Anjani yang lupa dengan sekarung padi itu langsung kena marah oleh emaknya.
"Apa?!" Emak terkejut saat mendengarnya.
"Punya anak tidak berguna sekali!"
Tanpa pikir panjang, Emak yang sedang memegang sapu itu langsung memukul-mukul punggung Anjani.
"Buk! Buk! Buk!"
"Abahmu capek-capek ngarit padi tapi kamu malah membuangnya?! Kamu tau padi itu berat?! Abah sendiri yang manggul padi itu dari sawah ke rumah!"
Anjani langsung terjongkok mendapat pukulan itu. Tak henti Emak berbicara dan menyentak-nyentak Anjani.
"Abah mu itu kerja sendirian gak ada yang ngebantuin!"
"Buk! Buk! Buk!"
Seperti orang yang tengah mencuci pakaian dengan cara membanting-tingkannya ke batu, Emak sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang tengah dirasakan oleh Anjani.
Emak sangat marah, sudah pasti padi itu membusuk karena sudah 3 hari 3 malam terkena hujan dan tidak dijemur lagi.
"Hiks.. Hiks.."
Anjani hanya bisa menangis, sejak dulu emaknya itu memang selalu bersikap kasar dalam mendidik dirinya. Tapi berbeda jika emak mendidik adiknya, Indri.
"Hiks.. hiks.." Anjani tak berani melawan, ia hanya menerima nasibnya itu.
Setelah beberapa saat, tak disangka, Indri yang masih berusia 7 tahun melihat kejadian itu secara langsung. Ia tertegun di tempat dan memandang histeris ketakutan.
Emak yang menyadari hal itu langsung berhenti mengayunkan sapunya. Ia mengajak anak bungsunya itu untuk pergi ke kamar dan meninggalkan Anjani. Indri hanya terlihat diam dan pergi menuruti perkataan emaknya.
'Emak kok kasar sekali sama Anjani?' Air mata Anjani tak henti-hentinya menetes.
'Kalau lupa ya mau dibagaimanakan lagi?'
Anjani merasa emaknya sudah keterlaluan, manusia mana yang tidak pernah khilaf dan berbuat salah? Kejadian seperti ini juga tidak hanya terjadi sekali saja.
Dulu, saat Anjani masih duduk di bangku sekolah dasar, ia pernah mengalami hal yang serupa. Alasannya karena ia lupa memberikan rantang makanan kepada neneknya dan malah bermain bersama teman-temannya.
Dadanya terasa sesak dan sakit. Selama ini Anjani bekerja keras hanya untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia sendiri juga sudah membantu menjemur padi, tapi Anjani merasa, hanya karena 1 kesalahan saja jasanya itu tidak pernah dianggap sama sekali.
Entah apa yang ada di pikiran Emak, mungkin Anjani harus jadi manusia yang sempurna, yang tidak mengenal kata lupa. Sedangkan Indri, ia tak pernah sekalipun terlihat diperintah ini itu oleh Emak.
'Mungkin emak memang lebih sayang sama Indri. Mungkin selama ini yang lebih berguna adalah Indri.'
"Hiks.. hiks.."
Meskipun Emak terlihat lebih sayang kepada Indri, tapi Anjani sama sekali tidak membenci adiknya itu.
Saat ini punggung Anjani memerah dan terasa sangat sakit. Berjam-jam lamanya Anjani hanya duduk sendirian di dapur sambil meratapi kesedihannya. Tak ada seorangpun di sana yang datang menghampirinya.
'Kalau ada Abah, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.'
Abah anjani memang selalu bersikap baik. Ia juga selalu terlihat menunjukkan kasih sayangnya kepada Anjani. Tapi saat ini Abah sudah pergi ke ladang, Anjani rindu sosok Abah yang berada di sisinya.
Akhirnya Anjani bangkit, menyudahi air matanya dan pergi membersihkan diri. Hatinya merasa sakit, ia berniat untuk pergi dari rumahnya ini.
'Tapi kemana?'
Sebagai seorang gadis, ia terlalu takut untuk pergi sendirian. Apalagi di pelosok desa yang penuh dengan hutan seperti ini.
Anjani terpikirkan sesuatu, ia masih punya Ratih. Sebelumnya Ratih sudah pernah mengajak Anjani ke rumahnya. Lantas Anjani pergi dari rumah tanpa memberitahu siapapun.
Ia tidak berniat untuk kabur, hanya saja ia ingin tahu apakah orang tuanya akan mencarinya atau tidak. Jika orang tuanya memang tidak mencarinya, dengan senang hati ia akan meninggalkan kampung itu.
Anjani berjalan kaki dari ujung kampung ke tengah kampung. Pemandangan yang ia lewati sepanjang jalan begitu amat sejuk dipandang. Kampungnya yang berada jauh dari perkotaan itu juga jauh dari kata polusi.
Karena ia berada di dataran tinggi, ia bisa melihat pemandangan desa-desa lain yang nampak hijau seperti bukit. Apalagi saat ia melewati sebuah jalan setapak yang diantara kedua sisinya adalah jurang, kurang lebih tingginya 20 meter.
