"Mak, aku pengen bawa Anjani ke rumah, buat dikenalin sama orang tua aku, boleh kan Mak?"
Hari kamis, Adwi pergi ke rumah Anjani. Sudah sedari awal Adwi ingin segera memperkenalkan Anjani kepada orang tuanya.
"Jauh nggak? Dari sini ke sana berapa lama emang nyampenya?" Tanya emak.
"Paling cuma setengah jam Mak. Aku bakalan hati-hati kok bawa motornya."
"Ooh.. ya udah, tapi jangan pulang terlalu sore ya."
"Iya Mak."
Setelah mendapat izin, Adwi dan Anjani pun langsung berangkat menaiki motor. Anjani yang duduk di belakang merasa sedikit malu saat motornya itu melewati rumah warga kampungnya.
"A, aku harus ngapain? Aku malu sama orang tua Aa." Tanya Anjani di tengah perjalanan.
"Kamu kenalin diri aja sama orang tua aku."
Baru kali ini Anjani hendak bertemu dengan kedua orang tua kekasihnya. Rasanya bagai ia sudah dekat dengan pernikahan.
'A Adwi ini orangnya gak main-main ya, dia emang udah dewasa.' Gumam Anjani.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya motor itu pun berhenti. Mereka sudah sampai di tempat tujuan.
"Wahh.. ini rumah Aa?" Anjani merasa takjub melihat sebuah rumah besar dan indah berada dalam tatapannya.
"Bukan, ini rumah orang tua aku." Ucap Adwi sambil berjalan menuju pintu.
"Ayo masuk, aku udah bilang mau jemput kamu kok. Mereka pasti ada di dalem." Adwi membuka pintu dan masuk bersama Anjani.
"Assalamualaikum," ucap Adwi dan Anjani.
"Wa'alaikumsallam."
Jawaban salam terdengar dari dalam. Terlihat kedua orang tua Adwi sedang duduk di atas sofa, dan Adwi mempersilahkan Anjani untuk duduk bersama.
"Mih, Pak. Kenalin, ini pacar aku, namanya Anjani." Adwi yang duduk di samping Anjani itu langsung memperkenalkan Anjani.
'Mih itu maksudnya mamih ya?' Gumam Anjani sambil bersalaman.
"Udah lama Neng pacaran sama Adwi?" Tanya bapaknya Adwi.
"Baru beberapa minggu Pak," ucap Anjani sambil tersenyum.
Saat itu mamihnya Adwi juga menyambut kedatangan Anjani dengan ramah. Ia juga bertanya tentang diri Anjani dan mengajaknya untuk mengobrol.
Anjani itu orangnya memang ramah dan sopan. Ia juga mudah bergaul dan tidak membosankan saat diajak bicara.
Setelah selesai berbincang-bincang, orang tua Adwi pergi ke sisi lain ruangan itu untuk membiarkan Adwi dan Anjani mengobrol berdua.
"Anjani, kamu kalo manggil mamih jangan pake sebutan Bu, panggil aja mamih ya," ucap Adwi dengan suara yang pelan.
"Kenapa A emangnya?" Anjani merasa heran.
"Mamih gak suka kalo dirinya dipanggil dengan sebutan ibu, bisa-bisa Mamih juga gak suka sama kamu kalo kamu manggilnya gitu terus."
"Ooh, iya A."
Anjani heran, mengapa hanya karena nama panggilan mamihnya Adwi bisa bersikap seperti itu. Tapi Anjani hanya menurut saja dan tidak bertanya lagi.
Ceritanya:
Dulu, Adwi sering memanggil ibu tirinya itu dengan sebutan ibu, tapi lama-kelamaan, ibu tirinya itu tidak suka dengan panggilan itu. Ia rasa sebutan ibu itu seperti sebutan untuk orang yang sudah tua, jadi ia menyuruh Adwi untuk memanggilnya dengan sebutan mamih.
Sekitar pukul 2 siang, Anjani memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tidak lupa Anjani dan Adwi berpamitan, setelah itu mereka langsung berangkat.
"A, aku seneng banget udah dikenalin sama orang tua Aa." Ucap Anjani di perjalanan.
"Syukurlah. Aku pengen hubungan kita lebih serius." Ucap Adwi.
"Kalo aku udah punya uang, kamu mau kan nikah sama aku?" Lanjut Adwi.
Pertanyaan Adwi itu seketika membuat Anjani mendongak. Hatinya menjadi tak karuan, dirinya yang sedang senang itu semakin merasa senang.
"M-mau A!" Dengan nada keras, Anjani berkata setuju.
Inilah yang ia nanti nanti, Anjani sudah dewasa dan tidak mau bermain-main lagi. Ia sudah mandiri dan sudah siap untuk menikah kapanpun Adwi akan melamarnya.
Adwi dan Anjani kini sudah sampai di depan rumah. Adwi ikut masuk ke dalam rumah untuk berpamitan dengan kedua orang tua Anjani.
"Mak, Pak, aku pulang dulu ya."
"Ehh! Buru-buru amat atuh, baru aja nyampe udah mau pulang. Disuguhin air juga belum." Ucap emak.
"Hehe.. aku lagi ada urusan soalnya Mak."
"Yaudah atuh, hati-hati."
Anjani mengantarkan Adwi sampai ke depan rumah.
"A, makasih ya udah nganterin aku pulang."
"Iya lah aku anter, kalo gak aku anter terus kamu pulang sama siapa? Lagian aku kan yang ngajak kamu ke rumah?"
"Hehe.. iya A. Hati-hati di jalannya ya A."
"Iya, sampai ketemu nanti hari sabtu."
"Hehe.. iya A. Dahh.."
Adwi menancapkan gas dan pergi meninggalkan rumah Anjani. Setelah wujud Adwi sudah tidak terlihat lagi, Anjani langsung masuk ke rumah.
"Mak, tadi Teteh beneran diajak A Adwi ke rumahnya loh, rumahnya itu gedee banget. Di depan rumahnya itu ada bunganya loh Mak, cantik-cantik." Ucap Anjani kepada emaknya.
"Tuh, di depan rumah kita juga ada bunga nya. Jadi kamu udah dikenalin sama orang tuanya Adwi?"
"Ah Emak.."
Yang Emak maksud itu bunga dari tanaman tomat dan cabe rawit. Di depan rumah, mereka menanam banyak pohon tomat dan beberapa pohon cabe rawit.
"Iya Mak, orang tuanya A Adwi baik-baik."
Saat itu Anjani terus asyik menceritakan tentang Adwi dan orang tuanya kepada Emak.
Sore nya, sekitar pukul setengah 6.
"Tok! Tok! Tok!"
"Assalamu'alaikum."
Terdengar suara orang memanggil dari luar, lantas Emak langsung membukakan pintu.
"Eh, Malik. Udah lama kamu gak ke sini, ada apa ya sore-sore begini?" Ucap Emak melihat kedatangan Malik.
"Iya Mak, aku mau silaturahmi aja Mak. Sekalian mau ketemu sama Anjani, udah lama kita gak ketemu." Ucap Malik.
"Ohh.. yaudah ayok masuk, Emak panggilin dulu."
Malik dipersilahkan untuk masuk ke rumah, ia menunggu Anjani sambil duduk di atas kursi.
"Teh, itu ada Malik nungguin kamu." Emak masuk ke kamar Anjani. Saat itu Anjani terlihat sedang bersolek.
"Hah? Mau ngapain Mak Malik ke sini?" Tanya Anjani dengan suara yang pelan. Seketika ia langsung merasa tidak nyaman.
"Ya mau silaturahmi atuh. Udah sana, Malik nungguin tuh." Emak keluar dari kamar dan meninggalkan Anjani.
Dengan enggan Anjani berjalan keluar kamar dan menghampiri malik.
'Ada apa sih udah sore-sore gini namu? ' Gumam Anjani, ia langsung duduk di kursi panjang.
"Hey Anjani. Sesuai waktu itu, kamu ngebolehin aku dateng ke rumah kan?" Ucap Malik yang melihat kedatangan Anjani.
"I-iya,"
"Kok kamu pake baju itu malah keliatan cantik banget. Ayuuu gitu aku ngeliatnya." Ucap Malik sambil melihat Anjani dari bawah ke atas.
Sore itu Anjani memakai daster lengan pendek se lutut. Karena sudah mendekati malam, Anjani biasa menggunakan daster agar lebih nyaman saat tidur.
"Hehe.. aku biasa aja kok." Anjani menunduk dan tidak berani menatap Malik.
"Teh... bawain air atuh, Malik pasti haus, dia ke sini jauh-jauh jalan kaki." Teriak Emak yang sedang menonton TV.
"Itu juga, ada kue di lemari, sekalian bawa." Lanjut Emak.
"Iya Mak." Anjani langsung pergi ke dapur dan meninggalkan Malik.
'Aduhh... apa aku ganti baju aja ya? Tapi kayaknya Malik cuma sebentar di sini.'
Anjani merasa tidak nyaman. Menurutnya pakaian yang saat ini ia pakai terlalu terbuka jika harus dinampakkan kepada Malik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments