Hari ini, Saoru mengenakan pakaian berwarna biru seperti langit yang memperlihatkan otot lengan dan dadanya yang kekar, dan membawa serta pedangnya.
"Saoru-kun."
"Hmm? Kenapa kau sudah bangun sepagi ini, gadis pendek?" ucap Saoru jutek.
Akiha langsung geram, lalu menjawab; "Aku mengkhawatirkanmu, tahu!"
"Ng? Kenapa?"
"Karena Saoru-kun selalu pergi tanpa memberitahuku. Mana kutahu apakah Saoru-kun sudah makan, minum, atau aman-aman saja di luar sana?" jelas Akiha.
Saoru hanya mengamati gadis yang terus mengoceh itu dengan ekspresi wajah khasnya.
"Terus kenapa?" ucap Saoru.
"Eh?"
"Apa kamu mau ikut denganku?" tanya pemuda itu.
Akiha langsung terpana. Ia terus menatap Saoru dengan bengong.
"Hm? Mau ikut tidak? Kalau tidak mau, kuting--"
"Mau!!" sanggah Akiha tiba-tiba.
Saoru sedikit terkejut, lalu ia mengamati gadis yang bersemangat itu dan berkata; "Hmm. Lain kali saja, kamu belum bersiap sama sekali."
"Eh?" seketika, mata Akiha langsung mengamati tas dan barang bawaan Saoru.
"Aku pergi dulu. Bermainlah bersama dengan Kaoru, dia akan segera kembali." kata Saoru, sambil berbalik dan hendak pergi.
"Tunggu! Beri aku waktu 5 menit, aku akan selesai mengemasi barang-barangku!" seru Akiha dengan cepat.
"Baiklah." jawab Saoru dengan jutek.
SRATTT
Tiba-tiba, gadis itu berlari ke kamarnya, dan bergerak sangat cepat kesana-kemari.
4 menit kemudian..
"Hah hah hah.. bagaimana? Aku cepat bukan?" ucap gadis itu ngos-ngosan.
Saoru hanya menahan tawa karena melihat rambut Akiha yang berantakan seperti seekor kera.
"Kau sudah membawa cermin?" tanya Saoru.
"Ng? Sudah kok.." lalu, gadis itu mengeluarkan cerminnya dan menjerit.
"Hahaha. Kau ini. Cepat rapikan rambutmu, lalu kita berangkat." kata Saoru.
"Saoru-kun.." wajah Akiha merona.
"Ng?"
"Apakah tidak apa-apa kita meninggalkan Kaoru-chan seorang diri?" tiba-tiba Akiha teringat.
"Hmm. Kaoru itu kuat, tidak sepertimu. Selain itu dia juga mandiri, tidak sepertimu."
GRRRR
Akiha langsung geram, seperti seekor kera kecil yang hendak menggigit Saoru.
Saoru tersenyum puas melihat reaksi Akiha, lalu menepuk bahu mungil gadis itu dan berkata; "Ayo, berangkat."
"Baik!" balas gadis itu dengan senyuman yang amat bersemangat.
Entah mengapa, Saoru sangat menyukai senyuman lugu gadis yang tingginya berbeda sekitar 25 cm dengannya itu.
"Akiha." katanya tiba-tiba, dalam perjalanan.
"Ng?" respon gadis itu dengan spontan.
"Apa kamu pernah menyukai seseorang?"
"Eh?" wajah Akiha sedikit tersipu.
"Jika kamu tidak ingin menjawab juga tidak apa-apa." tambah Saoru.
"Pernah."
Langkah Saoru langsung terhenti dan..
DUKKK
"Aduh!"
Akiha menubruk lengan Saoru yang gagah itu.
"Oi. Hati-hati dong."
"Kamulah yang harus berhati-hati, Saoru-kun! Kenapa kamu tiba-tiba berhenti?!" ucap Akiha, sambil menyentuh dahinya.
"Kamu tidak apa-apa?"
Tak diduga, lelaki itu berbalik dan tiba-tiba menyentuh dahi Akiha.
"Sa..oru.. kun.." wajah Akiha sangat merona.
"Huh, rupanya tidak apa-apa." ucap Saoru jutek.
GRRRR
"Pokoknya, Saoru-kun harus bertanggung jawab bila aku sampai terluka!" seru Akiha.
"Iya, iya."
Lalu, tanpa berkata-kata lagi, mereka terus berjalan.
"Eh.. kita sebenarnya mau kemana?" tanya Akiha.
"Rumah saudagar kaya." jawab Saoru santai dan cuek.
"Heh?!"
"Aku hanya menawarkan obat kepada mereka." kata Saoru.
"Obat?"
"Benar. Putri saudagar kaya itu tubuhnya lemah dan sakit-sakitan. Jadi, aku hanya sering pergi ke sana untuk menjual obat kepada mereka." jelas Saoru.
"Oh.. begitu. Ah, tapi darimana kamu belajar membuat obat, Saoru-kun?" tanya Akiha secara otomatis.
"Dari ayahku."
Setelah menjawab pertanyaan Akiha, Saoru berjalan mendahului gadis itu dan tidak berkata-kata lagi.
Akiha terus menyesuaikan langkahnya dengan berlari-lari kecil, agar dirinya tidak tertinggal oleh Saoru.
"Masih jauh?" tanya Akiha, matanya mengamati tempat asing yang mirip desa kecil, jauh di luar kuil mereka.
"Sebentar lagi." jawab Saoru.
Tak lama kemudian..
"Wahh.." gumam Akiha, seketika tiba di depan rumah bergaya tradisional yang besar dan megah.
"Siapa?" tanya seorang pria dengan wajah dan penampilan garang.
"Saoru Shima. Saya datang untuk mengantar obat Nona Himiko."
"Ah, begitu. Silahkan."
Dua menit kemudian, Akiha dan Saoru telah melangkah masuk ke halaman luas rumah itu.
"Wahh.. benar-benar seperti istana, ya kan, Saoru-kun?" gumam Akiha lagi.
"Dimana Tuan Isanobu?" tanya Saoru kepada pelayan itu, sambil mengabaikan Akiha.
GRRR
Akiha geram, namun ia hanya menahan diri dan memalingkan muka.
"Tuan Shuhei sedang berada di dalam ruangannya. Saya akan segera memberitahu tentang kedatangan anda kepada beliau." jawab pelayan berwajah seram itu.
Kemudian, Akiha dan Saoru berjalan memasuki rumah megah itu. Lorong-lorong dan desain rumah itu amat indah dan mewah, sehingga membuat mata Akiha tidak berhenti mengamat-ngamati dengan takjub.
"Nona Himiko." sapa pelayan lain.
"Ah, kau sudah tiba, Saoru-kun." ucap seorang gadis asing yang dipanggil Himiko itu.
Seorang gadis berambut panjang kecoklatan, dengan wajah yang cantik dan tubuh ideal dibalut pakaian sutra berwarna putih susu, serta bercorak bunga-bunga merah tersenyum ramah kepada Saoru.
Seketika, Akiha terpesona oleh kecantikan dan keanggunan gadis itu. Lalu, ia melirik ke arah Saoru.
Heh? Kenapa dia tidak tertarik pada gadis secantik ini? Apa orang ini memiliki perasaan? ucap Akiha dalam hati, dengan mata sedikit menyipit.
"Ah, kau membawa temanmu ya? Salam kenal, namaku Himiko Isanobu." gadis itu menyapa Akiha dengan senyuman ramah.
Akiha balas tersenyum dan masih terpana oleh kecantikan gadis itu, sebelum menjawab; "Namaku Akiha Nomozaki. Salam kenal, Himiko-san."
"Hihi. Saoru-kun, kau tidak pernah mengatakan bahwa kau memiliki seorang teman yang semanis ini." ucap Himiko dengan tertawa.
Wajah Akiha langsung berbinar, lalu menjawab; "Ah-hahaha, tidak juga."
"... Dia adikku." balas Saoru tiba-tiba.
Akiha langsung mengamati Saoru dengan alis terangkat sebelah, lalu sebelum ia sempat berkata-kata--
"Akiha adalah orang yang harus kukawal setiap saat. Jadi, mulai saat ini aku tidak dapat terus mengawalmu. Maaf atas pernyataan ini." kata Saoru.
"Ah, rupanya begitu. Aku takkan khawatir, karena kau memberitahuku secepat ini." jawab Himiko.
"Ya. Tidak perlu khawatir. Kini, desa ini sudah aman. Kau hanya perlu memperhatikan kondisi tubuhmu saja." ucap Saoru.
"Baiklah, Saoru-kun." kata gadis itu dengan lemah lembut, kemudian mempersilahkan Akiha dan Saoru untuk menunggu di dalam sebuah ruangan kosong yang rapi dan cukup luas.
"Tunggulah, aku akan menyuruh pelayan untuk menghidangkan teh dan makanan kecil untuk kalian." ucap gadis itu, seraya pergi selama beberapa saat.
Saoru dan Akiha pun menunggu.
"Saoru-kun, gadis itu benar-benar cantik seperti tuan putri, ya?" puji Akiha lagi.
"... Biasa saja."
"Eh?! Kau ini sebenarnya kenapa sih? Kau tidak suka wanita ya?" protes Akiha.
"Bukan begi--" sanggah Saoru.
PRANNGGG
"Kyaaaaa!!"
Tiba-tiba, Akiha dan Saoru mendengar suara seruan Himiko dari luar ruangan tersebut, yang mengikuti sebuah suara barang yang terjatuh pecah dengan keras.
Tanpa menunggu lagi, Akiha dan Saoru segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Apple ED
Saya baru baca. menarik sekali! smp keterusan smp eps 16 😅😅 ditunggu lanjutan di bulan Agustus yaa 👍😊
2020-04-12
1
JW
Bagusss 👍🏻
2020-04-11
1
Sky
Bagus sekali 😃
2020-04-11
1