Memikirkan Malik

"Silahkan diminum," Anjani meletakkan segelas air putih dan satu toples kue di atas meja.

"Makasih An," Malik mengambil gelas itu dan meminumnya.

"Ahh... seger banget. Apalagi kalo.. sambil liat wajah kamu kayak gini An," Malik tersenyum sambil menyimpan kembali gelas itu di atas meja.

"Hehe.." Anjani hanya tertawa kecil, ia tak mau terlalu banyak meladeni pembicaraan Malik.

"An, pacar kamu orang mana? Orang sini ya?" Tanya Malik.

"Bukan, dia orang jauh."

"Emang, kamu udah lama ya pacarannya?"

"Belum, baru beberapa minggu."

Tak lama setelah berbincang-bincang, tiba-tiba suara adzan maghrib terdengar di waktu yang masih pukul 6 kurang itu.

Sebelumnya, waktu Anjani di dapur, ia sengaja berlama-lama dan beralasan. Ia merasa tidak nyaman saat bersama Malik, apa lagi saat Malik mencoba untuk merayunya.

"Malik, kamu mau ikut ke mesjid?" Tanya Abah yang saat itu sudah siap akan pergi ke mesjid.

"Nggak Pak, aku mau pulang sekarang kok," Malik bangkit dari tempat duduknya.

"Anjani, aku pulang dulu ya, nanti aku main lagi ke sini." Malik langsung berpamitan dan pulang.

'Hahh.. syukurlah kalo Malik cuma dateng sebentar.'

Anjani menghela nafas dan pergi ke kamar sambil membawa toples kue yang belum sempat dimakan oleh Malik.

'Malik ngapain sih dateng ke sini jauh-jauh, cuma gitu doang?'

Anjani duduk di kasurnya sambil memegang toples kue dan memakan isinya.

'Apa Malik kangen ya main sama aku kayak dulu? Atau.. mungkin Malik gak enak karena akunya cuek?'

"Teh, kamu lagi ngapain? Udah solat maghrib belum?" Teriak Emak, ia merasa belum melihat Anjani pergi mengambil air Wudhu.

"Eh iya, aku lupa,"

"Iya Mak! Ini mau," Anjani segera pergi mengambil wudhu dan menunaikan ibadah solat maghirbnya.

***

Sabtu pagi, ketika Anjani sedang menjemur cucian, tiba-tiba saja ia melihat sosok Malik datang menghampirinya.

"Anjani," sahut Malik.

"Eh Malik, ada apa ya pagi-pagi gini udah dateng?" Tanya Anjani sambil menjemur pakaiannya.

"Hehe.. pas aku bangun tadi, tiba-tiba aja aku jadi pengen liat kamu," Malik duduk di atas bangku sambil menunggu Anjani selesai.

"Ya udah ayo masuk," Anjani selesai menjemur cuciannya, ia mengajak Malik untuk masuk ke dalam.

Tak lama setelah itu, dari luar terdengar suara motor yang sangat jjela.

"Assalamual'aikum," dari luar terdengar suara sahutan.

"Wa'alaikumsallam," Anjani segera pergi untuk membukakan pintu.

Sabtu itu Adwi datang untuk menjemput Anjani. Sesuai dengan janjinya, ia akan mengajak Anjani untuk pergi jalan-jalan bersama Darma dan Ratih.

"Ayok A, sini masuk," Anjani mempersilahkan Adwi untuk masuk. Tapi tiba-tiba, langkah Adwi terhenti di tengah pintu.

"Siapa dia?" Tanya Adwi.

"Ini temen aku A, namanya Malik,"

Dari sana, Adwi tidak berkata sepatah kata apapun. Ia langsung memutar balik tubuhnya dan berjalan menaiki motornya.

"A! Aa! Aa mau kemana?" Anjani panik dan langsung mengejar Adwi.

"Aku mau pulang," ucap Adwi yang tengah duduk di atas motornya.

"Kenapa A?" Anjani memegang tangan Adwi, ia berusaha untuk mencegatnya pergi.

"Kenapa? Darma udah nungguin aku. Aku pergi sekarang." Adwi berusaha untuk memutar balik motornya meskipun terhalangi oleh Anjani.

"A.. jangan pergi atuh!" Anjani memohon-mohon sambil menangis.

"Udah, mendingan kamu temenin aja tuh temen kamu, kasian dia duduk sendirian." Adwi sama sekali tidak menghiraukan tangisan Anjani, ia menyalakan motornya dan langsung pergi meninggalkan Anjani begitu saja.

Dengan perasaan duka di hati, Anjani berjalan mendekati pintu dan duduk di atas bangku sambil menangis. Dari belakang, tiba-tiba sebuah sentuhan hangat menempel tepat di belakang punggung Anjani.

"An, udah, kamu jangan nangis. Laki-laki yang gak pengertian kayak dia mah gak usah dipikirin." Malik mencoba menenangkan Anjani.

"Aku gak tau harus gimana, aku sayang banget sama A Adwi, Hiks.. hiks.. "

'Apa hubunganku sama A Adwi cuma sampe sini?'

***

"Hah?!"

"Hosh.. hosh.."

"Ternyata itu cuma mimpi, syukurlah,"

Anjani baru saja bangun dari tidurnya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, ia tidak pernah menginginkan hal itu menjadi nyata.

Terasa sesuatu bergerak mengalir di pipinya, ia memegang pipinya dan ternyata pipinya itu basah.

'Apa aku nangis sambil tidur?'

Saat itu sudah pukul setengah 5 pagi, Anjani beranjak dari tempat tidurnya, ia harus segera menunaikan ibadah shalat subuh.

Setelah selesai shalat subuh, selanjutnya ia harus menanak nasi. Anjani pergi ke dapur untuk mencuci beras dan mengambil beberapa kayu bakar.

Setiap hari, keluarga Anjani selalu memasak menggunakan kayu bakar. Tidak ada kompor ataupun barang berharga sejenisnya yang mereka koleksi. Mungkin benda berharga yang mereka miliki saat ini hanyalah TV.

Sudah 10 menit Anjani mencoba menyalakan perapian, tapi api itu sama sekali tidak membesar dan padam lagi.

"Huuhhhh!"

Anjani terus meniup-niup ke bagian dalam tungku agar arangnya menyala. Tapi tetap saja api tidak menyala, Anjani merasa pegal karena lama membungkuk terus.

"Itu nasinya belum mateng juga?" Emak selesai shalat dan datang menghampiri Anjani.

"Belum Mak, apinya juga dari tadi gak nyala-nyala."

"Udah sini biar Emak yang nyalain," Emak langsung berganti posisi dengan Anjani. Tak butuh waktu lama, api menyala begitu saja dengan besarnya.

"Loh? Kok Emak bisa? Dari tadi Teteh nyalain susah banget." Anjani heran bagaimana Emak melakukannya, padahal terlihat sama saja dengan yang ia lakukan.

"Itu mah kamu aja yang gak becus!"

Setelah api menyala, Anjani duduk di depan tungku dan berdiang menghangatkan tubuhnya.

'Apa A Adwi beneran bakalan marah ya kalo ngeliat aku sama Malik?'

Sambil berdiang, Anjani berpikir soal mimpinya tadi malam. Daripada mengambil resiko, Anjani rasa ia harus tegas dan melarang Malik untuk mendekatinya lagi.

Setelah nasi matang dan masakan selesai dibuat, Anjani makan bersama keluarganya.

"Bah, Teteh mau ikut ke sawah ya." pinta Anjani setelah selesai makan.

"Mau ngapain? Orang Abah cuma mau nyangkul doang di sana."

Abah akan pergi mencangkul sawah yang sudah di panen itu agar sawah segera siap untuk ditanami kembali.

"Teteh mau ngambil singkong, pengen bikin getuk."

"Kalo mau singkong nanti Abah bawain pas pulang. Kamu gak usah capek-capek ke sana."

"Justru Teteh bosen di rumah terus Bah. Teteh pengen jalan-jalan."

"Oo.. ya udah, mau berangkat bareng sama Abah?"

"Nggak Bah, Teteh mau nyuci dulu."

Abah pun berangkat ke sawah, tak lupa ia mengambil bekal yang sudah disiapkan oleh Anjani. Anjani langsung membereskan bekas makanan tadi dan langsung pergi ke air untuk mencuci.

Setelah selesai mencuci, Anjani membawa cuciannya itu ke depan rumah dan menjemurnya.

"Padi yang busuk itu masih ada gak ya?"

Karena penasaran, Anjani pergi ke belakang rumahnya. Terlihat karung padi yang waktu itu masih berada di tempatnya.

"Emak sama Abah kok nggak buang padinya? Kalo aku liat terus kan aku jadi ngerasa bersalah."

Dengan sekuat tenaga Anjani mencoba untuk menyeret karung padi itu untuk membuangnya ke jurang yang berada tepat di belakang rumahnya.

Episodes
1 Jodohku?
2 Anjani Pulang
3 Dimarahi Emak
4 Abah Yang Baik Hati
5 Adwi Ke Rumah
6 Masa Lalu Adwi 1
7 Masa Lalu Adwi 2
8 Gerakan Berjalan
9 Ke Rumah Adwi
10 Memikirkan Malik
11 Hari Sabtu
12 Pergi Ke Kota
13 Penjelasan Keluarga Adwi
14 Emak Berubah Pikiran
15 Anjani Menikah
16 Kasih Sayang Adwi
17 Peri Kecil Di Malam Hari
18 Menyerahkan Laila
19 Tinggal di Negara Orang
20 Perselingkuhan?
21 Pesta Jamuan
22 Kabar Adwi
23 Meskipun Pedih
24 Untuk Keluargaku
25 Kembali Bertemu
26 Hasil Kerja Keras Berdua
27 Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas
28 Mulai Menyadarkan Diri
29 Terpendam
30 Menjaga Keharmonisan
31 Terhubung
32 Bertemu Laras
33 Hasil Yang Dicapai
34 Beralih Profesi
35 Pemungutan Suara
36 Kedatangan Tamu
37 Saudara Tiri
38 Merebut Cucu
39 Menemui Laila
40 Pulang
41 Tour
42 Berenang
43 Kosong
44 Sadar
45 Dipilih Kasih
46 Emak Terpeka Deh
47 Cakap Angin Saja
48 Nasib Menjadi Kakak
49 Walau Begitu Aku Peduli
50 Siapa Paling Dewasa
51 Gaptek
52 Memang Tak Sayang
53 Anak Lagi
54 Perlukah?
55 Tak Mau Kalah
56 Telpon Mantan
57 Berakhir
58 Laila Kerja
59 Dari Bawah Dahulu
60 Hilang Satu
61 Mengatur Sendiri
62 Laila Pulang
63 Menghadiri Pesta
64 Baru Terungkap
65 Cemburu
66 Begitu Rupanya
67 Lanjut Berbisnis
68 Bersikeras
69 Iseng-iseng Berhadiah
70 Bertahap
71 End
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Jodohku?
2
Anjani Pulang
3
Dimarahi Emak
4
Abah Yang Baik Hati
5
Adwi Ke Rumah
6
Masa Lalu Adwi 1
7
Masa Lalu Adwi 2
8
Gerakan Berjalan
9
Ke Rumah Adwi
10
Memikirkan Malik
11
Hari Sabtu
12
Pergi Ke Kota
13
Penjelasan Keluarga Adwi
14
Emak Berubah Pikiran
15
Anjani Menikah
16
Kasih Sayang Adwi
17
Peri Kecil Di Malam Hari
18
Menyerahkan Laila
19
Tinggal di Negara Orang
20
Perselingkuhan?
21
Pesta Jamuan
22
Kabar Adwi
23
Meskipun Pedih
24
Untuk Keluargaku
25
Kembali Bertemu
26
Hasil Kerja Keras Berdua
27
Kebahagiaan Yang Mulai Terbilas
28
Mulai Menyadarkan Diri
29
Terpendam
30
Menjaga Keharmonisan
31
Terhubung
32
Bertemu Laras
33
Hasil Yang Dicapai
34
Beralih Profesi
35
Pemungutan Suara
36
Kedatangan Tamu
37
Saudara Tiri
38
Merebut Cucu
39
Menemui Laila
40
Pulang
41
Tour
42
Berenang
43
Kosong
44
Sadar
45
Dipilih Kasih
46
Emak Terpeka Deh
47
Cakap Angin Saja
48
Nasib Menjadi Kakak
49
Walau Begitu Aku Peduli
50
Siapa Paling Dewasa
51
Gaptek
52
Memang Tak Sayang
53
Anak Lagi
54
Perlukah?
55
Tak Mau Kalah
56
Telpon Mantan
57
Berakhir
58
Laila Kerja
59
Dari Bawah Dahulu
60
Hilang Satu
61
Mengatur Sendiri
62
Laila Pulang
63
Menghadiri Pesta
64
Baru Terungkap
65
Cemburu
66
Begitu Rupanya
67
Lanjut Berbisnis
68
Bersikeras
69
Iseng-iseng Berhadiah
70
Bertahap
71
End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!