Bab 4

"Orang lemah katamu?" Akane sekejap menjadi marah.

"Hmm. Percuma bagiku untuk menjelaskan kepada dua orang gadis bodoh dan keras kepala seperti kalian. Tidak kusangka kalian amat merepotkan dan selemah ini, sampai harus memanggil kami secepat ini. Benar-benar seperti kedua orang tua kalian."

Tiba-tiba, perkataan terakhir lelaki itu menyentak Akiha dan Akane.

Kedua gadis itu menundukkan kepala. Yang satu tubuhnya bergetar sekilas, lalu tangannya terkepal seperti ingin membalas perkataan lelaki itu dengan kekerasan. Kemudian, yang satu lagi hanya terkulai lemas dan depresi.

"Kau..! Beraninya kau menghina kedua orang tua kami! Memanggil katamu? Huh! Tidak usah berlagak dan enyahlah dari sini, dasar kecoak yang mengganggu!!" amuk Akane.

"Kecoak? Tidakkah sebutan itu keterlaluan untuk seseorang yang diutus untuk melindungi kalian yang tidak berguna ini?" kata lelaki itu dengan nada suara yang sangat tenang. Ia hanya menggelengkan kepala dengan kedua telapak tangan terbuka, namun semua perkataan dan gerak-geriknya membuat Akane amat terganggu.

"Niisan!" Kaoru menegur kakaknya.

"Perkataanmu barusan lebih menghina kami! Cukup membual dan jelaskan kepada kami mengenai musuh tadi! Bila tidak, aku akan membunuh kalian berdua!!" ancam Akane.

"Hmm. Sudah kuduga. Kau ingin menantangku, Akane kecil?" ucap lelaki itu dengan santai dan mata menyipit yang meremehkan.

"Apa katamu?!" Akane geram, tiba-tiba aura di sekitarnya berubah.

"Akane!"

Akiha dengan cepat menyadarkan saudarinya. Bagaimanapun juga, kedua orang aneh ini memang telah menyelamatkan Akiha dan Akane.

"Akane, mereka adalah orang yang menolong kita. Jangan sampai mereka berubah menjadi lawan." bisik Akiha.

"Dasar bodoh! Memangnya kamu akan menerima perkataan menghinanya barusan?! Oleh karena itu, kamu selalu dirundung, Akiha!" bentak Akane kepada saudarinya sendiri.

"Akane.. bukan begitu." jawab Akiha kewalahan.

Lelaki itu hanya mendesah, sehingga membuat Akane semakin marah. Ia terus-menerus mengucapkan kata-kata kasar, lalu..

"Sudah, sudah. Kalian hanya membuang-buang energi dan waktu. Jika ingin membuktikan bahwa perkataanku barusan itu salah, mulai sekarang tunjukkanlah kemampuan kalian masing-masing." ucap pemuda itu.

Kedua gadis itu mendadak bengong. Kemudian, lelaki itu menghilang seketika.

"I--itu.. teleportasi?!" kata Akane terkejut.

"Benar. Akane-sama. Niisan memang memiliki kemampuan yang di atas rata-rata. Meski sifatnya menyebalkan, sebenarnya dia itu jenius." ujar Kaoru.

"Jenius? Memangnya ada kemampuan yang dapat dipelajari di dunia ini?" tanya Akane.

"Itu benar, Akane-sama. Tidak semua kemampuan hanyalah turunan dari generasi sebelumnya. Selain itu, kita dapat membangkitkan kemampuan baru dengan berlatih dan berguru pada orang yang hebat." jawab Kaoru.

"Kalau begitu, bisakah kamu menjelaskan mengenai kemampuan musuh tadi? Bagaimana cara kalian menolong kami?" ucap Akane dengan sorot mata ingin tahu.

"Tentu, Akane-sama." ucap Kaoru.

"Hm.." Akane nampak seperti menunggu dan mempertimbangkan sesuatu.

"Akane.. apakah tidak apa-apa bertanya kepada gadis ini mengenai kemampuan mereka? Bukankah itu sama saja dengan membocorkan teknik mereka?" bisik Akiha yang berhati kecil.

"Hmp. Kamu tidak usah ikut-ikutan, Akiha. Diam dan lihat saja. Aku pasti akan melindungimu, bila ada apa-apa." jawab Akane.

"Namun, tubuhmu masih lemah.. Jangan memaksakan diri, Akane." kata Akiha mengingatkan saudarinya.

"..." Akane hanya terdiam.

"Tenang saja, Akiha-sama. Saya dan kakak saya pasti akan melindungi kalian hingga harus mati sekalipun." kata Kaoru, dengan tiba-tiba menampilkan senyuman lembut yang amat menawan.

"Eh?" Akiha menjadi heran oleh perkataan itu.

"Pertama, akan kudengarkan penjelasanmu mengenai situasi tadi. Setelah itu, aku mungkin akan menanyai dirimu berbagai hal. Bila kamu tidak bersedia, maka aku takkan mempercayaimu!" kata Akane, sambil menunjuk ke arah Kaoru dengan jari telunjuknya.

"Tentu saja, saya bersedia. Bila tidak ada pertanyaan lain yang lebih mendesak, maka saya akan mulai menjelaskan mengenai semua situasi tadi.." kata Kaoru dengan sabar.

"Tunggu..!" tiba-tiba Akane menghentikan Kaoru yang hendak memulai penjelasannya.

Kedua mata Kaoru menatapnya heran, namun sama sekali tidak terlihat pada ekspresi wajahnya.

"Ada apa, Akiha?" tanya Akane.

Sejak beberapa saat lalu, salah satu tangan Akiha menggenggam ujung pakaian Akane.

"Itu.. siapa nama.. lelaki itu?" tanya Akiha tiba-tiba, dengan wajah tersipu.

GLEK

Tidaak!! Apa yang dipikirkan oleh gadis ini? Apakah dia tertarik pada lelaki itu?! seketika Akane menjadi gusar dan wajahnya membeku. Ingin rasanya ia menjitak Akiha, bila tubuhnya tidak sedang lemah.

"Ah-hahaha."

Tiba-tiba, Kaoru tertawa. Kedua gadis bersaudari itu merespon secara berbeda.

Akiha nampak sedikit terpana oleh kecantikan dan pesona Kaoru, sementara Akane merasa semakin curiga dan terganggu.

"Apa yang lucu?!" tanya Akane, dengan suara menyalak.

"Ah itu.. Maafkan saya. Namun, hal ini memang kentara sekali. Niisan memang sering membuat para gadis tersipu dan tergila-gila padanya. Nama niisan adalah Saoru Shima. Saya tidak akan menyalahkan, bila salah seorang dari beliau sekalian tertarik padanya." kata Kaoru ramah.

"Apa?! Mana mungkin salah satu dari kami..?! Hahaha! Itu tidak mungkin! Tidak akan ada diantara kami yang ingin berpacaran dengan lelaki seperti itu, ya kan, Akiha?" kata Akane, menoleh ke arah saudarinya dan langsung terkejut..

"Umm.. itu.. tidak akan ada orang yang dapat menebaknya." jawab Akiha malu-malu.

"HEH?! Apa katamu, Akihaaa??!"

Akane syok dan menarik-narik tubuh Akiha dengan kesal. Kaoru hanya tertawa-tawa dengan suaranya yang manis.

"Diam...! Ukh--uhuk uhuk..!"

Akane yang hendak menghentikan tawa Kaoru mendadak terbatuk-batuk.

Mirip seperti sebelumnya, baik Akiha maupun Kaoru dengan khawatir menyerukan nama Akane secara bersamaan, dengan honorifik yang berbeda.

Darah segar keluar dari mulut Akane, hingga membuat Akiha dan Kaoru terkejut dan hendak berbuat sesuatu untuk Akane.

"Biar saya saja, Akiha-sama. Dimana kamar Akane-sama?" ucap Kaoru dengan cepat.

Lalu, Kaoru dengan mudahnya mengangkat tubuh Akane dan membaringkannya di atas futon yang segera digelar oleh Akiha di kamar kedua gadis kembar itu.

Selanjutnya, tanpa berkata-kata, Kaoru meletakkan kedua tangannya yang saling menyilang dan bertumpu pada bagian dada Akane.

Tangan Kaoru tidak sampai menyentuh tubuh Akane. Namun, seperti cahaya berwarna kuning terang, kemampuan khusus Kaoru terlihat. Tiba-tiba, Akiha amat terkejut oleh perubahan yang terjadi pada Akane.

Wajah Akane yang semula memucat dan hampir tidak sadarkan diri, kini menjadi lebih cerah dan sepertinya sesuatu dalam tubuhnya telah membaik.

"Akane..?" Akiha mencoba memastikan.

"Akiha? Apa yang terjadi?" balas Akane.

Mata Akiha langsung berbinar. Belum pernah Akane terbangun lagi, bila sudah batuk darah seperti barusan!

"Akane!" Akiha menjadi girang dan memeluk saudarinya.

"Akiha?" Akane merasa kebingungan.

"Akane.. kamu baik-baik saja?" tanya Akiha, memastikan sekali lagi.

"Un, aku merasa lebih baik setelah batuk tadi." kata Akane, masih tidak mengerti.

Akiha langsung menoleh ke arah Kaoru dengan wajah senang. Lalu, Kaoru pun membalasnya dengan senyuman.

"Terima kasih, Kaoru-chan." kata Akiha sambil membungkukkan badan.

Hal itu langsung membuat Akane terkejut bukan main. Ia langsung menyerukan nama saudarinya.

"Sama-sama, Akiha-sama. Saya senang dapat membantu dan melayani anda sekalian. Bila dibutuhkan, saya akan terus mengobati Akane-sama." kata Kaoru.

"Kaoru-chan. Mulai saat ini kamu tidak perlu berbicara terlalu formal kepada kami. Panggil saja kami Akiha dan Akane." kata Akiha, mendadak menjadi ramah kepada Kaoru.

"Akiha!!" seru Akane tidak terima.

"Namun, Akiha-sama.. Itu tidak sepantasnya." jawab Kaoru.

"Hihi. Tidak apa-apa. Lagipula, kamu telah menyembuhkan Akane. Tidak perlu menggunakan kata --sama-- lagi." ucap Akiha girang.

"Oi, Akiha!! Dasar bodoh! Aku belum sembuh tahu!" kata Akane kasar.

"Akane-san. Akiha-san. Bila masih perlu, saya akan menjelaskan mengenai situasi tadi. Namun, sebelum itu.." sanggah Kaoru.

"Sebelum itu.. apa, Kaoru-chan?" tanya Akiha.

"Saya ingin tahu mengenai kejadian yang membuat kondisi tubuh Akane-san menjadi seperti demikian. Hal ini sangat saya butuhkan agar dapat menyembuhkan Akane-san secara total." pinta Kaoru, dengan wajah yang kembali serius setelah tertawa manis.

Kedua gadis itu hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain. Kemudian, Akane berkata dengan wajah yang serius dan dingin; "Baiklah. Sepertinya kita memang harus bertukar informasi. Benar, bukan, Kaoru?"

Terpopuler

Comments

Harrison

Harrison

Kereennnn PINK 😍😍

2020-04-28

1

Duka Suka

Duka Suka

Aku cinta gaya menulis dan pilihan kata Jepang yg menarik dan tepat di karyamu ini thorr 😍😍

2020-04-27

1

Radio D:

Radio D:

Kreatif sekali !

2020-04-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!