Tak terasa, 2 tahun pelatihan bersama Kaoru telah berakhir. Kini, Akiha merasa lebih percaya diri dan tidak takut akan serangan musuh.
"Kaoru-chan. Terima kasih karena telah melatihku selama ini." ucap Akiha.
"Sama-sama, Akiha. Sejauh ini kamu telah berusaha dan pantang menyerah, teruskanlah semangatmu itu." balas Kaoru.
"Un, aku mengerti!"
"Aku telah mengakui kemampuanmu, Akiha. Jadi, jangan mengecewakanku ya." kata Kaoru.
"E--eh?! Mana mungkin aku akan mengecewakan Kaoru-chan? Tapi.." Akiha langsung kalang kabut.
"Tapi?"
"Apakah pelatihan dari Saoru-kun begitu sulit?"
"..." Kaoru hanya menatap Akiha dengan diam saja.
"Mmm.. kelihatannya sulit.. karena Kaoru-chan hanya diam saja." Akiha langsung lemas.
"Memang sulit. Namun, sesulit apapun itu, pasti ada cara untuk mengatasinya. Bila kamu beruntung, setengah dari kemampuan Saoru-niisan bisa saja kamu dapatkan."
"Uwahh.. apakah Saoru-kun sekuat itu?!"
"Benar. Niisan sangat kuat. Walaupun kami berdua tidak berasal dari klan terkuat di dunia ini, Saoru-niisan mungkin saja sekuat atau hampir melebihi klan itu."
Akiha terkesima, lalu berkata; "Klan Kurosawa, bukan?"
Kaoru mengangguk, lalu menambahkan; "Sejauh ini, hanya Saoru-niisan yang berhasil berguru dengan hampir seluruh anggota klan Kurosawa. Padahal, mereka semua amat angkuh, keras, dan tangguh. Mereka takkan segan-segan membunuh Saoru-niisan, bila mereka mengalahkan niisan pada saat latihan fisik."
"Eh?! Berarti saat itu Saoru-kun harus menang, bukan? Itu seperti pilihan yang berat.."
"Benar. Kalah bukan pilihan bagi niisan. Selain gagal menguasai kemampuan mereka, niisan akan mati terbunuh dengan sia-sia. Namun, niisan masih memilih untuk berguru dengan mereka."
"Bukankah itu sama saja dengan menantang mereka? Bagaimana mereka dapat setuju untuk mengajari Saoru-kun?" tanya Akiha spontan.
"Aku senang karena kamu cepat menangkap, Akiha. Tentu saja, mereka setuju karena melihat potensi niisan. Namun, mereka yang angkuh dan licik itu tidak akan mungkin memberikan semua ilmu mereka dengan cuma-cuma." kata Kaoru.
"Lalu.. apakah mereka menginginkan sesuatu dari Saoru-kun?" tanya Akiha, dengan penasaran dan sedikit berdebar.
"Mereka menginginkan atribut. Namun, mereka gagal meminta niisan untuk mencarinya, karena hal itu bukan takdir niisan."
"Atribut? Apa itu?"
"Tujuh atribut sakti di dunia ini, yang dapat mengalahkan segalanya. Ketujuh atribut itu harus didapatkan seluruhnya agar memiliki kekuatan mutlak dan sempurna." ujar Kaoru.
"Ti--tidak mungkin. Mana mungkin ada benda seperti itu di dunia ini?" kata Akiha, tidak percaya.
"Hal itu memang konon sulit dipercayai. Sebagian besar orang di dunia ini telah melupakan tentang adanya atribut-atribut itu, serta berpikir bahwa Aoi Kurosawa memang kuat karena sudah merupakan takdirnya untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, aku tidak sepenuhnya mempercayai bahwa kemampuan klan Kurosawa itu cukup."
Akiha terkesima, namun juga merinding.
"Dulu, setelah kematian Aoi Kurosawa, ada banyak sekali orang yang berebut dan saling membunuh demi mendapatkan atribut-atribut itu. Namun, menurut legenda, atribut-atribut tersebut tersebar ke seluruh dunia. Entah siapa yang melakukannya, pasti orang itu amat kuat atau mungkin berkuasa atas artribut-atribut itu. Tak sedikit dan jarang dari mereka yang berusaha mencari atribut-atribut itu, namun belum pernah ada orang yang kembali dengan selamat dan hidup."
GLEK
Keringat dingin mulai menetes dari dahi Akiha menuruni pelipisnya. Tak lama kemudian, ia berkata; "Jadi.. tugasku adalah mendapatkan semua atribut itu?"
Kaoru hanya terdiam dan wajahnya amat serius. Sebelum membuka mulut, ia menyentuh tangan Akiha yang gemetaran.
"Akiha. Kamu tidak perlu takut. Kami akan melatihmu hingga menjadi kuat, bila perlu kami akan mengajarimu seluruh kemampuan kami. Dan yang terpenting adalah kami tidak akan meminta imbalan ataupun korban apapun darimu. Walaupun harus mati, kami akan melindungimu dan menolak untuk dikalahkan musuh sebelum kamu mendapatkan seluruh atribut itu." ucap Kaoru dengan nada suara yang serius dan lembut.
"Kaoru-chan.."
"Kami berjanji untuk selalu setia padamu."
"Kaoru-chan, kamu telah berbaik hati mengajariku kemampuan istimewamu. Aku telah banyak belajar darimu selama 2 tahun ini.. mulai dari kemampuan menyembuhkan luka dan regenerasi tubuh, teknik dan strategi melawan musuh, teknik berlindung dan bersembunyi dari musuh, dan lain sebagainya.. Oleh karena itu, mana mungkin aku akan membiarkan Kaoru-chan dan Saoru-kun mati untukku? Tidak, aku takkan membiarkannya. Sudah merupakan takdir dan kewajibanku untuk mencari ketujuh atribut itu walaupun rintangannya semengerikan dan sesulit apapun. Selain itu, aku pasti akan menggenapi janjiku untuk membalas perbuatan para pemicu permusuhan dan kerusuhan dalam klan kalian berdua!" ucap Akiha.
"Akiha.."
"Tidak adil bagi kalian bila harus mati seperti itu! Kalian juga memiliki alasan untuk hidup, selain menjadi pembimbing dan pelindungku!" kata Akiha, semakin meyakinkan.
"Akiha.." mata Kaoru berkaca-kaca.
"Tenang saja. Mulai saat ini, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk merubah diriku yang penakut dan lemah menjadi pemberani dan tidak terkalahkan! Bila Kaoru-chan dan Saoru-kun berada di pihakku, untuk apa aku takut dan mundur?" ucap Akiha dengan tulus.
"Akiha.. terima kasih." Kaoru merangkul Akiha.
"Hehe. Ini bukan apa-apa, Kaoru-chan. Takdirku memang seperti ini."
"Bukan hanya itu. Kamu memang baik hati, Akiha. Tak salah aku mengajarimu berbagai hal. Saat ini, aku jauh lebih mempercayaimu. Kamu pasti akan menjadi sangat kuat, bahkan melampaui Aoi Kurosawa." kata Kaoru, dengan senyuman manis yang langsung membuat Akiha bersemangat.
"Hihi. Terima kasih juga, Kaoru-chan!"
"Tunggulah di sini. Sekarang, aku akan menemui Saoru-niisan dan mendiskusikan mengenai pelatihan berikutnya." kata Kaoru, sambil bangkit berdiri.
Akiha menurut. Sementara duduk dan menunggu di dalam ruangan bernuansa bambu yang indah dan rapi itu, ia merenungkan semua perkataan Kaoru.
Bila mematikan dan berbahaya, aku sungguh tidak ingin mengorbankan Saoru-kun dan Kaoru-chan. Apakah aku akan berhasil mendapatkan ketujuh atribut tersebut? pikiran itu terus berkecamuk dalam benak Akiha.
Beberapa saat kemudian..
"Akiha."
Akiha mendengar suara Saoru yang memanggilnya dari luar pintu geser ruangan yang ditempati olehnya.
"Ya?" jawabnya dengan cepat.
"Keluarlah. Ayo, kita mulai latihan yang sesungguhnya."
Akiha sedikit berdebar, sehingga tangannya pun ikut gemetar. Namun, ia tidak berhenti melangkah dan tangannya menyentuh ujung pintu.
"Akiha."
DEG
"Ya, Saoru-kun?" tanya Akiha dengan gugup.
"Tidak perlu khawatir."
Seketika, Akiha langsung sadar.
"Benar. Untuk apa aku khawatir? Saoru-kun tak mungkin akan membunuhku." jawab Akiha dengan meringis.
"..." Saoru tidak menjawab.
"Aku keluar sekarang."
Akiha pun membuka pintu dan..
"Saoru-kun.."
Lelaki itu terlihat sama sekali berbeda dari biasanya. Ia bertelanjang dada, kemudian tubuh dan tangannya yang maskulin dibalut oleh perban. Ia mengenakan celana panjang berwarna merah kecoklatan, serta ikat kepala yang berwarna merah. Sebelumnya, ia mengenakan pakaian tertutup berwarna putih tulang dan menyelempang sebilah pedang yang nampaknya jarang sekali digunakan olehnya.
Entah apa yang membuatnya berganti dari penampilan yang tenang dan berkelas menjadi terlihat amat maskulin dan sedikit mengancam. Namun, ketampanannya masih membuat gadis itu terpesona.
"Saoru-kun.. kau terlihat berbeda." ucap Akiha, sedikit tersipu.
"Akiha. Mulai sekarang, aku akan melatihmu agar kamu memahami arti bertahan hidup dari serangan dan bahaya secara fisik. Tidak perlu khawatir, mungkin tulang-tulang dan tubuh kecilmu akan remuk. Namun, aku takkan sampai membunuhmu."
DEG
"A--apa?" gadis itu langsung terperanjat.
Saoru menatapnya dengan senyuman miring, serta sorot mata yang nampak serius dan berbahaya.
"Niisan, berjanjilah padaku untuk tidak membunuhnya." ucap Kaoru yang muncul di sisi halaman luas itu secara tiba-tiba.
"Tidak usah ikut campur, Kaoru. Akiha, bersiaplah! Mulai saat ini, kamu harus menyerangku dengan niat untuk membunuh. Bila tidak, aku takkan dapat menjamin seberapa mungkin kamu dapat bertahan dari seranganku. Yang terburuk, bisa saja kau mati."
Kaoru hendak mengucapkan sesuatu, namun ia tak dapat berkata-kata lagi dan mengurungkan niatnya, seketika ia melihat perubahan sorot mata kakaknya.
Mata itu.. iris mata merah yang indah. Namun, tentunya akan sangat berbahaya jika harus melawannya. Kini, kemampuan khusus dari sepasang mata itu akan segera diketahui oleh Akiha. Mata yang telah mengalahkan musuh, hingga tak terhitung banyaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Bakwan S
UAPIKK!!
2020-04-17
1
Bayam Asin
Apik Ceritamu Thorr!!
Andai yg nyebar cerita karanganmu dan bkn virus corona wkwkwk..
2020-04-16
1
SoniaC
Bagus jadi demam Jepang! 💕
2020-04-16
1