Hari kedua di musim panas pun tiba.
Tak terasa, hari ini sudah giliran latihan kedua Akiha bersama dengan Saoru yang dilaksanakan dalam dua minggu sekali.
"Akiha." panggil Saoru, suara lelaki itu langsung membuat seluruh tubuh Akiha menjadi kaku dan sangat terkejut.
GLEK
"Ya, Saoru-kun?" gadis itu menoleh secara perlahan.
"Sini."
"A--apa maumu?" kata Akiha curiga.
"Sini." wajah Saoru langsung gelap dan sedikit menyeramkan.
"Ba--baiklah!" Akiha langsung berjalan cepat ke arah Saoru dengan sedikit gemetar.
"Ini."
"Eh..?"
Akiha mengamati tangan Saoru yang menggenggam sesuatu di hadapannya.
"Buka tanganmu."
Wajah Akiha langsung dipenuhi sorot kecurigaan dan kewaspadaan.
"Hmm.. apa ini? Kau mau menjebakku lagi, Saoru-kun?" ucap Akiha dengan alis terangkat sebelah yang menggambarkan keraguannya terhadap Saoru.
SRETTT
"Huwaaa!!" jerit Akiha.
Tiba-tiba lelaki itu menarik tangan Akiha dengan paksa, dan berhasil membuka telapak tangan gadis itu tanpa menggunakan tenaga sama sekali.
"Apa--apaan--!"
Sebelum Akiha meneruskan seruannya, matanya langsung tertuju pada benda kecil di atas telapak tangannya.
"Dasar bodoh. Ini kan hari ulang tahunmu. Memangnya kau berpikir apa tentangku?" ucap Saoru dengan ekspresi jutek.
"Ah.. lucunya." mata Akiha berbinar, ia terus mengamati benda kecil itu.
"Huh. Bodoh. Aku pergi sekarang." kata Saoru.
"Tunggu, Saoru-kun!" seru Akiha dengan cepat.
"Apa?" tanya Saoru, sambil berpaling ke arah Akiha.
"Te--terima kasih." jawab Akiha pelan, wajahnya sedikit merona.
"Tidak perlu berterima kasih." kata Saoru, dengan sekejap meninggalkan tempat itu setelah berpaling muka.
"Huh!" Akiha langsung kesal.
Walaupun geram, Akiha mengamati lagi benda kecil itu. Saoru memberi gadis itu sebuah benda kecil berbentuk kepala monyet yang lucu, berkilau, dan mirip perhiasan.
"Apakah ini perhiasan? Emas? Perak? Warnanya sedikit mirip keduanya." gumam Akiha sendirian.
Lalu, ia menyadari sesuatu.
"Ukh! Saoru-kun, dasar menyebalkan!"
Ekspresi wajah monyet itu sangat jenaka. Dengan lidah terjulur, monyet itu seperti mengejek Akiha.
Namun, beberapa detik kemudian, wajah Akiha melembut dan ia tersenyum.
"Mungkin Saoru-kun sebenarnya adalah orang yang baik." gumamnya seorang diri dengan senang.
Setelah berjalan-jalan di sekitar kuil, Akiha pun kembali ke kuil. Ia berjalan memasuki kamarnya, lalu..
DORRR
"Kejutan!" seru Kaoru.
"A--aa--aa.. Kaoru-chan?" Akiha langsung membeku dan menciut, seperti seekor kelinci yang terpojok.
"Hm? Kamu sedang apa, Akiha?" tanya Kaoru heran.
"Kaoru-chan. Tentu saja karena kamu mengagetkanku! Lagipula--" perkataan Akiha langsung terhenti, lalu ia terkesima melihat hidangan lengkap yang tersedia di atas meja kecil di kamarnya.
"Hihi. Kamu baru saja keluar dari kuil cukup lama, pasti kamu lapar. Ayo, makanlah, Akiha." ucap Kaoru dengan senyuman manisnya.
"Kaoru-chan..." air mata Akiha bergelinang, ia nampak sangat terharu.
"Eh?" Kaoru sedikit terkejut.
Akiha langsung memeluk Kaoru, lalu berkata; "Terima kasih, Kaoru-chan."
Kaoru tersenyum, lalu menepuk-nepuk punggung Akiha.
"Bukankah kita adalah keluarga? Jadi, kamu tidak perlu merasa sungkan, Akiha." ujar Kaoru.
"Hiks.. iya." jawab Akiha, sambil mengusap air matanya.
"Selamat ulang tahun, Akiha. Jangan bersedih di hari ulang tahunmu." suara Kaoru terdengar lembut dan manis.
"Kaoru-chan.. ngomong-ngomong, sejak kapan kamu memakai kacamata?" tanya Akiha, sambil mengamati perubahan kecil pada diri Kaoru.
"Ah-hahaha. Kau menyadarinya?" kata Kaoru.
Akiha mengangguk, lalu menjawab; "Tentu saja. Aku tidak secuek Saoru-kun, jadi aku pasti akan menyadarinya dengan cepat." jawab Akiha, sambil mulai memakan hidangan di atas meja itu.
Kaoru tertawa lagi, lalu membalas; "Ini bukan kacamata biasa, Akiha."
"Eh?!! Jadi, kacamata ini memiliki kemampuan khusus juga?!" seru Akiha terkejut.
"Hahaha. Bukan, bukan begitu."
"Lalu?"
"Kacamata ini adalah peninggalan ibu kami, Hikari Shima." ucap Kaoru.
"Hikari.. Shima?"
"Benar."
Akiha berpikir dan seperti mengingat-ingat.
"Ada apa, Akiha?" tanya Kaoru.
"Ah.. sekarang aku ingat. Bukankah Hikari Shima adalah seorang dengan kemampuan medis yang legendaris?" jawab Akiha tanpa basa-basi.
"Itu benar. Julukan ibuku adalah Dewi Obat Hasai. Waktu muda, ibuku tinggal di negeri Hasai. Ia benar-benar berbakat dan inovatif dalam dunia medis."
"Uwaa.. itu hebat sekali." puji Akiha, dengan tulus terkesan.
"Oleh karena itu, banyak sekali orang ingin berguru atau mencuri ilmunya dengan paksa. Ibuku berasal dari klan Sakuragi yang lemah, sehingga ia diculik dan dilarikan ke negeri Tsuki. Setelah itu, ia dipaksa untuk menciptakan berbagai obat-obatan secara rahasia dan ilegal."
"Obat-obat terlarang?" tanya Akiha, dengan penasaran.
"Benar. Obat-obat itu sebenarnya adalah hasil percobaan yang tidak boleh digunakan oleh manusia." jawab Kaoru.
"Obat-obat seperti apakah itu, Kaoru-chan?"
"Obat itu bermacam-macam.. semuanya berbahaya. Bahkan, obat itu pernah digunakan untuk membunuh orang lain."
"A--apa? Mengapa bisa begitu?" tanya Akiha, amat terkejut.
"Ibuku terpaksa menuruti mereka, karena bila tidak.. ia akan dilecehkan dan dibunuh.."
"Apa?!!" seru Akiha, merasa tidak terima.
"Ibuku.. benar-benar menderita. Untungnya, ada seorang pemuda yang menyelamatkannya." ulas Kaoru.
"Hihi. Jadi, begitu. Pemuda itu pasti ayahmu, bukan?" kata Akiha dengan senyuman puas.
"Bukan."
"Ehhh??!!" Akiha terkejut.
"Orang itu.. adalah ayah dari teman Saoru-niisan." kata Kaoru, wajahnya sedih dan muram.
Seketika, Akiha langsung teringat akan kisah Saoru dan Kaoru sebelumnya.
"Kaoru-chan.. jika aku boleh bertanya.. siapakah ayah kalian?" ucap Akiha dengan ragu-ragu, serta sedikit merasa kasihan pada Saoru dan Kaoru.
"Naoto Shima. Dia adalah seorang ahli perang yang amat terkenal dengan mulut besarnya." jawab Kaoru dengan ekspresi wajah yang biasa saja, berbeda dengan ekspresi wajahnya saat membicarakan tentang ibunya.
"Maksudmu, ayahmu suka membual? Ah.. maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu." kata Akiha, sambil menepuk bibirnya sendiri.
"Benar. Dia adalah pembual dan pecundang nomor satu di dunia." kata Kaoru tiba-tiba.
Hal itu membuat Akiha terkejut dan terheran-heran.
"Eh? Apa maksud--"
"Dia itu adalah seorang yang sangat menyebalkan dan kurang ajar kepada ibuku!" sanggah Kaoru.
"Ah.. kalau begitu, kamu tidak perlu menceritakan semu--"
"Dia itu benar-benar kotor! Dia membuat ibuku mengandung anaknya sebelum menikahinya, lalu ia mengubahkan ibuku...!" sanggah Kaoru lagi, sebelum Akiha menyelesaikan ucapannya.
"Ah.. ehehe.." Akiha hanya tersenyum seperti orang bodoh, karena tidak tahu harus berkata apa.
"Lelaki itu..! Dia membuat ibuku yang cerdas dan berkharisma menjadi seorang wanita yang terlihat tidak berisi dan terlalu sabar!" ucap Kaoru dengan meledak-ledak.
"Ka--Kaoru-chan.." Akiha berusaha menenangkan Kaoru, namun gagal.
"Pokoknya, lelaki itu sungguh menyebalkan dan tidak berpendidikan!! Selain itu, dialah yang memerintahkan untuk membawa ibuku ke negerinya dan hidup bersama klan Shima yang jauh lebih serakah dan buas dibandingkan klan manapun di dunia ini!!" kata Kaoru dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Mereka jatuh cinta."
Seketika, kedua gadis itu mendengar suara Saoru dari balik pintu geser kamar Akiha.
"Saoru-kun?" ucap Akiha.
"Mereka saling mencintai, oleh karena itu ibuku bersedia untuk hidup bersama ayahku." tegas Saoru dari balik pintu.
"Saoru-kun.." ucap Akiha pelan, sambil menoleh ke arah Kaoru yang menundukkan kepala dengan aura yang suram.
"Hah.. jika kalian ingin bergosip, jangan di kuil ini. Di luar saja, atau di hutan. Aku akan dapat mendengarnya, bila kalian tidak dapat menahan diri di tempat ini." ucap Saoru dengan santai dan jutek.
"Saoru-kun..!!" gerutu Akiha.
Sebelum membalas perkataan Saoru, tangan Kaoru tiba-tiba menyentuh pundak Akiha.
"Tidak apa-apa, Akiha. Ini salahku." ucapnya.
"Kaoru-chan.."
"Ternyata hingga saat ini pun aku masih terhasut oleh perkataan orang lain.." kata gadis itu dengan wajah sedih dan kecewa.
"Tidak apa-apa. Yang penting, kini kamu sudah mengetahuinya." balas Saoru, masih berdiri di balik pintu.
"Niisan.." mata Kaoru berkaca-kaca.
"Orang tua kita meninggal ketika ayah melindungi ibu dari klan Shima yang berkhianat kepadanya. Ayah jauh lebih mencintai ibu daripada kedua orang tua dan para anak buahnya sendiri. Semua anggota klan itu adalah sampah yang sejak dulu ingin dimusnahkannya." ucap Saoru dengan suara yang setenang air, namun entah mengapa Akiha dapat merasakan suatu kepedihan dalam suara Saoru.
Kedua gadis itu terdiam.
"Lagipula, ayah kita, Naoto Shima, adalah seorang yang terhormat dan berbakat. Dia hanya benci memakai kekuatannya untuk kekerasan. Mana mungkin seorang lelaki sepertinya mau membantu ibu, jika bukan karena perasaan khususnya?"
"Niisan.. maaf.. maafkan aku." ucap Kaoru, dengan menangis terisak-isak.
"Kaoru-chan.." Akiha menghibur Kaoru dengan merangkul pundak gadis itu dengan salah satu lengannya.
"Ayah dan ibu kita itu rupawan, seperti kita."
"Eh?" Akiha terpaku oleh perkataan konyol Saoru.
"Ah~~ aku jadi terlalu banyak bicara dengan kalian berdua. Sampai nanti." kata Saoru, hendak meninggalkan tempat itu.
"Tunggu, Saoru-kun!" panggil Akiha secara mendadak.
"Apa lagi?" tanya Saoru dengan nada suara malas dan jutek.
"Bukankah hari ini kita akan latihan?" kata Akiha, berusaha mengingatkan Saoru.
"Hmm. Memangnya aku pernah lupa? Hari ini batal. Aku akan kerepotan jika bocah manja sepertimu merengek kepadaku di hari ulang tahunmu." jawab Saoru santai.
"SA.O.RU-KUN!!" Akiha merasa amat kesal, lalu membuka pintu secara tiba-tiba dan berusaha menangkap Saoru.
Sayangnya, Saoru jauh lebih cepat dan lincah daripada Akiha, sehingga pemuda itu dengan mudahnya menghindar dan mengerjai gadis itu.
Kaoru hanya bengong melihat tingkah mereka berdua. Dua detik kemudian, Kaoru tertawa manis.
Akiha. Saoru-niisan. Terima kasih karena telah menjadi orang-orang yang terdekat denganku. kata Kaoru dalam hatinya yang terasa hangat dan penuh rasa syukur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Shinchan
omg thorr tulisan sempurna kyk ukiran ini maksudnya apa yah?? wkwkwk bercanda
2020-04-27
1
Zara Pizz
wooooowwww 😍👍🏻
2020-04-10
1
K World 1
bagus ditunggu lanjutannya 👍👍
2020-04-10
1