"Akane, aku akan segera kembali." ucap Akiha.
"Un, aku akan menunggumu di rumah, Akiha."
Hari ini, seperti biasa Akiha keluar dari rumah untuk mencari tanaman obat-obatan.
Akane yang tubuhnya masih lemah bangkit berdiri dari ranjang secara perlahan, lalu mulai menyiapkan makanan. Kini, satu-satunya hal yang dapat dilakukannya untuk Akiha adalah memasak.
Ia mulai memotong bahan-bahan makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dengan pisau, lalu membuat sup.
Kemudian, tiba-tiba..
TOK TOK
Akane langsung terkejut. Belum pernah ada seorang pun yang mengetuk pintu rumah itu. Tidak mungkin Akiha telah kembali secepat itu. Akane pun berhenti memasak dan bersiap untuk menghadapi orang asing tersebut meski tubuhnya lemah.
KRIKKK
"Tidak mungkin!" katanya.
Pintu yang terkunci itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Akane pun merasa semakin gugup. Ia bersiap-siap untuk menyerang siapapun yang akan muncul di depan pintu. Namun--
"Nomozaki Akane."
DEG
Sebuah suara asing memanggilnya. Akane segera berjalan menuju pintu dan hendak melawan orang tersebut, namun.. ia tidak menemukan siapapun.
Suara pria itu tertawa sinis.
"Siapa kau?!" seru Akane.
"Hahahaha! Jadi, hanya segini kemampuanmu? Kamu sama sekali bukan tandinganku." kata suara itu.
"Diam! Keluar dan bertarunglah denganku!" bentak Akane.
"Huh. Sudah kuduga, kamu akan menantangku. Tetapi, itu tidak perlu, karena aku sudah mengetahui tentang kemampuan khususmu yang aneh itu!" suara itu terdengar semakin angkuh dan mengintimidasi.
"Kau..! Siapa kau sebenarnya? Bila kau laki-laki, keluar dan lawan aku! Kau takkan menang meskipun aku seorang wanita!" gertak Akane.
"Hmm. Kau kira aku tidak mengetahui hal itu?"
"Eh?!"
"Tentu saja aku akan kalah bila langsung berhadapan denganmu. Oleh karena itu, aku membutuhkan sebuah umpan. Aku tidak gegabah sepertimu!" suara itu terdengar semakin percaya diri dan mengejek.
"Umpan?" ucap Akane.
DEG
Celaka! Mata Akane membesar karena menyadari sesuatu. Ia pun berusaha untuk berlari keluar, namun--
DUAKK
"Akhh..!"
Akane mendesis dengan gusar dan lemah.
Apa yang terjadi? Ini seperti penghalang yang tak dapat kulewati.. dinding bayangan?! batinnya.
"HAHAHAHA!" tawa suara itu semakin keras dan membuat Akane semakin marah.
"Kau..! Bila kau melukai saudariku, aku takkan membiarkanmu lolos dan pasti akan membunuhmu!!" seru Akane.
"Hmp. Sebelum itu, aku pasti telah membunuh saudarimu dan kabur dari sini." jawab musuh itu dengan santai dan dinginnya.
"Kau..!! Benar-benar menyebalkan!! Keluar kau sekarang juga!!!" Akane benar-benar murka.
"Bukankah baru saja kukatakan? Aku takkan mengulanginya. Kau tinggal menyiapkan sebuah kuburan untuk saudarimu yang berharga itu! HAHAHAHA!"
"Kauuu!!! Aku bersumpah akan memotong lidahmu dan menyiksamu perlahan-lahan hingga kau mati!!" ancam Akane.
"Hmp. Percuma saja berbicara dengan anak ingusan sepertimu. Saat ini aku tidak dapat mengalahkanmu, jadi aku akan membawa tubuh saudarimu saja." kata suara yang kian menjauh dan menghilang itu.
"Tidak akan kubiarkan!!" seru Akane, namun tubuhnya masih saja terpental oleh dinding tak terlihat yang menghalangi dirinya untuk keluar dari rumah itu.
"Siaallll!!!! Tidak.. tidak akan kubiarkan.. TIDAKK!!" Akane berseru-seru marah dan memukul-mukul lantai, namun perlahan merasa frustrasi dan kecewa pada dirinya sendiri.
Sementara itu, di luar rumah, di dalam hutan itu..
"Bagus, sudah kudapatkan semuanya. Aku harus segera pulang. Akane pasti telah menungguku." ucap Akiha dengan riang sambil bangkit berdiri, setelah berjongkok dan memetik beberapa tanaman obat.
"Fufufu. Sayang sekali. Kau takkan bisa pulang ke rumah hari ini, gadis kecil." suara tawa yang sekejam iblis terdengar di telinga Akiha.
"Si--siapa kau?" kata Akiha kepada suara tersebut.
Suara itu masih saja tertawa sinis dan menyeramkan, lalu menjawab; "Tidak menarik bila aku memperlihatkan diriku kepadamu. Lebih baik aku membunuhmu tanpa penampakan. Bukankah hal itu jauh lebih menyenangkan?"
"Apa katamu?!" ucap Akiha.
Tubuh gadis itu sedikit bergetar, namun ia mengumpulkan keberanian dan bersiaga untuk melawan atau menangkis serangan musuh. Matanya melihat ke segala arah, namun ia tidak dapat menemukan, bahkan tidak dapat merasakan kehadiran musuh.
Tanpa sadar, hal itu membuatnya berkeringat dingin. Ia harus segera pulang.. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Akane.. saudarinya itu masih dalam proses pemulihan!
"Kau takkan mendapatkan apa-apa! Enyahlah dari hutan ini, atau saudariku akan segera membinasakanmu!!" gertak Akiha.
"Fufufu. Dasar dua orang bersaudari kembar yang dungu. Aku telah melumpuhkan saudari tercintamu itu. Kini, giliranmu untuk menerima nasibmu. Matilah!!" seru suara itu, dan tiba-tiba angin berhembus kencang dan menusuk, seperti hendak menyerang Akiha.
DEG DEG DEG
Akiha amat tegang dan ketakutan. Ia tidak ingin menutup mata dan dibunuh begitu saja. Ia tidak ingin musuh ini berbuat semaunya terhadap saudari yang amat dicintainya itu.
Mungkin saja setelah membunuhnya, ia juga akan membunuh Akane dan mencuri rahasia kemampuan khususnya itu melalui pembedahan mayatnya. Pikiran yang mengerikan itu menghantui Akiha.
Akiha terus berusaha untuk terlihat kuat, ia tidak menutup mata.. Jantungnya berdetak kencang, tubuhnya gemetaran, dan air matanya bergelinang... Namun, bagaimanapun juga secara naluriah ia bersiap untuk melawan serangan itu dengan sekuat tenaga.
Matanya yang begitu ketakutan itu tiba-tiba menangkap sebuah sosok gelap yang mengerikan... dan ia secara otomatis menutup mata.
"Tidaakkkk!!" jeritnya.
BRUAKKK
Akiha gemetar ketakutan dan tubuhnya menjadi lemas... Apakah ia telah diserang dan kini sekarat? Tidak.. ia tidak merasakan sakit dari luka atau apapun.. Apakah musuh itu telah meninggalkannya? Tapi, mengapa? Itu tidak mungkin! Jangan-jangan...
Akiha membuka matanya perlahan-lahan dan--
"Apakah kamu terluka, gadis lemah?"
"Eh..?" mata Akiha tidak berkedip menatap sosok seorang pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Tenanglah. Mulai saat ini, aku akan melindungimu." jawab pemuda itu.
"Kamu.. siapa?" ucap Akiha pelan, tubuhnya sudah sedikit berhenti bergetar.
"Akan kukatakan nanti, setelah aku menghabisi orang bayangan ini." ucap pemuda itu.
"Tidak mungkin.. Kau dapat mengetahui teknik ini?!" kata suara musuh tadi.
"Cih, dasar tikus bayangan. Mau sampai kau bersembunyi? Cepat keluar atau aku akan memaksamu muncul dan memusnahkanmu tanpa jejak." kata pemuda yang hanya terlihat dari sisi punggungnya itu.
Lalu-- HYUUUUUSSHHH
Suara angin kencang bergelora dan menerpa tubuh Akiha, hingga gadis itu terhuyung-huyung.
GREP
Salah satu lengan pemuda itu dengan sigapnya menangkap tubuh Akiha. Saat itu, semua pergerakan yang terjadi terlalu cepat dan tiba-tiba, sehingga membuat Akiha merasa syok dan perlahan-lahan kehilangan kesadarannya.
Beberapa saat kemudian..
"..ki ha.. Aki.. Akiha!"
Suara Akane yang sangat mengkhawatirkan Akiha membangunkan gadis itu.
"A..ka..ne?" kata Akiha pelan.
"Akiha-sama." kata seorang gadis asing yang duduk di sebelah Akane.
"Kau.. siapa?" tanya Akiha, kesadaran dan penglihatannya berangsur-angsur pulih.
"Nama saya Kaoru Shima. Mulai hari ini saya akan mengawal anda, bersama dengan kakak laki-laki saya." jawab gadis yang terlihat feminin dan amat cantik itu.
Ia amat sopan, serta menghormati Akiha dan Akane.
"Apa yang terjadi.. dan dimana musuh tadi? Bagaimana aku-- ukhh!" tiba-tiba rasa sakit menusuk kepala Akiha.
Baik Akane maupun gadis asing bernama Kaoru itu menyerukan namanya secara bersamaan dengan honorifik yang berbeda, seolah kekhawatiran mereka terhadap Akiha sama besarnya.
"Akiha-sama, anda pasti sedikit terluka pada saat niisan menyelamatkan anda." ucap Kaoru.
"Aku tidak apa-apa. Tenang saja, Akane." jawab Akiha dengan meyakinkan.
"Baiklah, Akiha. Lalu.. jika memang benar kalian yang telah menyelamatkan saudariku, dimana laki-laki itu sekarang?" kata Akane, matanya kembali beralih curiga ke arah Kaoru, walaupun ia telah mengizinkan gadis itu memasuki rumah.
Kaoru hanya mendesah.
"Apa-apaan kamu? Mana bukti orang itu telah menyelamatkan Akiha?" kata Akane garang.
"Ah, itu.. maafkan saya, Akane-sama. Saya sendiri tidak mengetahui keberadaan niisan dengan pasti. Namun, saya dapat menebak apa yang sedang dilakukan olehnya saat ini." jawab Kaoru.
"Hm?" kata Akane dengan ekspresi tidak suka.
"Maafkan saya. Namun, saya tidak akan berani berbohong kepada kalian, para calon pilihan dewa langit. Kemungkinan besar niisan sedang berdoa saat ini." ucap Kaoru sambil membungkukkan tubuh.
Kedua bersaudari itu menjadi bingung. Selain itu, bagaimana gadis berambut coklat pirang bernama Kaoru ini dapat sejak awal mengetahui nama dan membedakan diantara kedua gadis kembar itu?
Mereka benar-benar mencurigai Kaoru. Namun, sebagian kata yang diucapkan oleh gadis itu membuat kedua bersaudari kembar itu berpikir.
"Calon pilihan dewa langit? Jelaskan apa maksudmu dengan perkataan itu." tanya Akane yang cepat merespon dan tidak sabaran.
"Sebenarnya, kalian berdua adalah calon pengganti pahlawan sebelumnya bagi negeri ini dan seluruh dunia. Mau tidak mau, itu adalah takdir salah satu dari kalian." jawab Kaoru dengan tenang dan terus terang.
"Tunggu dulu.."
Tiba-tiba, Akiha teringat akan perkataan sang Meishu. Bukankah pemimpin desa itu telah berkata bahwa Akiha adalah pahlawan yang telah dipilih untuk mengemban tugas yang amat berat dan mempertaruhkan nyawa itu?
"Akiha-sama? Apakah anda ingin berkata sesuatu kepada saya?" tanya Kaoru dengan sopan dan hormat.
"Pemimpin desa ini telah berkata kepadaku bahwa aku adalah pahlawan yang terpilih untuk menggantikan Aoi Kurosawa itu. Jadi, tak seorang pun dapat meminta saudariku untuk menerima takdir yang membahayakan itu!" kata Akiha, dengan kilat mata yang amat bersungguh-sungguh.
"Rupanya anda sekalian belum mengerti.." ucap Kaoru dengan tenang dan ekspresi yang biasa-biasa saja.
"A--Apa maksudmu?" tanya Akiha.
"Sepertinya, sang pemimpin desa dan para pengikutnya telah mempercayai bahwa Akiha-sama adalah pilihan dewa langit itu. Namun, sebenarnya belum ada orang yang dapat memastikan siapa diantara beliau bersaudari yang akan atau telah terpilih. Kemungkinan besar, sang pemimpin desa hanya melihat dari kondisi saat ini. Ia berpikir bahwa tubuh Akiha-sama lebih kuat daripada Akane-sama. Meskipun Akane-sama memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain, bisa saja orang awam berpikir demikian."
Setelah mendengar penjelasan Kaoru yang hampir mendetail itu, tiba-tiba--
"Kaoru."
Ketiga orang gadis itu langsung berpaling dan melihat sosok seorang pemuda yang telah berdiri di depan pintu rumah yang terbuka.
Cahaya matahari terbenam yang masuk di waktu yang telah sore itu sejenak menghalangi penglihatan para gadis tersebut, serta membentuk siluet tubuh lelaki yang tinggi itu. Kemudian, cahaya itu semakin meredup dan wajah lelaki itu terlihat semakin jelas, seketika ia melangkah mendekat dan pintu rumah di belakang lelaki itu tertutup dengan sendirinya.
"Untuk apa kamu menjelaskannya dengan panjang lebar? Bukankah itu merepotkan sekali, Kaoru?" ucap pemuda itu.
Pemuda itu mengabaikan kedua gadis kembar yang terkesima oleh sosoknya tersebut dan hanya berbicara kepada adiknya.
"Kamu siapa?" tanya Akane secara spontan.
"Hm? Kamu tidak tahu namaku? Oi, Kaoru. Dari tadi kamu bicara apa dengan mereka hingga tidak memperkenalkan tentang kakakmu sendiri?" ucap laki-laki itu dengan kalimat yang sama sekali tidak ramah dan ekspresi jutek.
"Niisan! Berkatalah dengan sopan. Kedua beliau ini adalah calon pengganti pahlawan kita. Bukankah selama ini kakak telah menunggu untuk bertemu dengan pahlawan baru kita?" Kaoru menegur kakaknya.
"Hmp.. merepotkan sekali. Aku belum memutuskan untuk sepenuhnya melayani mereka berdua. Jadi, aku tidak perlu menunjukkan rasa kagum atau hormat kepada mereka dengan bodohnya seperti dirimu. Lagipula, mereka berdua terlihat amat lemah, sangat berbeda dengan Aoi Kurosawa." ujar pemuda itu.
"Kau.. apa kau mengejek kami?!" amuk Akane.
"Akane.. jangan melawan orang ini. Bisa saja dia berbahaya." bisik Akiha.
"Huh. Kalian hanyalah dua orang gadis lemah. Yang satu pemarah, dan satunya pengecut." kata lelaki itu.
Sebelum dapat memprotes atau berkata-kata, mereka berdua kembali dikejutkan oleh tawa kecil lelaki itu.
Lelaki itu begitu tampan dan terlihat kuat. Sayangnya, sifatnya amat menyebalkan dan seenaknya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Daisuke A
Cerita tipe ini emang paling top selangit dehh !! 👍😎
2020-04-27
1
Honeydew
Awesome thor! Teruskan karya terbaik mu ini! 💪😉
2020-04-27
1
Veronice Agape
maaf huruf kapital. skrg huruf kecil deh wkwkwk
2020-04-27
1