Tiba-tiba, setelah hampir setengah perjalanan Anjani merasa tak enak hati. Mengapa dirinya kabur dan meninggalkan suaminya sendirian? Lantas Anjani meminta kepada sopir ojeg yang mengantarnya itu untuk kembali ke tempat semula. Ia merasa tidak tega dan tidak bisa pergi jauh-jauh dari Adwi.
Sesuai perintah, akhirnya sopir ojeg itu berbalik arah. Mereka pergi ke tempat semula sesuai dengan permintaan Anjani.
Anjani pikir, tindakannya itu telah salah, sebagai seoang istri, dirinya harus tetap bersama suaminya meskipun saat ini sesuatu sedang mengganggu dirinya.
Setelah sampai, Anjani minta diturunkan di depan sebuah toko, ia hendak membeli beberapa camilan sebelum selanjutnya pulang. Setelah ia selesai, ia berjalan kaki beberapa puluh meter menuju ke rumahnya Adwi.
Dari kejauhan, Anjani melihat Adwi yang sedang duduk sendirian di depan rumahnya. Anjani segera berlari ke rumah dan menghampiri Adwi yang saat itu terlihat sedang menangis.
"A, Aa kenapa? Aa nangis ya?" Tanya Anjani saat menghampiri Adwi.
Seketika Adwi langsung panik, ia bangkit dari duduknya dan menghapus kedua air matanya. Terlihat matanya sudah memerah karena menangisi kepergian Anjani.
"E-enggak kok, kamu kenapa balik lagi?" Adwi merasa keheranan.
"Udah A, jangan sedih. Aku gak akan pulang kok."
Anjani tahu Adwi berbohong, matanya masih menunjukkan kesedihan yang sudah ia ratapi sebelumnya. Anjani merasa tak enak, ia ikut menangis dan langsung memeluk Adwi yang saat itu berada di depannya.
Memang, jika hanya mengandalkan pekerjaan yang saat ini Adwi tekuni, itu tak akan cukup jika dijadikan sebagai harapan mereka untuk membangun rumah. Meskipun keluarga Adwi merupakan keluarga yang berada, tetapi mereka sama sekali tidak ingin membantu.
Sejak dulu, Adwi harus bekerja keras sendiri jika ingin memiliki uang. Pekerjaan apapun ia tekuni dengan semangat baja yang menutupi sisi lain dari dirinya.
Dulu memang mudah mengumpulkan uang, sebelum Anjani menjadi istri dan belum mempunyai anak. Tapi saat ini untuk kebutuhan sehari-hari saja itu sudah pas, dan Adwi harus bekerja lebih keras untuk memenuhi biaya pengobatan anaknya.
Keinginan mereka untuk berpisah rumah dengan orang tua juga tidak luput sekalipun. Saat itu, Anjani pikir dirinya juga harus bekerja. Jika tidak, maka keinginan mereka untuk membangun rumah tak akan pernah bisa tergapai.
Dulu, Anjani pernah ditawari untuk bekerja di luar negeri. Menurut orang-orang, gaji di sana besar-besar. Tapi dulu Anjani masih ragu untuk memilih bekerja di luar negeri, dan sekarang Anjani mencoba untuk memantapkan hatinya. Saat itu juga, Anjani mencoba membicarakannya kepada Adwi.
"A, gimana kalo aku kerja ke luar negeri? Aku pengen kumpulin uang buat kita bikin rumah." Ucap Anjani melepas pelukannya.
"Kalo Laila biar aku titipin ke Emak, Aa gak usah khawatir." Lanjut Anjani. Ia tahu bahwa Adwi akan sibuk dengan pekerjaannya. Jika ia meninggalkan Laila di sini, tidak akan ada seorang pun yang dapat mengasuhnya.
Saat itu Adwi memandang Anjani begitu juga anaknya. Ia rasa Anjani memang benar, mereka tak akan bisa sukses jika hanya mengandalkan hasil dari pekerjaan Adwi yang saat ini. Lantas, Adwi menyetujuinya dan ia juga berjanji akan bekerja lebih keras untuk mengumpulkan biaya membangun rumah.
"Sementara kamu kerja di sana, aku bakalan kerja di sini. Aku juga bakalan coba ngelamar kerja di kota. Kamu janji ya jaga diri kamu baik-baik." Ucap Adwi merasa khawatir. Ia berniat untuk mencari pekerjaan di kota yang lebih luas agar ia mendapat penghasilan yang lebih besar.
"Iya A, tenang aja, doain aku, aku pasti bakalan pulang bawa uang banyak." Ucap Anjani.
"Hmm.. kalo gitu kita liat nanti siapa yang paling banyak ngumpulin uang." Adwi akhirnya tersenyum.
"Iya A, aku pasti menang," ucap Anjani senang.
Hari itu, mereka sepakat untuk mencari uang bersama-sama. Setelah beberapa hari, Anjani dan Adwi pergi menitipkan Laila untuk diasuh oleh Emak.
Emak yang mendapat permintaan itu terkejut mendengar anaknya akan pergi ke luar negeri. Ia juga terkejut saat melihat keadaan Laila yang saat ini terlihat sangat parah. Sebelumnya, Adwi dan Anjani belum sempat memberi tahu keluarga di kampung soal Laila.
"Ini emang gak kalian obatin?!" tanya Emak khawatir.
"Udah Mak, tapi tetep aja gitu. A Adwi juga udah coba pake bahan alami, tapi hasilnya gak ada." ucap Anjani.
Melihat keadaan Laila, Emak merasa iba. Ia langsung menerima Laila untuk diasuh olehnya. Rencananya, Emak akan membawa Laila berobat ke beberapa ahli agama yang sudah ia kenal.
Adwi sangat bersyukur memiliki orang tua yang baik seperti Emak. Di rumah, Mamih sama sekali tidak mau berdekatan dengan Laila. Melihatnya saja ia seperti orang jijik, padahal Laila hanyalah anak kecil yang tidak salah apa-apa.
Adwi merasa tidak enak karena telah merepotkan Emak, tapi ia janji dirinya akan sering berkunjung menemui Laila. Soal biaya yang dibutuhkan oleh Laila, tentu saja Adwi yang akan menanggungnya.
Dengan membawa niat yang baik, Anjani berangkat ke sebuah PT yang berada dekat dengan tempat tinggalnya di kota. Ia sudah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya dan langsung mendaftarkan diri menjadi seorang TKW. Setelah mendaftar, rencananya Anjani akan segera diberangkatkan ke Jakarta.
"Anjani, kamu yakin mau pergi?" Tanya Adwi, ia sepertinya berat untuk melepas Anjani.
"Iya A, nanti aku kabarin Aa kok. Aku titip Laila ya A. Aku do'ain, usaha Aa juga makin lancar." ucap Anjani.
Tak lama, akhirnya Anjani berangkat juga meninggalkan Adwi. Kepergiannya itu membuat Adwi merasa kehilangan. Bukan hanya melewati beberapa kota tapi Anjani akan pergi jauh meninggalkan negara ini.
Di Jakarta, Anjani tidak langsung berangkat, ia mendapat bimbingan selama 1 bulan. Dalam bimbingannya itu, Anjani bertemu dengan TKW yang datang dari kota lain juga. Mereka diajarkan cara berbahasa di negara yang akan mereka tuju. Setiap harinya, mereka tak terpisahkan dari genggaman pena dan kertas.
Bangun dari tidur, mereka harus segera belajar. Ya, tentunya belajar bahasa. Istirahat hanya diadakan beberapa menit saja. Hampir seharian penuh yang mereka tekuni itu hanya belajar, belajar dan belajar hingga larut malam.
Baru 1 minggu Anjani melakukan hal itu, jari tangannya yang terlalu lama memegang pena sampai terluka dan lecet. Namun, Anjani memaksakan tangannya itu agar ia bisa segera berangkat kerja. Setelah 1 bulan berada di sana, akhirnya Anjani lolos dan akan diberangkatkan ke negara tujuannya.
Bersama teman-temannya di sana, Anjani berangkat ke bandara. Sungguh pemandangan indah yang belum pernah ia lihat. Anjani bisa melihat pesawat-pesawat yang lepas landas dari jarak dekat.
Sewaktu kecil, jika ada pesawat yang lewat, Anjani selalu heboh mencari-cari keberadaannya di atas langit yang luas.
Hari ini Anjani merasa gugup dan cemas, ini baru kali pertamanya ia akan naik pesawat. Ia takut pesawatnya akan jatuh seperti dalam berita-berita yang ada di TV.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Acheuom Rahmawatie
lqnjut
2021-11-04
1
💕KyNaRa❣️PUTRI💞
disaat kamu pergi suami kamu selingkuh
2021-11-04
1