Di pagi hari yang masih redup, Anjani pergi menuju ke tengah kampung. Setiap hari minggu, di kampungnya ini selalu diadakan kegiatan gerakan berjalan.
Dalam kegiatan itu, semua warga kampung diharuskan untuk bergotong-royong membangun dan menjaga kampungnya agar tetap berjalan dengan baik. Misalnya, bersih-bersih, membangun jalan, dan sebagainya.
Warga kampung sangat antusias, mereka dengan senang hati mengerjakan pekerjaan itu karena tahu bahwa hal ini harus mereka lakukan demi diri mereka sendiri.
Dengan sapu lidi yang dibawanya dari rumah, Anjani mulai menyapu jalanan umum. Warga lain juga terlihat ada yang ikut menyapu, mencabut rumput, dan memperbaiki aliran air di selokan.
Tak perlu waktu lama, semuanya selesai dikerjakan. Kampung itu sudah terlihat rapi dan bersih. Dengan adanya partisipasi warga, pekerjaan menjadi cepat selesai.
Lantas mereka berkumpul di lapangan dan duduk beralaskan tanah. Saat itu terlihat pak lurah sudah berada di depan, seperti biasa, ia akan menyampaikan pengumuman.
Setelah pengumuman selesai, beberapa orang ada yang pulang dan ada yang tinggal untuk berbincang-bincang sejenak.
"Eh Anjani, udah lama di sini?" Tanya salah seorang warga kampung.
"Baru beberapa minggu Bu," jawab Anjani yang tengah duduk memandangi warga sekitar.
"Ohh.. gak kerasa ya emak kamu udah punya perawan aja. Sebentar lagi mau nikah dong?"
"Hehe.." Anjani tersenyum malu.
"Anjani!"
Terdengar suara Ratih memanggil, lantas Anjani langsung melihat ke arah suara tersebut berasal. Terlihat Ratih melambai-lambaikan tangannya, meminta Anjani untuk datang menghampirinya.
Saat itu juga Anjani langsung datang menghampiri Ratih.
"Kamu, dari tadi aku cariin ketemu juga! Kirain gak dateng." Ucap Ratih.
"Dateng dong Rat, udah lama aku gak ketemu sama warga." Ucap Anjani.
"Eh An, kamu udah di kasih tau belum sama Adwi?"
"Kasih tau apa Rat?"
"Itu, Darma ngajak aku main. Katanya dia mau minjem motor sama temennya. Terus Adwi sama kamu diajak juga loh." Ucap Ratih.
"Wahh iya? Kapan Rat?" Anjani merasa terkejut.
"Nanti, sabtu depan. Kamu mau nggak?"
"Aku sih mau Rat, tapi gak tau dibolehin atau nggak."
"Ehh.. harus jadi pokoknya!" Ucap Ratih, memaksa.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri keduanya.
"Hey, Anjani, baru pulang ya?" Tanya Malik, ia adalah teman seangkatannya juga. Jauh di belakangnya, terlihat ada sekumpulan pemuda yang mana mereka adalah teman-temannya Malik.
"I-iya," ucap Anjani gugup.
"Udah lama gak liat kamu. Kamu cantik banget ya sekarang." Ucap Malik sambil melihat Anjani dari bawah ke atas.
"Hehe..." Anjani yang dipandangi oleh Malik itu merasa malu dan tidak nyaman.
Saat itu, terlihat Ratih melirik tajam ke arah Malik. Sepertinya Ratih tidak suka dengan keberadaan Malik.
"Sesekali, boleh kan aku main lagi ke rumah? Kayak dulu." Tanya Malik.
Hal itu membuat Anjani terkejut. Dulu, memang Malik sering bermain dengan Anjani. Tapi itu berbeda, dulu mereka masih kecil dan sekarang mereka sudah tumbuh dewasa.
"Emmm..." Anjani bingung harus menjawab apa. Mungkin saja Malik memang hanya berniat untuk bersilaturahmi.
"Kok diem? Gak boleh ya?" Malik menunggu-nunggu jawabannya.
"Emangnya mau apa Mal?" Tanya Anjani.
"Ya.. main aja."
"Mmm.. ya udah, boleh."
Anjani merasa tidak enak jika harus melarang Malik untuk pergi ke rumahnya. Berharap Malik tidak berbuat sesuatu yang aneh-aneh, Anjani memperbolehkan Malik untuk datang ke rumahnya.
"Ya udah, aku tinggal dulu." Ucap Malik sambil berbalik.
"Hey! Anjani ini udah punya pacar ya." Ratih mengingatkan. Malik yang mendengarnya hanya berbalik dan mengukir senyum. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat teman-temannya.
"Ke rumahku yuk An," ajak Ratih.
"Boleh, tapi sebentar aja ya."
"Iya, sebentar kok, ada yang pengen aku bicarain."
Lalu mereka meninggalkan tempat itu dan pergi menuju rumah Ratih yang jaraknya sangatlah dekat.
"An, kamu kok ngebolehin si Malik dateng ke rumah? Kamu kan udah punya pacar." Tanya Ratih, geram.
"Abis, kalo aku nolak, ntar Malik mikir yang aneh-aneh tentang aku."
"Cowok kayak gitu emang harus dikasarin An! Kamu gak liat apa? Dari tingkah lakunya aja udah ketauan, si Malik itu bukan orang baik-baik."
"Hus! Kamu gak boleh suudzon dulu ah."
"Bukan suudzon An... kamu tau kan? Selama ini aku tinggal di kampung, jadi aku tau gimana sikap orang-orang sini." ucap Ratih.
'Iya juga ya,' pikir Anjani.
"Kalo gitu, aku pulang dulu ya."
"Iya An, hati-hati."
Anjani berjalan pulang sambil memegang sapu lidi di tangannya. Belum jauh Anjani berjalan, tiba-tiba Malik datang menghampirinya.
"Eh, Anjani, ketemu lagi. Belum pulang?" Tanya Malik yang saat itu terlihat sendirian.
"Abis dari rumah Ratih. Ini aku mau pulang,"
"Ohh.. kalo gitu, biar aku anterin ya?"
Anjani yang mendapat pertanyaan itu merasa heran. Saat ini Malik sepertinya tidak membawa motor, jika malik menawarkan antaran dengan berjalan kaki rasanya itu aneh, untuk apa diantar jika berjalan kaki? Lagi pula Anjani sudah besar dan ia biasa jalan sendiri.
"Mmm.. naik motor?" Anjani memastikan.
"Nggak, jalan kaki."
"Gak usah, aku bisa jalan sendiri kok."
"Ohh.. kamu pengennya dianterin pake motor ya? Ya mau gimana lagi An, aku gak punya motor."
"B-bukan gitu, aku udah biasa jalan sendiri, gak akan ada bahaya kok."
"Iya, justru itu, karena udah biasa sendiri, sekarang biar aku temenin. Bahaya nggak ada yang tau kapan datengnya loh."
"Tapi aku gak papa sendirian kok, aku pulang ya." Anjani langsung bergegas melangkahkan kakinya.
"Aku di belakang ya," tapi saat itu Malik malah mengikuti Anjani.
"J-jangan ikutin aku," Anjani tak mau mengucapkan kata-kata ini, tapi saat ini ia harus tegas.
"Loh? Kamu kok gitu? Kamu ngusir aku ya?" Ucap Malik.
Mendengar perkataan Malik, Anjani merasa bahwa dirinya memang seorang yang kasar. Dengan perasaan yang tak tenang, Anjani melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa menghiraukan Malik.
Meski begitu Malik tetap bersikeras dan tetap mengikuti Anjani. Ia menjaga jaraknya beberapa meter dengan Anjani.
Hingga sampailah Anjani di depan rumahnya. Ia berbalik dan melihat apakah Malik masih mengikutinya atau tidak.
Ternyata benar, Malik mengikuti Anjani sampai ke rumahnya. Ia melihat sosok Malik tengah berjalan ke rumahnya.
'Apa emang aku aja ya yang berlebihan?' Anjani merenungi tindakannya itu.
"Syukurlah, sekarang aku tau kalo kamu udah sampe rumah." Malik tersenyum kepada Anjani.
"M-maaf tadi aku bersikap tidak sopan. Makasih udah nganterin aku sampe ke depan rumah." Anjani merasa bersalah dan tidak enak kepada Malik. Lantas ia meminta maaf meskipun hatinya masih belum bisa mempercayai Malik.
"Gak papa kok. Yang penting sekarang kamu udah sampe rumah dengan selamat." Ucap Malik dengan senyuman.
"K-kalau begitu aku masuk," Anjani berbalik dan membukakan pintu.
"Aku gak ditawarin mampir dulu?" Tanya Malik
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments