Beberapa saat kemudian..
"Ng.."
"Akiha. Kamu sudah sadar?" ucap Kaoru.
"Kaoru-chan. Apa yang telah terjadi?" tanya Akiha, seraya bangun dan duduk di atas futon.
"Kamu tidak ingat, Akiha? Kamu telah pingsan selama 8 jam."
"Eh?! Delapan jam?" Akiha amat terkejut.
"Benar. Kamu beruntung. Bila efeknya lebih parah, bisa-bisa kamu akan bangun setelah beberapa hari atau.." ujar Kaoru.
"Atau?"
"Atau kamu takkan pernah bangun lagi." jawab Kaoru.
"Hehhhh??!!" seru Akiha terkejut bukan main, sambil memeras kepalanya sendiri, lalu melihat kesana-kemari.
"Hahaha. Saoru-niisan tidak ada di sini, Akiha."
"Kaoru-chan~~ teganya kamu menakut-nakutiku. Aku kan jadi serius menanggapinya. Aku sempat ketakutan setengah mati, tahu."
Kaoru masih tertawa kecil, namun berkata; "Maaf, tapi reaksimu benar-benar lucu. Namun, perkataanku tidak sepenuhnya bercanda, Akiha."
"A--apa katamu?"
"Bila kamu tidak berhasil keluar dari dimensi dan permainan waktu yang diciptakan oleh Saoru-niisan, kamu akan terus terperangkap dan hidup dalam dunia maya tersebut. Selain itu, bila tidak berhasil keluar, kamu pasti akan mati. Pada akhirnya, hal-hal yang paling kau takutkan, serta penyiksaan demi penyiksaanlah yang akan muncul. Oleh karena itu, belum pernah ada orang yang berhasil keluar dari kegelapan yang mencekam itu, bila mereka tidak dilepaskan atau melepaskan diri." jelas Kaoru.
Akiha terlihat sedikit gugup, lalu ia berkata; "Apakah itu semacam perangkap halusinasi?"
"Mmm.. daripada mengatakannya sebagai halusinasi, itu lebih seperti hipnotis."
"Hipnotis? Ah, aku mengerti. Berarti sejak awal aku seharusnya tidak melihat ke arah matanya."
"Bukan begitu, Akiha. Kemampuan mata itu jauh lebih mengerikan. Meskipun menutup mata, kamu takkan dapat menghindari kekuatan mata itu."
"Eh?! Lalu, bagaimana caraku melawan Saoru-kun? Bukankah sudah pasti bahwa Saoru-kun akan mengalahkanku?" ucap Akiha.
"Benar."
Akiha langsung lemas.
"Namun, memang ada cara untuk menghindari mata itu."
"Eh?" Akiha menjadi semakin penasaran.
"Mata itu dapat menciptakan apapun sesuai keinginan atau pemikiran Saoru-niisan. Satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah berada sejauh mungkin dari Saoru-niisan. Tak lain adalah bersembunyi."
"Pertarungan jarak jauh?"
Kaoru mengangguk, lalu menambahkan; "Pada jarak tertentu atau keberadaan yang tidak terlihat oleh Saoru-niisan, kamu dapat meluncurkan seranganmu. Tidak ada gunanya bila kamu ketahuan atau berada di daerah jangkauannya."
"Eh?!! Apakah Saoru-kun memiliki mata di balik punggungnya atau semacamnya?!"
"Tepatnya adalah kemampuan untuk menangkap musuh dalam 360 derajat, serta melumpuhkan musuh dengan serangan tak terlihat secara bertubi-tubi."
"Ka--kalau begitu.. mana mungkin aku dapat mengalahkan Saoru-kun?" ucap Akiha, semakin gugup dan ragu.
"Akiha. Jangan berkecil hati. Ingatlah, tujuan Saoru-niisan yang sebenarnya bukanlah untuk menindas atau membunuhmu, melainkan untuk melatih dan meningkatkan kemampuanmu." kata Kaoru.
Seketika, kilat semangat di mata Akiha langsung timbul.
"Ah, benar juga. Untuk apa aku takut lagi? Hehe.."
"Namun, kamu masih harus berhati-hati dan jangan lengah. Bila kamu ceroboh, bisa saja kamu akan terluka parah atau mati pada saat berhadapan dengan niisan." kata Kaoru, terus mengingatkan Akiha.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan berhati-hati. Itu berarti, mata itu masih memiliki batas kemampuan. Aku jadi lega mendengarnya. Selanjutnya, aku pasti akan mengalahkan mata itu." kata Akiha, menyimpulkan perkataan Kaoru.
"Akiha.." Kaoru sedikit tertegun.
"Tenang saja. Aku benar-benar akan menerapkan apa yang telah kau ajarkan padaku selama dua tahun ini, Kaoru-chan." tegas Akiha, dengan senyuman.
Seketika, Kaoru tersenyum dan menganggukkan kepala. Kemudian, ia berkata; "Baiklah. Sekarang kita makan malam dulu, Akiha."
"Makan malam..?" Akiha menjadi pusing karena teringat bahwa ia telah pingsan selama itu.
Kaoru tertawa kecil, lalu menarik lengan Akiha hingga gadis itu bangkit berdiri dan mengikutinya.
Mereka berjalan menuju bagian belakang kuil. Di sana, mereka melihat Saoru yang telah memasak makan malam berupa sup dan jagung bakar.
"Uwaa.. Saoru-kun, ternyata kamu pandai memasak!" ucap Akiha.
"Hm.. biasa saja. Kalau cuma seperti ini sih, siapapun juga bisa." kata Saoru dengan ekspresi wajah cuek dan jutek.
"Boleh kucoba?" tanya Akiha.
"Silahkan." Saoru memberinya sendok.
"..! Saoru-kun.. ini.."
Saoru dan Kaoru menatap Akiha dengan ekspresi wajah yang berbeda, namun sama-sama menunggu.
"Lezaaat sekalii!!" kata Akiha dengan gerakan tubuh seolah melayang, seperti berada di langit ke tujuh.
"Eh?!!" gantian Kaoru yang terkejut, lalu mengambil sendok dan mencobanya.
Setelah memasukkan sendok itu ke mulutnya, tiba-tiba Kaoru berkata; "Ini.. tidak mungkin."
"Hm?" Saoru menatap dua orang gadis itu dengan mata santai yang menyipit.
"Niisan.. apa yang telah kau lakukan sebelum kita bertemu Akiha?" ucap Kaoru.
"Apa maksudmu?" kata Saoru dengan jutek, sambil mengipas-ngipas jagung bakar dan api di bawah gentong berisi sup itu.
"Apakah niisan.. belajar memasak?" tanya Kaoru dengan wajah curiga.
Saoru hanya memalingkan muka dan tidak menjawab.
"Niisan!" kata Kaoru jengkel.
"Saoru-kun." panggil Akiha tiba-tiba.
"Apa?" jawab Saoru cuek dan terlihat tidak suka.
"Kau memang aneh." ucap Akiha.
Saoru menatapnya heran; "Heh?"
Kaoru menahan tawa.
"Saoru-kun. Aku benar-benar tidak dapat memahamimu. Tadi kamu terlihat amat bengis dan menyeramkan. Sekarang, kamu terlihat seperti koki rumahan yang tidak berbahaya. Mungkin semua orang kuat itu memang aneh." kata Akiha blak-blakan.
Saoru sedikit geram. Namun, ia hanya mengabaikan Akiha.
"Sungguh. Kamu benar-benar sulit ditebak. Kamu itu--"
SATTT
Dalam sekejap dan tidak terduga, tiba-tiba Saoru telah bangkit berdiri dan memasukkan sesuatu ke dalam mulut Akiha.
"Eh.. Hu--huwaaaaaaa!!!"
Seketika, Akiha langsung menjerit.
"Niisan! Jagung itu masih panas!" tegur Kaoru, sambil menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya kepada Akiha.
"Aku hanya memberinya makan. Dia cerewet sekali karena lapar." balas Saoru dengan tenang dan jutek.
"Niisan!"
"Saoru..kun ! Kau... !" kata Akiha dengan nafas terengah-engah, setelah meneguk segelas air dengan cepat.
"Sudah, jangan buang-buang waktu dan tenaga. Cepat duduk dan makanlah." ucap Saoru dengan santai dan cueknya.
"Saoru-kun!!!"
Seruan kesal Akiha tersebut menggema di seluruh kuil, sehingga binatang-binatang di hutan yang terletak di sekitar kuil itu pun terkejut.
Akhirnya, Saoru berhasil membuat Akiha terdiam setelah ia memberi gadis itu semangkuk sup yang lezat itu.
Akiha dan Kaoru terlihat amat menikmati sup dan jagung bakar tersebut. Sementara itu, mereka tidak menyadari bahwa Saoru mengamati mereka dengan sebuah senyuman yang lembut.
"Rakus sekali sih, dasar dua orang bocah kerdil." ucap Saoru.
Kedua gadis itu langsung menatapnya garang dan kesal.
Saoru hanya menahan tawa, lalu makan bersama dengan mereka.
Inikah rasanya memiliki keluarga, Akiha? kata Saoru dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Matcha Cookies
baguss 👍🏻
2020-04-09
1
Karen Chua
ohh novel baru ini menarik banget. nanti aku baca ya pink. sorry baru ngecek❤
2020-04-04
1
Channi
bagusssss! ! ! 💖💖 lanjutt
2020-04-04
1