2 minggu telah berlalu, Anjani berniat meminta izin kepada majikannya untuk mengirim kabar kepada keluarganya yang ada di kampung. Sambil menunggu kepulangan sang majikan, ia bermain bersama kedua anak perempuan majikannya.
Saat ini sang majikan sedang mengajar di sebuah sekolah SMA. Seperti biasa, sore hari majikan perempuan itu pun pulang. Anjani menunggu sejenak waktu senggangnya untuk mulai berbicara.
"Nyonya, saya ingin meminta izin untuk mengabari keluarga saya." Pinta Anjani setelah majikannya selesai makan. Berbeda dengan saat ia bekerja di tanah air, di sini, panggilan yang lebih hormat harus ia ucapkan.
"Tidak boleh! Pokoknya kamu tidak boleh keluar dari rumah ini! Soal belanja, biar saya yang urus!" Ucap majikannya itu di meja makan.
"Oh ya, saat ini tuan sedang menjalankan tugas kemiliteran, ia tidak akan pulang selama 1 bulan." Lanjutnya.
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi," ucap Anjani merasa kecewa.
Padahal dirinya sudah berharap lebih, ia sebelumnya berniat untuk menanyakan beberapa hal juga kepada majikannya. Tapi, mendengar perkataan itu Anjani merasa sedih, ia hanya bisa pergi untuk beristirahat di kamarnya.
Di kamar, Anjani hanya merenung, melihat lautan luas di balik jendela kamarnya. Ia tak ingin memperlihatkan wajah sedihnya sama sekali.
"Laila, kamu kangen gak sama Mama? Mama di sini lagi kerja, cari uang buat kamu. Semoga kamu di sana cepet sembuh ya Sayang." Ucap Anjani dalam keheningan.
Hembusan angin pantai membawa kata-katanya itu entah kemana. Anjani harap, semua keluarganya bisa merasa tenang meskipun saat ini dirinya belum mengirim kabar.
Anjani ingat, saat dimana terakhir kali ia meninggalkan Laila. Di rumah Emak, Laila yang sudah bisa duduk itu hanya bermain dengan mainannya, ia sama sekali tidak menghiraukan kepergian Anjani.
***
Hari libur sekolah, saat ini Anjani tidak sedang bersantai., ia sibuk menemani kedua putri majikannya untuk bermain. Sementara, majikan perempuannya itu saat ini sedang pergi ke luar.
"Bi, aku mau naik ke sana!" Ucap salah seorang putri yang paling kecil, ia menunjuk-nunjuk ke atas sebuah lemari.
"Gak boleh, nanti kamu jatoh." Anjani melarangnya.
"Aku mau naik ke sana! Aku mau naik! Huaaa.." anak perempuan itu terus saja merengek dan akhirnya menangis.
Lemari itu memang tidak terlalu tinggi, kira-kira hanya 1,5 meter dari permukaan lantai. Tapi permintaannya itu terlalu konyol dan Anjani takut jika lemarinya akan rubuh. Alih-alih jika terjadi suatu kecelakaan, dirinya pula yang akan disalahkan.
Beberapa kali Anjani mencoba membujuknya dengan makanan maupun mainan, tapi tangisan anak itu sama sekali tidak reda dan suaranya membuat telinga Anjani sakit. Anak itu juga menggigit-gigit tangan Anjani dan Anjani juga tidak berani melawannya.
"Bi, sudah lah turuti saja apa maunya! Berisik sekali!" Ucap anak perempuan yang paling besar.
Terpaksa Anjani menuruti permintaan anak majikannya itu, ia mengangkat anak itu dan membiarkannya duduk di atas lemari sambil terus diawasi.
"Sudah ya, nanti Mama kamu pulang." Ucap Anjani, takut majikannya datang dan memarahinya.
"Tidak mau!" Tolak Anak itu yang hanya duduk-duduk saja.
'Duhh.. Nyonya kapan pulangnya ya?' gumam Anjani merasa cemas.
Sambil terus mengawasi anak perempuan yang ada di atas lemari, sesekali Anjani melirik ke arah kakaknya. Ia takut anak itu juga akan berbuat macam-macam.
Ada sekiranya 30 menit, anak yang berada di atas lemari itu terlihat mulai mengantuk. Anjani segera menggendongnya dan membawanya ke kamar.
'Anak ini, seperti bayi saja!' gumam Anjani merasa kesal, kakinya sudah pegal berdiri mengawasi anak itu.
Setelah selesai menidurkannya, Anjani pergi ke dapur dan mulai memasak, ia takut majikannya keburu pulang dan tidak ada makanan yang tersaji di atas meja.
"Bi, main sama aku dong." Ucap anak perempuan yang paling besar.
"Iya sebentar, Bibi lagi masak dulu." Jawab Anjani.
Anak yang satu itu terlihat gampang diatur, ia bermain sendiri dengan bonekanya dan sama sekali tidak mengganggu Anjani yang sedang memasak.
"Bi, sudah kan masaknya?" Tanya anak itu melihat Anjani menyajikan makanan.
"Iya, sudah." Melihat sikapnya yang berbeda dengan adiknya, dengan senang hati Anjani menemani anak itu untuk bermain.
Sore hari, majikan perempuannya itu pun pulang. Anjani menarik nafas lega dan langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya untuk membersihkan diri.
Anjani yang selesai dengan pekerjaannya itu berbaring di atas ranjang setelah menunaikan ibadah shalat maghrib.
"Hey kamu, ke sini," tiba-tiba sang majikan membukakan pintu kamar Anjani.
"Ada apa Nyonya?" Anjani menghampirinya.
"Umur kamu berapa?" Tanya sang majikan.
"Umur saya 18 tahun Nyonya."
"Hah?! Kok kamu masih muda gini udah bisa kerja?"
Majikannya itu terkejut, dan pertanyaannya membuat Anjani kebingungan.
"Iya Nyonya, persyaratan untuk kerja di sini minimal usianya harus 18 tahun." Jawab Anjani, tetapi bukan itu yang dimaksud oleh majikannya.
"Pake apa itu wajah kamu bisa mulus gitu?" Sang majikan terlihat sinis.
"Saya biasanya cuma pake bedak, itu pun jarang Nyonya." Ucap Anjani alakadarnya.
Majikannya itu tidak percaya, ia langsung melihat isi kamar Anjani untuk memastikan barang-barang yang dipakai oleh Anjani. Tapi saat itu memang tidak ada apapun selain minyak kayu putih dan bedak tabur.
"Saya akan pergi sekarang, cepat kunci pintunya, dan jangan tidur sebelum saya pulang." Ucap sang majikan keluar dari kamar Anjani.
Anjani pun segera mengikuti majikannya itu hingga ke depan pintu.
'Bajunya kok seksi sekali? Nyonya gak bakalan pake kerudungnya ya?'
Anjani melihat sang majikan pergi menggunakan gaun merah dan sepatu hak tinggi. Tak biasanya Anjani melihat majikannya berpenampilan seperti itu. Biasanya majikannya itu selalu berpakaian sewajarnya dan keluar memakai kerudung meskipun hanya diselendangkan.
Setelah shalat isya, Anjani berjalan keluar dari kamar. Ia duduk di atas lantai menunggu majikannya pulang. Tak sengaja, dirinya yang kelelahan itu tertidur sambil bersandar pada dinding.
"Tok..tok.. tok.."
"Buka pintunya!"
Terdengar ketukan pintu sekaligus suara majikannya dari luar. Untungnya Anjani yang ketiduran itu saat ini berada di dekat pintu, jadi ia langsung terbangun dan segera membukakan pintunya.
"Jangan pernah bilang ke suami saya kalau saya sudah menghadiri pesta." Ucap sang majikan meninggalkan Anjani.
"Baik Nyonya." Anjani langsung mengunci pintu dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Sudah 1 minggu lamanya sang majikan laki-laki tidak berada di rumah. Anjani merasa ada sesuatu yang janggal, ia mengira bahwa majikan perempuannya itu telah bermain-main dengan lelaki lain.
Setiap hari, dirinya selalu mewanti-wanti Anjani agar tidak memberitahukan perbuatannya kepada suaminya. Anjani hanya menurut saja, ia tidak berani bertanya karena takut majikannya marah dan membuat dirinya dipecat dari pekerjaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments