Bab 7

Setelah kejadian itu, dengan berat hati Akiha memutuskan untuk meninggalkan Akane seorang diri.

"Kutitipkan Akane kepada anda, Meishu-sama." ucap Akiha dengan hormat.

"Baiklah. Kami akan menjaganya. Tidak usah khawatir, dia akan dijaga ketat oleh klan-klan terkuat yang melayaniku. Dia takkan bisa kabur dengan kondisi tubuh seperti itu. Genapilah takdirmu, Akiha." balas Meishu.

"Terima kasih, Meishu-sama." Akiha bersujud kepada sang Meishu hingga wajahnya mendekat ke tanah.

"Akiha, berdirilah. Mulai saat ini, kau adalah pahlawan kami semua. Jangan berkecil hati dan merendahkan dirimu sendiri. Akulah yang seharusnya menghormatimu." Ijime Meishu balas hormat kepada Akiha.

"Meishu-sama.."

"Mulai saat ini, panggilah saya Ijime. Akiha-sama. Pergilah bersama dengan para pengawal anda. Bila perlu, kami juga akan menyediakan beberapa penga--"

"Tidak perlu." sanggah Saoru.

"Eh?" sang Meishu terkejut.

Baru saja Akiha menceritakan mengenai Saoru dan Kaoru kepada Ijime Meishu, lalu dua orang itu telah hadir di hadapan mereka.

"Kami tidak akan terluka sedikitpun, bila itu berkaitan dengan menjaga Akiha-sama. Selain itu, kami rela mati untuk Akiha-sama." jelas Saoru.

"Saoru-kun..!"

Sang Meishu terkejut, lalu ia tersenyum puas; "Baiklah. Kuserahkan Akiha-sama kepada kalian. Tak kusangka pelindung dari dewa langit akan berusia semuda kalian."

"Biarpun masih muda, kekuatan kami masing-masing melebihi seratus ribu orang yang lebih dewasa." kata Saoru dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

"!!!"

Akiha dan Ijime Meishu terkesima.

"Baiklah, anak muda. Tolong lindungi Akiha-sama." ucap sang Meishu.

"Kami tidak hanya akan melindunginya. Kami akan mengajarinya hingga menjadi kuat." kata Saoru.

"Saoru-kun.." wajah Akiha merona.

"Akiha-sama. Mari kita pergi." ajak Kaoru.

"Un, Kaoru-chan." Akiha tersenyum.

Akhirnya perjalanan kami akan dimulai. batin Akiha dengan bersemangat.

"Ah~~ merepotkan sekali. Kami harus terus memanggilmu Akiha-sama di hadapan orang lain, namun kamu meminta kami untuk memanggilmu Akiha." gerutu Saoru, setelah mereka berpisah dengan sang Meishu dan hendak memulai perjalanan mereka.

"Niisan." ucap Kaoru.

"Maafkan aku." ucap Akiha.

"Tidak perlu meminta maaf. Ayo, kita mulai perjalanan ini." kata Saoru dengan tenang dan santai.

"Ya!" ucap Akiha, nampak bersemangat.

Saoru dan Kaoru hanya mengamati Akiha sekilas, lalu berpaling dan diam saja.

"Ngomong-ngomong, kita akan kemana?" tanya Akiha.

"Ikut saja dengan kami. Kau akan tahu." jawab Saoru.

Akiha pun menurut.

Mereka berjalan keluar desa, melalui jalanan berbukit-bukit, sungai, hutan, lalu..

"Akiha. Latihanmu akan dimulai di sini." Saoru berhenti melangkah dan berpaling ke arah Akiha.

"Eh? Bukankah ini.. kuil?" Akiha menatap ke atas pada sebuah kuil besar dan sekelilingnya.

"Kuil ini adalah kuil terbesar yang berada di perbatasan antara desa Shorai dan desa Hino. Nama kuil ini adalah Zenshu." jelas Kaoru.

"Desa Hino..? Itu berarti kita telah mendekati negeri Hasai?" Akiha terperangah.

"Benar. Kuil ini akan menjadi tempat pertamamu mempelajari tentang kemampuan khususmu dan meningkatkannya berkali lipat." kata Saoru.

"Kemampuan khususku?" tanya Akiha.

Saoru mengangguk, lalu menambahkan; "Benar, seperti yang kau gunakan saat Akane hendak menyerangku. Apa kau menyadarinya?"

"Eh?" sekejap, Akiha langsung mengingatnya.

"Akiha, kamu pasti kurang menyadari atau belum menyadarinya." kata Kaoru.

"Kaoru-chan. Apa maksudmu?" tanya Akiha.

"Itu dari kedua orang tuamu, Akiha." jawab Kaoru.

DEG

Wajah Akiha yang terkejut langsung berubah menjadi serius.

"Kedua orang tua kalian ingin melindungimu dari Akane. Oleh karena itu, sebelum Akane membunuh kedua orang tua kalian dan menipumu, mereka menyalurkan seluruh kekuatan atau kemampuan khusus mereka kepadamu." jelas Kaoru.

"Otōsan.. Okāsan.." air mata Akiha bergelinang, lalu ia mengusapnya.

"Oleh karena itu, kamu harus menjadi kuat demi kedua orang tuamu. Lalu, kamu akan dapat mengubahkan saudarimu, serta semua orang jahat yang perlu diberi pelajaran itu. Bersiaplah, Akiha!" kata Saoru.

"Baik!" balas Akiha.

Akhirnya, latihan itu akan dimulai. Akiha amat menantikannya.

"Sebelum itu.." ucap Saoru tiba-tiba.

"Eh? Ada apa, Saoru-kun?" tanya Akiha.

"Kuserahkan kau kepada Kaoru. Ia akan mengajarimu dasar-dasar mengenai kemampuan khusus manusia di dunia ini."

Setelah berkata demikian, Saoru berjalan dua langkah dan menghilang dari tempat itu.

"Eh?! Saoru-kun.. kemana dia?" Akiha kebingungan.

"Akiha." panggil Kaoru.

"Kaoru-chan."

"Mari, ikut aku."

Akiha menurut, lalu berjalan mengikuti Kaoru dan menaiki tangga yang menukik tinggi menuju bagian tengah kuil.

"Ini.." gumam Akiha.

"Benar. Halaman yang luas ini akan menjadi tempat pelatihan fisikmu nanti. Saat ini, mari kita duduk di dalam kuil." kata Kaoru.

Setibanya mereka di dalam salah satu ruangan di kuil besar tersebut, Kaoru langsung menarik dua alas bantal ekstra yang terletak di salah satu sisi ruang, dan mengajak Akiha duduk di bawah meja.

"Kaoru-chan, mengapa kamu mengambil dua alas bantal lagi? Apakah tidak apa-apa?" tanya Akiha polos.

"Alas bantal ini amat tipis. Tenang saja, Akiha. Kita diperbolehkan untuk menggunakan seluruh perlengkapan di kuil ini demi latihanmu. Bahkan, kita boleh merusakkan dan mengambrukan kuil ini." kata Kaoru dengan wajah serius.

"Ehh??!! Kamu pasti bercanda, Kaoru-chan. Mana mungkin kita boleh melakukan itu?" Akiha terkejut dan langsung berdiri.

"Hahaha. Benar, aku hanya melebihkannya."

Akiha terkesima. Ternyata, gadis feminin yang terlihat sedikit pendiam dan tertutup ini dapat bercanda juga. Selain itu.. ia juga mengalahkan Akane.

"Ok. Kita mulai sekarang, Akiha." Kaoru menyuruh Akiha duduk kembali dengan isyarat tangan.

Akiha mengangguk, lalu duduk dan tersenyum.

"Pertama-tama, sebelum menguasai sebuah kemampuan khusus secara total, ada dua hal yang harus kamu pahami." kata Kaoru.

Sorot mata Akiha semakin penasaran dan fokus mendengarkan.

"Yang pertama adalah jenis kekuatan. Lalu, yang kedua adalah tipe serangan musuh."

"Eh? Bukankah kedua hal itu sama saja? Keduanya berhubungan dengan kemampuan khusus, bukan?" mata Akiha berkedip karena bingung.

"Mungkin terdengar sama. Namun, tidak demikian. Jenis kekuatan mengacu pada kapasitas dalam tubuh seseorang dan cara orang itu mengontrol kekuatan atau kemampuan khususnya. Sedangkan, tipe serangan musuh mengarah kepada tingkat kepekaan, analisis, dan cara untuk mengalahkan musuh."

"Ah.. begitu rupanya. Kamu hebat, Kaoru-chan." ucap Akiha, matanya berbinar.

"Eh? Tidak.. tidak terlalu." jawab Kaoru.

"Itu benar. Aku tidak berbasa-basi atau berbohong. Saoru-kun dan Kaoru-chan memang hebat dan unik. Kalian juga banyak tahu." kata Akiha dengan senyuman yang tulus.

"Akiha.." mata Kaoru juga sedikit berbinar.

Akiha meringis dan berkata; "Hihi. Aku merasa senang dan terhormat karena dapat belajar dari kalian berdua."

"Baru kali ini ada orang yang memuji kami.." ucap Kaoru.

"Eh? Maksudmu, keluargamu tidak pernah memujimu? Ah.." sekejap, Akiha langsung teringat akan kisah mereka.

"Meskipun kami pernah dielu-elukan oleh masing-masing dari dua pihak yang saling bermusuhan dalam klan kami, kami tidak pernah menganggapnya sebagai suatu pujian ataupun pengakuan." ucap Kaoru.

"Kaoru-chan.."

"Mereka hanyalah orang-orang dewasa yang saat itu hendak memanfaatkan kami demi kekuasaan dan keserakahan mereka sendiri. Mereka adalah manusia-manusia kejam yang akan mengkhianati kami, bila keinginan mereka tidak kami patuhi. Kedua orang tua kami bekerja sebagai tenaga medis dan tidak dapat bertarung, mereka dijadikan pekerja paksa dan disembunyikan di suatu tempat yang gelap dan dalam.. hingga kami tidak dapat menemukan dan menyelamatkan mereka. Hingga hari itu.. sebagian besar anggota klan kami yang masih berada di pihak yang sama dengan kami dibantai oleh kedua pemimpin permusuhan itu. Kami berhasil menemukan kedua orang tua kami, namun sudah terlambat. Ketika kami hendak mengejar mereka pun juga.. terlambat. Kami amat menyesal dan tentunya ingin membalas dendam.. Namun, saat itu.. Saoru-niisan berkata-kata kepadaku untuk pertama kalinya."

"Kaoru-chan.. bolehkah aku mengetahuinya?"

Kaoru mengangguk, lalu melanjutkan; "Niisan memanggil namaku untuk pertama kalinya. Kemudian, aku menyela karena tidak ingin berbicara dengannya. Dalam hati kami saat itu.. kami pasti saling menyalahkan satu sama lain atas kematian kedua orang tua kami, karena selama itu kami telah sibuk bermusuhan dan dihasut oleh para tetua di klan kami. Perkataan niisan selanjutnya tidak dapat kulupakan. Ia berkata bahwa ia tidak membenci ataupun mendendam atas semua perbuatanku kepadanya, dan bahwa kami akan selalu terikat oleh panggilan khusus sebagai kakak beradik. Aku pun sadar bahwa selama itu aku telah salah menilainya."

"Kaoru-chan.. apakah dulu.. kalian saling.. membunuh?" tanya Akiha pelan dan ragu-ragu.

"Benar. Namun, dulu aku jauh lebih kejam daripada niisan.. aku pernah membunuh salah seorang teman dekatnya. Sedangkan, dulu niisan hanya mengancam pihak yang dengan bodohnya kubela mati-matian.." tiba-tiba, air mata Kaoru menetes.

"Kaoru-chan." Akiha mendekati Kaoru dan memeluknya.

"Aku berjanji, Akiha. Aku akan mengajarimu agar kamu menjadi pemberani dan kuat. Kamulah yang akan mengubahkan paradigma yang keliru dan membatalkan semua kejahatan manusia di dunia ini."

"Aku juga berjanji. Kaoru-chan. Saoru-kun. Aku pasti akan membuat pihak-pihak yang mengacaukan dan membinasakan klan kalian meminta ampun dan menjalani hukuman yang setimpal dengan kekejian mereka. Mari kita biasakan untuk menghukum dan bukan membunuh sesama kita, Kaoru-chan."

"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Akiha."

Sejak hari itu, diantara ketiga anak muda tersebut kedekatan dan keintiman yang bagaikan keluarga mulai terjalin. Mereka tinggal di kuil kosong itu dan berlatih bersama setiap hari.

Akiha membangkitkan berbagai kemampuan khusus yang selama ini belum pernah disadari telah dimiliki olehnya. Pelatihan bersama Kaoru berjalan selama 2 tahun, sementara Saoru akan memulai pengajaran yang sesungguhnya lebih berat selama satu tahun berikutnya.

Terpopuler

Comments

Kushina Uzumaki

Kushina Uzumaki

Sensei bagus bangett tulisanmuu. Benernya aku jg penulis, tapi bkn di noveltoon hahaha

2020-04-27

1

Angkasa 7

Angkasa 7

KERENN 😄

2020-04-17

1

Wawan HidayaT

Wawan HidayaT

SERU ABIZ SEMANGATT THORR💪💯

2020-04-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!