Bab 13

Pagi ini pun seperti biasa, Saoru bangun sebelum matahari terbit, sekitar kurang dari pukul 5 pagi.

Ia mengenakan pakaian berwarna putih tulangnya, dan berdoa di kuil.

Ia memilih untuk berdoa sepagi ini, karena Akiha dan Kaoru masih tertidur. Selain itu, suasana tenang dan udara yang sejuk membuatnya merasa tentram.

Setelah beberapa saat memejamkan mata, sebuah kenangan muncul dalam benaknya, yaitu kenangan masa kecilnya..

"Saoru-kun!" panggil seorang gadis beberapa tahun lalu.

"Ng? Kenapa kau mengikutiku? Ini kan sudah malam." tanya Saoru dengan ekspresi jutek.

"Saoru-kun? Rupanya, kau sedang menangkap kunang-kunang? Hehe. Ayahmu memanggilmu." jawab gadis itu.

"Benarkah? Terima kasih, Yuka." kata Saoru, sembari melambaikan tangan kepada gadis itu, lalu berjalan menuju rumah untuk menemui ayahnya.

"Ayah!" ucap Saoru, setelah meletakkan wadah berukuran cukup besar yang dibawanya.

"Oh, kau sudah pulang. Kemarilah, ayah punya sesuatu untukmu." kata sang ayah.

"Ng? Apa ini?" tanya Saoru.

"Ini adalah obat salep baru yang ayah racik untukmu. Ayah dengar, kamu sering bermain dengan Riku dan Yuka di luar rumah. Karena sekarang musim panas, akan ada banyak nyamuk. Lebih baik kamu membawa salep ini. Obat ini berguna untuk bekas gigitan nyamuk ataupun luka gores." jelas ayah.

"Wah.. Ayah memang hebat! Terima kasih, aku sayang Ayah." kata Saoru kecil, sambil bersikap manja pada ayahnya.

"Saoru, bila kamu sudah besar nanti, jangan lupa akan hal-hal penting yang telah ayah ajarkan padamu, ok?" ucap ayah Saoru.

"Baik!" jawab Saoru.

"Naoto." panggil nenek.

"Ya, Bu?" jawab ayah Saoru.

"Jangan terus-menerus mengajarkan putramu teknik membuat obat. Itu sama sekali tidak berguna baginya. Sudah ada adiknya, Kaoru, yang mempelajarinya dari wanita tidak berguna itu." ucap nenek dengan ekspresi tidak suka, dengan alasan yang saat itu masih kurang dipahami oleh Saoru.

Ayah Saoru yang bernama Naoto Shima itu hanya diam saja. Ia mendesah, lalu mendahului Saoru menuju kamar, sementara anak itu berlari ke kamar kecil.

"Ayah. Apa maksud nenek tadi? Mengapa nenek mengatai ibu?" tanya Saoru dengan blak-blakan, sambil duduk di samping futon bersama dengan ayahnya setelah berbenah sebelum tidur.

"Saoru. Lebih baik kamu tidak ikut-ikutan dengan urusan orang dewasa. Nenek memiliki alasan tersendiri, jangan dipikirkan. Tidurlah, ini sudah malam." jawab Naoto kepada putranya.

Saoru kecil pun menurut, lalu berbaring.

Seketika Naoto hendak meninggalkan kamar, Saoru berkata dengan polos; "Ayah. Wajah ibu itu seperti apa?"

"..." Naoto hanya terdiam sejenak, lalu membalas; "Sudah. Tidurlah, Saoru."

Akhirnya, dengan merasa terpaksa karena mengantuk, Saoru menutup matanya dan mulai tertidur.

Tak lama setelah Saoru memejamkan mata, ia terbangun lagi karena mendengar suara ayahnya. Ia beranjak dari futon, lalu membuka pintu kamarnya secara perlahan sambil berkata; "Ayah?"

"Ibu, tak seharusnya ibu berkata seperti itu terhadap Hikari dan di hadapan Saoru!" kata Naoto kepada ibunya.

"Memangnya salah siapa? Kamulah yang bodoh karena terperangkap oleh kecantikan ******* itu. Kamu tidak tahu betapa liciknya wanita itu. Dia setuju untuk menikah denganmu karena kamu berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Bila kau jatuh miskin, dia pasti akan meninggalkanmu. Apalagi, kau setampan dan segagah ini. Mana ada wanita yang akan menolakmu?" kata nenek, dengan tidak berperasaan.

"Ibu, aku mohon. Hentikanlah semua ini. Sampai kapan klan kita akan terus serakah dan egois seperti ini? Bukankah kita telah mengelabuhi klan Sakuragi dan banyak klan lainnya, serta memeras banyak orang demi keuntungan pribadi klan Shima? Aku sudah muak dengan kebiasaan kejam ini!" kata Naoto kesal.

PLAKK

"Naoto, kamu benar-benar telah berubah. Ini semua karena wanita kurang ajar itu!" gertak nenek, setelah menampar wajah putranya.

"Ayah!" tiba-tiba Saoru berlari keluar dari pintu kamar yang terbuka, lalu memeluk kaki ayahnya.

"Saoru..!"

"Nenek. Saoru mohon.. jangan pukul ayah. Ayah adalah orang yang baik.. hiks.. ayah sangat mencintai ibu." ucap Saoru kecil, sambil menangis.

Sang nenek semakin kesal, namun sebelum nenek berkata-kata lagi, Naoto menyanggahnya--

"Ibu, kami akan kembali tidur. Ibu juga tidurlah, hari sudah amat petang."

Akhirnya, dengan wajah tidak bersahabat, nenek berpaling muka dan berjalan memasuki kamarnya.

Sementara, Naoto membawa putra kecilnya kembali ke kamarnya.

"Ayah. Bolehkah Saoru tidur di kamar ayah hari ini?" tanya Saoru.

"Saoru, kamu ingin tidur bersama ayah?"

"Benar, ayah. Boleh?"

Naoto langsung menyadari bahwa putranya mengkhawatirkannya. Ia menganggukan kepala sambil tersenyum. Lalu, dengan sayang, ia menggendong Saoru dan membawa putranya itu menuju kamar pribadinya.

Seketika tiba di dalam kamar, Saoru sudah terlelap. Ayahnya membaringkan Saoru pada futon miliknya, lalu menggelar sebuah futon lagi dan berbaring di sisi anaknya.

Saoru. Andai kamu dapat bertemu ibumu.. Dia sangat mencemaskan dan merindukanmu. batin Naoto saat itu, namun hanya salah satu tangannya yang berbicara dengan membelai rambut Saoru.

Malam itu, Saoru melihat sekilas sosok sang ayah yang menangis memunggungi dirinya.

Hati Saoru serasa gundah dan amat sedih melihat ayahnya. Entah apa yang telah terjadi diantara ayah dan ibunya. Yang pasti, saat itu Saoru tidak diperbolehkan untuk bertanya karena masih sangat kecil.

Keesokan harinya, pada masa itu..

Saoru membuka matanya di pagi hari, ketika cahaya matahari memasuki kamar melalui jendela dan menyinari wajahnya.

"Ng.. silau." ucapnya.

"Tuan Muda."

"Ayah?" respon Saoru secara spontan, masih dengan mata setengah terpejam.

"Maaf, aku bukan ayahmu." ucap salah seorang pengikut Naoto.

"Ah, paman Hiro. Dimana ayah?" kata Saoru dengan ramah dan polos.

"Tuan Muda. Anda harus ikut dengan saya sekarang juga." kata paman itu.

Saat itu, mendadak orang tersebut mendekap Saoru dan menutupi mulutnya dengan sebuah kain yang diberi obat bius.

"Ukkh----!--" Saoru gagal melepaskan diri dan kehilangan kesadarannya.

Beberapa saat kemudian..

Saoru membuka matanya perlahan, lalu ia mendengar suara-suara asing.

"Saoru! Kamu sudah bangun?" ucap seorang wanita dewasa yang asing bagi Saoru.

"Kamu.. siapa?" kata Saoru dengan ekspresi wajah curiga.

"Hiro, cepat lepaskan tali yang mengikatnya." perintah wanita itu.

"Baik, Nyonya."

"Nyonya?" gumam Saoru, seraya menatap wanita itu dengan sorot mata penuh ketidakpastian dan kewaspadaan.

"Saoru, maafkan ibu karena harus berbuat demikian demi melihatmu. Ibu sangat merindukanmu, Nak." ucap wanita itu.

Seorang wanita cantik berambut pirang panjang dengan mata berwarna biru yang indah tengah mengaku sebagai ibu Saoru.

"Kamu siapa?" ucap Saoru lagi.

"Tuh kan, Ibu! Anak ini benar-benar menyebalkan! Lihat, matanya memelototi ibu dengan garang begitu. Bisa saja dia berbahaya, aku pergi saja dari sini." seorang gadis kecil muncul, lalu melompat keluar dari jendela begitu saja.

"Kaoru!" seru wanita itu, namun gadis itu sudah pergi.

"..." Saoru menundukkan kepala tanpa berkata-kata.

"Maaf ya, Saoru. Adikmu memang belum terbiasa denganmu. Ibu akan menegurnya. Jangan tersinggung, Sa---"

"Diam!!" bentak Saoru tiba-tiba.

"Saoru.." wanita itu terkejut.

"Gara-gara kamu, selama ini ayahku menderita! Ayah menangis dan terus bersedih! Ini semua salahmu!" Saoru terus berkata-kata dengan marah.

"Saoru.."

"Aku tidak percaya padamu! Mana mungkin seorang ibu akan membius anaknya?! Aku tidak butuh seorang ibu! Keluarkan aku dari tempat ini! Aku benci kamu!!" seru Saoru.

Lalu, sambil tertunduk dan terisak, wanita itu berkata lembut kepada Saoru; "Baiklah. Tentu. Aku akan mengembalikanmu kepada ayahmu. Terima kasih, karena sudah muncul di hadapanku, Saoru."

"Eh.." Saoru tertegun oleh perkataan wanita itu.

Belum sempat ia menjawab perkataan wanita itu, segerombolan pria yang biasa mengawal ayah Saoru menerobos masuk ke tempat yang mirip laboratorium itu.

"Hikari, kali ini kamu benar-benar keterlaluan! Tuan Besar akan marah besar bila mengetahui perbuatanmu ini!" ucap paman Kazuya, kepala anak buah Naoto Shima.

Pria bertubuh tinggi besar dengan wajah dingin itu segera menggendong Saoru, lalu menatap tajam kepada paman Hiro dan wanita bernama Hikari itu secara bergantian.

Nyonya? Lalu, Hikari? Mengapa cara kedua orang ini memanggil wanita itu begitu berbeda? kata Saoru dalam benaknya.

Saat itu, Saoru benar-benar tidak mempercayai dan mencurigai ibunya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa hari itu adalah pertama dan terakhir kali baginya untuk berbicara secara langsung dengan sang ibu, sebelum tragedi yang mengenaskan terjadi kepada kedua orang tua dan seluruh orang dalam klan, serta semua kenalan dekatnya.

Kaoru, adiknya itu, juga diduga terlibat dalam pembantaian tersebut. Siapa yang menyangka bahwa gadis sekecil itu dapat membunuh salah satu sahabat dekat Saoru? Namun, takdir menyelamatkan kedua anak tersebut.

Mereka bertemu lagi setelah pembantaian itu terjadi. Mau tidak mau, Saoru yang merasa bertanggung jawab sebagai seorang kakak yang asing bagi Kaoru, mengambil langkah untuk mendekati dan berbicara pada gadis itu.

Tentu saja, awalnya gadis itu begitu ketus dan menolak untuk berbicara dengan Saoru. Namun, entah melalui dorongan apa, Saoru mengatakan sesuatu yang membuat gadis kecil itu mendengarkannya dengan seksama.

Saoru memutuskan untuk menjaga gadis kecil itu sebagai adiknya, walaupun mereka tidak terikat oleh perasaan yang lazim sebagai kakak beradik.

Gadis itu bertumbuh besar dengannya, selalu berada di sisinya. Walaupun Saoru tidak begitu mempedulikan dan sedikit kasar padanya, seiring waktu gadis itu menjadi sedikit tergantung padanya.

Hingga kini, gadis itu memanggilnya Saoru-niisan. Namun, apakah perasaan keduanya telah berubah karena bertumbuh bersama?

Saoru tidak pernah merasa nyaman akan hal ini. Ia paling tidak mengerti akan dirinya sendiri, bila hal itu menyangkut tentang Kaoru.

Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Saoru masih belum dapat mengasihi atau menerima adiknya atas perbuatan gadis itu di masa lalu.

Namun, takdir telah memanggil dan mengikat mereka berdua untuk mengawal seorang gadis biasa yang dipercaya oleh dewa langit sebagai pahlawan dunia yang baru.

"Orang kuat yang sesungguhnya bukanlah orang yang terlahir dengan kekuatan itu sendiri, melainkan adalah orang yang mau berjuang keras demi melindungi orang-orang yang berharga bagi orang itu."

Perkataan ayah Saoru itu selalu terngiang dalam ingatan dan pikiran pemuda itu. Perkataan yang juga mendasari kepercayaan dan jalan hidupnya.

"Ayah. Bagaimana aku harus memperlakukan kedua orang gadis ini?" ucap Saoru, setelah selesai memanjatkan doa pribadinya.

Terpopuler

Comments

Keroppi

Keroppi

lebih lagi bacanya, makin tenggelam dlm cerita yg indah dan seru ini thorr 😎

2020-04-27

1

Zara Pizz

Zara Pizz

bagusss 🤗👍🏻

2020-04-10

1

Matcha Cookies

Matcha Cookies

apikkk

2020-04-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!