Bab 19

Saat itu di ruang tamu kediaman Isanobu Shuhei..

"Apa?!" seru Akiha.

"Benar. Kata sang kodok dia tidak memakan telur emas itu!" kata Isanobu.

"Hmm.. lalu, siapa yang mengambil telur emas sang putri?" ucap Akiha.

Salah satu dari para pelayan wanita yang tertawa-tawa kecil mendengarkan dan menyaksikan gurauan Isanobu beserta Akiha menjawab; "Sebenarnya, sang putrilah yang menjebak si kodok."

"Eh?!" seru Akiha, lalu ia berkata; "Mana mungkin seorang putri menipu kodok peliharaan dewa langit?"

"Hahaha. Itu karena sang putri telah jatuh cinta kepada dewa langit." jawab Isanobu.

"Apa? Itu tidak mungkin! Lagipula, tidak ada manusia yang pernah melihat sosok dan rupa dewa langit." bantah Akiha.

"Hahaha. Kau benar. Aku hanya mengarang cerita ini." kata Isanobu sambil tertawa-tawa.

"Eh..?!" Akiha kecewa, karena nampaknya gadis itu telah mempercayai kisah yang dibuat oleh Isanobu.

"Maaf, kamu lucu sekali, Nona Akiha." kata Isanobu dengan akrab.

"Hehe. Terima kasih karena telah bersepakat denganku, Isanobu."

"Ini juga merupakan suatu kehormatan bagiku yang biasa saja untuk dapat berbicara secara informal dengan seorang pahlawan yang hebat sepertimu, Nona Akiha." balas Isanobu.

"Ah.. sebenarnya bukan begitu." Akiha menjadi kikuk.

"Ngomong-ngomong, apakah Nona telah lama mengenal Saoru?" tanya Isanobu.

"Ah, itu.. sebenarnya, kami tinggal bersama."

"APA?!"

"Bu--bukan begitu. Maksudku, kami tinggal bertiga. Aku, Saoru-kun, dan Kaoru-chan." jelas Akiha secepat kilat.

"Kaoru?"

"Benar. Dia adalah adik perempuan Saoru-kun yang cantik dan baik hati, berbeda dengan Saoru-kun yang dingin dan tidak berperasaan." kata Akiha dengan cemberut.

"Hahaha. Tadi kamu membela Saoru, sekarang malah mencelanya." tawa Isanobu.

"Eh?! Kapan aku membela lelaki itu?!" seru Akiha terperanjat dan langsung bangkit berdiri.

"HAHAHAHA. Rupanya, memang benar bahwa Nona Akiha adalah seorang gadis yang lincah dan bersemangat. Begitulah kata Saoru." ucap Isanobu.

"Benarkah..?" wajah Akiha sedikit merona, lalu kegusarannya mereda dan ia duduk kembali.

"Apakah Nona menyukainya?" tanya Isanobu tiba-tiba.

"Siapa?"

"Saoru."

"Tidak."

"Benarkah?"

"Iya.. maksudku.."

"Hahaha. Kurasa Nona memang memiliki perasaan untuk Saoru." ujar Isanobu.

"Eh..? Mengapa Isanobu bisa berpikir demikian?"

"Hmm.. itu adalah misteri yang sering terjadi diantara wanita dan pria. Sejauh pengamatan dalam hidupku, dua orang lawan jenis yang sering berselisih sebenarnya saling memperhatikan satu sama lain." jawab Isanobu.

"Lalu, bagaimana dengan ibu Himiko?" tanya Akiha secara spontan.

"Ah.. itu.." Isanobu sedikit terkejut oleh pertanyaan Akiha.

"Maafkan aku. Jika hal itu membuat Isanobu merasa terbeban, lebih baik tidak jadi kutanyakan." putus Akiha.

"Bukan begitu. Sebenarnya, istriku telah meninggal dunia karena berusaha mengumpulkan tanaman obat ajaib di desa ini untuk Himiko." balas Isanobu.

"Tanaman obat.. ajaib?" ucap Akiha terheran-heran.

"Benar. Tanaman itu dapat membuat orang yang rutin mengonsumsinya langsung sembuh, jika beruntung. Apapun penyakitnya." jelas Isanobu.

"Lalu, jika tidak beruntung..?"

"Jika tidak beruntung, tentu saja orang itu akan mati."

"Apa?! Mengapa bisa begitu, Isanobu?" tanya Akiha terkejut.

"Itu karena tanaman itu memiliki berbagai keanehan. Tanaman itu dapat perlahan-lahan meracuni siapapun yang tidak kuat saat menyentuhnya, karena penolakannya untuk dipetik oleh manusia. Namun, Himiko amat membutuhkan obat itu."

"Lalu, bagaimana cara Himiko bertahan selama ini?" tanya Akiha semakin penasaran.

"Hmm. Seorang pemuda yang ahli menawarkan racun membantu kami. Seorang yang hebat dan gagah berani, bernama Takumi Matsu."

"Takumi.. ah, bukankah orang itu adalah kekasih Himiko?" ucap Akiha, semakin ingin tahu.

"Benar. Dia adalah seorang ahli ular, seperti yang telah kukatakan."

"Jadi, pemuda itu menawarkan racun tanaman obat dengan menggunakan bisa ular yang sama-sama beracun?" tanya Akiha, semakin tak paham dengan ucapannya sendiri.

"Hahaha. Bukan begitu. Tentu saja, hal itu akan terlalu berisiko dan berbahaya bagi tubuh Himiko yang lemah." ujar Isanobu.

"Ah, benar juga.."

"Takumi menggunakan suatu kemampuan yang hanya dimiliki olehnya, yaitu menawarkan racun melalui tubuhnya."

"Tunggu.. Bukankah racun itu akan membahayakan tubuh lelaki itu?" tanya Akiha kebingungan.

"Benar..." tiba-tiba Isanobu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang besar.

"Isanobu?"

"Ahh~~! Sebagai ayah, aku tidak tahu apakah perbuatanku ini benar atau tidak!" seru Isanobu.

"Eh? Apa maksudmu, Isanobu?"

"... Untuk menawarkan racun dalam tubuh Himiko setelah mengonsumsi tanaman ajaib itu.. putriku itu harus beberapa kali bersetubuh dengan pemuda itu." jawab Isanobu dengan gelisah.

"APAAA?!!"

"... Itu adalah satu-satunya jalan. Lagipula, mereka akan segera menikah."

"Astaga... aku jadi malu mendengarnya." ucap Akiha, sambil menyentuh kedua pipinya yang panas.

"Ah.. berapa usiamu, Nona Akiha?"

"Delapan belas tahun.."

"Ah...!!! Maafkan aku karena sudah lancang menceritakan hal yang tidak senonoh ini kepada Nona!!" seru Isanobu, dengan langsung bersujud hingga wajahnya menempel pada lantai.

"Ah!! Ti--tidak apa-apa. Aku sudah cukup paham.. hehehe.. Aku akan bermain dengan para pelayan wanita." ucap Akiha dengan malu, lalu beranjak dari ruangan itu, diikuti oleh beberapa pelayan wanita yang diizinkan meninggalkan Isanobu seorang diri.

Sementara itu...

"Oi, apa kamu punya rencana, Saoru?" ucap Takumi.

"Rencana apa maksudmu?" balas Saoru dengan santai dan cuek.

"Cih! Himiko.. bisa saja dia sedang mengandung."

"Hah?"

"Dia adalah istriku, tahu!"

"... Begitu. Aku tidak peduli."

"Apa katamu?! Lalu, untuk apa kau hendak menolongnya?" bentak Takumi.

"Maksudku, aku tidak peduli pada hubungan kalian. Yang terpenting adalah menyelamatkan Nona itu dan bayinya, jika dia memang sedang mengandung." jawab Saoru dengan ekspresi wajah jutek.

"Ah, begitu.. maaf." ucap Takumi kikuk, karena keceplosan.

"Terserah. Sebaiknya, kita cepat-cepat menemukannya, sebelum dia dan bayinya terbunuh." kata Saoru.

GLEKK

"Benar.. tidak ada waktu untuk berdalih." balas Takumi, dengan wajah yang tegang.

"Tenang saja. Sama sepertimu, aku takkan membiarkan musuh itu lolos tanpa meminta ampun. Dan, jika terjadi sesuatu kepada Nona Himiko, aku takkan segan-segan untuk membunuh musuh itu." tegas Saoru, menenangkan Takumi.

".. Terima kasih." ucap Takumi, dengan wajah tertunduk.

Beberapa saat kemudian..

"Ini dia tempatnya." kata Takumi.

"Ini.."

"Aku tahu. Tempat ini nampaknya terbuat dari pelindung tingkat tinggi.. semacam kekkai. Sepertinya, tidak akan mudah bagi kita untuk menerobos masuk... Sial!!" geram Takumi.

"Kalau begitu, kita coba hancurkan saja."

"Eh?"

"Sepertinya kau tidak tahu bahwa pedangku ini dikenal sebagai pedang naga karena kemampuannya memanggil siluman naga api." ujar Saoru.

"Benar juga. Mari kita coba hancurkan kekkai sialan ini." balas Takumi.

"Shokan, kakusei-jū!!"

Setelah menyerukan mantra tersebut secara hampir bersamaan, kedua monster yang amat besar dan mengerikan muncul dari masing-masing pedang Saoru dan Takumi.

"Bora, hancurkanlah kekkai ini!" perintah Saoru kepada monster naga api yang merupakan bidaknya.

Seluruh tubuh monster itu diselimuti oleh bara api berwarna merah yang dapat menghancurkan dan membakar apapun di sekitarnya.

"Baiklah, Tuan Saoru." jawab monster bernama Bora itu, lalu menghembuskan bola-bola api raksasa dari dalam mulutnya ke arah tempat persembunyian yang dilindungi oleh kekkai yang amat kuat tersebut.

Kekkai itu seperti terbakar, lalu..

"Bersiaplah, Hatsuon!" perintah Takumi kepada monster ular raksasa berwarna hijau zamrud yang merupakan bidaknya.

"Baik, Tuan Takumi." jawab monster bernama Hatsuon itu, lalu meluncurkan getah yang mirip bisa ular beracun, yang juga mampu membakar kekkai tersebut.

BLAARRR

Kekkai itu pun berhasil dihancurkan sepenuhnya, lalu kedua monster itu menghilang dari udara dan melesat kembali pada masing-masing pedang Saoru dan Takumi.

"Ukhh--" rintih Takumi.

"Oi, apa kau terluka?" tanya Saoru.

"Bukan. Nanti saja kujelaskan. Sekarang, kita harus segera menyelamatkan Himiko." tegas Takumi, dengan segera melompat masuk ke tempat yang mirip markas bawah tanah tersebut.

Terpopuler

Comments

Adinda Hapsari

Adinda Hapsari

LUar biasaaa 😻

2020-04-27

1

Kuki

Kuki

Baguss thor 😄

2020-04-17

1

익수 Lee

익수 Lee

saya tak faham benar tulisan anda. ㅎㅎ

2020-04-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!