Tak terasa, Adwi kecil yang dulu baru masuk kelas 1 SD kini sudah beranjak dewasa. Ia sudah berada di bangku kelas 6 dan saat ini ia akan mengakhiri masa-masanya di sekolah dasar itu dengan evaluasi (ujian).
Sebelumnya Adwi sudah menyiapkan dirinya jauh-jauh hari. Dirinya sudah mendapat banyak bekal materi untuk evaluasi dari sekolah, karena itu Adwi merasa dimudahkan.
Tidak lupa, Adwi meminta doa kepada nenek dan kedua orang tuanya. Tanpa dukungan dan semangat dari kedua orang tuanya, Adwi berangkat ke sekolah untuk memulai hari pertama evaluasi belajar tahap nasionalnya (atau saat ini biasa disebut ujian nasional).
Dalam suasana ruangan kelas yang sunyi, sesekali hembusan angin terdengar jelas. Semua murid fokus pada lembar soal mereka masing-masing. Saat itu tidak ada yang berani bersuara apalagi mencontek, semua murid mengerjakan evaluasi dengan jujur. Sang pengawas pun terlihat tidak lengah sama sekali.
Hari ini mereka mengerjakan 1 mata pelajaran. Evaluasi diadakan selama 3 hari dan jumlahnya ada 3 mata pelajaran pokok yang dievaluasikan.
Adwi menghela nafas panjang, ia bersyukur di hari pertama evaluasinya ini dirinya tidak mendapat satu pun kesulitan. Semua murid langsung pulang setelah evaluasi selesai.
Kala itu Adwi berjalan beriringan bersama teman-temannya.
"Wi, kamu mau dilanjutin ke sekolah mana?" Tanya salah seorang temannya, Rito.
Adwi yang mendengar pertanyaan itu bingung harus menjawab apa, ia belum tahu bapaknya akan bersedia meneruskan pendidikannya atau tidak.
"Belum tau To," jawab Adwi alakadarnya.
"Cepetan bikin keputusannya. Pak Hernawan udah minta datanya tuh." Ucap Rito.
"Iya, nanti aku tanyain dulu sama Bapak."
Sesampainya di rumah, Adwi mencari-cari bapaknya untuk berbicara. Tapi saat itu Bapak tidak ada di rumah, yang ada hanya ibu dan adik tirinya yang masih berusia 5 tahun.
Karena tidak mungkin untuk berbicara hal itu kepada sang ibu tiri, Adwi memutuskan untuk mencari Bapak. Biasanya Bapak sering pergi ke kebun untuk menyadap air nira. Adwi pikir saat ini Bapak sedang pergi ke sana, lantas Adwi berjalan sendirian menuju kebun yang jaraknya lumayan jauh.
"Pak!" Panggil Adwi sambil melihat ke atas. Saat itu Bapak tengah berada di atas pohon aren.
"Iya Wi, ada apa kamu dateng ke sini?" Tanya bapaknya yang sedang menyadap air nira.
"Adwi mau bicara Pak," ucap Adwi.
"Iya, iya sebentar, Bapak turun dulu."
Setelah menunggu beberapa saat, Bapak selesai menyadap air nira itu dan turun bersama lodong yang dibawanya.
*Lodong itu tabung bambu / wadah untuk menampung air nira ya ges ya
"Mau bicara apa Wi?" Bapak menyandarkan lodong itu ke pohon aren dan ikut duduk di samping Adwi.
"Pak, Adwi kan udah mau lulus SD, Adwi boleh kan ngelanjutin sekolah ke SMP?" Tanya Adwi mengharapkan jawaban setuju.
"Mmm.. Bapak tanya sama Ibu dulu ya," ucap Bapak ragu-ragu.
"Iya Pak."
Bapak pun segera menanggung 4 lodong bambu yang berisikan air nira.
"Pak, Adwi bawain satu ya,"
Adwi merasa kasihan melihat Bapak yang harus menanggung 4 lodong itu ke rumah, apalagi jarak dari kebun ke rumah lumayan jauh.
"Ya sudah, ambil saja. Kalau berat kaitkan lagi saja." ucap Bapak.
"Iya Pak." Lantas Adwi membawa 1 lodong bambu itu sampai ke rumah.
Di dapur, Bapak langsung menuangkan isi lodong-lodong itu ke atas kuali besar. Setelah itu, Bapak menyalakan apinya dan pergi bersama Adwi untuk menemui Ibu.
Terlihat saat itu Ibu tengah menonton TV bersama adik.
"Bu, Adwi katanya mau sekolah di SMP, sebentar lagi dia kan udah mau lulus," ucap Bapak baik-baik.
"Kenapa harus sekolah lagi? Kan udah? Lagian ntar kalo kamu sekolah Bapak kamu gak ada duit buat beli seragamnya. Belum lagi ongkosnya." Ucap Ibu sinis.
Sejak dari kebun, Adwi sebenarnya tidak ingin ikut menemui Ibu. Sudah ia duga bahwa Ibu akan berkata seperti itu, hal ini malah membuat hatinya sakit. Tapi Adwi juga tidak menyesal karena telah jauh-jauh menemui Bapak, ia senang bisa membawakan lodong Bapak dan sedikit meringankan beban Bapak.
Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi. Adwi mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ibu tirinya itu, ia tidak berani meminta dan juga memaksa.
Adwi melihat Bapak kembali ke dapur tanpa berkata. Adwi pun saat itu masuk ke kamarnya, ia tidak berani berlama-lama di dekat sang ibu tiri.
Meskipun merasa kecewa, tapi Adwi tidak merasa keberatan jika sekolahnya tidak dilanjutkan. Setidaknya ia pernah menunjang pendidikan di sekolah dasar, pikirnya.
Hingga sampailah pada hari dimana Adwi dinyatakan lulus. Saat itu, Pak Hernawan, wali kelas Adwi, menyuruh Adwi untuk datang ke kantor.
Adwi datang ke kantor sesuai dengan panggilan, di sana ada Pak Hernawan dan juga beberapa guru yang lainnya.
"Adwi, kamu kok belum tulis nama sekolah yang mau kamu lanjutin?" Tanya Pak Hernawan.
"Adwi gak akan ngelanjutin sekolah Pak," ucap Adwi.
"Loh? Kenapa?"
Sebenarnya Pak Hernawan sudah tahu kondisi Adwi. Ia juga tahu bahwa orang tua Adwi adalah orang yang berada.
"Nggak ada biayanya Pak," ucap Adwi sesuai dengan perkataan ibu tirinya.
"Hmmm.. sayang sekali, padahal kamu ini anak yang berprestasi." Pak Hernawan merasa kecewa. Dari kelas 1 sampai sekarang, Adwi adalah siswa yang paling unggul.
"Ya mau bagaimana lagi Pak, hehe.."
Saat itu Adwi hanya tersenyum. Pak Hernawan yang melihatnya merasa kasihan, mana mungkin seorang pelajar yang sedari awal bersungguh-sungguh itu ingin mengakhiri pendidikannya sampai di sini.
"Bapak akan coba bicarakan ini sama orang tua kamu ya," ucap Pak Hernawan.
"Loh? Tapi bapak saya kan gak ada biayanya Pak." Adwi terkejut.
"Kamu tenang aja, lagian emang ada hal yang ingin Bapak bicarakan sama orang tua kamu."
Mendengar perkataan itu, Adwi hanya menurut. Esoknya, ia menyuruh orang tuanya datang ke sekolah sesuai dengan permintaan Pak Hernawan. Lantas, kedua orang tuanya itu pergi ke sekolah.
Sepulang dari sekolah, tiba-tiba bapak bertanya.
"Wi, kamu mau ngelanjutin sekolah?"
"Mau Pak! Mau! Bapak mau nyekolahin Adwi?!" Adwi terlihat sangat Antusias.
"Iya, tapi Bapak gak bisa beliin kamu seragam."
"Gak papa Pak! Yang penting Adwi bisa sekolah! Adwi masih punya baju kok Pak!" Adwi terlihat sangat senang. Tak disangka-sangka hari ini Bapak berubah pikiran.
Adwi pun sudah mendaftar di sekolah SMP. Kini, jarak dari rumah menuju ke sekolah lumayan jauh, Adwi harus berjalan dulu menuju jalan raya dan pergi menaiki angkot.
Dengan memakai baju putih dan celana jeans biru, Adwi pergi ke sekolah barunya. Penampilannya masih sama, ia memakai sandal jepit dan juga kantong kresek sebagai tempat untuk membawa peralatan sekolahnya.
Tentunya celotehan-celotehan tentang dirinya semakin ramai. Di sekolah SMP banyak murid yang datang dari berbagai tempat. Tapi Adwi sudah siap dengan semua itu, ia tidak merasa malu sedikitpun karena ia memang benar-benar berniat untuk belajar.
Seiring waktu, Adwi mulai mempunyai keinginan dan ia mencoba untuk mencari uang sendiri karena ia tahu bahwa orang tuanya tidak akan mengabulkan permintaannya begitu saja.
Adwi ingat bahwa Bapak memiliki kambing yang banyak, Adwi pun membantu mencari rumput ke kebun untuk pakan ternak itu. Dengan itu, Adwi memiliki penghasilan dan selalu diberi upah oleh bapaknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments