Masa Lalu Adwi 2

Tak terasa, Adwi kecil yang dulu baru masuk kelas 1 SD kini sudah beranjak dewasa. Ia sudah berada di bangku kelas 6 dan saat ini ia akan mengakhiri masa-masanya di sekolah dasar itu dengan evaluasi (ujian).

Sebelumnya Adwi sudah menyiapkan dirinya jauh-jauh hari. Dirinya sudah mendapat banyak bekal materi untuk evaluasi dari sekolah, karena itu Adwi merasa dimudahkan.

Tidak lupa, Adwi meminta doa kepada nenek dan kedua orang tuanya. Tanpa dukungan dan semangat dari kedua orang tuanya, Adwi berangkat ke sekolah untuk memulai hari pertama evaluasi belajar tahap nasionalnya (atau saat ini biasa disebut ujian nasional).

Dalam suasana ruangan kelas yang sunyi, sesekali hembusan angin terdengar jelas. Semua murid fokus pada lembar soal mereka masing-masing. Saat itu tidak ada yang berani bersuara apalagi mencontek, semua murid mengerjakan evaluasi dengan jujur. Sang pengawas pun terlihat tidak lengah sama sekali.

Hari ini mereka mengerjakan 1 mata pelajaran. Evaluasi diadakan selama 3 hari dan jumlahnya ada 3 mata pelajaran pokok yang dievaluasikan.

Adwi menghela nafas panjang, ia bersyukur di hari pertama evaluasinya ini dirinya tidak mendapat satu pun kesulitan. Semua murid langsung pulang setelah evaluasi selesai.

Kala itu Adwi berjalan beriringan bersama teman-temannya.

"Wi, kamu mau dilanjutin ke sekolah mana?" Tanya salah seorang temannya, Rito.

Adwi yang mendengar pertanyaan itu bingung harus menjawab apa, ia belum tahu bapaknya akan bersedia meneruskan pendidikannya atau tidak.

"Belum tau To," jawab Adwi alakadarnya.

"Cepetan bikin keputusannya. Pak Hernawan udah minta datanya tuh." Ucap Rito.

"Iya, nanti aku tanyain dulu sama Bapak."

Sesampainya di rumah, Adwi mencari-cari bapaknya untuk berbicara. Tapi saat itu Bapak tidak ada di rumah, yang ada hanya ibu dan adik tirinya yang masih berusia 5 tahun.

Karena tidak mungkin untuk berbicara hal itu kepada sang ibu tiri, Adwi memutuskan untuk mencari Bapak. Biasanya Bapak sering pergi ke kebun untuk menyadap air nira. Adwi pikir saat ini Bapak sedang pergi ke sana, lantas Adwi berjalan sendirian menuju kebun yang jaraknya lumayan jauh.

"Pak!" Panggil Adwi sambil melihat ke atas. Saat itu Bapak tengah berada di atas pohon aren.

"Iya Wi, ada apa kamu dateng ke sini?" Tanya bapaknya yang sedang menyadap air nira.

"Adwi mau bicara Pak," ucap Adwi.

"Iya, iya sebentar, Bapak turun dulu."

Setelah menunggu beberapa saat, Bapak selesai menyadap air nira itu dan turun bersama lodong yang dibawanya.

*Lodong itu tabung bambu / wadah untuk menampung air nira ya ges ya

"Mau bicara apa Wi?" Bapak menyandarkan lodong itu ke pohon aren dan ikut duduk di samping Adwi.

"Pak, Adwi kan udah mau lulus SD, Adwi boleh kan ngelanjutin sekolah ke SMP?" Tanya Adwi mengharapkan jawaban setuju.

"Mmm.. Bapak tanya sama Ibu dulu ya," ucap Bapak ragu-ragu.

"Iya Pak."

Bapak pun segera menanggung 4 lodong bambu yang berisikan air nira.

"Pak, Adwi bawain satu ya,"

Adwi merasa kasihan melihat Bapak yang harus menanggung 4 lodong itu ke rumah, apalagi jarak dari kebun ke rumah lumayan jauh.

"Ya sudah, ambil saja. Kalau berat kaitkan lagi saja." ucap Bapak.

"Iya Pak." Lantas Adwi membawa 1 lodong bambu itu sampai ke rumah.

Di dapur, Bapak langsung menuangkan isi lodong-lodong itu ke atas kuali besar. Setelah itu, Bapak menyalakan apinya dan pergi bersama Adwi untuk menemui Ibu.

Terlihat saat itu Ibu tengah menonton TV bersama adik.

