Setelah mendapat kabar dari bibinya Adwi, sore nya Adwi datang ke rumah Anjani sendirian.
"Ikut aku ya, kita ke rumah bibiku," ucap Adwi.
Tanpa basa-basi, Adwi yang baru sampai di depan pintu itu langsung mengajak Anjani untuk pergi.
"Iya A," saat itu Anjani hanya ikut-ikut saja, ia bahkan tidak menanyakan kebenaran tentang kabar yang sudah disampaikan oleh bibinya Adwi.
Setelah berpamitan dengan keluarganya, Anjani dan Adwi pun berangkat. Mereka datang ke rumah bibinya Adwi yang jaraknya juga sangat dekat dengan rumah Adwi.
Di sana keluarga besar Adwi sudah berkumpul, Anjani dan Adwi pun langsung dipersilahkan untuk duduk di atas sofa.
"Neng, tadi ada yang ke sini, tiba-tiba dia bilang kalo dia lagi punya anak, tapi kita belum tahu itu anaknya siapa, cuma dia ngakunya itu anaknya Adwi," ucap bapaknya Adwi yang langsung memulai pembicaraan.
"Orang itu minta pertanggung jawabannya Adwi, dia bilang yang terpenting dirinya dinikahi, dan besoknya langsung cerai," lanjut bapaknya Adwi.
Bapaknya Adwi bilang, saat Adwi sedang berhubungan dengan Anjani, Adwi pernah bermain ke rumah wanita itu bersama teman-temannya. Kejadian itu bukan Adwi yang melakukannya, melainkan teman-temannya. Tapi sekarang, malah Adwi yang terkena imbasnya.
"Ah, ya udah biarin aja kalau mau nikah mah," ucap Anjani dengan polosnya.
Saat itu sekeluarga terkejut melihat respons Anjani yang dengan mudahnya merelakan Adwi. Di depan keluarga itu, Anjani juga sama sekali tidak menunjukkan air matanya.
"Beneran Neng?!" Bapaknya Adwi tercengang.
"Adwi cuma mau nikahin dia kok, setelah itu mereka akan bercerai," lanjut bapaknya Adwi yang tidak ingin melihat Anjani pergi.
"Iya Pak," ucap Anjani.
"Ya Allah Neng, Neng ini baik sekali, kenapa nasib buruk bisa menimpa seperti ini," malah, saat itu keluarga Adwi yang menangis karena salut dengan sikap Anjani yang tegar.
Anjani itu memang anak yang baik, selain baik Anjani juga memiliki paras yang cantik. Mereka pikir Anjani yang sesempurna itu akan berakhir dengan memutuskan hubungannya dengan Adwi.
Saat itu Adwi hanya terlihat menunduk, ia tidak berkata sepatah kata apapun. Karena Anjani merasa pembicaraannya sudah selesai, tanpa berlama-lama lagi Anjani pamit dan langsung pulang diantarkan oleh Adwi.
Sepanjang perjalanan suasana terasa renggang, Anjani maupun Adwi tidak mengobrol satu topik apapun hingga mereka sampai di kampung Anjani.
Saat itu motor Adwi tengah melewati jalanan jurang yang biasa disebut pasir urug, tiba-tiba saja Anjani berusaha merubuhkan keseimbangan motor yang berjalan di atas jalanan kecil itu. Sontak Adwi terkejut dengan tingkah laku Anjani yang sembrono. Tapi, dengan cepat Adwi menopang motornya agar tidak jatuh.
"Apa-apaan sih kamu?!" Adwi berkata dengan suara yang keras, hampir saja mereka jatuh ke dalam jurang yang tingginya 20 meter itu.
"Biarin A! Mati, mati aja berdua!" Anjani meneteskan air matanya, ia merasa sangat kesal kepada Adwi.
Anjani langsung turun dari motor dan pergi meninggalkan Adwi sendirian. Ia berjalan ke rumahnya dengan wajah yang sendu. Sepanjang perjalanan, ia terus saja menangis. Semua orang yang melihatnya seketika merasa khawatir dan mencoba untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Tapi Anjani sama sekali tidak menghiraukan mereka, dan ia langsung mempercepat langkahnya.
Sementara itu, Adwi yang ditinggal pergi oleh Anjani langsung memutar balik arah motornya. Ia pulang tanpa mempedulikan Anjani yang saat ini tengah menangis di perjalanan. Sejak saat itu juga, Adwi tak pernah datang lagi ke rumah Anjani. Tidak ada permintaan maaf maupun penjelasan yang keluar dari mulut Adwi sendiri.
Perlahan, tetangga-tetangga Anjani mulai mengetahui kebenaran yang telah terjadi. Mereka tidak menyangka pemuda yang tampan dan terlihat baik itu sudah berani menghamili anak orang lain.
"Bu, Anjani tuh jangan dikasihin ke orang yang kayak gitu! Gak akan bener, anak gak baik!" Ucap tetangga Anjani kepada Emak.
"Nah Teh, kamu denger sendiri kan? Teteh itu orangnya baik, harus dapet jodoh yang baik juga. Udah, jangan hubungan sama dia lagi." Ucap Emak kepada Anjani.
"Gak mau Mak, Teteh maunya sama A Adwi!" Anjani pergi ke kamarnya dan meninggalkan Emak.
"Saya gak tau harus gimana lagi sama dia, dia itu susah sekali dibilangin."
Sudah berkali-kali Emak melarang Anjani untuk tidak berhubungan lagi dengan Adwi. Meskipun Adwi sudah tidak ada kabar, tapi Anjani tetap saja bersikeras untuk meneruskan hubungannya dengan Adwi.
Malamnya, Anjani sama sekali tidak keluar dari dalam kamar. Biasanya ia suka ikut berkumpul dan menonton TV bersama keluarganya.
'Aku yakin kok A Adwi cinta sama aku, aku yakin A Adwi itu gak salah. Kenapa mereka yang gak tau apa-apa beraninya ngatain A Adwi?' Gumam Anjani.
Sudah 5 bulan Anjani dan Adwi berhubungan, ia sudah tahu betul bagaimana sikapnya Adwi. Anjani merasa sedih, ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Adwi. Adwi yang tidak salah apa-apa dipaksa harus menikahi wanita yang tidak dicintainya.
"Teh.. ke sini sebentar," panggil Emak yang tengah berada di ruang keluarga.
Dengan ragu, Anjani pun langsung keluar dari kamarnya dan menghampiri keluarganya yang sedang menonton TV.
"Ada apa Mak?" Tanya Anjani.
"Duduk dulu atuh," titah Emak.
"Teh, daripada kamu nikah sama anak yang gak jelas itu, mending kamu terima lamarannya Pak Ghandi," yang Emak maksud adalah pria tua yang sempat ingin melamar Anjani waktu Anjani bekerja di rumah majikannya.
"Emak kok tau sama Pak Ghandi? Nggak mak, Teteh gak mau!" Anjani terkejut, dari mana Emak bisa tahu soal Pak Ghandi? Padahal ia sendiri tidak pernah menceritakannya.
"Abah dulu tau itu dari majikanmu, walaupun Pak Ghandi sudah tua, tapi mungkin Pak Ghandi bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu." ucap Emak.
"Nggak Mak, Bah, Teteh pokoknya gak mau! Emak sama Abah gak tau kalo A Adwi itu lagi ngumpulin uang buat kita nikah. Teteh cuma pengen nikah sama A Adwi!"
Saat itu Anjani yang terkenal sopan dan santun sudah berani berbicara dengan nada yang keras kepada kedua orang tuanya. Ia langsung kembali ke kamarnya sambil meneteskan air mata.
'Kenapa sih orang-orang pada gak suka liat hubungan aku sama A Adwi? Emak pikir aku bisa bahagia cuma karena uang?'
Anjani menangis, ia sangat sayang kepada Adwi dan tidak ingin berpisah dengan Adwi. Anjani yakin saat ini Adwi juga merasakan hal itu. Tapi celotehan-celotehan yang keluar dari mulut orang-orang membuat Anjani semakin tersiksa.
***
Esoknya, di siang hari, Malik datang ke rumah Anjani. Selama ini Malik memang sering datang ke rumah Anjani, dan Anjani pun sudah bisa menerima kedatangan Malik.
Selama itu Anjani tidak pernah bilang kepada Adwi bahwa Malik sering datang ke rumahnya. Ia takut Adwi tidak akan mengerti, seperti yang terjadi pada mimpi buruknya dulu. Anjani juga tidak berani mengusir Malik karena saat itu memang Malik hanya datang untuk berkunjung saja.
"An, aku denger-denger katanya pacar kamu mau nikah sama orang lain ya?" Tanya Malik yang saat itu sedang duduk di rumah Anjani.
"Iya," jawab Anjani yang masih merasa sedih.
"Ohh.. jadi gimana hubungan kamu sama dia?"
"Kita masih pacaran kok." Jawab Anjani.
Malik tidak habis pikir dengan hubungan mereka itu. Saat ini Adwi akan menikah dengan orang lain, tapi ia sama sekali tidak memutuskan hubungannya dengan Anjani.
"Tuh Teh, mending kamu sama Malik aja, dari dulu kalian kan sering main bareng." Emak yang sedang duduk di bangku depan seenaknya saja menjodoh-jodohkan Anjani dengan orang lain.
Malik yang mendengarnya hanya tertawa kecil, sedangkan Anjani saat itu tidak menghiraukan kata-kata Emak, ia hanya menunduk sedih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments