Setelah selesai menyiapkan makanan, Maura memanggil Davin yang sedang menonton di ruang tengah.
"Om, makanannya sudah siap," ujar Maura. Davin berjalan menuju meja makan dan melihat masakan Maura yang sangat menggiurkan. Ia sudah menahan lapar sedari tadi.
"Terimakasih Maura," ucap Davin duduk di kursi.
"Maura tinggal sebentar ya om. Maura mau menyiapkan kamar tidur untuk om" ucap Maura lalu dibalas anggukan oleh Davin. Maklumlah, kamar itu tidak pernah ditempati lagi setelah sekian lama.Maura melangkahkan kakinya menuju kamar tidur daddy dan mommynya dulu ketika mereka masih tinggal disana.
Ia tampak mengambil sprei dari lemari dan memasangnya ke kasur.
"Loh, cepat banget makannya om," ujar Maura terkejut melihat makanan yang ada diatas meja sudah habis. Rasanya baru beberapa menit Maura meninggalkan Davin.
"Om udah lapar sekali dan juga karena masakan mu enak banget," ujar Davin menghabiskan air putih yang ada di gelasnya.
"Udah tau lapar tapi tadi malah main peluk-peluk," batin Maura menatap aneh pada Davin. Maura lalu merapikan piring-piring yang di atas meja dan membawanya ke wastafel.
"Biar om saja yang membersihkannya," ucap Davin membawa sebagian piring ke wastafel.
"Tidak usah om, Maura bisa sendiri kok. Om mandi saja. Maura udah menyiapkan perlengkapan mandi untuk om," ucap Maura.
"Tapi__"
"Udah sana om mandi saja," ucap Maura memotong perkataan Davin. Ia mendorong pelan tubuh Davin membawanya menuju kamar orang tuanya dulu.
"Om masuk saja ke dalam, nanti om tidur disini saja. Maura juga udah merapikan tempat tidurnya," ucap Maura membuka pintu kamar.
"Baiklah kalau begitu. Om ambil baju di mobil dulu," pungkas Davin. Untung saja bajunya ada di dalam mobilnya karena setelah urusan bisnisnya yang diluar kota selesai, Ia langsung menuju rumah Maura.
Tak lama kemudian Davin sudah selesai mandi, Ia merebahkan dirinya diatas kasur. Ia tampak memikirkan sesuatu, seperkian detik kemudian Ia tampak menyeringai.
"Ceklek.." Davin membuka pintu kamar Maura. Ia mendekat dengan langkah kaki yang pelan. Sebuah senyuman terukir di bibirnya saat melihat Maura dan Cecilia tidur dengan posisi berpelukan. Mereka sudah seperti ibu dan anak saja. Perlahan Ia naik ke atas ranjang dan tidur di samping Maura. Terserah jika Maura marah saat bangun dan melihatnya disana, yang penting Ia bisa tidur di dekat Maura.
Davin melingkarkan tangannya di pinggang Maura dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Maura.
"Kenapa seperti ada yang memelukku" batin Maura membuka matanya dan melihat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Rasa takut mulai menghampiri dirinya. Dengan pelan Maura memutar tubuhnya dan melihat wajah Davin tepat di depan wajahnya yang sedang menatapnya.
"O..om Davin.." ucapnya terbata.
"Oh astaga...maaf sudah membangunkan mu?" ucap Davin.
"Ke..kenapa om ada disini?" tanya Maura gugup. Bagaimana tidak gugup, wajah mereka begitu dekat ditambah lagi dengan Davin yang memeluknya.
"Om tidak bisa tidur disana, sejak tadi om sudah mencoba memejamkan mata, tapi tidak bisa juga. Mungkin karena ini pertama kalinya om menginap disini," ucap Davin berbohong. Siapa bilang Ia tidak bisa tidur. Itu hanya alasan saja agar Dia bisa tidur di kamar Maura.
"Maaf om terlalu lancang, Apa kamu marah? Kalau begitu om akan pergi," ucap Davin bangkit dari tidurnya namun ditahan oleh Maura.
"Maura gak marah kok om," ujar Maura merutuki mulutnya yang mengucapkan kata-kata itu.
"Oh astaga, dasar mulut sialan. Kenapa tidak membiarkan om Davin pergi sih," batinnya.
"Terimakasih," ucap Davin tertawa senang di dalam hatinya, menenggelamkan wajahnya di depan dada Maura. Refleks membuat Maura membeku dan spot jantung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
mery harwati
Lha Davin juga pengen nyusu kayak Cheryl 😂
2024-10-28
0
Wina
Bisa aja ni mas duda
2024-10-16
0
Nartadi Yana
ingat pak dude belum halal
2024-08-02
1