BAB VI

Aisyah masih di dalam kamarnya, dia tidak keluar saat Anton mengetuk pintu yang terkunci dari dalam. Anton terus memanggil Aisyah untuk makan malam bersama. Aisyah tak peduli dia hanya duduk di atas ranjangnya sambil menopangkan wajahnya diantara dua lututnya.

"Syah, Aisyah. Buka pintunya, kita makan bersama." Kata Anton yang masih mengetuk pintu kamar Aisyah.

"Sudah, mas. Kalau memang tidak mau makan, ayo kita lanjutkan makannya." Ujar Mira yang menggandeng lengan Anton.

"Sisakan makanan untuk Aisyah, bagaimanapun juga dia masih istriku. Aku tidak ingin dia kelaparan," ucap Anton yang mengambil makan yang sudah di tata oleh Aisyah.

"Merepotkan saja," gumam Mira yang hampir saja terdengar oleh Anton.

Selesai makan malam, Anton duduk di teras rumahnya sambil mengisap rokok. Anton memang jarang merokok ataupun meminum alkohol, hanya sesekali dirinya mengisap tembakau yang konon katanya bisa memperngaruhi kesehatan manusia. Anton mengisap dan menerbangkan asapnya ke udara, dengan tatapan yang memandang langit.

Mira keluar mencari suaminya berada, dia melihat Anton duduk di teras dan Mira mendekati suaminya, lalu duduk disampingnya.

"Mas,sudah malam. Ayo kita tidur nanti kamu sakit, besok kamu harus ke kantor dan bekerja." Kata Mira dengan lembut. Mira mencoba mencari celah agar Anton mencintai dirinya bukan hanya bayi yang dia kandung.

"Kalau kamu ngantuk sudah duluan saja," jawab Anton yang mematikan puntung rokok di asbak yang ada di dekatnya.

"Aku tidak bisa tidur jika belum di sentuh olehmu, dan lagi anakmu sudah terbiasa di tengok sama ayahnya." Ujar Mira yang mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.

"Tapi malam ini, aku ingin tidur di kamar Aisyah."

"Mas, tahu kamar mba Aisyah di kunci itu berarti dia sedang tidak ingin tidur denganmu." Ungkap Mira.

"Sudahlah, kamu lebih baik masuk dan tidur. Malam ini cuaca dingin, tidak baik jika wanita hamil sepertimu masih di luar." Kata Anton.

Mira pun masuk kedalam kamarnya, dan seperti biasa dia merasa emosi karena Anton selalu memikirkan Aisyah.

"Aisyah.. Aisyah.. Terus yang ada di pikiranmu, lihat saja aku akan membuatmu menceraikan Aisyah. Tunggu, mas!" Mira yang marah, kesal, dan cemburu membuat dirinya berpikir keras bagaimana caranya agar Anton menceraikan Aisyah.

****

Pagi hari Aisyah melihat Anton tidur di sofa, kemudian Aisyah langsung menuju dapur dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Mira yang keluar dari kamar pun hanya menarik nafas melihat suaminya tidur di sofa ruang tamu. Mira berjalan kearah dapur dan melihat Aisyah sedang membuat sarapan untuk dirinya dan Anton.

"Aku tidak sekalian di buatkan sarapan?" tanya Mira yang melihat Aisyah sedang mengunyah makanan yang dia buat sendiri.

"Kamu bisa buat sendiri," jawab Aisyah dengan santai.

"Kamu tuh ya, ngeselin banget sih." Ucap Mira yang berdiri dan ingin mengambil makanan. Lalu melihat Anton terbangun dan berjalan kearah dua istrinya.

Mira pun mulai dengan dramanya, Mira mengambil makanan yang sedang Aisyah makan dan Aisyah merebutnya kembali.

"Hai, itu punyaku. Kamu kalau mau makan buat sendiri," kata Aisyah yang menarik lengan Mira.

"Awww... Sakit, mba." Mira yang berpura-pura merasakan sakit tangannya di cengkram lengannya oleh Aisyah.

"Aisyah!" Anton seketika berteriak dan sontak Aisyah kaget. "Lepaskan, kamu sudah menyakiti Mira."

"Mas, sakit. Lihat lenganku merah," ujar Mira dengan manja.

"Aku tidak sekeras itu, kenapa kamu selalu memfitnahku, Mira?" tanya Aisyah. Mira langsung memeluk Anton dan Aisyah menatap wajah Anton yang terlihat kesal.

"Aisyah, kamu itu maunya apa? Hah.." nada bicara Anton meninggi.

Aisyah yang selama menikah dengan Anton yak sedikitpun Anton menyentak dan memarahinya. Bahkan menyakiti Aisyah pun Anton tak pernah, semua berubah sejak Anton menikah dengan Mira. Aisyah hanya diam menundukkan kepalanya, tetesan airmata mulai membasahi pipi chubbynya.

"Aisyah, jawab!" Anton kembali berteriak.

"Aku mau kita cerai," jawab Aisyah dan Anton kaget mendengar Aisyah berbicara seperti itu.

"Tidak, aku tidak akan mengabulkan permintaan konyol kamu itu," kata Anton.

"Lalu apa yang ingin abang lakukan? Aisyah sudah muak, bang. Abang selalu percaya dengan ular itu," kata Aisyah yang menunjuk wajah Mira dengan telunjuknya. "Aisyah lelah, bang. Mana abang Anton yang dulu Aisyah kenal dengan lemah lembut, baik, penyayang dan selalu berkata mencintai Aisyah. Mana, bang."

Anton terdiam dan Aisyah mulai menangis meratapi kesakitannya ketika memilki seorang madu yang berusaha mengadu domba dirinya dan Anton.

"Aisyah, sudah tidak tahan lagi.Jangan salahkan Aisyah jika Aisyah pergi dari hidup abang. Karena abang tidak adil buat Aisyah," ujar Aisyah yang pergi dengan menyenggol bahu Mira dan langsung masuk ke kamarnya dengan membanting pintu kamar dengan keras.

"Mas," Mira memanggil Anton dengan lirih dan manja.

"Aku mau berangkat kantor, dan akan mandi juga sarapan disana saja," kata Anton yang mengambil beberapa setelan kerjanya.

****

Di kantor Anton memijat pelipisnya, dua merasa pusing memikirkan rumah tangganya dengan Aisyah yang Anton sendiri tak ingin berpisah dengan Aisyah. Kemudian Fattan masuk dan melihat bos sekaligus sahabatnya seperti ada masalah, Fattan duduk di depan Anton yang sedang memijit pelipisnya.

"Kamu, kenapa?" tanya Fattan yang menatap wajah bosnya itu begitu kusut.

"Aku bingung dengan rumah tangga yang aku jalani dengan Aisyah dan Mira," jawab Anton.

"Ada masalah apa dengan mereka?"

"Aisyah sepertinya sudah berubah, beberapa hari ini Aisyah selalu menyakiti Mira. Mungkin Mira sendiri aku tidak masalah, tapi bayi yang di kandung Mira, dia anakku. Dan Aisyah sudah berapa kali ingin menyakiti bayiku," ujar Anton.

"Dan kamu percaya Aisyah seperti itu? Aku rasa itu akal-akalan Mira supaya kamu membenci Aisyah dan membuat kamu berpisah dengan Aisyah," kata Fattan. "Kamu kenal Aisyah berapa lama?"

Anton terdiam, benar yang dikatakan Fattan sudah berapa lama dirinya mengenal Aisyah. Sejak SMA dia dan Aisyah berpacaran hingga kuliah dan menikah. Tak mungkin Aisyah memiliki sifat bar-bar seperti itu, Aisyah wanita yang lembut, sholeha dan selalu menurut pada kedua orang tua juga pada suaminya.

****

Sementara itu, ibu Hana datang membawakan makanan untuk Mira yang sedang hamil. Dulu ibu Hana sangat menyayangi Aisyah, kini ibu Hana lebih perhatian pada Mira yang sedang mengandung cucu dari keluarga Lazuardi.

"Ibu,kok tidak bilang mau mampir kerumah?" tanya Mira yang berlari menghampiri mertuanya dan mereka berpelukan.

"Ibu sengaja datang biasa habis arisan dengan ibu-ibu, oia mamamu titip salam untukmu."

"Ibu, bawa apa?"

"Ini makanan kesukaan kamu, biar calon cucu Ibu sehat." Kata ibu Hana yang mengusap perut Mira.

"Hmmm, sepertinya enak ya bu," ujar Mira yang mencium aroma masakan mertuanya.

Kemudian ibu Hana melihat Aisyah yang keluar dari kamar dan menghampiri mertuanya ingin bersalaman dan mencium tangan mertuanya seperti biasa. Tapi Aisyah mendapatkan penolakan dari ibu Hana, hati Aisyah bagai teriris perih melihat ibu mertuanya yang dulu sangat menyayangi dirinya menolak untuk di cium oleh dirinya.

"Kamu masih disini?" tanya ibu Hana dengan ketus pada Aisyah. "Bukannya kamu pergi, jadi istri itu jangan suka kabur, dasar memang kamu itu udah punya suami tapi masih saja suka kabur-kaburan."

"Maaf, bu. Aisyah hanya menenangkan diri untuk intropeksi diri sendiri," jawab Aisyah.

"Introspeksi kenapa sampai saat ini kamu belum punya keturunan." Kata ibu Hana yang begitu menohok tajam Aisyah mendengarnya.

"Bu, kita kekamar Mira saja ngobrolnya. Mira mau curhat sama ibu," ujar Mira.

Kemudian ibu dan Mira masuk ke kamar, dan Mira duduk di sofa samping ibu Hana. Mira mulai menghasut ibu mertuanya untuk membuat Anton menceraikan Aisyah.

"Apa, Aisyah minta cerai!" ibu Hana tampak terkejut, karena selama menikah menantunya itu tidak pernah minta cerai dari anaknya.

"Iya, bu. Kita buat rencana agar mas Anton menceraikan Aisyah, ibu bantuin Mira ya. Agar Mira bisa jadi istri satu-satunya mas Anton," kata Mira yang memelas.

"Baik ibu akan bantu, nanti ibu pulang kalau Anton sudah pulang," jawab ibu Hana yang mendukung rencana Mira.

****

"Mas, baru pulang?" tanya Mira yang menghampiri Anton terlebih dahulu. Aisyah langsung mencium tangan Anton dan langsung kembali ke meja makan.

"Anton, ibu dari tadi tunggu kamu pulang," ujar ibu Hana.

"Iya, bu. Anton banyak kerjaan," jawab Anton.

Lalu Anton duduk di meja makan, Aisyah menyiapkan makanan untuk suaminya, namun lagi-lagi Mira bermain drama. Entah sejak kapan Mira ada di belakang Aisyah, Mira sengaja menyenggol Aisyah yang sedang membawa sayur panas untuk di sajikan pada Anton. Dan sayur itu terkena perut Mira, Aisyah kaget dan mangkuk sayur pun tumpah mengenai kaki Mira.

"Awwww, panas.Ibu, mas, perut aku terkena sayur panas." kata Mira.

"Aisyah!" Anton kembali berteriak dan kemudian menampar pipi Aisyah.

Aisyah kaget menatap Anton dengan mata berkaca-kaca, Anton menyesal karena sudah menampar Aisyah.Mira yang pura-pura menangis kepanasan membuat ibu Hana emosi.

"Anton, lihat istrimu.Dia mau membunuh calon anakmu, calon cucu ibu." Kata Ibu Hana dengan geram.

"A-Aku tidak sengaja, dan aku tidak tahu Mira ada di belakangku," ujar Aisyah yang membela diri.

"Anton usir saja perempuan itu, ceraikan kalau perlu. Perempuan tak berguna, awas kamu kalau sampai cucuku ini ada apa-apa, kamu berurusan dengan ibu." Kata ibu Hana yang membawa Mira kedalam kamar. Mira tampak tersenyum melihat Anton menampar Aisyah.

Anton hanya diam memegang tangannya yang sudah dia gunakan untuk menampar Aisyah. Anton lalu berjalan menuju kamar Mira dan melihat keadaan bayinya. Aisyah menahan rasa sakitnya melihat Anton sudah berubah.

"Anton, usir perempuan itu. Ibu tidak ingin dia terus menyakiti Mira dan bayinya. Mira sudah cerita semua pada ibu tentang kelakuan Aisyah," kata ibu Hana.

"Anton cinta dengan Aisyah, bu."

"Cinta kamu bilang, sementara Mira sudah di aniaya oleh Aisyah dan kamu masih cinta dengan perempuan itu," ujar ibu Hana.

"Lihat, apa yang dia lakukan pada anakmu?"

Ibu Hana mulai memperngaruhi Anton dengan menjelekkan Aisyah sesuai apa yang sudah Mira ceritakan pada mertuanya. Anton pun akhirnya keluar dari kamar, di ikuti ibu Hana dan Mira.

"Aisyah!" Anton kembali berteriak memanggil Aisyah dan masuk ke kamar Aisyah yang tak terkunci.

"Sekarang juga kamu pergi dari sini." Kata Anton. Aisyah kaget dirinya di usir dari rumahnya sendiri oleh suaminya.

"A-Apa, bang?"

"Pergi dari rumah ini. Pergi!"

*Hai... reader.. makin seru gak nih cerita Aisyah...

*Author tambah makin panjang ceritanya..

*Ikut terus cerita Aisyah ya.. Dan jangan lupa like, komen, votenya agaf author semangat lagi.

*Tahan emosi kalian ya reader... 😀

*Salam 'ByYou'

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

keluarga kaya punya jet pribadi... kenapa dirumah nya tidak ada satupun ART...aneh juga..

2025-01-05

0

Titik Martiyah

Titik Martiyah

makin nyesek lihat nasib aisyah....

2024-12-08

0

irwanda pratama

irwanda pratama

Thoor senang y buat karakter istri yg lemir or bodoh.. Sdh kebaca lhoo thor..

2024-05-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!