Jalan itu disebut Pasir Urug atau dalam bahasa Indonesianya adalah pasir longsor. Meskipun dinamai seperti itu, jalan yang berdiri di tengah-tengah jurang itu sangat kokoh dan umum dilalui orang-orang.
Saat menoleh ke kanan, ia bisa melihat sungai dan sawah-sawah yang berada di bawah jurang. Sementara di sebelah kirinya terlihat rumah-rumah penduduk yang berjarak agak jauh dari jurang itu.
Setelah berjalan sekitar 3 menit dari sana, akhirnya Anjani sampai di depan rumahnya Ratih.
"Assalamu'alaikum! Ratih..." Panggil Anjani dari luar.
"Iya! Wa'alaikumsallam," Terlihat sosok Ratih yang membukakan pintu.
"Anjani? Ayo, ayo masuk!" Ratih terlihat begitu ramah.
Hari ini adalah hari sabtu, Anjani tahu bahwa sekolah Ratih libur pada hari sabtu. Jadi ia mencoba mengunjunginya untuk menghilangkan sedikit kesedihannya.
"Emak kamu sudah sembuh An?" Ratih membawakan segelas air putih dan meletakkannya di atas meja.
"Belum," jawab Anjani jujur. Wajahnya tidak menampakkan rasa sakit yang saat ini sedang ditahannya.
Anjani bingung mau berbicara apa, saat ini hatinya tengah diselimuti oleh kesedihan. Ia butuh seseorang yang dapat menghibur dirinya. Tapi apakah Ratih akan mengerti dan bisa meredakan rasa sakitnya?
"An, kok diam saja? Hehehe.. apa disini membosankan ya?" Tanya Ratih, merasa tidak enak.
"Ah, tidak kok! Justru aku ke sini karena merasa kesepian," tatapan Anjani terlihat kosong, Ratih merasa ada yang aneh dengan Anjani.
"An..."
Tiba-tiba terdengar suara motor yang mengalihkan perhatian Ratih. Sudah pasti suara motor itu berasal dari seseorang yang ia kenal.
"Assalamu'alaikum!" Setelah beberapa saat, suara sahutan terdengar dari luar.
"Sebentar ya aku lihat dulu," ucap Ratih sambil bergegas menuju pintu.
"Wa'alaikumsallam. Eh? Darma? Kirain gak bakalan ke sini." Ratih membukakan pintu, ia terlihat malu-malu. Ia mempersilahkan pacarnya, Darma untuk masuk.
"Loh? Ada temen kamu?" Tanya Darma yang melihat Anjani sedang duduk di kursi.
"Iya hehe, udah lama kita gak ketemu." Jawab Ratih sambil tersenyum.
Darma datang bersama 1 orang temannya. Mereka tinggal di perbatasan kota yang jaraknya lumayan jauh dari desanya Ratih.
Tepat di depan pintu, Adwi yang merupakan temannya Darma langsung membelalak melihat seorang gadis cantik nan anggun yang sedang duduk di atas kursi.
Adwi tertegun di depan pintu dan bingung harus berjalan kemana. Ekspresinya itu membuat Ratih dan Darma yang merupakan sepasang kekasih menjadi keheranan.
Seketika mereka berdua langsung paham, sepertinya Adwi sedang jatuh cinta pada pandangan pertamanya.
"Nak Adwi, silahkan duduk Nak," Darma mempersilahkan Adwi untuk duduk di samping Anjani, ia berlagak layaknya orang tua.
Tapi sebelum itu Darma sudah membisikkan sesuatu ke dalam telinga Adwi. Mengetahui kedatangan 2 orang tamu, Anjani bahkan tidak menolehkan pandangannya sama sekali. Ia hanya terlihat menunduk malu.
"Ha-hai, apa kamu mau menjadi pacarku?" Tanpa basa-basi Adwi yang baru saja duduk di samping Anjani langsung menyatakan perasaannya kepada Anjani.
Bagaimana bisa Adwi mengatakan hal yang seperti itu? Ini pertama kalinya mereka bertemu. Apalagi mereka belum saling mengenal nama masing-masing.
Anjani yang mendengar pertanyaan itu langsung mendongak, ia tidak percaya akan hal ini. Anjani langsung melihat wajah dari seseorang yang memiliki pertanyaan itu. Jantungnya seketika berdebar kencang.
Tampan..
Putih..
Dan, sepertinya ia serius..
"I-iya!" Anjani langsung terpikat oleh Adwi yang sama sekali belum ia kenal.
Entah mengapa Anjani langsung melontarkan jawabannya tanpa pikir panjang. Yang ia rasakan adalah, rasa sakit yang ia bawa dari rumah perlahan mulai menghilang. Adwi bagaikan seorang malaikat penyembuh bagi dirinya.
Tuan rumah dan kekasihnya terlihat mesem-mesem. Anjani merasa malu, tapi ini bukan kali pertamanya ia berpacaran. Ratih dan Darma menghiraukan Adwi dan Anjani, membiarkan mereka untuk lebih saling mengenal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments