Hari ini Anton bertemu Fattan di kantornya, karena Fattan ingin menyelesaikan masalah kantor dengan Anton. Anton duduk sambil menghadap laptopnya, dan dia seolah tak peduli Fattan datang masuk ke ruangannya. Fattan pun tak ingin berlama diruangan Fattan yang membuat dia membenci atasannya atas apa yang sudah dia lakukan pada Aisyah. Wanita yang dia cintai dan dia puja selama ini,
"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Anton dengan ketus.
"Aku hanya ingin menyelesaikan tugas ku sebagai seorang asisten di kantor ini," jawab Fattan yang memberikan beberapa dokumen penting.
"Jangan suka menghasut Aisyah, aku tahu pasti kamu yang sudah menghasut Aisyah untuk bercerai denganku," kata Anton yang masih fokus dengan laptopnya.
"Apa aku tidak salah dengar?Bukannya kamu yang sudah membuat Aisyah minta cerai darimu?" tanya Fattan yang terkekeh.
"Aku tahu kamu sukakan dengan Aisyah? Jangan mimpi untuk mendapatkannya, karena Aisyah hanya mencintaiku," kata Anton dengan bangganya.
"Hehe.. Jangan berkhayal terlalu tinggi nanti jatuh sakit rasanya, cinta seseorang akan hilang jika kita tidak bisa membahagiakan orang yang kita cintai," ucap Fattan.
"B*********k kamu, berani kamu bicara seperti itu," kata Anton yang berpori menarik kerah kemeja Fattan.
"Aku gak akan biarkan Aisyah jadi milik kamu, sampai kapanpun tidak akan!" seru Anton melepaskan kerah kemeja Fattan.
"Aku juga tidak akan membiarkan kamu terus menyakiti Aisyah, selama ada aku di sisinya kamu tidak akan pernah bisa menyentuh Aisyah seujung kukupun," ujar Fattan.
"Ingat, Aisyah masih sah istriku. Dan aku masih berhak atas Aisyah, jadi jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Aisyah," kata Anton.
"Kita lihat saja siapa yang jadi pemenangnya," ujar Fattan yang keluar dari ruangan dengan senyum.
"B********k lihat saja aku tidak akan pernah menceraikan Aisyah dan membiarkan kamu memilikinya. Aaaargggghhhh...!" Anton mengebrak meja kerjanya lalu memijat keningnya yang terasa pusing.
Mira mendapatkan kiriman sebuah amplop lalu membukanya dan ternyata surat pengajuan cerai. Mata Mira melotot membaca surat itu dan bibirnya menyunggingkan senyuman yang penuh arti. Mira lalu menelpon ibu mertuanya untuk datang kerumahnya, Mira ingin agar ibu mertuanya membantunya agar Anton mau menandatangani surat pengajuan itu.
"Assalamu'alaikum," sapa ibu Hana.
"Wa'alaikumsalam, ibu. Mari masuk Mira ada kabar gembira hari ini bu," ujar Mira.
"Ada apa, sayang?" tanya ibu Hana yang duduk dekat dengan Mira.
"Ini bu, Aisyah mengirimkan surat pengajuan cerai dari pengadilan, ibu harus bisa membujuk mas Anton agar mau menandatangani surat ini," kata Mira.
"Mana ibu lihat?" tanya ibu Hana lalu Mira memberikan surat itu dan ibu Hana membacanya.
"Bagaimana, bu. Kita tidak perlu lagi menyuruh Aisyah menceraikan mas Anton, tapi Aisyah sendiri yang sudah mengajukan permohonan gugatan cerai pada mas Anton," kata Mira.
"Iya benar, nanti jika Anton datang dari kantor ibu akan menyuruhnya menandatangani surat ini," ucap ibu Hana tersenyum.
"Terimakasih, bu. Sudah membantu Mira untuk menjadi istri mas Anton seutuhnya, jika tajam ada ibu Mira pasti tersiksa hidup menjadi madu," ujar Mira yang bersedih.
"Iya, sayang. Jangan sedih kasihan anak kamu, bagaimana sudah di USG kandungan kamu?" tanya ibu yang memegang perut menantunya yang sudah membuncit.
"Lusa Mira akan memeriksanya, bu," jawab Mira dengan senyuman yang mengembang.
"Anton akan ikut kan jika kamu kontrol kandungan?" tanya ibu kembali dan Mira mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Semoga sehat dan kamu tidak stress lagi," kata ibu Hana.
"Iya ibu terimakasih sudah memberikan support pada Mira," jawab Mira memeluk ibu mertuanya.
******
Malam hari Anton baru saja datang dari kantor hari ini dia sangat kelelahan karena Fattan sudah tidak bekerja bersama Anton lagi. Kalau pun Anton datang dia hanya memberikan beberapa dokumen yang dia kerjaan sebelum Anton memecatnya. Mira menyambut suaminya pulang dan mencium tangan Anton, lalu membawakan tas kerja Anton. Anton melihat Mira yang sepertinya berubah sikapnya, dia terlihat sangat cantik.
"Kamu cantik sekali, darimana?" tanya Anton yang masuk kekamarnya melonggarkan dasinya dan sepatunya.
"Aku tidak dari mana-mana, aku berdandan untuk suamiku. Aku ingin jadi istri yang baik untukmu," jawab Mira tersipu malu.
"Aku mau mandi dulu, setelah itu aku ingin keruangan kerja," kata Anton.
"Aku sudah siapkan air hangat untukmu mandi," kata Mira.
Anton melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan merendamkan tubuhnya kedalam bathup merilekskan otak dan ototnya yang seharian bekerja. Anton terbayang wajah Aisyah, dan saat awal mereka menikah. Anton begitu bahagia karena Aisyah perempuan yang sangat dia cintai sejak masih duduk di bangku SMA dan kuliah. Anton meneteskan airmatanya yang tak bisa dia bendung lagi, hubungannya dengan Aisyah harus seperti ini. Anton tak rela jika Aisyah menjadi milik orang lain, Anton tidak ingin berpisah dengan Aisyah.
Setelah selesai mandi Anton memakai celana cargo dan kaos polos, dia langsung menuju ruang kerjanya. Mira mengajaknya untuk makan malam namun Anton tak berselera, dia ingin mencari asisten yang kinerjanya seperti Fattan. Kemudian ibunya masuk keruang kerjanya dan duduk di depan Anton.
"Ibu ada apa?" tanya Anton yang mendongak menatap ibunya.
"Ini, surat gugatan cerai dari Aisyah," kata ibu Hana yang memberikan amplop berwarna coklat dan memberikan pada Anton.
"Anton tidak akan menandatangani surat itu sampai kapanpun," kata Anton yang fokus dengan kerjaannya.
"Kamu ingin membuat ibumu mati, haaah!" seru ibu Hana dengan mata yang tajam menatap Anton.
"Ibu, bisa tidak untuk tidak mencampuri rumah tangga Anton dan Aisyah? Anton sudah lelah mengikuti kemauan ibu, Anton sudah dewasa dan bisa menetukan pilihan Anton sendiri," kata Anton.
"Apa yang sudah berikan perempuan itu padamu? Dia bahkan tidak bisa memberikan kamu anak, sekarang kebahagiaan kamu bersama Mira dan anak yang sedang dia kandung," ujar ibu Hana.
"Bu, sampai kapanpun Anton tidak akan menceraikan Aisyah. Suka atau tidak itu sudah keputusan Anton."
Anton mengambil amplop yang ada diatas meja lalu mengambil kunci mobilnya. Anton tak menghiraukan panggilan ibunya, bahkan Mira yang memanggilnya. Anton melajukan mobilnya kerumah Aisyah dan akan mengatakan bahwa Anton tidak akan menceraikan Aisyah. Mobil Anton sudah berhenti di halaman rumah Aisyah, tampak mobil Faza yang terparkir di situ.
"Aisyah, buka pintunya!" seru Anton yang mengetuk pintu dengan keras. Kemudian Aisyah membuka pintu dengan tangan bersedekap di dadanya dan menyandarkan tubuhnya di pintu.
"Ada apa malam-malam abang datang?" tanya Aisyah dengan sinis.
"Ini surat yang kamu kirimkan, sampai kapanpun aku tidak akan menandatanganinya dan mengabulkan permohonan cerai kamu," kata Anton yang kemudian merobek amplop itu lalu pergi meninggalkan rumah Aisyah.
Aisyah hanya terdiam melihat kepergian Anton dan lalu masuk kembali kedalam kamarnya. Aisyah pun meminta Bayu untuk membuat surat yang baru karena sudah di robek Anton. Bayu mengatakan bahwa jika Anton tidak mau menandatangani surat tersebut maka permohonan gugatan cerai Aisyah tidak akan sah. Aisyah hanya menghembuskan nafasnya, berdo'a agar Tuhan mau memberikan jalan yang terbaik untuk dirinya.
*****
Anton sampai dirumah dan masuk kembali ke ruang kerjanya, dia duduk sambil menatap ponselnya yang terpasang wallpaper foto dirinya dan Aisyah. Lalu Mira masuk membawa teh hangat dan cemilan, karena Anton belum makan malam.
"Mas, ada apa?" tanya Mira dengan lemah lembut.
"Tidak ada apa-apa, kapan kamu kontrol kandungan kamu?" tanya Anton mengalihkan pembicaraan.
"Lusa, kamu mau ikut?" Mira bertanya dengan senang dan Anton mengangguk.
"Mas, maaf aku boleh bicara? Tapi kamu jangan marah padaku," kata Mira.
"Bicaralah, ada apa? Apa masalah aku tidak ingin menceraikan Aisyah?" tanya Anton yang fokus pada laptopnya.
"Kemarin siang aku melihat Aisyah dengan Fattan di taman, mereka tampak mesra sekali. Lalu aku memotretnya agar kamu tidak menganggap aku bohong," kata Mira yang menunjukkan foto Aisyah dan Fattan sedang berpelukan.
Rahang Anton mengeras dadanya bergemuruh melihat Aisyah dan Fattan bermesraan di luar tempat umum siang hari. Anton semakin marah lalu menatap Mira dengan tajam, Mira yang ketakutan langsung mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan Anton.
"S******n, b*******k, Fattan kamu cari mati dengannku." Anton memukul tembok dengan tangannya hingga tangannya berdarah.
Keesokan harinya Anton berniat kerumah Aisyah dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Aisyah istri pertamanya yang sangat dia cintai, kemudian Anton melihat Aisyah dan Fattan sedang duduk berdua sambil bercanda. Tak pernah Anton melihat senyum Aisyah yang merekah semenjak jauh dari Anton. Anton turun dari mobil lalu, menghampiri mereka dan tanpa basa basi Anton memukul wajah Fattan.
Bugh
Bugh
Bugh
"Bang Fattan!" teriak Aisyah yang membuat orang di sekelilingnya melihat Anton memukul Fattan.
"Kamu cari mati rupanya, Fattan," kata Anton dengan nafas yang memburu lalu menarik baju Fattan. "Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Aisyah, ingat itu," kata Anton yang berdiri.
Kemudian Anton menarik tangan Aisyah dan Aisyah terseok-seok jalannya karena langkah kaki Anton yang panjang. Fattan ditinggalkan oleh Aisyah dan Anton yang sudah melajukan mobilnya kerumah Aisyah.
Plak
Satu tamparan dipipi Aisyah dari tangan Anton yang membuat Aisyah menangis dan sudut bibirnya berdarah. Anton menghempaskan tubuh Aisyah di sofa, menekan bahu Aisyah dengan erat.
"Kamu itu istri abang, dan tidak pantas kamu berduaan dengan laki-laki yang jelas-jelas bukan muhrimnya, dan sampai kapanpun abang tidak akan mengabulkan gugatan cerai dari kamu. Sekali lagi aku melihat kamu berselingkuh dengan laki-laki b******k itu, tak segan aku menghabisi kekasih kamu itu," kata Anton dengan marah. Aisyah menangis melihat Anton yang sangat marah pada dirinya.
"Apa abang lebih baik dari Fattan? Abang menikah diam-diam tanpa sepengetahuan dan izin Aisyah, apa abang cukup baik menjadi suami Aisyah?" tanya Aisyah dengan terisak.
"Tapi kamu istri abang, tak pantas seorang istri pergi keluar dari rumah tanpa izin suami. Mau tidak mau dan suka atau tidak suka kamu akan abang pulang kerumah lama," kata Anton.
"Aisyah tidak akan kembali kerumah yang bagi Aisyah seperti neraka, abang akan membela istri abang yang sedang hamil itu," ujar Aisyah.
"Kamu tidak boleh membantah dan tidak ada penolakan, mengerti," kata Anton yang pergi meninggalkan Aisyah yang menangis karena sakit hatinya pada Anton.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
Sinsin Sinsin
tetep Aisyah bodoh...kyk'y pinter ko begitu
2024-12-08
1
Jumiah
ayo thor buat aisyah pintar ,
gak mau lg pertahan kan pernikahan nya ,buat aisyah punya harga diri
jangan mau ,di atur anton aisyah ....
mertua mu jua aisya sdh gak suka sma kmu aisyah ,suami sdh mai kasar ,ap lg yg hrus di pertahan kan ...jngan ,kwlewat bodoh aisyah ,
lanjut thor ,jngan buat pembaca kecewa thor ,trmks...
2023-06-28
0
Sukliang
suami anjing
2022-12-30
0