"Bu, Adwi katanya mau sekolah di SMP, sebentar lagi dia kan udah mau lulus," ucap Bapak baik-baik.

"Kenapa harus sekolah lagi? Kan udah? Lagian ntar kalo kamu sekolah Bapak kamu gak ada duit buat beli seragamnya. Belum lagi ongkosnya." Ucap Ibu sinis.

Sejak dari kebun, Adwi sebenarnya tidak ingin ikut menemui Ibu. Sudah ia duga bahwa Ibu akan berkata seperti itu, hal ini malah membuat hatinya sakit. Tapi Adwi juga tidak menyesal karena telah jauh-jauh menemui Bapak, ia senang bisa membawakan lodong Bapak dan sedikit meringankan beban Bapak.

Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi. Adwi mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ibu tirinya itu, ia tidak berani meminta dan juga memaksa.

Adwi melihat Bapak kembali ke dapur tanpa berkata. Adwi pun saat itu masuk ke kamarnya, ia tidak berani berlama-lama di dekat sang ibu tiri.

Meskipun merasa kecewa, tapi Adwi tidak merasa keberatan jika sekolahnya tidak dilanjutkan. Setidaknya ia pernah menunjang pendidikan di sekolah dasar, pikirnya.

Hingga sampailah pada hari dimana Adwi dinyatakan lulus. Saat itu, Pak Hernawan, wali kelas Adwi, menyuruh Adwi untuk datang ke kantor.

Adwi datang ke kantor sesuai dengan panggilan, di sana ada Pak Hernawan dan juga beberapa guru yang lainnya.

"Adwi, kamu kok belum tulis nama sekolah yang mau kamu lanjutin?" Tanya Pak Hernawan.

"Adwi gak akan ngelanjutin sekolah Pak," ucap Adwi.

"Loh? Kenapa?"

Sebenarnya Pak Hernawan sudah tahu kondisi Adwi. Ia juga tahu bahwa orang tua Adwi adalah orang yang berada.

"Nggak ada biayanya Pak," ucap Adwi sesuai dengan perkataan ibu tirinya.

"Hmmm.. sayang sekali, padahal kamu ini anak yang berprestasi." Pak Hernawan merasa kecewa. Dari kelas 1 sampai sekarang, Adwi adalah siswa yang paling unggul.

"Ya mau bagaimana lagi Pak, hehe.."

Saat itu Adwi hanya tersenyum. Pak Hernawan yang melihatnya merasa kasihan, mana mungkin seorang pelajar yang sedari awal bersungguh-sungguh itu ingin mengakhiri pendidikannya sampai di sini.

"Bapak akan coba bicarakan ini sama orang tua kamu ya," ucap Pak Hernawan.

"Loh? Tapi bapak saya kan gak ada biayanya Pak." Adwi terkejut.

"Kamu tenang aja, lagian emang ada hal yang ingin Bapak bicarakan sama orang tua kamu."

Mendengar perkataan itu, Adwi hanya menurut. Esoknya, ia menyuruh orang tuanya datang ke sekolah sesuai dengan permintaan Pak Hernawan. Lantas, kedua orang tuanya itu pergi ke sekolah.

Sepulang dari sekolah, tiba-tiba bapak bertanya.

"Wi, kamu mau ngelanjutin sekolah?"

"Mau Pak! Mau! Bapak mau nyekolahin Adwi?!" Adwi terlihat sangat Antusias.

"Iya, tapi Bapak gak bisa beliin kamu seragam."

"Gak papa Pak! Yang penting Adwi bisa sekolah! Adwi masih punya baju kok Pak!" Adwi terlihat sangat senang. Tak disangka-sangka hari ini Bapak berubah pikiran.

Adwi pun sudah mendaftar di sekolah SMP. Kini, jarak dari rumah menuju ke sekolah lumayan jauh, Adwi harus berjalan dulu menuju jalan raya dan pergi menaiki angkot.

Dengan memakai baju putih dan celana jeans biru, Adwi pergi ke sekolah barunya. Penampilannya masih sama, ia memakai sandal jepit dan juga kantong kresek sebagai tempat untuk membawa peralatan sekolahnya.

Tentunya celotehan-celotehan tentang dirinya semakin ramai. Di sekolah SMP banyak murid yang datang dari berbagai tempat. Tapi Adwi sudah siap dengan semua itu, ia tidak merasa malu sedikitpun karena ia memang benar-benar berniat untuk belajar.

Seiring waktu, Adwi mulai mempunyai keinginan dan ia mencoba untuk mencari uang sendiri karena ia tahu bahwa orang tuanya tidak akan mengabulkan permintaannya begitu saja.

Adwi ingat bahwa Bapak memiliki kambing yang banyak, Adwi pun membantu mencari rumput ke kebun untuk pakan ternak itu. Dengan itu, Adwi memiliki penghasilan dan selalu diberi upah oleh bapaknya.

Episodes
1 Jodohku?
2 Anjani Pulang
3 Dimarahi Emak
4 Abah Yang Baik Hati
5 Adwi Ke Rumah
6 Masa Lalu Adwi 1
7 Masa Lalu Adwi 2
8 Gerakan Berjalan
9 Ke Rumah Adwi
10 Memikirkan Malik
11 Hari Sabtu
12 Pergi Ke Kota
13 Penjelasan Keluarga Adwi
14 Emak Berubah Pikiran
15 Anjani Menikah
16 Kasih Sayang Adwi
17 Peri Kecil Di Malam Hari
18 Menyerahkan Laila
19 Tinggal di Negara Orang
20 Perselingkuhan?
21 Pesta Jamuan
22 Kabar Adwi
23 Meskipun Pedih
24 Untuk Keluargaku
25 Kembali Bertemu
26 Hasil Kerja Keras Berdua
27 Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas
28 Mulai Menyadarkan Diri
29 Terpendam
30 Menjaga Keharmonisan
31 Terhubung
32 Bertemu Laras
33 Hasil Yang Dicapai
34 Beralih Profesi
35 Pemungutan Suara
36 Kedatangan Tamu
37 Saudara Tiri
38 Merebut Cucu
39 Menemui Laila
40 Pulang
41 Tour
42 Berenang
43 Kosong
44 Sadar
45 Dipilih Kasih
46 Emak Terpeka Deh
47 Cakap Angin Saja
48 Nasib Menjadi Kakak
49 Walau Begitu Aku Peduli
50 Siapa Paling Dewasa
51 Gaptek
52 Memang Tak Sayang
53 Anak Lagi
54 Perlukah?
55 Tak Mau Kalah
56 Telpon Mantan
57 Berakhir
58 Laila Kerja
59 Dari Bawah Dahulu
60 Hilang Satu
61 Mengatur Sendiri
62 Laila Pulang
63 Menghadiri Pesta
64 Baru Terungkap
65 Cemburu
66 Begitu Rupanya
67 Lanjut Berbisnis
68 Bersikeras
69 Iseng-iseng Berhadiah
70 Bertahap
71 End
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Jodohku?
2
Anjani Pulang
3
Dimarahi Emak
4
Abah Yang Baik Hati
5
Adwi Ke Rumah
6
Masa Lalu Adwi 1
7
Masa Lalu Adwi 2
8
Gerakan Berjalan
9
Ke Rumah Adwi
10
Memikirkan Malik
11
Hari Sabtu
12
Pergi Ke Kota
13
Penjelasan Keluarga Adwi
14
Emak Berubah Pikiran
15
Anjani Menikah
16
Kasih Sayang Adwi
17
Peri Kecil Di Malam Hari
18
Menyerahkan Laila
19
Tinggal di Negara Orang
20
Perselingkuhan?
21
Pesta Jamuan
22
Kabar Adwi
23
Meskipun Pedih
24
Untuk Keluargaku
25
Kembali Bertemu
26
Hasil Kerja Keras Berdua
27
Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas
28
Mulai Menyadarkan Diri
29
Terpendam
30
Menjaga Keharmonisan
31
Terhubung
32
Bertemu Laras
33
Hasil Yang Dicapai
34
Beralih Profesi
35
Pemungutan Suara
36
Kedatangan Tamu
37
Saudara Tiri
38
Merebut Cucu
39
Menemui Laila
40
Pulang
41
Tour
42
Berenang
43
Kosong
44
Sadar
45
Dipilih Kasih
46
Emak Terpeka Deh
47
Cakap Angin Saja
48
Nasib Menjadi Kakak
49
Walau Begitu Aku Peduli
50
Siapa Paling Dewasa
51
Gaptek
52
Memang Tak Sayang
53
Anak Lagi
54
Perlukah?
55
Tak Mau Kalah
56
Telpon Mantan
57
Berakhir
58
Laila Kerja
59
Dari Bawah Dahulu
60
Hilang Satu
61
Mengatur Sendiri
62
Laila Pulang
63
Menghadiri Pesta
64
Baru Terungkap
65
Cemburu
66
Begitu Rupanya
67
Lanjut Berbisnis
68
Bersikeras
69
Iseng-iseng Berhadiah
70
Bertahap
71
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!