luka serta ada pisau menancap di tengkuk hewan itu.
kedua hewan itu saling serang dan bertarung dan tak lama Mahluk yang penuh luka tersebut kalah. Serta langsung dimakan bagian kepalanya oleh satunya.
sontak Ismira kaget dan sedikit teriak. namun dengan refleks Gilang membekapnya dan menariknya kedalam serta menutup pintu dengan kakinya.
“mpmmm!!!” racau Ismira dan sambil menunjuk kearah pintu, yang berusaha di tenangkan oleh Gilang Namun, hal yang tak terduga terjadi dimana hewan itu sekarang sudah ada di depan pintu.
Sontak membuat mereka kaget, dan ketakutan karena monster itu bisa meloncat setinggi bangunan dua lantai dan berhasil menemukan mereka.
Tak lama monster yang seperti kucing dengan ukuran berkali kali lipat itu mengeram, dan mulai akan menyerang mereka. namun terdengar suara raungan dari luar rumah yang membuat Monster itu kembali melompat keluar.
meningalkan mereka, yang kini mematung karena ketakutan. Segera Gilang berlari menutup pintu, dan kembali menuju Ismira yang duduk tertegun setelah melihat kejadian itu.
“gak....gak mungkin...dokter Gia pasti bohong ..” ucapnya yang di hentikan Gilang yang mengoncang-goncangkan badanya agar ia sadar.
“Mi...Mi...sadar...oiii!!!”
Setelah menyadarkan gadis itu. Ia memeluk gadis itu erat erat. serta menyuruh dia untuk tenang,dan istirahat sementara ia berjaga takut jika monster itu datang kembali.
“Mi kamu tidur aja di kamar duluan!!..biarin aku yang jaga!!.. jangan buka pintu sebelum aku suruh, apapun yang terjadi!!..” ucap titah Gilang yang di tentang keras oleh Ismira karena sudah terlampau takut dengan keadaan sekarang.
“Ga...ga..gaakan!!.. dan ga mau liat kamu berkorban lagi!!..” sambil memeluk Gilang yang ada di depanya,
“yaudah aku temenin kamu tidur, besok kita harus pergi dari sini!!.. sebelum kita di makan monster itu!!..” ucap Gilang sambil berusaha memembopong badan Gadis.
Paginya mereka segera berkemas. dan mengambil lagi beberapa alat bertahan hidup, karena sekarang mereka tahu musuh mereka bukan hanya mahluk pemakan manusia. tetapi monster yang bisa saja memangsa mereka kapan saja.
“Mi... pake tuh jaket !!...bagus buat kamu, sama jangan lupa sekarang kita ga punya buku, buat ngelindungin badan dari gigitan, jadi kita pake tali buat ngebalut tangan!!.."
“nih pake!! .. takut ada percikan darah masuk kalo bisa jangan sampe kena muka sih..."
tuturnya dan titahnya sambil berusa memasangkan slayer itu di muka Gadis itu dan di akhiri ciuman yang mendarat di kening gadis itu.
“Dah siap semua kan,.. ayo!!..”
sambil mengangkat masker kain di dagunya, segera mereka membuka gerbang. serta melihat ke sekitar apakah ada mahluk dan monster itu di sana.
Dirasa aman mereka segera keluar dan berlari menjauh dari toko itu. “kemana kita sekarang” tanya pembuka ismira sambil terus berlari didepan Gilang.
“Batas kota!!... kita bisa kabur keluar kota mati ini!!...” balasnya, namun segera berhenti karena ismira mulai kelelahan setelah setengah jam berlari tampa henti.
“Aku udah ga kuat....istirahat bentar ya” ucap letih gadis itu sambil tertunduk memegangi kakinya.
“ya udah.. kita cari tempat aman!!..” ajak Gilang sambil berjalan mendekat serta membantu Gadis itu berjalan menuju warung gerobak yang ada untuk menjadi tempat istirahat serta untuk tempat bersembunyi.
Setelah cukup lama beristirahat, mereka memutuskan untuk berjalan kembali. Dan tak lupa mengambil beberapa botol air tambahan yang mereka ambil dari tempat itu.
“yu lanjut mi!!..” sambil membuang rokok di tanganya,. Merekapun lanjut berjalan menuju batas kota Tasik namun mereka terhenti.
mereka melihat barikade kawat yang cukup tinggi, dan juga beberapa mayat menancap di kawat tersebut. Namun ketika mereka sudah merasa pasrah karena tidak ada jalan keluar, mereka mendengar suara mobil yang cukup kencang mengarah ke arah mereka.
Sontak membuat mereka bersembunyi. Tak lama terlihat mobil yang melaju sangat kencang menabrakan diri. hingga tersangkut di kawat berduri.
Tak lama keluar sepasang muda mudi, yang langsung menaiki kap mesin mencoba untuk melarikan diri, Namun segera terdengar suara serine yang cukup kencang.yang membuat mereka berdua panik dan langsung berlari menerobos kawat berduri.
Tak begitu lama terdengar suara tembakan yang langsung membuat pria itu ambruk dan bersimbah darah. membuat teman wanitanya teriak sejadi jadinya. namun, naas sang wanita itu pun tak lama ambruk setelah terdengar suara tembakan kedua kalinya.
Sontak ismira yang melihat kejadian itu hendak teriak. namun segera di tarik oleh Gilang untuk kabur menjauhi tempat itu.
“Ayo pergi!!.. atau mau mati disini!!..“ ucap Gilang sambil menarik badan gadis itu yang masih tidak menyangka bahwa satu satunya harapan untuk kabur dari kota ini sirna.
“Mi!!...” ucap Gilang kedua kalinya yang sontak membuatnya sadar, dan langsung berlari menjauh dari tempat itu untuk menyelamatkan diri.
Setelah cukup jauh mereka berlari tungang langang mereka malah masuk area perumahan. namun sial bagi mereka, karena malah bertemu dengan makhluk-makhluk itu, yang sekarang mengejar mereka berdua.
Tak lama setelah di kejar makhluk itu mereka melihat drone yang terbang, seolah menuntun mereka menuju kerumah yang ada di tengah tengah pertigaan jalan, yang ternyata masih ada manusia melambai kepada mereka sambil berteriak.
“sini kalian cepat!!.." Sambil membuka pintu garasinya, merekapun berlari menambah kecepatanya, dan dengan sekuat tenaga mereka untuk segera bisa masuk kedalam rumah itu.
pada akhirnya, Mereka berhasil masuk kedalam garasi orang tersebut dan bertemu orang yang menolong mereka.
“hahh....hah....” Hela nafas berat mereka berdua setelah berhasil masuk ke rumah itu.
"kalian gak kena gigit kan sebelumnya?” tanya pembuka orang itu, “a..aman pa..pak...” ucap Gilang terbata-bata sebari menurunkan slayer yang menutupi hidung serta mulutnya.
“embaknya?” tanya kedua bapak itu yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Ismira.
“Sukurlah kalian aman, ayo masuk!!” ucap ramah bapak itu kepada mereka berdua yang langsung di ikuti oleh Gilang dan Ismira yang di bantu berdiri oleh Gilang.
Setelah mereka masuk, mereka disambut oleh seorang anak kecil seumuran Sepuluh tahunan. yang sedang menggunakan alat seperti virtual reality di kepalanya dan sibuk mengotak ngatik alat seperti remote kendali di tanganya.
“Neng,.. mereka sudah aman. dronenya daratin aja!!..” perintah ramah bapak itu yang dijawab ramah juga oleh anaknya itu.
“Iya pah,...bentar neng ambil dulu kelantai dua. ” ucap ramah anak itu sambil membuka alat di kepalanya serta tersenyum kepada mereka berdua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments