Siang hari, Anjani pulang sendirian dari rumah Ratih.
"Teh, kamu udah pulang?" Tanya Emak yang saat itu sedang bersama Indri.
"Iya Mak," dengan wajah murung, Anjani menjawab. Ia takut Emak masih marah kepadanya.
"Dari mana?" Tanya Emak.
"Dari rumahnya Ratih Mak," jawab Anjani.
'Emak ternyata lagi santai-santai aja. Gak nyariin Anjani gitu?' Gumam Anjani.
"Mak, Anjani minta maaf ya," meskipun berat, tapi Anjani harus berdamai dengan orang tuanya. Ada orang yang suatu saat harus ia pekenalkan kepada orang tuanya ini.
"Abahmu sih bilang gak apa-apa, ya sudah Emak maafkan," jawab Emak tanpa balik meminta maaf.
Sesaat Anjani melupakan kejadian saat Emak memukulnya.
"Loh? Abah udah pulang Mak?" Anjani terkejut sekaligus heran, biasanya Abah selalu pulang sore hari.
"Udah, padinya kan udah dipanen semua, jadi abah pulang cepet," jawab Emak.
"Kalo sekarang, Abah lagi pergi ke dam," lanjut Emak.
(Dam: bendungan/ tanggul/ sungai)
"Ooh, kalo gitu Teteh mau liat Abah ya Mak," pinta Anjani.
"Yaudah sana, hati-hati."
Anjani yang baru pulang dari rumahnya Ratih langsung pergi lagi karena ingin menemui Abahnya.
Anjani berjalan turun melewati jalan pintas, yaitu hutan yang berada di samping rumahnya. Setelah menuruni hutan, akhirnya Anjani sampai di tempat terbuka, jalanan batu yang biasa dilalui oleh kendaraan.
Jalanan di desa ini begitu sepi, di kampung Anjani juga hanya beberapa orang yang memiliki motor. Lantas Anjani menyebrangi jalan itu dan sampailah di tempat tujuan.
Air sungai yang jernih mengalir deras dari atas tanggul. Terlihat Abah sedang berada di pinggiran sungai.
"Abah.. Bah!" Anjani memanggil abahnya sambil berjalan dengan hati-hati.
"Iya Teh," jawab Abah.
"Abah lagi ngapain?" Anjani melihat abahnya sedang sibuk membuat sesuatu.
"Ini Teh, lagi bikin kincir," jawab Abah yang sedang merakit bambu.
"Oo.. Abah mau buat listrik ya?"
Sebelumnya Anjani melihat untaian kabel yang terpasang dari rumahnya. Ia yang pintar itu langsung mengetahui apa tujuan abahnya.
"Iya Teh, mau bikin pembangkit listrik. Biar kita bisa pasang lampu di rumah," jawab Abah.
Anjani merasa senang dan bangga mempunyai seorang Abah yang rajin dan juga kreatif. Anjani asyik memperhatikan abahnya yang sedang membuat kincir. Sesekali ia membantu jika disuruh oleh abahnya.
Di tengah-tengah keasyikan itu, Anjani terpikir sesuatu.
'Abah yang panen padi aja gak marah sama aku, tapi Emak kok marah banget sama aku?'
Tapi tiba-tiba Anjani merasa dirinya bersalah.
'Oh iya ya, mau hasilin beras itu susah ya? Nyangkul dulu sawah, ini itu, cabut rumput, semuanya diurus sampe berbulan-bulan. Belum lagi panas-panasan, kotor-kotoran, udah gitu gatel lagi.'
'Udah diurus semua, tapi kadang Abah juga suka gagal panen. Pasti capek ya Bah? Apa Abah nggak sedih ya?'
Anjani merasa ingin meneteskan air matanya.
"Bah.. Teteh minta maaf ya," pinta Anjani dengan wajah murung.
"Minta maaf apa Teh?" Tanya Abah yang sedang sibuk.
"Itu loh padi yang sekarung itu. Gara-gara Teteh padinya jadi gak bisa dimakan," jawab Anjani lirih.
"Yaudah gak papa, tiap kejadian pasti ada hikmahnya Teh," Abah tersenyum, ia sama sekali tidak marah.
"Kalo padi itu emang bukan rezeki kita ya gak papa, yang penting kita udah berusaha. Allah pasti ganti sama yang baru. Allah gak akan ngebiarin usaha kita sia-sia Teh." Lanjut Abah, membuat Anjani mengerti.
Setelah beberapa lama, akhirnya kincir buatan Abah selesai juga. Kincir itu berputar cepat dalam aliran sungai yang begitu deras. Abah berhasil menciptakan aliran listrik pertama di desanya, ia begitu pandai dan membuat Anjani terkagum-kagum.
Lalu Anjani dan Abah beranjak pulang ke rumah. Semua peralatan sudah Abah sediakan. Tak perlu waktu lama, akhirnya sebuah lampu bohlam bersinar jingga (warna kuning kemerah merahan).
Seketika semua orang yang ada di rumah merasa takjub melihat sinar lampu pertama yang ada di rumah mereka.
"Wahh.. jadi terang kayak di rumah majikan Teteh," ucap Anjani terkagum-kagum.
Semuanya terlihat bahagia, tidak perlu ada lagi acara hidung yang hitam pekat. Indri juga akan bisa belajar dengan lebih nyaman.
Karena sudah ada sinar lampu di rumah Anjani, tetangga-tetangga Anjani pun langsung heboh. Mereka juga ingin memasang listrik seperti di rumahnya Anjani.
Berkat pembangkit listrik itu, kini Abah mempunyai penghasilan tambahan dari para tetangga yang ikut memasang listrik dari rumahnya.
Selang beberapa hari kemudian, tiba-tiba Abah datang ke rumah bersama sopir ojeg. Terlihat Abah membawa sebuah TV tabung beserta perlengkapan lainnya.
"Abah bawa apaan itu?" Tanya Emak merasa keheranan.
"Ini Mak, TV." Abah langsung membawa TV itu ke dalam dan meletakkannya.
"Yaa... emang itu buat apaan?" Tanya emak yang tidak tahu.
"Ya buat nonton TV atuh Emak. Udah, nanti juga Emak bakalan tau." Abah langsung sibuk merakit antenanya.
Anjani yang sedang berada di dapur dan mendengar suara abahnya langsung berlari menuju ke sumber suara.
"Wahh.. abah beli TV?" Tanya Anjani terkejut.
"Iya Teh. Ini cuma TV bekas kok, Abah dapet dari temen Abah di desa sebelah."
Karena saat ini di rumah sudah ada listrik, Abah berniat untuk memasang TV di rumahnya. Abah pergi ke luar dan mengambil gelondongan bambu, ia memasang antenanya di atas bambu yang dijulangkan tinggi itu.
"Nah.. begini sudah top!" Ucap Abah yang selesai memasang antenanya.
"Top teh apa ai Abah?" Tanya Emak yang sedari tadi memperhatikannya.
"Hehe, Abah juga gak tau, ayo masuk Mak." Abah menggaruk-garuk kepalanya dan langsung pergi ke dalam.
Terlihat layar TV sudah mulai menyala. Ada gambar dan bunyi-bunyian yang keluar dari dalam TV itu.
"Wahhh!"
Semua terkagum-kagum, meskipun gambarnya hitam putih dan tidak terlalu jelas tapi mereka sangat menyukainya.
"Lah! Itu orang kok bisa ada di dalem benda itu?!" Emak menunjuk-nunjuk ke layar TV.
"Ya kan mereka main film Mak," jawab Abah.
"Itu gimana ya cara masuknya? Mereka gak kesempitan apa di dalem?" Tanya Emak sambil mendekati layar TV.
"Buk! Buk! Buk!"
Emak menepuk-nepuk bagian samping TV itu.
"Emak ngapain?! Udah, duduk aja duduk!" Abah langsung membawa Emak kembali menjauh dari layar TV.
"Duduk aja Mak, terus liatin TV nya." Tata Abah.
"Udah, biarin aja TV nya ngobrol sendiri ya, jangan diganggu lagi. Ini mahal loh Mak belinya." Lanjut Abah greget.
Emak yang merasa kebingungan itu hanya mengangguk dan menuruti kata-kata Abah. Mereka yang sudah terbiasa akhirnya bisa asyik menonton TV. Suasana di rumah Anjani pun semakin ramai dengan adanya TV itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments