Tengah malam Maura terbangun karena merasa haus. Ia melepas pelukan Cecilia dari tubuhnya dengan hati-hati agar anak itu tidak bangun.
Maura melangkahkan kakinya menuju dapur. Cahaya lampu di dapur cukup remang karena biasanya Maura hanya menghidupkan sebagian lampu saja saat Ia hendak tidur. Ia melihat sebuah bayangan sedang berjalan menuju kulkas. Seketika Maura merasakan bulu kuduknya merinding.
"Apa mungkin maling ya? tapi tidak mungkin," batin Maura. Areal tempat tinggalnya sangatlah aman, belum pernah ada rumah yang kemalingan selama Ia tinggal disana. Maura berjalan semakin mendekat dengan dapurnya. Tangannya mencari saklar lampu dan menghidupkannya.
"Astaga... om Davin," ucap Maura merasa lega ketika melihat Davin yang ada disana. Matanya terbelalak saat menyadari Davin hanya mengenakan celana boxer saja tanpa ada atasan.
"Ada apa Maura, kenapa kamu seperti ketakutan," tanya Davin melihat raut wajah Maura yang terlihat seperti ketakutan. Namun seketika pandangannya teralihkan pada tubuh Maura yang hanya mengenakan gaun tidur yang menonjolkan bagian tubuhnya, terutama di bagian teratasnya. Davin pastikan dua benda kenyal itu tidak ditutupi oleh apa pun kecuali gaun satin yang dikenakan Maura.
"Ku kira siapa yang ada di dapur. Saat melihat bayangan om, Aku langsung takut," ujar Maura.
"Maafkan om yang sudah membuat mu takut. Kamu kenapa bangun tengah malam seperti ini" tukas Davin meneguk air dingin yang diambilnya dari dalam kulkas.
"Aku haus om" ujar Maura mengambil air putih yang ada di atas meja.
Davin berjalan mendekati Maura, mengintari meja makan sembari menatap Maura yang meneguk air putihnya. Seperkian detik Davin sudah berdiri tepat dihadapan Maura dengan tatapan matanya yang tertuju pada netra Maura. Maura merasakan suasana yang semakin canggung.
"O...om.." ujar Maura terbata saat menyadari jarak mereka terlalu dekat. Davin membelai wajah mulus Maura dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Maura tampak menelan ludahnya berkali kali karena merasa gugup karena kedekatan mereka.
Cukup lama Davin memandang wajah Maura, Ia semakin mendekatkan wajahnya. Maura membelalakkan matanya saat merasakan sesuatu menabrak bibirnya. Apa lagi kalau bukan bibir Davin yang mendarat disana. Dipastikan saat ini jantung Maura hampir saja ingin keluar dari tubuhnya. Davin mulai mencium lembut bibir Maura. Seakan terhipnotis dengan ciuman hangat Davin, Maura malah menikmatinya bahkan membalas ciuman Davin. Refleks Maura melingkarkan tangannya di leher Davin.
Davin mengangkat tubuh Maura ke atas meja dengan bibir mereka yang masih bertautan. Lama kelamaan ciuman itu semakin menuntut dan menggebu-gebu hingga menimbulkan decakan yang memenuhi dapur.
Salah satu tangan Davin berkelana di atas paha mulus Maura, membelainya dengan lembut hingga membuat merasakan getaran aneh dalam tubuhnya.
"Nghhh...om..." lenguh Maura saat Davin mengecupi leher Maura.
"Kenapa kamu selalu saja menggoda sayang..hmm.., Apa kamu sengaja memakai baju ini," ujar Davin kembali meraup bibir Maura. Kini lumata*n Davin semakin penuh hasrat. Tangan kanan Davin menyusup kedalam baju tidur Maura dan menangkup salah satu gundukan milik Maura yang tidak di tutupi oleh bra. Tebakannya benar. Tangan Davin bahkan tidak bisa menangkup keseluruhan gundukan itu.
"Oh..sudah kuduga, ukurannya pasti besar" bisik Davin membuat Maura merona.
"Om..enghh...Dav..." desah Maura saat Davin mere*as gundukan nya. Refleks Maura melingkarkan kakinya dipinggang Davin.
"Yah...panggil nama ku baby..." ucap Davin menatap Maura yang memejamkan matanya menikmati permainan Davin hingga Davin menurunkan tali baju Maura dan terpampanglah dua gundukan besar milik Maura.
"Indah sekali sayang...." gumam Davin namun masih bisa didengar oleh Maura. Davin bermain main sejenak disana membuat Maura melenguh kenikmatan menginginkan hal lebih. Maura mer*m*s rambut Davin dan membusungkan dadanya.
"Ohhh....shhhh...." desah Maura. Davin meraup salah satu ni*ple Maura dan meng*s*pnya seperti bayi yang sudah kelaparan.
"Ahhh...jangan digigit Dav...." ucap Maura semakin membuat Davin bergairah hanya karena panggilan Maura.
Maura menutup matanya menikmati setiap sentuhan Davin. Sungguh, Ia sangat menyukai saat Davin memberinya kenikmatan seperti ini. Ia semakin menekan kepala Davin ke dadanya. Davin mengesek-gesekkan miliknya ke milik Maura yang masih terbungkus dengan CD.
"Sayang.....Maura..." rancau Davin. Iya tidak pernah seperti ini sebelumnya dengan wanita lain. Hanya Maura yang mampu membuat dirinya seperti ini. Maura membuat dirinya menginginkannya.
"Jlegerrrr..." terdengar suara petir yang begitu kuat hingga membuat Davin dan Maura terkejut dan menghentikan kegiatannya. Hujan pun turun kembali.
Seperkian detik kemudian terdengar suara Cecilia yang menangis histeris. Maura mendorong tubuh Davin lalu berlari ke kamarnya sembari merapikan pakaiannya.
"Sayang....Cecil ini mommy sayang..." ucap Maura memeluk tubuh Cecilia yang menangis ketakutan.
"Mommy...Cecil takut. Mommy tidak disini tadi" ujar Cecilia menangis.
"Iya sayang...maafkan mommy ya,. mommy tadi haus sayang" ujar Maura mengecup kepala Cecilia.
"Apa Cecil takut sayang..." ucap Davin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Maura. Sebenarnya Maura merasa malu saat ini mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Untuk saat ini yang lebih penting adalah menenangkan Cecilia.
"Cecil takut dad...ada suala petil" ujar Cecil.
"Jangan takut lagi ya sayang, kan sudah ada daddy dan mommy disini" ucap Davin duduk di tepi ranjang mengelus puncak kepala Cecilia.
"Dad tidul disini sama kami ya.." pinta Cecilia. Davin menatap Maura untuk meminta pendapatnya. Maura kemudian mengangguk.
"Iya sayang..daddy akan tidur disini," ujar Davin naik ke atas ranjang. Maura lalu membatu Cecilia membaringkan tubuhnya.
"Daddy peluk Cecil ya," pinta Cecilia yang tidur diantara Davin dan Maura.
"Baiklah sayang daddy akan peluk kamu," balas Davin memeluk tubuh kecil Cecilia.
"Tidurlah.." ucap Davin menatap Maura dan dibalas dengan anggukan. Akhirnya mereka pun tidur dengan suasana malam yang ditemani hujan dan petir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Zainab ddi
wah Maura terlena nih
2022-09-03
3
◉‿◉♡-Ƥυтrу Ƴαѕмιη-♡◉‿◉
Yahhh, kirain pak RT yg datang ternyata suara petir yg bunyi 😅
2022-08-26
1
Heros
untung ada petir klo tdk pasti tuh msk gawang🤭🤭🤭
2022-08-22
0