Suatu hari, Adwi datang ke rumahnya Anjani.
"Tok.. tok.. tok.."
"Assalamu'alaikum,"
Adwi megucapkan salam sambil mengetuk pintu. Tapi, tidak ada jawaban apapun yang datang dari dalam. Yang ada hanyalah suara riuh.
Adwi yang datang sendirian itu merasa ragu, ia malu karena terlihat banyak sandal di depan pintu rumah Anjani. Sepertinya di dalam sedang banyak orang.
Tapi ia sudah datang jauh-jauh ke sana, lantas ia memberanikan diri untuk kembali mengetuk pintu.
"Tok.. tok.. tok.."
"Assalamu'alaikum!"
Karena merasa ada suara orang yang memanggil dari luar, Abah segera menuju pintu.
"Wa'alaikumsallam," ucap Abah sambil membukakan pintu.
"Anjani nya ada Pak?" Tanya Adwi yang tidak tahu kalau itu adalah abahnya Anjani.
"Ada, sebentar, sebentar.." Abah langsung masuk ke dalam untuk memanggil Anjani.
"Teh, itu ada yang nyariin." Ucap Abah.
"Siapa Bah? Tumben?" Tanya Anjani keheranan.
"Abah juga gak tau, kayaknya bukan orang sini deh, tapi dia cowok."
'Hah?! Apa A Adwi ya yang dateng ke sini?!' Anjani merasa terkejut.
"Wah.. itu pacarnya Anjani kali," rayu tetangganya yang saat itu sedang ikut menonton TV.
Anjani tidak percaya kalau benar Adwi yang datang ke rumahnya. Ia langsung bergegas menuju pintu untuk memastikan.
"Hai Anjani," sapa Adwi ketika melihat sosok Anjani yang datang.
"H-hai," Anjani terkejut dan merasa gugup. Ternyata memang benar Adwi yang datang.
"Aa kok tau rumah aku di sini?" Tanya Anjani malu-malu.
"Rumahnya gadis cantik mana ada yang gak tau." Rayu Adwi.
'Masa sih aku cantik? Aku kan gak pernah dandan.'
Anjani yang mendengar pujian dari Adwi merasa semakin gugup, ia tersenyum dan menolehkan pandangannya.
"Lagi ada acara apa di rumah?" Tanya Adwi penasaran.
"Nggak ada acara apa-apa kok A. Itu tetangga-tetangga lagi pada ikut nonton TV." Ucap Anjani.
"Ohh.. rame banget." Adwi merasa heran.
"Iya hehe.. soalnya di sini cuma aku yang baru punya TV." Jelas Anjani.
'Aduh, aku harus gimana ini?'
Anjani merasa tidak enak kepada Adwi karena di rumahnya sedang banyak orang. Dan lagi, Anjani malu jika harus memperkenalkan pacarnya di depan tetangga-tetangganya juga.
Karena tak mungkin Anjani membiarkan Adwi untuk tetap berada di luar, mau tak mau Anjani mempersilahkan Adwi untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo masuk A, Emak sama Abah juga ada di dalem."
Lantas Anjani menggiring Adwi untuk menuju ke arah kerumunan. Ada ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anaknya di sana. Lalu, Anjani dan Adwi duduk bersimpuh di hadapan mereka. Seketika pula semua pandangan tertuju ke arah pasangan itu.
"Mak, Abah, kenalin, ini A Adwi." Ucap Anjani pada emak dan abahnya yang saat itu sedang menonton TV juga.
"Saya Adwi Mak, Pak," ucap Adwi dengan sopan, sambil bersalaman.
Emak yang melihat seorang pemuda berkulit putih dan tampan itu langsung takjub.
"Wehh.. Nak Adwi ya? Nak Adwi ini pacarnya Anjani ya?" Emak langsung menanyakannya tanpa basa-basi.
"Iya Mak," jawab Adwi, ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Pemuda tampan ini sebenarnya 5 tahun lebih tua dari Anjani. Yang saat ini Anjani berusia 16 tahun, saat itu Adwi berusia 21 tahun. Meskipun begitu, Adwi terlihat sangat selaras dengan Anjani yang memiliki postur tubuh layaknya orang dewasa.
"Wahh.. Anjani pinter euy, milih cowok yang cakep!" Ucap salah satu tetangganya.
"Hehe.." Adwi yang tengah dipuji itu merasa malu.
"Nak Adwi ini orang jauh ya? Pasti Nak Adwi ini dari kota kan?" Tanya Emak yang melihat penampilan Adwi. Ia memakai baju kemeja dan celana jeans.
"Iya Mak, gak terlalu jauh kok." Ucap Adwi.
"Mak, Anjani di luar aja ya sama si Aa," pinta Anjani merasa tidak nyaman.
"Ya sudah, di sini lagi ramai soalnya."
Karena di rumah sedang banyak orang, Emak juga merasa tidak enak dengan Adwi. Lalu, Anjani mengajak Adwi untuk duduk di bangku panjang depan pintu rumahnya.
"Maaf ya A, di rumah lagi banyak orang."
"Gak papa."
"Aku ambilin minum dulu ya A,"
Anjani langsung masuk ke dalam rumahnya. Tak beberapa lama, Anjani datang kembali membawakan air teh tawar dan beberapa makanan.
"Gak usah repot-repot padahal," ucap Adwi yang melihat Anjani rempong.
"Gak papa, aku gak repot kok, justru aku seneng Aa dateng ke sini," ucap Anjani sambil tersenyum dan dibalas senyuman juga oleh Adwi.
"Eh, Aa dateng ke sini sendirian?" Di tengah jantungnya yang dag dig dug itu, Anjani bertanya.
"Nggak, aku sama Darma. Tapi Darma nya lagi di rumah pacarnya. Kirain kamu juga ada di sana hehe.."
"Nggak A, Anjani jarang main. Paling, cuma bantu-bantu orang tua di rumah."
"Kamu ini anak baik ya," puji Adwi membuat Anjani tersenyum malu.
"Ngomong ngomong... Ratih sama A Darma udah lama pacarannya ya A?"
"Gak tau juga sih, kayaknya baru beberapa bulan."
Adwi memang tidak terlalu tahu banyak soal hubungan percintaan temannya itu, karena memang ia sama sekali tidak penasaran dengan hubungan orang lain.
Kilas cerita:
Sebelumnya, Ratih dan Darma saling mengenal di sekolah. Mereka sekolah di SMK yang sama. Setelah mereka resmi berpacaran, Darma sering datang ke rumah Ratih.
Karena Darma tidak mempunyai motor, Darma sering meminta bantuan Adwi (teman sekampungnya) untuk mengantarnya ke rumah Ratih.
Suatu hari, seperti biasa Adwi diminta oleh Darma untuk mengantarnya ke rumah pacarnya. Tak disangka-sangka, di tempat itu pula Adwi menemukan sosok cinta sejatinya. Ia langsung terpanah pada pandangan pertamanya.
Adwi yang tadinya hanya menjadi kambing congek, sekarang tak perlu kesepian lagi jika disuruh Darma untuk mengantarnya ke rumah Ratih.
Anjani dan Adwi pun tidak menyangka akan terjadi pertemuan yang seperti ini. Mereka pikir, sikap mereka saat itu memanglah konyol, belum saling mengenal tapi sudah saling jatuh cinta. Meskipun begitu, perasaan keduanya memang benar-benar nyata.
"Sesekali kita jalan-jalan yuk! Kamu mau kan?" Ajak Adwi. Ia memastikan Anjani ingin pergi dengannya atau tidak, karena Anjani bilang bahwa dirinya itu jarang main.
"Aku mau A, tapi kalo diizinin sama orang tuaku," jawab Anjani, ia takut tidak mendapat izin dari orang tuanya. Sebelumnya ia belum pernah main jauh-jauh apalagi bersama laki-laki.
"Lain waktu aku juga pengen ngenalin kamu sama orang tua aku, kamu mau kan?"
"M-mau A!"
Anjani yang mendengar hal itu langsung mengangguk. Ia semakin yakin bahwa Adwi itu bukan orang yang main-main dalam suatu hubungan.
Terakhir kali Anjani berpacaran, ia tak pernah dikenalkan kepada orang tua si pria dan akhirnya hubungan mereka putus di tengah jalan. Tapi pria yang satu ini sepertinya bersungguh-sungguh karena ia akan memperkenalkan Anjani kepada kedua orang tuanya.
Anjani sangat mengharapkan hal itu. Ia sudah menemukan orang yang ia cintai dan tidak ingin berpisah selamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments