"Mak, A adwi katanya hari ini mau ngajak Teteh main, boleh kan Mak?"
Hari sabtu itu, pagi-pagi sekali Anjani sudah meminta izin kepada emaknya. Ia beranjak dari kamarnya dan datang menemui emaknya yang tengah berada di dapur.
"Mau main ke mana Teh?" Tanya Emak.
"Belum tau Mak, tapi Ratih sama pacarnya juga ikut kok Mak."
"Ratih yang ada di lembur (tengah kampung) itu?"
"Iya Mak."
"Ya sudah, tapi ingat waktu ya."
"Iya Mak."
Dengan perasaan senang, Anjani kembali ke kamarnya. Ia duduk di atas ranjang, menatap dirinya di cermin sambil mengelus rambut panjangnya.
"Aku harus pake baju yang mana ya?" Anjani bangkit dari tempat duduknya dan mulai memantaskan diri dengan pakaian-pakaiannya.
Setelah memilih pakaian yang pas, Anjani menaruh pakaian itu di atas ranjang. Ia mengambil handuknya dan langsung pergi ke kamar mandi.
Sekitar pukul 7, Anjani sudah siap dengan dirinya. Ia sudah mandi dan sudah memakai pakaian yang dipilih tadi. Anjani tidak mau membuat Adwi menunggu lama, dirinya sangat menanti-nantikan hari sabtu ini.
Sekitar pukul 9, Adwi sudah datang menjemput Anjani. Ia datang sendirian, sedangkan Darma sedang menunggu di rumah Ratih.
"Anjani, tadi di bawah ada cowok yang ngomong sama aku." Ucap Adwi yang saat itu dipersilahkan masuk terlebih dahulu.
"Ngomong apa A?" Tanya Anjani keheranan.
"Ya.. gitu lah, kayaknya dia gak suka kalo aku deket sama kamu."
Seketika Anjani merasa terkejut. Ada orang yang ingin merusak hubungannya dengan Adwi. Anjani yang merasa akhir-akhir ini dirinya sedang didekati oleh Malik mengira bahwa orang yang ingin merusak hubungannya adalah Malik.
Anjani merasa geram, kenapa bisa-bisanya Malik melakukan ini?
"Ya udah gak usah dipikirin A."
Anjani mengikat rambutnya yang panjang itu agar tidak kusut saat tertiup angin. Mereka berangkat naik motor dan menuju ke rumahnya Ratih. Sebelum itu Adwi juga sudah meminta izin kembali pada emaknya Anjani.
"Oh! Itu tuh orangnya." Ucap Adwi saat sedang mengendarai motor.
Anjani menoleh ke arah kanan. Ternyata di sana memang ada Malik, tapi ia terlihat sedang bersama teman-temannya.
"Hey! Anjani!" Malik berteriak dan menghampiri motor yang sedang melaju pelan itu.
Karena melihat Malik berjalan mendekatinya, Adwi pun memberhentikan motornya.
"Ohh.. ini pacar kamu ya?" Tanya Malik yang baru saja sampai.
"Iya hehe.." Anjani merasa sedikit malu.
"Hai, kenalin, aku temennya Anjani." Malik mengulurkan tangannya kepada Adwi.
"Salam kenal," Adwi menjabat tangannya itu.
"Mau kemana nih?" Tanya Malik.
"Ini, mau ke rumah Ratih." Ucap Anjani.
"Ohh gitu.. ya udah aku tinggal,"
Malik kembali bergabung bersama teman-temannya. Kemudian Adwi kembali menancapkan gas dan tak sampai satu menit akhirnya mereka sampai di depan rumah Ratih.
Terlihat Darma dan Ratih sedang menunggu di depan rumah, mereka sudah siap untuk segera berangkat. Tanpa basa-basi lagi, mereka berangkat menuju ke suatu tempat dan motor Adwi memimpin di depan.
Tempat dimana Malik berada kembali mereka lalui. Dengan terpaksa, Anjani menoleh untuk sekedar tersenyum kepada Malik dan teman-temannya.
"A, orang yang pengen ngejauhin Aa dari aku itu yang tadi ya?" Tanya Anjani dalam perjalanan.
"Bukan, bukan yang tadi nyamperin kita kok. Tapi orang itu ada di sana." Ucap Adwi.
Anjani yang mendengar penjelasan itu merasa bersalah karena telah menuduh Malik. Tapi siapa sebenarnya orang yang sudah berani berbicara hal seperti itu?
Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, mereka datang ke tempat wisata kebun teh di pegunungan. Tempat itu tidak begitu jauh jika dituju dari kampung Anjani.
"Wahh.. di pegunungan ternyata udaranya sejuk ya,"
Anjani merenggangkan kedua tangannya. Meskipun jarak antara kampung Anjani dan pegunungan itu lumayan dekat, tapi Anjani baru kali ini datang ke tempat itu.
"Haha.. iya, kamu mau makan? Kita pesen yang anget-anget." Ajak Adwi, mengingat udara di sana sangat dingin.
"Mmm..boleh A,"
Anjani merasa ragu, ini kali pertamanya ia ditraktir oleh laki-laki. Mereka berpisah dengan Darma dan Ratih dan berjalan menuju ke sebuah tempat makan.
"Kamu mau pesen apa?" Tanya Adwi yang tengah duduk berhadapan dengan Anjani.
"Emm.. aku mau mie kuah aja," Anjani merasa tidak enak jika harus meminta yang mahal-mahal.
"Loh? Masa pesen itu sih? Kamu yakin?" Adwi rasa pesanan Anjani terlalu murah.
"Iya A, aku lagi pengen mie instan." Anjani berbohong, padahal saat itu ia ngiler melihat makanan lain.
"Ya udah, aku juga pesan mie instan." Ucap Adwi.
Di sebuah vila yang berada di puncak itu, mereka menikmati makanan hangat di tengah udara yang sejuk.
"Kalo ada hp kita bisa foto bareng, iya kan? Tapi sayang, aku gak punya hp sekarang." Ucap Adwi yang sedang menyantap mie instan miliknya.
"Hehe.. iya A." Anjani merasa sedikit malu saat makan di hadapan Adwi.
Hari itu mereka menikmati pemandangan puncak kebun teh yang sangat indah, pemandangan pohon cemara yang runcing juga asyik mereka pandangi.
Karena hanya sekedar melihat-lihat, mereka tak menghabiskan waktu begitu lama di sana. Sekitar pukul 11 mereka memutuskan untuk pulang.
Sekarang, Adwi tengah berada di rumah Anjani, sebelumnya ia dan Darma berpisah di jalan.
"Mak, ini dimakan dulu, A Adwi beliin bakso buat kita," Anjani memanggil emaknya yang saat itu tengah menonton TV.
"Ehh... repot-repot segala, padahal Emak kan gak pesen." Ucap Emak menghampiri Adwi dan Anjani.
"Nggak kok Mak, tadi aku bingung mau beli apa, itu juga belinya pas jalan pulang. Emak suka bakso kan?" Ucap Adwi.
"Emak mah suka makan apa aja juga."
Saat itu Adwi dan mereka sekeluarga makan bakso bersama. Emak rasa Adwi itu memang betul-betul orang yang baik, ia tak pernah terlambat membawa Anjani kembali pulang. Dan Anjani juga kelihatannya sangat senang saat berada di dekat Adwi.
"Anjani, ini, aku ada sedikit uang buat kamu," ucap Adwi sambil menyerahkan sejumlah uang.
"Loh? Buat apa A?" Anjani terkejut sekaligus keheranan.
"Itu, terserah mau kamu beliin apa aja. Yang penting gunain uang itu sebaik-baiknya ya."
"I-iya, tapi, aku kan gak minta A?"
"Gak papa, aku sengaja kok kasih kamu uang, aku ikhlas."
Anjani merasa tidak enak, tapi saat itu ia menerimanya.
"Kalo gitu aku pulang dulu ya." Ucap Adwi.
"Loh A? Udah mau pulang? Ini masih siang loh." Anjani merasa keberatan ketika mendengar Adwi akan pergi.
"Iya, aku ada urusan di kampung. Aku bakalan sering-sering dateng ke sini kok, boleh kan?"
"Ya boleh atuh A, boleh banget."
Dengan terpaksa, Anjani mengikhlaskan kepergian Adwi. Ia tidak enak jika harus memaksa Adwi untuk tetap tinggal.
Beberapa bulan berlalu, Adwi yang sering sibuk dengan urusannya di kampung itu ternyata tengah bekerja keras.
Saat ini ia mempunyai banyak hewan ternak yang harus diurus. Setiap pagi dan sore, ia selalu mencari rumput ke kebun. Tidak hanya itu, Adwi juga ikut meneruskan pekerjaan bapaknya sebagai penghasil gula.
Setelah lulus SMP, Adwi tidak meneruskan pendidikannya. Pola pikirnya perlahan berubah, Adwi yang dahulu semangat untuk terus bersekolah, kini telah memutuskan untuk mengakhiri pendidikannya dan mencari uang agar tidak membebani kedua orang tuanya.
Sejak saat itu pun sang ibu tiri mulai bersikap baik kepada Adwi. Terkadang, Adwi memberikan sebagian penghasilannya kepada kedua orang tuanya, itu ia lakukan sebagai ucapan rasa terimakasihnya karena kedua mereka sudah rela mengurus dan menyekolahkan dirinya.
Emak yang sudah tahu sifat baik Adwi merasa tenang, anak gadisnya mendapatkan seorang lelaki yang pantas. Adwi sering datang ke rumah Anjani dan sesekali mengajak Anjani pergi ke luar. Adwi juga sering memberikan Anjani uang walaupun Anjani tidak mengharapkannya.
Tapi, Anjani yang sudah terlalu lama tinggal di rumah dan merasa tidak enak dengan Adwi yang selalu memberikannya uang, mulai berniat untuk pergi lagi ke kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments