Chapter 14 : Perpisahan.

Setelah seluruh siswa mendapatkan rekomendasi. Akhirnya kami sampai di puncak kegiatan bersekolah di SMP Cibubur ini. Hari ini adalah hari perpisahan. Mungkin banyak siswa yang bersedih akan acara ini, karena mereka harus berpisah dengan sahabat dan teman-teman yang mereka miliki di sekolah ini.

Kalau aku sendiri?

Aku tidak mungkin bersedih hanya dengan hal seperti itu. Menurutku, perpisahan ini bukanlah perpisahan yang dapat membuat seseorang tidak akan bertemu kembali. Tapi perpisahan ini hanyalah perpisahan kepada sebuah kehidupan yang lama menuju ke kehidupan yang baru.

Apakah kalimatku terlalu sulit untuk kalian mengerti? Intinya, ini hanyalah sesuatu untuk memulai awal yang baru.

“Bagaimana rekomendasimu Rik?”

“Tidak begitu buruk.”

Saat ini, aku dan Riki sedang menonton pertunjukan yang disajikan dalam acara perpisahan tersebut.

Acara perpisahan di sekolah kami tidak pergi ke luar kota untuk berlibur seperti biasanya, namun kami hanya

menonton pertunjukan di sekolah saja. Karena pemerintah menganjurkan kepada setiap sekolah yang ada di Jakarta untuk mengadakan acara perpisahan di sekolah masing-masing.

Hal itu dikarenakan kasus-kasus tentang penculikan dan kecelakaan saat acara perpisahan sedang marak saat itu. Jadi pemerintah melakukan langkah-langkah untuk menghentikan kejadian itu.

“Sekolah mana yang direkomendasikan kepadamu?”

“SMK Sawah Besar.”

“Hah?”

“Memangnya kenapa Mar? Kau terlihat terkejut sekali.”

“Soalnya aku juga masuk ke sekolah itu.”

“Beneran?”

Riki juga terlihat terkejut ketika mendengar itu dan sedikit tersenyum.

“Iya… bukannya kau mendapatkan rekomendasi dari prestasi bela diri kau?”

“Aku juga baru tau kemarin kalau SMK Sawah Besar adalah sekolah yang memiliki prestasi pancak silat terbaik di Jakarta.”

“Hmmm… Jadi begitu, kau sudah tau dimana Maul direkomendasikan?”

“Entahlah, aku belum bertemu dengannya semenjak Ujian Nasional.”

Riki pun kembali memusatkan perhatiaannya kepada pertunjukan tari yang sedang berlangsung.

Setelah acara demi acara berlangsung, akhirnya kami pun pergi ke kelas masing-masing untuk foto bersama dan bertukar kado kepada masing-masing teman.

“Apa yang kamu taruh di dalam sana?”

Tanya teman sekelasku sambil menunjuk ke arah tumpukan kado yang ada di hadapan kami.

“Itu rahasian.”

Sebenarnya aku menaruh sebuah gelang di dalam kadoku.

“Hee… Saat ini masih main rahasia-rahasiaan denganku. Apa jangan-jangan…”

Temanku ini pun melirik ke Rina yang sedang berbincang dengan teman-temannya yang lain. Sesekali Rina melirik ke arahku, namun karena dia tau aku sedang melihat ke arahnya, dia pun membuang pandangannya dengan tersipu malu.

Jadi peraturan dari acara pertukaran kado ini adalah pada saat kami mengambil kado, kami membelakanginya dan

mengambilnya secara acak tanpa melihat kado siapa yang kami ambil.

“Amarul Ihsan.”

Sekarang giliranku… Semoga hadiah yang kudapat dapat bisa berguna untukku.

Aku mulai berjalan ke depan kelas dengan diikuti oleh sorotan mata yang tidak lepas memperhatikanku.

Aku gugup sekali, bisakah kalian tidak memperhatikanku.

Sesampainnya di depan kelas, aku mulai membelakangi tumpukan kado tersebut dan bersiap untuk mengambil salah satu kado yang ada di sana.

Hmmm… kira-kira yang mana aku ambil.

Tanganku mulai meraba setiap kado yang dilewati telapak tangaku. Mulai dari kado yang besar sampai yang kecil sudah aku lewati. Karena tidak mau berlama-lama di depan kelas, aku pun mengambil satu kado yang cukup kecil, kira-kira ukurannya setelapak tanganku, dan terletak di dalam tumpukan tersebut.

“WAAAA!!!!”

Seketika seisi kelas ramai dengan teriakan para perempuan yang ada di sana.

Ada apa ini? Apa aku telah melakukan sesuatu yang buruk?

Kemudian mataku tertuju kepada Rina yang menunduk malu karena sesuatu. Aku pun melihat kado yang baru saja aku ambil. Sambil berjalan ke tempat duduku kembali, aku mengguncang kado yang baru saja aku dapat untuk mengetahui apa yang ada di dalam sana.

Kecil sekali, sepertinya isinya sebuah gelang.

Aku pun duduk kembali di kursiku dan membuka kado tersebut. Sebuah gelang terlihat dari balik sebuah kotak kecil yang terbuat dari kertas karton yang di bungkus dengan sangat rapi.

Gelang! Tidak buruk juga, setidaknya gelang ini dapat menjadi aksesori tambahan untuk jamku.

Aku memasang gelang itu di tangan kiriku bersama dengan jam yang aku pakai.

Setelah acara tukar kado selesai, kami semua pun berfoto bersama wali kelas kami untuk kenang-kenangan.

“Sini Mar.”

Seorang temanku menarik tangan kananku ke depan kelas.

Aku pun mengikutinya karena saat itu aku berpikir kalau mereka ingin berfoto bersamaku. Ternyata saat sampai di depan kelas, temanku menyandingkanku dengan Rina, dan mereka semua langsung menjauh dari sana.

“Pasangan terbaik angkatan ini.”

“Hentikan kalian semua, aku malu tau.”

Rina melirik ke arahku dengan sedikit menunduk karena malu.

“Sudahlah, anggap saja ini hadiah dari kami. Lagi pula kalian tidak masuk ke sekolah yang sama kan?”

Dari situ aku baru mengetahui kalau Rina mendapatkan sekolah yang berbeda denganku.

“Memangnya kau dapat rekomendasi di sekolah mana?”

“SMA Cibubur.”

“Bukankah itu hebat, kau tidak perlu jauh-jauh untuk bersekolah.”

Aku memuji Rina atas pencapaiannya.

“Terima kasih.”

“Karena kita akan jarang bertemu lagi, aku rasa berfoto bersama denganmu tidak buruk juga.”

aku mendekatkan diriku kepada Rina, dan sedikit merapikan penampilanku saat itu.

“Kamu benar Ar, ini akan menjadi hadiah perpisahan yang bagus.”

Rina pun mendekatkan badannya juga kepadaku.

“Kalian berdua bersiaplah.”

Temanku yang memegang kamera di hadapan kami mulai memberikan aba-aba kepada kami.

Aku dan Rina mulai berpose, awalnya kami cukup gugup karena menjadi bahan perhatian teman-teman sekelas kami. Bahkan wali kelas kami hanya sedikit tertawa ketika melihat tingkah laku kami.

“Satu... Dua... Tiga.”

Sfx : Cekrek!

***

“Bagaimana perpisahanmu?”

Maul melihat-lihat foto yang ada di ponselnya.

“Berjalan lancar.”

Aku menunjukan gelang yang ada di tangan kiriku.

“Woah... Kau dapat gelang Mar?”

Riki terlihat antusias sekali ketika melihat gelang itu.

“Iya, kalau kau mendapatkan apa?”

“Aku mendapatkan sendal perempuan.”

Riki menunjukan sebuah sendal dengan motif bunga dan berwarna merah muda kepada kami.

“Hahahahahaha...”

Aku dan Maul tertawa dengan lepas ketika melihat sendal yang diterima Riki. Karena menurutku sendal itu memang sendal untuk perempuan dan sangat memalukan sekali jika laki-laki memakai sendal itu.

“Kalau kau Mul?”

“Aku mendapatkan sebuah tempat pensil.”

Maul menunjukan tepat pensilnya yang terbuat dari bahan dan memiliki motif batik. Tidak bisa aku pungkiri kalau tempat pensil yang didapatkan olehnya tidak terlalu buruk, namun hal itu tidak berguna bagi orang yang hanya membawa satu pulpen sepertiku.

“Bagaimana perpisahanmu dengan Rina? Aku rasa kalian tidak akan bertemu lagi.”

“Biasa saja.”

“Kau ini, seharusnya kau memberikan sesuatu kepadanya.”

“Iya Mar, Maul benar. Kau seharusnya memberikan dia sesuatu. Kau sudah banyak di bantu olehnya selama di sini.”

“Akan ku pikirkan lagi.”

Kira-kira apa yang harus aku berikan kepada Rina?

Memang benar kata Maul dan Riki, Rina telah banyak sekali menolongku selama aku bersekolah di sini, bahkan saat kejadian terakhir dia juga membantuku. Kalau memang sesandainnya aku ingin memberikannya hadiah, itu haruslah sesuatu yang berkesan.

Tapi apa? Uangku tidak begitu banyak, dan aku merasa sayang sekali ketika mengeluarkan uangku hanya untuk itu.

“Ngomong-ngomong Mul, dimana kau direkomendasikan?”

Aku bertanya kepada Maul karena hanya dia saja yang aku belum tau sekolah mana yang dia dapat.

“Aku dapat di SMK Sawah Besar Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak.”

Weee… Kebetulan macam apa ini, tapi tidak masalah jika Maul juga masuk ke sekolah yang sama. Berarti kita bertiga akan bersama lagi selama tiga tahun.

“Ada apa Mar?”

“Tidak ada.”

“Hei kalian berdua… Aku membuat acara perpisahan ke Kepulauan Seribu. Apa kalian mau ikut?”

Riki mengajak kami berdua untuk berlibur ke Kepulauan Seribu, memang akan sangat menyenangkan jika kita harus ke sana. Pemandangan laut yang indah ditambah dengan matahari terbenam di ujung cakrawala membuat tempat itu menjadi tujuan untuk berlibur.

“Boleh, mumpung kita dapat liburan panjang.”

Tanpa pikir panjang, Maul langsunng menyetujui usulan dari Riki.

Tapi kalau dipikir-pikir kembali, kita memang mendapatkan libur yang sangat panjang sebelum masuk sekolah selanjutnya, tidak mungkin jika aku hanya menghabiskannya di rumah saja. Itu akan sangat membosankan.

“Berapa orang yang akan ikut?”

“Aku baru mendata ada sepuluh orang.”

Hmmm... Apakah aku harus ikut? Aku yakin biaya yang dikeluarkan untuk pergi ke sana akan sangat mahal jika orang yang ikut jumlahnya sedikit.

“Aku sudah tau apa yang kau pikirkan Mar. Kau pasti sedang memikirkan tentang biayanya kan?”

Maul tiba-tiba melihatku dan menghentikanku dalam berpikir. Dia sedikit tersenyum setelah mengetahui apa yang aku pikirkan.

“Hebat sekali kau bisa mengetahuinya.”

Riki terlihat kagum karena hanya Maul saja yang dapat menebak jalan pikiranku.

“Seharusnya kau juga tau hal itu kalau kau sudah berteman lama dengan.”

“Kalau untuk biayanya kau tenang saja Mar, aku akan menjamin kita tidak akan mengeluarkan uang yang banyak.”

“Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian.”

Kapan lagi pergi ke Kepulauan Seribu, sekali-kali pikiranku juga harus beristirahat dari penatnya kegiatan.

Kemudian aku melihat seorang perempuan menaiki tangga dengan sangat riang, dia menggunakan sebuah kaus berwarna hitam dengan tanda pengenal di lehernya. Perempuan itu adalah Kirana. Karena dia adalah seorang anggota OSIS, jadi hari ini dia masuk untuk mengurusi acara perpisahan.

Kirana pun menghampiri kami yang sedang berkumpul di sebuah meja yang tidak jauh dari tangga. Biasanya meja ini digunakan guru piket untuk bertugas.

“Selamat atas kelulusan kalian.”

Kirana mengucapkan selamat kepada kami sambil membagikan sebuah kotak kecil yang sudah dibungkus dengan kertas kado.

Sepertinya aku mengetahui apa yang berada di dalam kotak itu.

“Terima kasih.”

Maul dan Riki sangat senang ketika mendapatkan hadiah itu, sedangkan aku hanya mengguncang kado tersebut.

“Apa isinya?”

“Kalian buka saja.”

Kami pun mulai membuka isi kado itu dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah gelang. Gelangnya memiliki model yang sama dengan gelang yang aku kenakan saat ini, namun memiliki motif yang berbeda. Aku bersyukur karena kedua gelang itu terbuat dari tali yang disimpul, karena aku tidak begitu menyukai gelang yang terbuat dari plastik. Aku, Riki, dan Maul mendapatkan motif yang berbeda-beda.

“Ini bagus sekali.”

“Terima kasih Kirana.”

Riki langsung mengenakan gelang itu di tangannya, begitu juga dengan Maul.

Sepertinya aku akan menggunakan gelangnya di tanganku yang satunya lagi. Hmmm... Tapi itu akan menggangguku ketika menulis, lebih baik aku pakai di tangan kiriku saja.

“Ini gelang dari siapa?”

Kirana menunjuk gelang yang baru saja aku dapatkan dari acara tukar kado yang diadakan kelasku.

“Ini dari acara tukar kado di kelasku, kenapa?”

“Hmmmm... Tidak ada.”

Kirana tersenyum kepadaku, aku merasa kalau dia mengetahui pemilik dari kado yang aku ambil, mengingat gelang darinya juga memiliki model yang sama, aku rasa dia memang mengetahuinya, atau mungkin mereka membelinya bersama-sama.

“Karena urusanku di sini sudah selesai, aku izin pamit dulu ya. Masih ada yang harus aku kerjakan.”

“Baiklah, terima kasih atas hadiahnya.”

“Aku pergi dulu.”

Kirana pun pergi meninggalkan kami. Aku melihat Maul yang selalu memandangi gelang yang diberikan oleh Kirana. Dia terlihat sangat menyukainya.

Lebih baik gelang-gelang ini aku simpan saja, aku tidak mau sampai menghilangkannya.

Aku pun melepaskan semua gelang yang ada di tanganku dan meletakannya di saku kemejaku.

“Mengapa kau melepas kedua gelangmu Mar?”

“Aku tidak mau gelang ini hilang Rik, kau tau sendiri kalau aku sering kehilangan jam tanganku ketika berwudu, untung saja ada orang baik yang menemukannya.”

“Kau benar juga.”

Aku juga melihat tatapan Riki yang sangat senang ketika mendapatkan gelang dari Kirana. Aku rasa Riki masih belum bisa melupakan Kirana dari pikirannya.

Aku yakin kalau Riki sebenarnya sedikit terluka hatinya ketika mengetahui kalau Kirana itu hanya berpura-pura untuk menjadi pacarnya, karena mau bagaimana lagi. Riki bukanlah orang yang dapat menerima sebuah kenyataan pahit dengan begitu mudah, apa lagi hal ini berkaitan tentang cinta, itu pasti akan sangat sulit. Kalau Riki memiliki pemikiran yang sama denganku, itu bukanlah sebuah masalah.

“Apakah aku harus mengatakan perasaanku kali ini kepadanya ya?”

Riki bergumam sendiri. Aku rasa itu adalah kata-kata yang keluar dari hati terkecilnya, ternyata dugaanku salama ini benar.

“Itu terserah kau, kalau kau merasa itu adalah yang terbaik saat ini, maka lakukanlah. Lagi pula ini mungkin hari terakhir kau bertemu dengan Kirana, jadi lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, tapi jangan bertindak bodoh.”

Apa saranku terlalu berlebihan untuk orang seperti Riki?

Setelah mendengar saranku barusan, Riki langsung terlihat senang dan kemudian dia menggenggam gelang yang diberikan oleh Kirana.

“Baiklah, akan aku lakukan sekarang.”

Riki pun pergi meninggalkan kami untuk menemui Kirana. Maul yang tidak tau apa yang terjadi melihat kepergian Riki dengan wajah kebingungan.

“Apa yang baru saja aku lewatkan?”

“Tidak ada apa-apa, hanya sebuah nasihat untuk melakukan tindakan yang tidak logis.”

Maul tidak mengerti apa yang baru saja aku maksud.

Sebenarnya aku juga tidak tau apakah saranku kepada Riki adalah yang terbaik atau tidak untuk dilakukan saat ini, tapi aku hanya berpikir kalau kau ingin melakukan sesuatu yang besar, inilah saatnya. Lebih baik kau lakukan sekarang dan gagal dari pada tidak kau lakukan tapi yang ada hanya menyisakan penyesalan saja.

Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti yang Riki lakukan? Tidak mungkin, aku bukanlah orang yang ingin melakukan sesuatu yang tidak logis seperti itu.

Tapi dari awal aku menyelidiki tentang cinta, aku sama sekali belum mendapatkan jawaban yang memuasakan tentang hal itu. Apa aku harus mengalaminya terlebih dulu baru aku tau bagaimana rasanya? Sepertinya tidak, itu hanya sebuah ide yang bodoh.

Sudahlah, buat apa aku harus memikirkan hal itu. Lebih baik aku mempersiapkan diri untuk kehidupan sekolahku yang berikutnya.

-End Chapter 14-

Episodes
1 Prolog : Makna Dari Sebuah Cinta.
2 Chapter 1 : Hari Yang Melelahkan.
3 Chapter 2 : Yang Benar Saja!
4 Chapter 3 : Miyuki Si Tuan Putri Yang Kejam.
5 Chapter 4 : Antara Wanita Bersama dan Pacar Pura-Pura
6 Chapter 5 : Cinta Bertepuk Sebelah Tangan.
7 Chapter 6 : Kebaikan Yang Menghangatkan Semuanya.
8 Chapter 7 : Pasangan Baru
9 Chapter 8 : Dan Terjadi Lagi.
10 Chapter 9 : Mata Rantai Yang Ingin Disambungkan Kembali.
11 Chapter 10 : Merepotkan Sekali! Seharusnya Tidak Seperti Ini.
12 Chapter 11 : Perkelahian Antar Sahabat.
13 Chapter 12 : Menjadi Orang Jahat? Baiklah Kalau Itu Yang Kau Inginkan.
14 Chapter 13 : Secercah Cahaya Di Dalam Badai.
15 Chapter 14 : Perpisahan.
16 Chapter 15 : Kepulauan Seribu, Aku Datang!
17 Chapter 16 : Ini Sungguh Memalukan.
18 Chapter 17 : Api Unggun Yang Penuh Dengan Panas Cinta.
19 Chapter 18 : Membantu Maul.
20 Chapter 19 : Teringat Akan Sesuatu.
21 Chapter 20 : Aku Terjebak Di Sebuah Permainan Yang Konyol.
22 Chapter 21 : Survei Sekolah.
23 Chapter 22 : Trip Panjang Menuju Gunung Prau.
24 Chapter 23 : Inilah Kenapa Aku Malas Mengajak Wanita Untuk Mendaki.
25 Chapter 24 : Hidangan di Atas Awan.
26 Chapter 25 : Ada Apa Dengan Senja?
27 Chapter 26 : Janji Musim Dingin.
28 Chapter 27 : Festifal Musim Panas.
29 Chapter 28 : Kencan? Sepertinya Bukan.
30 Chapter 29 : Ulang Tahun Maul.
31 Chapter 30 : Hari Pertama Di SMK.
32 Chapter 31 : Langkah Awal Untuk Kehidupan Yang Baru.
33 Chapter 32 : Apapun Akan Aku Lakukan Demi Kehidupan Baruku Yang Damai.
34 Chapter 33 : Mengapa Aku Melakukan Itu?
35 Chapter 34 : Memilih Ekstrakulikuler.
36 Chapter 35 : Mencolok Itu Merepotkan.
37 Chapter 36 : Tur Sekolah.
38 Chapter 37 : Pertandingan Olahraga.
39 Chapter 38 : Mengapa Harus Di Rumahku?
40 Chapter 39 : Wali Kelasku Kali Ini Lebih Bersahabat.
41 Chapter 40 : Inikah Nikmat?
42 Chatper 41 : Menjadi Seorang Freelancer.
43 Chapter 42 : Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa.
44 Chapter 43 : Aku Bukanlah Orang Mesum!
45 Chapter 44 : Tuduhan Itu Sangatlah Menyakitkan.
46 Chapter 45 : Semuanya Sudah Terencana Dengan Baik.
47 Chapter 36 : Memikirkan Langkah Terakhir untuk Menyelesaikan Ini.
48 Chapter 47 : Jurit Malam.
49 Chapter 48 : Skak Mat! Aku Yang Menang.
50 Chapter 49 : Menikmati Hasil Kemenangan.
51 Chapter 50 : Bulan Ramadan.
52 Chapter 51 : Terungkap Sudah.
53 Chapter 52 : Ngabuburit.
54 Chapter 53 : Pertemuan Yang Tak Terduga.
55 Chapter 54 : Buka Bersama.
56 Chapter 55 : Pulangnya Sang Pengganggu.
57 Chapter 56 : Mencoba Sesuatu Yang Baru.
58 Chapter 57 : Malam Takbiran.
59 Chapter 58 : Labaran Idulfitri.
60 Chapter 59 : Pulang Kampung.
61 Chapter 60 : Leptop Baru.
62 Chapter 61 : Kekhawatiran Kichida.
63 Chapter 62 : Pekerjaan Baru Bersama Pak Febri.
64 Chapter 63 : Membangun Kembali Sebuah Perusahaan.
65 Chapter 64 : Apa Salahnya Peduli Dengan Teman?
66 Chapter 65 : Aku Baru Tau Kalau Rapat Sepusing ini!
67 Chapter 66 : Miyuki Fan Club.
68 Chapter 67 : Begadang Mengejar Deadline.
69 Chapter 68: Kenapa Pekerjaan Ini Banyak Sekali Rapatnya!
70 Chapter 69 : Pergi Berdua Bersama Miyuki.
71 Chapter 70 : Makan-makan Di Rumah Rina.
72 Chapter 71 : Ketika Berprasangka Baik.
73 Chapter 72 : Harga Diri Yang Membuat Semuanya Rumit!
74 Chapter 73 : Sate Kambing Di Malam Hari.
75 Chapter 74 :Sekolah Adalah Rumah
76 Chapter 75 : Waktunya Perilisan.
77 Chapter 76 : Akhirnya Aku Bisa Bersantai Sejenak.
78 Chapter 77 : Orang Merepotkan Yang Selalu Berbuat Baik.
79 Chapter 78 : Anak Magang Khusus.
80 Chapter 79 : Koneksi Yang Mempermudah Segalanya.
81 Chapter 80 : Aku Merasakan Kalau Kepalaku Sedikit Berasap!
82 Chapter 81 : Satu Buah Komik Dan Mouse.
83 Chapter 82 : Seorang Sekertaris Itu Memang Hebat!
84 Chapter 83 : Natasha Dan Masa Lalunya Yang Kelam.
85 Chapter 84 : Aku, Irfan, Dan Orang Yang Menyebalkan.
86 Chapter 85 : Membangun Sebuah Argumen Yang Kuat.
87 Chapter 86 : Barista Bukan Hanya Sebuah Sebutan Saja.
88 Chapter 87 : Katakan Tidak Pada Pekerjaan Fisik!
89 Chapter 88 : Keramaian Ini Membuatku Pusing.
90 Chapter 89 : Apa Yang Menguntungkan Dari Pacaran?
91 Chapter 90 : Hanya Kak Friska Yang Bisa Membuatku Seperti Ini.
92 Chapter 91 : Aku Suka Kedamaian Ini.
93 Chapter 92 : Masalah Baru Dan Serius, Aku Datang!
94 Chapter 93 : Kesalahan Dalam Melihat, Dapat Menimbulkan Informasi Yang Rancu.
95 Chapter 94 : Semua Perempuan Itu Merepotkan.
96 Chapter 95 : Akar Dari Pembicaraanku Adalah Miyuki.
97 Chapter 96 : Itu Adalah Sebuah Ironi.
98 Chapter 97 : Bosan Atau Memang Kecewa?
99 Chapter 98 : Aku Tau Kalau Ada Yang Tidak Beres.
100 Chapter 99 : Pahit Kopi Kehidupan.
101 Chapter 100 : UAS Selesai, Liburan Let’s Go!
102 Chapter 101 : Apa Aku Bisa Menyebutnya Kepala Sekolah Idaman?
103 Chapter 102 : Ini Terlalu Rumit Untuk Dipikirkan Pelajar Sepertiku.
104 Chapter 103 : Aku Tidak Butuh Uang... Untuk Saat Ini.
105 Chapter 104 : Pengambilan Rapot.
106 Chapter 105 : Aku Dan Misaki Sepertinya Sangat Cocok.
107 Chapter 106 : Rumah Kecil Yang Berisikan Banyak Misteri.
108 Chapter 107 : Mari Kita Lihat, Serumit Apa Masalah Yang Dia Miliki.
109 Chapter 108 : Berubah Menjadi Baik Atau Buruk?
110 Chapter 109 : Misi Penyelamatan Bagian Pertama.
111 Chapter 110 : Misi Penyelamatan Bagian Kedua
112 Chapter 111 : Misi Penyelamatan Bagian Ketiga.
113 Chapter 112 : Misi Penyelamatan Bagian Keempat.
114 Chapter 113 : Misi Penyelamatan Bagian Terakhir.
115 Chapter 114 : Hari Yang Panjang Dan Melelahkan Akhirnya Selesai!
116 Chapter 115 : Banyak Sekali Pertanyaan Yang Diberikan.
117 Chapter 116 : Kembang Api Yang Sangat Berisik!
118 Chapter 117 : Aku Tau Kalau Aku Bukanlah Orang Yang Spesial.
119 Chapter 118 : Senyap Dan Membaur.
120 Chapter 119 : Keadaan Ini Sangat Canggung Sekali!
121 Chapter 120 : Ending Yang Baik Ternyata Tidak Buruk.
122 Chapter 121 : Kichida Si Calon Komikus
123 Chapter 122 : Buat Apa Kau Meminta Izin Kepadaku?
124 Chapter 123 : Comic Universe Ke Seluruh Dunia.
125 Chapter 124 : Menuju Ulang Tahun Miyuki.
126 Chapter 125 : Mentraktir Rina.
127 Chapter 126 : Di Kafe Bersama Miyuki
128 Chapter 127 : Ulang Tahun Miyuki.
129 Chapter 128 : Pernyataanku Kepada Miyuki
130 Chapter 129 : Tidak Tertarik Dengan OSIS
131 Chapter 130 : Aku Sedikit Khawatir Dengannya
132 Chapter 131 : Gawat Sekali Jika Orang Lain Tau!
133 Chapter 132 : Kichida Menghilang!
134 Chapter 133 : Waktunya Menjemput Kichida.
135 Chapter 134 : Apa Aku Sudah Terlalu Berlebihan?
136 Chapter 135 : Seharusnya Aku Dapat Menghentikan Itu!
137 Chapter 136 : Misi Merepotkan Bagian Pertama.
138 Chapter 137 : Misi Merepotkan Bagian Kedua.
139 Chapter 138 : Misi Merepotkan Bagian Ketiga.
140 Chapter 139 : Misi Yang Merepotkan Bagian Keempat.
141 Chapter 140 : Misi Yang Merepotkan Bagian Kelima.
142 Chapter 141 : Pundakku Terasa Ringan Sekali!
143 Chapter 142 : Omelannya Ibu Miyuki Seperti Ibuku.
144 Chapter 143 : Kasur! Aku Butuh Kasur!
145 Chapter 144 : Pak Febri Mengerikan Sekali Ketika Marah.
146 Chapter 145 : Semua Berakhir Dengan Bahagia.
147 Chapter 146 : Kenapa Dia Datang Ke Rumahku?
148 Chapter 147 : Kita Ini Bukan Teman Dekat.
Episodes

Updated 148 Episodes

1
Prolog : Makna Dari Sebuah Cinta.
2
Chapter 1 : Hari Yang Melelahkan.
3
Chapter 2 : Yang Benar Saja!
4
Chapter 3 : Miyuki Si Tuan Putri Yang Kejam.
5
Chapter 4 : Antara Wanita Bersama dan Pacar Pura-Pura
6
Chapter 5 : Cinta Bertepuk Sebelah Tangan.
7
Chapter 6 : Kebaikan Yang Menghangatkan Semuanya.
8
Chapter 7 : Pasangan Baru
9
Chapter 8 : Dan Terjadi Lagi.
10
Chapter 9 : Mata Rantai Yang Ingin Disambungkan Kembali.
11
Chapter 10 : Merepotkan Sekali! Seharusnya Tidak Seperti Ini.
12
Chapter 11 : Perkelahian Antar Sahabat.
13
Chapter 12 : Menjadi Orang Jahat? Baiklah Kalau Itu Yang Kau Inginkan.
14
Chapter 13 : Secercah Cahaya Di Dalam Badai.
15
Chapter 14 : Perpisahan.
16
Chapter 15 : Kepulauan Seribu, Aku Datang!
17
Chapter 16 : Ini Sungguh Memalukan.
18
Chapter 17 : Api Unggun Yang Penuh Dengan Panas Cinta.
19
Chapter 18 : Membantu Maul.
20
Chapter 19 : Teringat Akan Sesuatu.
21
Chapter 20 : Aku Terjebak Di Sebuah Permainan Yang Konyol.
22
Chapter 21 : Survei Sekolah.
23
Chapter 22 : Trip Panjang Menuju Gunung Prau.
24
Chapter 23 : Inilah Kenapa Aku Malas Mengajak Wanita Untuk Mendaki.
25
Chapter 24 : Hidangan di Atas Awan.
26
Chapter 25 : Ada Apa Dengan Senja?
27
Chapter 26 : Janji Musim Dingin.
28
Chapter 27 : Festifal Musim Panas.
29
Chapter 28 : Kencan? Sepertinya Bukan.
30
Chapter 29 : Ulang Tahun Maul.
31
Chapter 30 : Hari Pertama Di SMK.
32
Chapter 31 : Langkah Awal Untuk Kehidupan Yang Baru.
33
Chapter 32 : Apapun Akan Aku Lakukan Demi Kehidupan Baruku Yang Damai.
34
Chapter 33 : Mengapa Aku Melakukan Itu?
35
Chapter 34 : Memilih Ekstrakulikuler.
36
Chapter 35 : Mencolok Itu Merepotkan.
37
Chapter 36 : Tur Sekolah.
38
Chapter 37 : Pertandingan Olahraga.
39
Chapter 38 : Mengapa Harus Di Rumahku?
40
Chapter 39 : Wali Kelasku Kali Ini Lebih Bersahabat.
41
Chapter 40 : Inikah Nikmat?
42
Chatper 41 : Menjadi Seorang Freelancer.
43
Chapter 42 : Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa.
44
Chapter 43 : Aku Bukanlah Orang Mesum!
45
Chapter 44 : Tuduhan Itu Sangatlah Menyakitkan.
46
Chapter 45 : Semuanya Sudah Terencana Dengan Baik.
47
Chapter 36 : Memikirkan Langkah Terakhir untuk Menyelesaikan Ini.
48
Chapter 47 : Jurit Malam.
49
Chapter 48 : Skak Mat! Aku Yang Menang.
50
Chapter 49 : Menikmati Hasil Kemenangan.
51
Chapter 50 : Bulan Ramadan.
52
Chapter 51 : Terungkap Sudah.
53
Chapter 52 : Ngabuburit.
54
Chapter 53 : Pertemuan Yang Tak Terduga.
55
Chapter 54 : Buka Bersama.
56
Chapter 55 : Pulangnya Sang Pengganggu.
57
Chapter 56 : Mencoba Sesuatu Yang Baru.
58
Chapter 57 : Malam Takbiran.
59
Chapter 58 : Labaran Idulfitri.
60
Chapter 59 : Pulang Kampung.
61
Chapter 60 : Leptop Baru.
62
Chapter 61 : Kekhawatiran Kichida.
63
Chapter 62 : Pekerjaan Baru Bersama Pak Febri.
64
Chapter 63 : Membangun Kembali Sebuah Perusahaan.
65
Chapter 64 : Apa Salahnya Peduli Dengan Teman?
66
Chapter 65 : Aku Baru Tau Kalau Rapat Sepusing ini!
67
Chapter 66 : Miyuki Fan Club.
68
Chapter 67 : Begadang Mengejar Deadline.
69
Chapter 68: Kenapa Pekerjaan Ini Banyak Sekali Rapatnya!
70
Chapter 69 : Pergi Berdua Bersama Miyuki.
71
Chapter 70 : Makan-makan Di Rumah Rina.
72
Chapter 71 : Ketika Berprasangka Baik.
73
Chapter 72 : Harga Diri Yang Membuat Semuanya Rumit!
74
Chapter 73 : Sate Kambing Di Malam Hari.
75
Chapter 74 :Sekolah Adalah Rumah
76
Chapter 75 : Waktunya Perilisan.
77
Chapter 76 : Akhirnya Aku Bisa Bersantai Sejenak.
78
Chapter 77 : Orang Merepotkan Yang Selalu Berbuat Baik.
79
Chapter 78 : Anak Magang Khusus.
80
Chapter 79 : Koneksi Yang Mempermudah Segalanya.
81
Chapter 80 : Aku Merasakan Kalau Kepalaku Sedikit Berasap!
82
Chapter 81 : Satu Buah Komik Dan Mouse.
83
Chapter 82 : Seorang Sekertaris Itu Memang Hebat!
84
Chapter 83 : Natasha Dan Masa Lalunya Yang Kelam.
85
Chapter 84 : Aku, Irfan, Dan Orang Yang Menyebalkan.
86
Chapter 85 : Membangun Sebuah Argumen Yang Kuat.
87
Chapter 86 : Barista Bukan Hanya Sebuah Sebutan Saja.
88
Chapter 87 : Katakan Tidak Pada Pekerjaan Fisik!
89
Chapter 88 : Keramaian Ini Membuatku Pusing.
90
Chapter 89 : Apa Yang Menguntungkan Dari Pacaran?
91
Chapter 90 : Hanya Kak Friska Yang Bisa Membuatku Seperti Ini.
92
Chapter 91 : Aku Suka Kedamaian Ini.
93
Chapter 92 : Masalah Baru Dan Serius, Aku Datang!
94
Chapter 93 : Kesalahan Dalam Melihat, Dapat Menimbulkan Informasi Yang Rancu.
95
Chapter 94 : Semua Perempuan Itu Merepotkan.
96
Chapter 95 : Akar Dari Pembicaraanku Adalah Miyuki.
97
Chapter 96 : Itu Adalah Sebuah Ironi.
98
Chapter 97 : Bosan Atau Memang Kecewa?
99
Chapter 98 : Aku Tau Kalau Ada Yang Tidak Beres.
100
Chapter 99 : Pahit Kopi Kehidupan.
101
Chapter 100 : UAS Selesai, Liburan Let’s Go!
102
Chapter 101 : Apa Aku Bisa Menyebutnya Kepala Sekolah Idaman?
103
Chapter 102 : Ini Terlalu Rumit Untuk Dipikirkan Pelajar Sepertiku.
104
Chapter 103 : Aku Tidak Butuh Uang... Untuk Saat Ini.
105
Chapter 104 : Pengambilan Rapot.
106
Chapter 105 : Aku Dan Misaki Sepertinya Sangat Cocok.
107
Chapter 106 : Rumah Kecil Yang Berisikan Banyak Misteri.
108
Chapter 107 : Mari Kita Lihat, Serumit Apa Masalah Yang Dia Miliki.
109
Chapter 108 : Berubah Menjadi Baik Atau Buruk?
110
Chapter 109 : Misi Penyelamatan Bagian Pertama.
111
Chapter 110 : Misi Penyelamatan Bagian Kedua
112
Chapter 111 : Misi Penyelamatan Bagian Ketiga.
113
Chapter 112 : Misi Penyelamatan Bagian Keempat.
114
Chapter 113 : Misi Penyelamatan Bagian Terakhir.
115
Chapter 114 : Hari Yang Panjang Dan Melelahkan Akhirnya Selesai!
116
Chapter 115 : Banyak Sekali Pertanyaan Yang Diberikan.
117
Chapter 116 : Kembang Api Yang Sangat Berisik!
118
Chapter 117 : Aku Tau Kalau Aku Bukanlah Orang Yang Spesial.
119
Chapter 118 : Senyap Dan Membaur.
120
Chapter 119 : Keadaan Ini Sangat Canggung Sekali!
121
Chapter 120 : Ending Yang Baik Ternyata Tidak Buruk.
122
Chapter 121 : Kichida Si Calon Komikus
123
Chapter 122 : Buat Apa Kau Meminta Izin Kepadaku?
124
Chapter 123 : Comic Universe Ke Seluruh Dunia.
125
Chapter 124 : Menuju Ulang Tahun Miyuki.
126
Chapter 125 : Mentraktir Rina.
127
Chapter 126 : Di Kafe Bersama Miyuki
128
Chapter 127 : Ulang Tahun Miyuki.
129
Chapter 128 : Pernyataanku Kepada Miyuki
130
Chapter 129 : Tidak Tertarik Dengan OSIS
131
Chapter 130 : Aku Sedikit Khawatir Dengannya
132
Chapter 131 : Gawat Sekali Jika Orang Lain Tau!
133
Chapter 132 : Kichida Menghilang!
134
Chapter 133 : Waktunya Menjemput Kichida.
135
Chapter 134 : Apa Aku Sudah Terlalu Berlebihan?
136
Chapter 135 : Seharusnya Aku Dapat Menghentikan Itu!
137
Chapter 136 : Misi Merepotkan Bagian Pertama.
138
Chapter 137 : Misi Merepotkan Bagian Kedua.
139
Chapter 138 : Misi Merepotkan Bagian Ketiga.
140
Chapter 139 : Misi Yang Merepotkan Bagian Keempat.
141
Chapter 140 : Misi Yang Merepotkan Bagian Kelima.
142
Chapter 141 : Pundakku Terasa Ringan Sekali!
143
Chapter 142 : Omelannya Ibu Miyuki Seperti Ibuku.
144
Chapter 143 : Kasur! Aku Butuh Kasur!
145
Chapter 144 : Pak Febri Mengerikan Sekali Ketika Marah.
146
Chapter 145 : Semua Berakhir Dengan Bahagia.
147
Chapter 146 : Kenapa Dia Datang Ke Rumahku?
148
Chapter 147 : Kita Ini Bukan Teman Dekat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!