Segera mereka memutuskan untuk naik ke lantai dua. dan tak lupa, wildan menutup mayat temanya dengan jaket yang ia bawa, dan mengucap janji untuk membalaskan dendam squadnya serta dirinya.
“Gue bikin dokter anj#ng itu tau arti neraka!!..”
ucap serapahnya sebari menutup bagian atas jasad itu.
Tak lama mereka segera menelusuri rolong gelap dengan senter di kepalanya. tetapi, suara aneh dari langit-langit klinik mengagetkan mereka. Dan benar saja mereka di datangi oleh ‘gagaran’ yang di maksud Yukky namun, yang membuat mereka kaget adalah perubahan badan mereka dan juga meningkatnya kemampuan mereka untuk menempel dan berjalan di tembok.
“Fao!!, dede!! Gue Agan”
ucap Agan yang malah di balas teriakan yang cukup kuat hingga mereka mengerang kesakitan sambil menutup kuping.
“Mereka udah bukan mausia gan, sadar!!..”
ucap Gilang sebari menghunuskan katana kecilnya dan bom di tangan kirinya, segera Gilang melemparkan bom asap ke arah dua gagaran yang yang tepat berdiri di depanya.
Segera ia berlari menyerang salah satu dari monster itu namun, ketika ia akan menebaskan katana kecilnya. Sesaat ia mendengar suara seperti berbisik dari monster itu yang mengucapkan.
‘ tolong, bunuh gue’
membuat ia berhenti dan segera menendang dengan keras bagian rusuk monster itu, hingga terpental cukup jauh menabrak monster di sampingnya.
Sesaat ia terpelanga dengan tenaganya sekarang yang sekarang jauh lebih besar serta lebih destruktif, Dari sebelumnya.
Melihat Gilang bertempur sendirian, Wildan kembali menyadarkan temanya Agan yang sedari tadi berdiri mematung.
“Gan... sadar woy!! Mereka sudah berubah”
Bentak Wildan sebari terus mengoyang-goyangkan pundak temanya, namun tetap tak di gemih, yang membuatnya memukul wajah temanya sendiri.
"Denger gan!!... squad Iqbal di bantai sampe ga nyisa!!.. kalo lo tetep diem mending lu balik !!..”
ucap Wildan sebari mengepalkan tangan kananya, sontak Agan berdiri dan segera berlari menuju monster yang sebelumnya Gilang tendang.
Sambil berteriak dipenuhi amarah Agan segera menusuk dada monster itu ber kali kali hingga terjatuh kembali, sambil terus mengumpat.
"Seneng bisa gelut sama guru sendiri, tapi mati sekarang lebih terhormat!!.."
Namun ia malah berhasil dicekik oleh ekor gagaran itu, dan di hempas oleh gibasan ekor monster yang tepat mengenai dadanya, membuat ia terlempar jauh kebelakang.
Melihat kesempatan Gilang, langsung melemparkan bom bertuliskan 'ledakan' yang langsung di lempar kearah kepala Gagaran, yang menyebabkan kepala mereka meledak dan membuat salah satu mati dengan tragis, dan salah satu hanya menyisakan sebelah kepala.
Melihat dua monster itu sudah bisa dipastikan mati, Gilang langsung berlari menuju agan yang sekarang sudah di dalam pangkuan Wildan.
“Gan maafin gue, gan... Agan” ucap lirih wildan sambil berusaha memegang dada temanya yang mulai mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.
“Wil... nitip wini ade gue pastiin dia hidup."
Uhuhkk...
Uhuhkk...
terdengar batuknya dan mengeluarkan darah dari mulutnya, sambil berusaha berdiri sendiri,namun di bantu Gilang dan Wildan.
“Jagan mati di sini gan, gue bawa lu ke Ismira dia perawat di rs."
Sambil mengangkat badanya namun, gagaran yang sebelumnya disangka telah mati sekarang mulai berdiri, dan mulai tubuh seperti selaput-hentikan putih dari arah rahangnya, dan mulai membuat mereka sedikit ketakutan.
Saat yang lain ketakutan Agan malah tertawa dan meminta bom kepada Gilang.
“Biarin gue yang ngurus dia, Lang berapa bom lagi yang lu punya?”
tanyanya pada Gilang, sebari menadahkan tangannya.
“Cuma ada tiga dua bom ledak satu bom asam”
ucap Gilang sambil membuka tas di dadanya, namun segera di rogoh Agan dan segera melihatnya sambil tersenyum kecil, ketika melihat tulisan yang bertuliskan ‘ledakan’ .
“binggo, good die in god way..”
ucapnya sambil melepaskan rangkulanya dari Wildan, dan segera berlari menuju mahluk itu dengan sisa-sisa tenaganya, Segera ia membenturkan bom tersebut ke arah kepala Gagaran itu dan..
‘Boom!!..’
suara ledakan, mengema di lorong yang sesaat terlihat cahaya putih. Dan di susul dengan teriakan keras mengema dari Wildan memangil nama temanya yang sekarang sudah menjadi mayat dengan kepala sebelah kiri yang hancur pasca ledakan.
“ Agan.. “
Raungnya sambil tak percaya sekarang ia harus kehilangan teman terbaiknya. sesaat mereka kaget dan tak menyangka jika Agan berani untuk mengorbankan diri demi mereka.
“Wil..”
Ucap Gilang yang dia urungkan, membiarkan temannya itu sendiri untuk sesaat dan, segera berjalan menuju mayat Agan sambil membuka penutup mulutnya yang sekarang terkapar bersama mayat kedua monster tersebut.
“Sebuah kehormatan bisa kenal lu”
sambil menutup mata mayat tersebut dan menutup bagian muka mayat dengan kain.
Segera ia berjongkok di samping mayat tersebut dan merogoh saku jaket dan celana mayat itu dan menemukan foto temanya bersama adiknya.
“Gue pastiin ade lu hidup bahagia.” Gumatnya, sambil melihat untuk terakhir kali temanya.
“Wil... kita punya janji, ayo akhiri ini!!..”
Ucap Gilang sambil berjalan menuju wildan dan kembali berdiri.
“Ya..kita bunuh mereka semua, kita bayar nyawa agan”
ucap wildan sambil berdiri dan mulai menerima keadaan dan segera mendekati mayat temanya sambil bersumpah didepan mayat temanya.
“tunggu gue di surga, mungkin agak lama. tapi gue tau lu orang sabar gan.”
ucapnya sambil mencabut band bertuliskan bar bar king di lengan kanan temanya .
Segera mereka berdua menaikin tangga ke lantai dua, dan segera membuka pintu lantai tersebut. Terlihat banyak ruangan dengan mayat yang tergeletak di lorong sepanjang jalan, segera mereka membuka satu persatu pintu, dan memastikan tidak ada inang atau gagaran yang bersembunyi. dan pada akhirnya Mereka sampai di pintu terakhir di ujung lorong.
“Itungan tiga, satu.....dua.... tiga...”
komando wildan pada Gilang untuk
secara bersama mendang pintu. dan mereka langsung melihat ruangan yang terang dengan posisi Ismira yang tergeletak di atas kasur dengan keadaan tangan dan kaki terikat.
“Ya ampun, mi!!..”
Teriak Gilang yang langsung berlari menuju Ismira suara yang menyadarkannya dari keputus asaan. Namun, ia segera berteriak karena melihat sosok cahaya kuning bergerak cepat ke arah Gilang.
“Awas!!”
teriaknya yang mengagetkan Gilang serta Wildan karena mendengar larangan itu. Namun sekor gagaran berhasil menarik Gilang dari samping dan melemparnya ke sudut ruangan.
“Akhirnya.. gue bisa ketemu musuh yang sepadan”
ucap gagaran sambil berjalan menuju Gilang.
lantas ia terkejut bukan main, karena baru kali ini ia bisa liat mahluk dengan keadaan yang sudah bermutasi. Dengan tangan yang sudah berubah menjadi capit bermata empat dan postur badan yang sudah memanjang layaknya cicak.
"Lang...kabur dia bukan tandingan kamu!!.."
Teriaknya sambil mencoba berdiri, namun takbisa, karena terikat di tempat tidurnya.
melihat temannya sedang dalam kesusahan Wildan langsung berlari. Namun segera di tarik dengan oleh mahluk yang sama tetapi, segera ia membalikan keadaan dengan memiting badan mahluk itu.
segera Wildan di tendang oleh mahluk itu, yang mulai menunjukan tubuhnya yang bermutasi di bagian kaki yang seperti kucing.
"Lu jangan masuk kesana.. maen sini ama gue..." ucap mahluk itu sambil melipat telapak tanganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments